Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





… Meteran dan Propaganda Cengengesan

Rabu, 06 Februari 2008 @ 22:20 | Personal, Selingan

GUYON DAN MORAL CERITA DUNIA BLOG.

duit meteran mbahmu!

Bermula dari fitnah mesra Ndoro Bedhes, sebagai gojekan kere di blog lama, akhirnya meluaslah atribut nan menyedihkan itu. Hasil terbaru: terkukuhkan dalam referensi cengengesan berbasis Wiki. Duit meteran pun dibawa-bawa dalam web cerdas tapi gemblung dan bikin ketawa itu.

Di satu sisi, ter-Wiki-kan di grayak minulya Cah Andong itu merupakan kehormatan. Saya, orang jauh yang berjejak di sebuah lurung dekat Pasar Demangan, dimasukkan ke sana.

Di sisi lain, duh, mumet juga dengan atribut itu. Misalkan saya punya sampai meteran, juga tak akan saya umumkan. Sebagai cita-cita bahkan impian pun, mestinya, tidak akan saya publikasikan.

Kemarin saya bisa hehahehe dengan sebutan itu, lantas sesudahnya bersungut-sungut mecucu. Tapi setelah terlibat dalam wadah blog anyar, saya merasa tidak nyaman karena disangka menjadi pemodal.

Yah, apa boleh bikinlah. Inilah buah propaganda. Pengulangan akan diyakini sebagai kebenaran. Sebagai kebenaran, atribut semu itu bisa menjadi bahan pemakluman untuk apa saja.

Kalau saya, sebagai penganggur, cuma di rumah saja maka akan dibilang, “Namanya juga… meteran, santai terus.” Padahal saya mumet, bokek, dan lapar.

Kalau saya, sebagai ronin, jungkir balik di luar maka akan ditanggapi, “Enak ya keliling sana-sini, nggak perlu ngantor pagi sampe malam. Namanya juga… meteran.”

Orang Jawa bilang, “Kojur tenan, wis!” Orang bijaksana akan menghibur, “Urip kuwi wang-sinawang.” Maksudnya, hidup ini saling memandang, seolah orang lain lebih enak.

Di luar segala keluh-kesah tadi, ada satu hal yang layak dipetik sebagai pelajaran dunia blog. Yaitu pencitraan di luar kendali.

Maka ada saja yang secara sembrono memelesetkan Ndoro Kakung menjadi Ndoro Bedhes. Taruh kata penyebutan kedua itu lebih tepat dan representatif, maka tetap saja berarti penyangkalan dan ketidakhormatan terhadap klaim sepihak dari seteru mesra saya itu.

Demkian pula halnya dengan pengukuhan lelananging jagat, yang tak sampai setahun sudah akseptibel. Yang bersangkutan mungkin tersipu bangga tanpa menjadi jumawa, tapi dalam urusan tertentu, saya yakin banget, dia cenderung agak sedikit kurang nyaman dengan atribut unggulan itu.

Ehm, saya teringat keluhan seseorang yang menjalani pendidikan sejak TK sampai SMA di kompleks sekolah yang sama. Atribut untuk dirinya melekat sepanjang masa. :D

NB:
Yang diharapkan adalah munculnya orang ketiga, yang beratribut dobel, yaitu lelananging jagat dengan duit meteran. Kalau ada, ranah bermainnya bukan di blog tapi di tempat lain. Kayaknya kelak ada, dia masih muda, tapi sekarang masih merampungkan skripsi. :D

Ada 21 komentar | trackback | Depan

#21

kardjo | 26 02 2008 @ 9:54:48

Ssstt… info teakhir, duitnya paman ndak lagi meteran… tapi sudah jadi kiloan.


#20

Seleksi alam « Karena hidup adalah sebuah sandiwara | Dalam panggung besar bernama dunia | 21 02 2008 @ 9:42:33

[...] Begitulah,banyak uang belum tentu membuat seseorang itu menjadi bahagia.Si-paman pernah merasakan :D.Dan si Tuan Muda ini sedang menjalani: mengumpulkan dolar demi dolar untuk membuat berbagai jenis rekening dari berbagai bank di seputaran sudirman. [...]


#19

budiw | 10 02 2008 @ 20:27:53

Kalo menurut saya paman, kata2 itu juga sebagai doa. Kalo memang keadaan sekarang duitnya belum meteran, sapa tahu kalo semua mendoakan paman supaya duitnya meteran, jadinya nanti duitnya meteran beneran. :D

Selamat juga buat dagdigdugnya ya..

–budiw


#18

Mbah Sangkil | 09 02 2008 @ 8:49:23

paman minta duitnya 1 meter aja huehuheuheuhueueueu

*sapa bilang paman duitnya meteran, wong paman duitnya gelondongan*


#17

sluman slumun slamet | 08 02 2008 @ 16:17:06

nanti sayah dapat julukan apa ya paman?
duit kardusan?
duit kiloan?
duit recehan?
:d


#16

Ceka | 08 02 2008 @ 12:09:34

Salut kalau karib kang mas tahu sampeyan punya…meteran. Wong kalau soal itu antara sigaraning nyowo saja, kadang tidak terbuka :)) Apalagi ….tak bisa tertawa kalau disebar di atas meja atau nangis ketika dijepit dompet dan ditindih pantat.


#15

venus | 08 02 2008 @ 0:24:23

hahahah…anak2 itu memang nguawur sengawur2nya :D


#14

kulinerSALA | 07 02 2008 @ 21:23:10

Meteran tukang kayu!
Makanya ketemune juga duit recehan…

Padahal, meski bukan pemodal, Paman kan memang…METERAN.!!!


#13

sawung | 07 02 2008 @ 20:53:16

seperti propagandanya joseph gobbels di era Nazi. Katakanlah kebohongan terus menerus maka akan menjadi kebenaran. cara gobels dipake sampe sekarang oleh marketing


#12

ndoro kakung | 07 02 2008 @ 17:51:59

haduh, jadi gak enak ki :P


#11

Aris | 07 02 2008 @ 15:34:52

Benar man, begitulah namanya propaganda. sesuatu yg diulang terus menerus lama kelamaan bisa dianggap sbg suatu kebenaran. Makanya ada yg namanya counter propaganda. Skrg kita tunggu apakah Ndoro Kakung alias Ndoro Bedhes yg Lelananging Jagat juga akan posting re hal ini.

Saya tahu anak yg muda yg paman maksud adalah blogger juga yg sdg kesengsem sama dara ayu yg bintang film/iklan (dan blognya pernah ramai diributkan krn copy paste).


#10

Beta Uliansyah | 07 02 2008 @ 15:33:17

Populer memang susah.. nggak ada korelasinya sama kantong.


#9

kwak kwik kwek | 07 02 2008 @ 9:54:12

Pamane, kalo perlu publicist, sudah tau kan harus telpon kemane hehehehehehehehe


#8

kw | 07 02 2008 @ 9:46:49

paman, citra masih penting rupanya. tapi lebih penting funkeh aja kali.. :)

aku tau kayaknya siapa yang disebut itu


#7

cahkutu | 07 02 2008 @ 2:18:47

Fitnah lebih kejam bila dihargai seribu perak, tetapi terus terang ora mudeng siapa itu Ndoro Bedhes.

Salam kenal mas Tyo, dapet blog panjenengan dari paman google nih.


#6

Hedi | 07 02 2008 @ 2:00:27

Tadinya saya pikir orang ketiga itu adalah mas Iman, kan dia nanggung kita makan di menteng kemarin itu, tho? Tapi ternyata bukan, lha mas Iman udah selesai skripsi kok :D


#5

khusen | 07 02 2008 @ 1:35:34

sampean dinilai punya…meteran,paman? anggap ae itu sebagai doa..amien…


#4

Abihaha | 07 02 2008 @ 0:56:54

Tenang pakdhe, saya ndak percaya kok, bukan dari efek secengan, tapi dari meteran gulung murahan isi 3 meter yang platnya tipis. Sudah pating plengkung masih dieman-eman, ya wis mesti sing ngemane bokek.


#3

mbakDos | 07 02 2008 @ 0:44:12

lho kenapa yang besanan bukan pakdhe dan sir mbilung saja? :D


#2

Mbilung | 06 02 2008 @ 23:29:37

lha mbok paman dan ndoro bedhes itu besanan saja. ada peluang penyatuan ini akan menghasilkan orang ketiga itu.


#1

Dee | 06 02 2008 @ 22:56:45

wah bisa jadi lakon heroik berjudul “bayut insyaf jadi lelananging jagad”. lho dari dulu nggak rampung-rampung to itu skripsi? idealis opo ……(piye)?