Jarang Pulang, Siap Mati
HIKMAH DARI SPIRITUALISME JALANAN.

Di tengah jejalan padat kendaraan berebut ruang, motor lelaki berhelm itu gesit mencari celah. “Jarang pulang” terpampang di rompinya. Selebihnya, setelah headline, bacalah body text di punggung rompinya.
Dia saya lihat barusan di Jakarta Selatan. Saya tak menganggap dia sedang menjemput maut. Buktinya dia tak mencemplungkan diri bersama motornya ke got. Tapi baginya, dalam tafsir saya, kematian sebagai ujung kehidupan bukanlah sesuatu yang patut ditakuti atau ditawar.
Hari Minggu ini, seperti Ahad lainnya, saya tak ke gereja. Tapi dari lelaki berompi itu saya memetik sebuah khotbah.
Sambil menyetir menuju tujuan, saya pun teringat seorang kawan. Dia salah satu founder sebuah perusahaan dengan brand kuat. Dia tinggalkan semua kemapanan dan kenyamanan, lalu kembali ke nol, build something from scratch dari sebuah rumah kontrakan, dengan workstation kecil dekat dapur dan toilet. Pergi-pulang kerja dia lebih sering menumpang anak buahnya. Pernah ke Kemang dia naik ojek.
Dulu, pada puncak kenikmatannya menyelami hedonisme, dia sadar tentang sesuatu yang mentok. Uang seperti dihamburkan untuk memenuhi dorongan kekanak-kanakan, beli pistol pun sampai dua, dan bergaul-maul dengan para priyagung, tapi hanya kehampaan yang didapat.
Kini dia tampil biasa, Rolex dan arloji mahal tak dia pakai lagi. “Aku jual, karena kehabisan duit — pernah di dompet cuma ada dua puluh tujuh ribu (rupiah). Tapi aku nggak mau beli gituan lagi. Sudah pernah pakai ya sudah,” ungkapnya. SUV boros BBM pun dia good-bye-kan.
Kini dia lebih senang membangun sesuatu bersama orang lain agar dapat lebih berbagi. Gagal bisnis bukan masalah, karena dia berprinsip kalau dulu kere kenapa takut lagi menjadi kere.
Kini dia mencicil sebuah cara untuk mewujudkan cita-cita: membeli sepetak tanah di desa, lalu meminta tolong seorang ahli pertanian untuk membuat sebuah percontohan cara tanam sejenis buah komoditas.
Jika berhasil, model itu akan dia tularkan gratis ke petani setempat yang lebih dahulu menanam pohon yang sama.
Cara yang sama dia lakukan dengan membuat model sekolah bagus yang murah, muridnya cuma puluhan. Selebihnya urusan dia serahkan ke ahli pendidikan yang bervisi terang, “Soalnya aku bukan ahli pendidikan.”
Tapi dia tak sepenuhnya menjadi kere. Dia masih suka wine.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Dering Telepon Landline February 10, 2012Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah. Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga […]antyo
- Dering Telepon Landline February 10, 2012
Cicitcuit!- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 glennypy6 (Glenny Jonathan)
- RT @cho_ro: Jadi social smoker itu karena gak ada obat mati gaya. masalahnya dari social smoker ke pecandu itu tinggal selangkah ~ @pamanTyo February 10, 2012 hollowayzr4 (Holloway Wharton)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Mengapa Pak Polantas Suka Ngumpet?
July 25, 2007 by AntyoANEH JUGA, GINI KOK DITANYAKEN.
Kalau ada yang menjawab bahwa para polisiwan lalu-lintas itu terilhami oleh tayangan iklan TV Sampoerna A Mild tempo hari, jelaslah itu fitnah kejam.
Masa sih ngumpet hanya lantaran meniru iklan yang kabarnya dibikin di Thailand (dengan model setempat) itu? Kayak nggak kreatif saja.
Jawaban yang canggih dan masuk [...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Menunggu kaya..setelah itu berpikir bagaimana menjadi orang yang tak sepenuhnya kere..
boleh jarang pulang..
asal jangan jarang posting..
rupanya zaman sekarang doa agar slamet dunya dan akirat gak cukup lewat doa2 yg panjang, teriak2 tit… lewat mikropon, kafir-mengkafirkan, buat dakwah lewat cara gaul.
—————-
Pasti bangunan yg ‘dibangunnya itu sangat megah… dan.. abadi……
:)
Boeng Kemploe,
Wine van kaoem Rodin bin kere bole berdjoeloek sebagih Tjioe, 60% van alkohol teboe, di djamin klenger seblon berkembang poen….
Koeaing!
ekstrim sekali…!!!
mirip ama yg ngobrak-abrik ktr palyboy..!!!
maksdnya polos bukan si pecandu wine..
tapi mas2 yg pake rompi seksi itu
manusia yg polos, tapi justru dengan kepolosanya dia mempunyai jati diri, dan tahu siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya..
makasih buat introspeksinya Bung..
salam kenal
newbie di WP
*salaman*
aduh pakdhe, saya sekarang jadi takut menghambur hamburkan uang. jangan jangan bulan depan saya harus mulai dari scratch lagi… hiiii syerem…
Salam kenal Paman Tyo. Nemu blog Paman dari rekomendasi tempo, sangat menarik dan luar biasa!
paman tyo memang slalu sipPP!
numpang izin nge link paman..
orang memang mencari sesuatu yang belum perna mereka dapatkan…
I know him very well, mas Tyo. He’s my angel..we’ve been through up and down for years.Mencari sebentuk kehidupan, dan sosok jati diri yang diinginkan-Nya atas keberadaan kita di dunia ini. Dia tak hanya masih suka wine, tapi juga musik latin dan salsa lho :)
Paman Jarang Pulang, tks, akhirnya mapir juga di tempatku. Kancamu yang lagi nyepiritual itu, memang sedang menjalani laku lurus, setelah tahu laku ngiwa. Dan dari wine-nya itu aku tahu siapa dia.
Dia masih suka wine.. Aku juga suka. ayo nge-wine halah..halah..
Kalau sudah mencapai puncak, rasanya ingin kembali ke hal-hal fundamental. Begitukah?
wuich hebat temannnya paman…sudah lho keluar dari kaum hedonis itu kayaknya…
wah, siapa tuh temen oom?
kayaknya jalan yang dia pilih patut diikuti para kaum hedonis (maap kalo ada yang tersinggung).
jeli aja paman ngeliatnyaaaa
hidup, kata orang tua, mung numpang ngombi. Tapi, banyak orang tidk bisa membedakan dahaga jasmani (yang cukup dipuaskan dengan sebotol akua) dengan kerakusan/keserakahan nafsani (yang tak kenal puas sampai orang itu mati).
Salam buat teman paman.
Kayaknya si pengendara motor sadar kalau difoto ya???
Banyak yang aneh-aneh kalau kita sedang mengamati dijalan, dan disekeliling kita…kalau lagi nggak stres, kita bisa tersenyum, kadang getir, kadang bisa tersenyum geli, bahkan ngakak…
Pakde… saya juga pengen bisa menghambur2kan uang. Bela beli rolex kaya kacang goreng. Tapi lha wong uangnya aja nggak ada…
Ya ya… saya memang hedonist wannabe tanpa modal yang sudah mematikan idealisme demi realita.
Halah halah… ngemeng epe tho? :D
keren!!!
saludh sangadh saia!
*speechless*