Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kompas Jadi Dua

Jumat, 04 Januari 2008 @ 19:20 | Lihat Baca Dengar

MENYIASATI ZAMAN UNTUK BERTAHAN.

kompas update dan regular

Mulai hari ini koran Kompas terbit dua kali. Yang regular, untuk edisi hari ini, adalah nomor 184 tahun ke-43. Yang versi kembarannya, seharga Rp 1.000 (tanpa harga langganan per bulan), adalah nomor 1 tahun ke-1. Si kembaran seceng itu bernama Kompas Update.

Selebihnya Anda sudah tahulah. Yang pasti terbit kembarnya Kompas ini berbeda dari kasus kembar Sinar Pagi tahun 90-an karena para juragannya berselisih.

kompas update

Suryopratomo, pemimpin redaksi Kompas, dalam pengantar menyatakan bahwa edisi siang itu untuk menjawab kebutuhan pembaca terhadap berita terbaru. Kenapa dinamai Update, “… karena merupakan bahasa jurnalistik yang umum seperti halnya breaking news ataupun stop press.”

Sebetulnya, untuk Indonesia, koran terbit dua kali sehari itu bukan hal baru. Seputar Indonesia sudah melakukannya. Kompas menyusul.

Sulit membayangkan jika dulu, pada era SIUPP, ada koran dua kali terbit sehari, dengan halaman melebihi 12 (kecuali ada bonus pidato presiden) tapi harganya tetap. Regulasi, “kesepakatan”, dan “imbauan” dari penguasa saat itu tak memungkinkan. Cetak jarak jauh pun dulu dipersulit — selain juga modalnya kudu gede. Namun kemudian terbukti, ketika pintu deregulasi dibuka, sehingga tak ada lagi kawin paksa melalui SIUPP, (sebagian) pers daerah — dan “pers nasional yang terbit di daerah” — tetap hidup.

kompas regular

Sudahlah, itu masa lalu. Lantas apa menariknya dengan edisi dobel Kompas itu? Ketika televisi, radio, dan internet kian cepat menyiarkan berita, media cetak masih mencoba bertahan dengan segala jurus — termasuk menggarap anak sekolah.

Prinsip dasar — tepatnya: optmisme — penerbit adalah adalah koran bisa dibaca di mana pun dan kapan pun tanpa alat, kecuali dengan kacamata dan lensa kontak (bagi yang memerlukan).

Alasan lain, tentu saja, karena masih ada yang mau membeli ruang untuk memasang iklan.

Bagi kelas menengah di kota besar, tambahan Rp 1.000 (lebih murah dari tarif parkir) selagi makan siang bukanlah masalah. Tapi apakah mereka sudi mengeluarkan itu untuk seeksemplar koran, biarlah pasar yang mencatat.

Yang bagus sih, seperti di negeri lain, ada koran gratis. Setuju?

Ada 53 komentar | trackback | Depan

#53

Irwan Kelana.cerbon | 21 02 2008 @ 12.37.58

updatenya ko ga sampe cerbon or semua daerah om? tanya kenapa yooo?
kapan yoo kompas jabar updatenya…


#52

ShangKala | 12 02 2008 @ 0.46.53

Wah ini yang saya ndak setudju..

bukan masalah harga seribunya, tapi ini masalah yang kemarin sedang hangat-hangatnya dibicarakan di mbali itu lho pak dhe.. itupun dengan catatan kalo udah ndak pada lupa lagi lho.

yaitu, masalah “global warming” soalnya menurut “katanya”, koran NewYork Times dalam sekali terbit memerlukan 160.000 batang pohon!

nah, kalo semua koran pada terbit dua kali.. kira-kira berapa batang pohon yang harus ditebang?

maka dari pada itunya.. yuk.. mari.. gunakan energi seperlunya dan seefisien mungkin


#51

adith | 07 02 2008 @ 0.48.29

ehm… di ibukota baru to paman ??

kalo di jogja udah setengah tahunan rasanya ato setidaknya taun 2007 udah ada….

mungkin emang sasarannya mahasiswa, dulu belum ada update, tapi cuman koran pagi di kasih stempel dan dijual di lampu merah aja, dengan orang-orang kompas rasanya…

laris manis (saya salah satu penggemarnya) gimana engga sih, kalo bayar seribu dpt 48 halaman…

berhubung laris jadi program nasional tapi tiap daerah g lancar rasanya soalnya di semarang dan solo aja susah….

kalo di jgj karena laris manis mereka mengkaryakan anak2 jalanan…

kalo yg sekarang pakek “update” cuman beda di halaman depan kok, belakangnya sami mawon…

kalo posisi sekarang saya beli yang koran sabtu cari lowongannya doang soalnya…. hahahaha….

kangen jogja ik….. hiks
asiknya jadi mahasiswa…. :D


#50

anas fauzi rakhman | 28 01 2008 @ 10.44.46

Bagusan yang mana? kompas update atau biasa?


#49

Thumblog 2 « senyum & tularkan! | 19 01 2008 @ 11.14.14

[...] Kompas malu2 buat ngikutin Koran Sindo. Buktinya, sehari dua kali tapi tebelnya gak sama. [...]


#48

oik | 18 01 2008 @ 19.30.24

kompas murah bgt!!bener2 bikin keok koran lainnya yang bisa dibilang pasarnya masih sedikit.
bisnis emang kejam!kasian koran daerah atau koran lokal yang beredar, karena kompas termasuk koran nasional.
jadi kayaknya gak pantes bgt kalo kompas nurunin harga sampe serendah itu!!sekarang koran tempo juga udah mulai nurunin harga jadi seribu rupiah.
trus koran lainnya gimana donk!!kalo mereka masih ngandalin omset mereka dari penjualan koran, bisa2 koran lainnya gulung tikar!!
kayaknya perlu ada regulasi UU tuh buat nyikapi hal-hal kyk gini…


#47

gemblung | 15 01 2008 @ 18.24.08

halo paman, kangen nih…


#46

Hartono | 15 01 2008 @ 14.30.22

bila mau langganan Kompas update telp kemana, saya di jalan keutamaan Dalam L-2 No.9 jakarta Barat.telp 0816789269.
makasih.


#45

dhany | 11 01 2008 @ 9.40.03

kapan disini koran gratisan muncul kaya di negara maju..??


#44

de | 10 01 2008 @ 9.18.29

nek ono koran gratis gak enak paman. rombeng ndak mau beli koran bekas saya, soale sudah dapet yg gratisan. baru pula.


#43

Hidoop » Kompas, Mengapa Oh… Mengapa? | 09 01 2008 @ 7.03.22

[...] Follow any comments here with the RSS feed for this post. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL. « Download Gratis: 8 VectorSilhouettes [...]


#42

STR | 08 01 2008 @ 20.49.41

Kompas? Coba lihat blog ini, Paman.


#41

danie | 08 01 2008 @ 19.50.10

kalo saya sih pakdhe, lebih senang bayar seribu rupiah dapet ekstra 4 halaman iklan lowongan kerja…


#40

Mardies | 08 01 2008 @ 19.45.30

Lho, Paman ini sudah kehabisan URL atau gimana? Kok blog saya ditempel di atas dengan semena-mena :D


#39

dede kurnia | 08 01 2008 @ 14.18.52

thaks, untuk kompas saya merasa terbantu dengan versi kembarnya kompas untuk memperoleh informasi ditambah lagi dengan harga Rp 1000 yang sama dengan harga sebatang rokok.


#38

areta | 07 01 2008 @ 21.38.39

wah, zaman sekarang, yang keliatan baca korang cuman bapak2. anak sekolah… paling kalo ada tuags kliping.
ada internet gitu lho… meskipun radiasi komputer lebih berbahaya dibanding kertas koran yang gak beradiasi tapi bau, tetep aja generasi muda milih komputer yang lebih praktis. toh udah ada yang layarnya aman untuk mata. hehehe…
btw, apa gak capek tuh terbit sehari dua kali?
majalah sekolahku yang terbit sebulan sekali ajah repot ngejar deadlienya. entah karena juga disibukan tugas2 sekolah atau apa….


#37

edratna | 07 01 2008 @ 19.56.04

Yang saya tahu, sejak tahun 2008, halaman Kompas berkurang. Juga minus cerber dan komik….akhirnya saya malah beli bukunya yang sudah terbit di Gramed Matraman (dapat diskon 30%), daripada nunggu cerber di Kompas yang tak diteruskan


#36

ancilla | 07 01 2008 @ 19.52.17

wah hebat.. uda ampe beli ya paman?
aku masi tahap liat iklannya tadi…

menurut paman sendiri apa infonya bagus?

daripada mengusahakan koran gratis, mending mengusahakan sekolah gratis dulu paman… hehehe…


#35

stey | 07 01 2008 @ 17.06.08

Pakdhe, maapkan saya..saya ga pernah baca koran..soalnya males. Ga ada berita gumbira dikoran sekarang..bencana, perang, teror, keputusan2 aneh dari pemimpin2 aneh..heh..maap pakdhe..


#34

AnnO' | 07 01 2008 @ 16.16.44

kayaknya kompas Update ini menarik juga..gw dari dulu paling suka dg tata bahasa koran Kompas ini, selalu enak dibaca. Yg update ini berguna sekali krn ketebalan kadang-kadang kita ribet memilah2 mana yg lebih prioritas dibaca.


#33

jalansutera | 07 01 2008 @ 10.29.28

seharusnya KOMPAS update itu gratis lho… setuju? setuju dong…


#32

ebeSS | 06 01 2008 @ 23.37.12

wah . . . waktu emak kuliah, baru ada 4p, sekarang konon patlikur ‘p’, price, place, product . . . pijet pak parman . . . ;)


#31

evelynpy | 06 01 2008 @ 22.05.27

Well untuk KOMPAS update ini aku rasa amat sangat useless.
Bayangin aja, buat apa koran rela datang pagi-pagi buta mengunjungi teras rumah kita yang kenyataanya pun kita * orang yang super sibuk* malah bacanya kadang bukan dipagi hari tapi pas makan siang atau malah makan malam. Jadi aku rasa amat sangat sedikit orang yang mau beli kompas update. Lagian kompas update masih kalah dengan breaking news di TV yang ada setiap jamnya. Kita yang sibuk bisa mendengarkan apa yang terjadi tanpa membuang waktu 5 menit untuk membacanya dikoran.
Jadi untuk koran kompas update aku doakan semoga umurnya nggak sejagung!
Untuk koran bagus, ya harusnya itu perlu, buat nambah orang pinter di negri ini, tapi kalau bukan dipakai untuk dibaca tapi di buat yang lainnya, repot juga ya? :lol:


#30

rhei | 06 01 2008 @ 21.43.59

wah enak ya yang di Jakarta, aku di kalimantan gak bisa ikut nikmatin kompas dobel pakde


#29

Dony | 06 01 2008 @ 21.03.27

Di kampus, saya biasa beli Kompas seharga 1000 rupiah, subsidi bagi pelajar dan mahasiswa.

Menurut Paman, apa ada “perbedaan” dalam koran Kompas setelah jualan saham?


#28

andi bagus | 06 01 2008 @ 9.02.35

sepakat paman jikalau ada koran gratis..sama dengan mencerdaskan pengetahuan bangsa ini, karena akan berbondong bondong membaca koran dibanding menonton SINETRON TV…


#27

Haris | 05 01 2008 @ 21.38.49

Saya suka kompas updatenya apalagi gratis…


#26

aaqq | 05 01 2008 @ 19.49.34

setuju..
mending gratisin aja..
gratis gak berarti mutunya gratisan juga dong..
kasih iklan aja biar banyak.. iya gak paman?

eh tapi kalo di kereta.. jam siang koran reguler juga jadi seribu kan?


#25

Hadi | 05 01 2008 @ 18.12.28

Tapi, edisi regulernya juga makin tipis ya? (cmiiw). Apa mungkin masih liburan akh..err..awal tahun?


#24

abah oryza | 05 01 2008 @ 16.45.08

mungkin saya beli yang up date ajah … soalnya berita pagi udah dapet di tv dan internet … murah sih …


#23

Mohammad | 05 01 2008 @ 15.17.32

Boleh-boleh saja koran gratis, tapi pemda mesti disubsidi juga untuk sediakan pasukan pengumpul sampah-sampah koran itu. Sebab apalagi yang gratis, koran yang bayar aja kalau habis baca buangnya pada sembarangan.


#22

mpokb | 05 01 2008 @ 14.56.09

dulu kompas selalu jadi acuan dalam berbahasa. kalau menulis berita kejar setoran untuk “berita pecah” atau “berhenti tekan”, masih bisakah?


#21

kwak kwik kwek | 05 01 2008 @ 12.21.34

Binun, update kok brita HL-nya udah ditulis yg edisi pagi, tiga artikel pulak…piye toh iki?


#20

Ben | 05 01 2008 @ 11.29.01

menurut saya sih itu adalah ‘usaha bunuh diri’ koran tersebut :)

mending langsung bikin langkah kontroversial: 1 versi (full version) dengan harga Rp 1000,- daripada tanggung gitu. secara ongkos, kompas tidak bakal merugi mengingat iklannya yang super sangat banyak itu.

toh, sudah bbrp bulan terakhir ini di Surabaya edisi full version dijual Rp 1000,- setelah tengah hari. itu pun terlihat kurang laku, masih kalah sama koran terbitan lokal.

full version dgn harga murah aja kurang laku apalagi lite version…


#19

adis™ | 05 01 2008 @ 11.25.52

Lebih bagus lagi kalo tidak dijual terpisah dengan kompas paginya…tinggal klik Refresh/F5 nanti tiba2 muncul halaman update…*bisa gak ya?*


#18

tukang ketik | 05 01 2008 @ 11.18.42

walah… koran sore sindo aja jarang saya baca. Nih lagi kompas ikut-ikutan. Emang dah lupa kalo ada http://www.kompas.com ?


#17

lexi | 05 01 2008 @ 10.57.08

Bravo KOMPAS. Tetapi di kantor saya, Sabtu pagi ini justru terjadi anomali, pakdhe. Di luar sana KOMPAS dua edisi sehari, pagi ini KOMPAS malah gak muncul siji siji. Pakdhe mungkin ngasih solusi: hubungi pengaduan! Whoah, malas buang pulsa, paling juga dapat ucapan maaf doang. “nanti kita cek bla bla bla…” media memang menang selalu. Kalo kita minta pembayaran langganan diundur sehari dua, juru tagih udah mrengut aja.


#16

Don Kisot | 05 01 2008 @ 9.42.16

Bila penunjuk arah telah ditengok dua kali sehari, dan utara tetap di sana-sana juga, lalu kemana langkah perlu mengayun, dahi perlu ditegakkan dan hidup renyah untuk dinikmati…?


#15

Gandhi | 05 01 2008 @ 8.45.33

Saya Tiap hari baca koran gratis kecuali sabtu minggu soalnya sebelah kantor agen koran, jadi mau baca koran apa aja ada hahahahahaha. [Indonesia banget ya carinya yg gratisan]


#14

kw | 05 01 2008 @ 6.45.02

wah keren. saya bacanya cuman kompas minggu yang beritanya “enak-enak”. kompas update minggu juga terbit ga ya?


#13

JaF | 05 01 2008 @ 5.40.16

Wah, terobosan baru nih. Apakah ini karena Kompas ‘tergoda’ oleh Sindo? hehe

Akankah dia berakhir seperti korannya Detikcom dulu?


#12

rehesa | 05 01 2008 @ 4.15.00

kalo belinya lebih sore harganya jadi brp ya..? mmmmm….


#11

Aris | 05 01 2008 @ 2.06.36

Thanks infonya man … met tahun baru (hehehe belum terlambat kan?)


#10

Hoek Soegirang | 05 01 2008 @ 1.43.39

hoo…fantess di fom bensin furwokerto, komfasna jadi murah sangadh. cuma seribu. ternyata itu komfas yang ufdet ya? *elus-elus jenggodh*


#9

Beta Uliansyah | 05 01 2008 @ 0.51.47

Udah curious sejak tadi pagi, liat orang bawa Kompas Update. Maklum, saya belinya Koran Tempo.

Kompas 1000 sepertinya mau nyaingi Koran Tempo. Begitu juga sidebar di web itu, nyaingi tempointeraktif.com.

BTW, entah hari apa yang lalu, ada dobel judul di Koran Tempo. Di rubrik olahraga, judulnya mengenai Liga Super. Tapi berita yang landscape di halaman bawah isi artikelnya tentang Formula 1.


#8

mr.bambang | 04 01 2008 @ 23.24.44

Untuk koran seribuan, menurutku pasar akan tetap lebih kuat pada warta kota dan berita kota paman, lagian warta kota juga masih satu group dengan kompas (cmiiw).
Untuk koran gratis, di jakarta udah ada kok paman : harian trans kota dan bisnis jakarta. Harian trans kota kalau gak salah kerja sama antara pos kota dengan busway trans jakarta karena disebarnya di halte2 busway.


#7

eriek | 04 01 2008 @ 21.13.36

wah…saya malah baru tahu Kompas mulai terbit dua kali dari pakdhe ini. dulu, sewaktu di pers mahasiswa sering langganan, hampir tiap hari baca Kompas. lumayan tambah wawasan dan meniru sedikit gaya penulisan jurnalisnya.

kompas, buat saya, masih menjadi pilihan koran untuk digali isinya.


#6

Hedi | 04 01 2008 @ 21.06.35

soal apakah masih banyak yang baca koran, kan masih ada siasat dengan pake juranlisme sastrawi, tho? ;)


#5

max | 04 01 2008 @ 20.57.29

Kayaknya cuma beredar di ibukota ya Pakdhe. Di Padang gak ada versi update itu


#4

Totoks | 04 01 2008 @ 20.45.10

bisa dibilang ini adalah edisi ekonomis, mungkin sekali baca langsung habis kali cuman 12 halaman kan :D


#3

fisto | 04 01 2008 @ 20.43.55

setuju, lebih baik koran gratis…klo mau membahagiakan konsumen, ya sekalian aja..jangan setengah2…


#2

sluman slumun slamet | 04 01 2008 @ 20.36.55

lho di kampus kan ada kompas reguler yang juga seribuan. dulu jam 1 siang baru dijual, kini jam 10 pagi dah muncul. tapi di jalan2 juga seribuan kok!
lebih baik ngecer daripada langganan kan? lebih2 buat yang suka mobile.
kalo saya mah rss sajah via henpon!


#1

Abihaha | 04 01 2008 @ 19.27.25

Kalau gratis nanti habis diborong oleh yang suka keliling dorong gerobak bawa timbangan itu pakdhe.
Kertas koran jaman susah gini bisa payu Rp.1400/kg je’.