Kompas Jadi Dua
MENYIASATI ZAMAN UNTUK BERTAHAN.

Mulai hari ini koran Kompas terbit dua kali. Yang regular, untuk edisi hari ini, adalah nomor 184 tahun ke-43. Yang versi kembarannya, seharga Rp 1.000 (tanpa harga langganan per bulan), adalah nomor 1 tahun ke-1. Si kembaran seceng itu bernama Kompas Update.
Selebihnya Anda sudah tahulah. Yang pasti terbit kembarnya Kompas ini berbeda dari kasus kembar Sinar Pagi tahun 90-an karena para juragannya berselisih.

Suryopratomo, pemimpin redaksi Kompas, dalam pengantar menyatakan bahwa edisi siang itu untuk menjawab kebutuhan pembaca terhadap berita terbaru. Kenapa dinamai Update, “… karena merupakan bahasa jurnalistik yang umum seperti halnya breaking news ataupun stop press.”
Sebetulnya, untuk Indonesia, koran terbit dua kali sehari itu bukan hal baru. Seputar Indonesia sudah melakukannya. Kompas menyusul.
Sulit membayangkan jika dulu, pada era SIUPP, ada koran dua kali terbit sehari, dengan halaman melebihi 12 (kecuali ada bonus pidato presiden) tapi harganya tetap. Regulasi, “kesepakatan”, dan “imbauan” dari penguasa saat itu tak memungkinkan. Cetak jarak jauh pun dulu dipersulit — selain juga modalnya kudu gede. Namun kemudian terbukti, ketika pintu deregulasi dibuka, sehingga tak ada lagi kawin paksa melalui SIUPP, (sebagian) pers daerah — dan “pers nasional yang terbit di daerah” — tetap hidup.

Sudahlah, itu masa lalu. Lantas apa menariknya dengan edisi dobel Kompas itu? Ketika televisi, radio, dan internet kian cepat menyiarkan berita, media cetak masih mencoba bertahan dengan segala jurus — termasuk menggarap anak sekolah.
Prinsip dasar — tepatnya: optmisme — penerbit adalah adalah koran bisa dibaca di mana pun dan kapan pun tanpa alat, kecuali dengan kacamata dan lensa kontak (bagi yang memerlukan).
Alasan lain, tentu saja, karena masih ada yang mau membeli ruang untuk memasang iklan.
Bagi kelas menengah di kota besar, tambahan Rp 1.000 (lebih murah dari tarif parkir) selagi makan siang bukanlah masalah. Tapi apakah mereka sudi mengeluarkan itu untuk seeksemplar koran, biarlah pasar yang mencatat.
Yang bagus sih, seperti di negeri lain, ada koran gratis. Setuju?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Dukun Sadar Promosi
October 5, 2006 by AntyoDARI MEMIKAT LAWAN JENIS SAMPAI IKAN.
Sekian lama saya terkungkung oleh persepsi bahwa yang namanya dukun sakti itu tinggal di tempat terpencil, tidak butuh uang (karena punya pekerjaan utama), dan tidak haus publisitas.
Saya belum pernah mencobanya sih, tapi pernah saya bayangkan untuk mencapai tempatnya harus bertanya berulangkali. Bahkan mungkin akan bertemu ular [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





updatenya ko ga sampe cerbon or semua daerah om? tanya kenapa yooo?
kapan yoo kompas jabar updatenya…
Wah ini yang saya ndak setudju..
bukan masalah harga seribunya, tapi ini masalah yang kemarin sedang hangat-hangatnya dibicarakan di mbali itu lho pak dhe.. itupun dengan catatan kalo udah ndak pada lupa lagi lho.
yaitu, masalah “global warming” soalnya menurut “katanya”, koran NewYork Times dalam sekali terbit memerlukan 160.000 batang pohon!
nah, kalo semua koran pada terbit dua kali.. kira-kira berapa batang pohon yang harus ditebang?
maka dari pada itunya.. yuk.. mari.. gunakan energi seperlunya dan seefisien mungkin
ehm… di ibukota baru to paman ??
kalo di jogja udah setengah tahunan rasanya ato setidaknya taun 2007 udah ada….
mungkin emang sasarannya mahasiswa, dulu belum ada update, tapi cuman koran pagi di kasih stempel dan dijual di lampu merah aja, dengan orang-orang kompas rasanya…
laris manis (saya salah satu penggemarnya) gimana engga sih, kalo bayar seribu dpt 48 halaman…
berhubung laris jadi program nasional tapi tiap daerah g lancar rasanya soalnya di semarang dan solo aja susah….
kalo di jgj karena laris manis mereka mengkaryakan anak2 jalanan…
kalo yg sekarang pakek “update” cuman beda di halaman depan kok, belakangnya sami mawon…
kalo posisi sekarang saya beli yang koran sabtu cari lowongannya doang soalnya…. hahahaha….
kangen jogja ik….. hiks
asiknya jadi mahasiswa…. :D