Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Ranjau Bernama Kursi Kedai

Selasa, 29 Januari 2008 @ 14:03 | Umum

KEREN, TAPI SALAH PENEMPATAN BISA BERBAHAYA.

kursi kaki juntai

Di Pondokgede, ya wilayah saya, ada kedai baru. Seperti beberapa lainnya di banyak tempat, kedai yang satu ini juga senang jika ada kaki tersandung. Penyebabnya sederhana: kaki kurus kursi yang mengarah keluar padahal pandangan mata pengunjung lebih tertumbuk pada badan kursi.

Kesalahan desain? Untuk kursi: tidak. Untuk tata ruang: ya. Kursi macam itu tidak cocok untuk dipasang berdesakan.

Apakah saya tersandung? Untunglah kali itu tidak. Tapi beberapa pengunjung mengalami. Bahkan ada pramusaji yang juga tersandung kaki kursi (tepatnya: menyenggol). Untunglah tak ada minuman atau kuah panas menumpahi pengunjung.

Tentang kenyamanan dan keamanan kedai, sekarang mendingan. Mungkin karena para juragan mulai memanfaatkan desainer interior betulan.

Dulu, tahun 80-90-an, tak sedikit kedai yang mengabaikan itu. Saya tak tahu lantai kedai ayam goreng di basement Slipi Jaya Plaza, Jakarta Barat, itu dulu sudah menyandungi berapa orang. Ada perbedaan level tak sampai 10 cm yang tak bertanda visual. Pembawa nampan bisa terantuk dan jatuh.

Masih soal keamanan, masih saya jumpai beberapa gedung baru yang lupa memasang stiker atau film bertekstur sandblast pada dinding kaca. Ada saja orang yang selagi berjalan menabrak kaca jernih.

Ndeso? Salah sendiri? Kalau di rumah masing-masing ya salah sendiri. Tapi kalau di tempat lain, berupa bangunan (yang boleh diakses) publik, kayaknya yang ndeso itu ya yang punya gedung.

Meskipun begitu saya pernah punya gagasan kenthir waktu sekolah. Saya buat sketsa di buku tulis saya: asrama pasukan komando. Bentuknya seperti labirin untuk percobaan tikus. Setiap dinding diberi cermin. Hanya prajurit pilihan yang bisa lolos dari sana saban hari tanpa menabrak teman maupun dinding.

Ada 18 komentar | trackback | Depan

#18

dhany | 13 02 2008 @ 16:19:48

emang “dingklik” di warung mbah giman lebih aman meskipun tak terlalu ergonomis


#17

tjahjo | 03 02 2008 @ 0:07:58

Sekedar kisah: beberapa tahun lalu seorang anak kecil berlari menabrak sebuah kaca jernih di kantin sebuah stasiun televisi swasta. begitu kerasnya, sehingga anak itu harus dibawa ke RS.

Tiga hari kemudian, kabarnya, anak itu meninggal dunia.

Mau menyalahkan siapa?


#16

bumisegoro | 01 02 2008 @ 16:19:06

betul juga ya. pernah kesandung tapi ga sampe dianalisis lebih lanjut.


#15

uzan | 31 01 2008 @ 17:49:16

di jogja mulai menjamur kedai ataupun kafe sejenis kang, tp syukur aku ngga pernah ksandung kaya gituan..
mgkn seharusnya di kaki kursi dikasih bantalan busa yg tebel kali ya, biar klo ksandung kaga sakit.. hehehe


#14

dumbledore | 31 01 2008 @ 12:45:19

nak atau dik antyo, saya mau nanya, sampean itu memang dari sononya jeli akan detail, peduli pada hal yang biasa, sehingga jadi blogger andal, atau jadi blogger dulu baru mengasah kejelian dan kepedulian itu?
saya iri, dik.


#13

aji | 30 01 2008 @ 23:20:17

sebelom dipasang sandblast, lumayan sering terjadi tabrakan tunggal antara tamu di kantor saya versus pintu kaca. hahahahha


#12

bubba | 30 01 2008 @ 13:59:58

kenapa ya pakdhe, gedung gedung itu harus pake pintu kaca. mbok dibikin dari jati, kan lebih enak dilihat dan tidak berbahaya…


#11

budi | 29 01 2008 @ 22:56:13

denger2, pesawat yang nabrak WTC juga gara2 gak liat kalo di situ ada KACA

*isu mode: ON*


#10

sluman slumun slamet | 29 01 2008 @ 21:27:53

prajurit pilihan ituh bernama tyo…
:D


#9

Hedi | 29 01 2008 @ 17:26:42

hahaha jadi ingat waktu saya nabrak kaca di menara jamsostek, untung lagi sepi, kecuali satpam yg liat :D


#8

daustralala | 29 01 2008 @ 16:13:37

iya ini karena nggak melibatkan desainer produk kayaknya.


#7

jalansutera | 29 01 2008 @ 15:58:28

ini khan semata-2 karena masalah keseimbangan. bayangkan kalo kaki kursi di kedai itu harus ‘mingkup’ ke dalam. bisa dipastikan akan ada lebih banyak pelanggan yang terjengkang ketika menyruput kopi sambil sedikit beringsut. hihihi…


#6

melly | 29 01 2008 @ 15:56:36

jadi inget tempat ngopi super sesek dua puluh empat jam di jakarta pusat. tidak ada ruang untuk bergerak


#5

Nna | 29 01 2008 @ 15:45:22

kedai mana niy paman?!?


#4

Mbah Sangkil | 29 01 2008 @ 15:19:28

wah kalo jatuh sih sakitnya gak seberapa tuh, malunya yg luar biasa. Kursi yg aneh


#3

anima | 29 01 2008 @ 15:09:25

haha, idenya itu bagus banget, Paman. apa ada yang mau implement yah?


#2

Bimbim | 29 01 2008 @ 14:18:57

saya mendingan “LESEHAN” aja….. kalau mau lewat tinggal bilang…permisi.. nderek langkung.


#1

annots | 29 01 2008 @ 14:15:28

“Ranjau, souvenir dari abad 21″, Jadi inget perang yang di timur tengah sana :(