Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



5.039 Kotak Pos

Senin, 11 Februari 2008 @ 11:53 | Umum

MESTINYA WARISAN KANTOR POS BERLANJUT KE BLOG.

kotak pos jakartaSaat masih bocah di Salatiga, yang ketika itu cuma sembilan kelurahan, saya menganggap kotak pos itu keren, mencerminkan penyewanya terpelajar dan modern.

Siapa penyewanya? Orang-orang asing. Maka saya pun membayangkan kalau sudah besar akan menyewa kotak pos. Snobisme yang ndesit, memang. Sama snobnya dengan membayangkan punya “alamat kawat”.

Ketika saya kuliah di Yogya, keinginan berkotak pos masih ada. Sayang, duit untuk menyewa belum ada. Ketika ada duit, kotak pos di Bulaksumur, Karangmalang, dan Demangan (Klitren Lor), sudah habis tersewakan. Hanya saja minat saya bukan didasari oleh snobisme wagu, melainkan kepraktisan dan privasi.

Waktu itu saya pikir alamat rumah tak perlu disebarkan, tapi kiriman bisa sampai. Untuk urus wesel honorarium tinggal pakai Kartu C7.

Tanpa itu, wesel harus dialamatkan ke kampus dan minta tanda tangan plus cap dari tata usaha. Artinya harus telaten menanya ke TU. Pernah wesel hampir kedaluwarsa karena orang TU tak mau memberitahu. Penyebabnya: saya bukan kalangan dekat.

Awal 90-an, ketika saya pindah dari Jakarta Barat ke Pondokgede, Jawa Barat, saya menanyakan soal kotak pos ke kantor pos. Jawabannya: sudah penuh.

Jawaban itu membuat saya geli terhadap diri sendiri. Buat apa memikirkan kotak pos toh banyak antaran yang memakai jasa kurir swasta? Bagi umumnya orang lebih penting safe deposit box di bank.

ruang kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

LEBAR DI DALAM. Bagian luar hanya deretan pintu kecil mirip rumah burung dara, tapi bagian dalam kotak pos berujung ke ruang surat. Jika kotak pos penuh maka selebihnya dimasukkan ke keranjang. Kalau keranjang penuh, penyewanya dipanggil.

Ingatan tentang kotak pos itu muncul ketika Sabtu lalu saya ke Kantor Pos Besar di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebagian besar dari 5.039 kotak pos itu masih terpakai.

Kotak-kotak itu menjadi pengisi dinding luar lantai dasar pentagon. Saya membatin, ingatan orang sekarang terhadap kotak pos hanya menyangkut alamat tujuan pengiriman lamaran kerja dan pengiriman kuis berhadiah. Oh ya, tambah: kirim pengaduan ke komisi ini dan itu maupun layanan konsumen.

Tapi bukankah lamaran sekarang cukup via e-mail dan layanan web, bahkan pelamar cukup menelepon untuk walk-in interview? Kuis pun cukup melalui SMS, kan?

Maka bisa dipahami jika sejak awal 2000-an kantor pos besar buka pada Sabtu dan Minggu. Dulu, pada hari libur pun banyak orang mengirimkan amplop besar cokelat ke sejumlah HRD.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

TERAS YANG SEPI. Hanya ada ribuan kotak pos, teras kotor, dan sedikit pelintas. Mau tidur silakan. Mau menikmati kegiatan pribadi juga tak ada yang mengusik.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

Kantor pos memang tergerus oleh zaman. Kurir swasta berbiak, layanan online kian kaya, sehingga wesel tinggal kenangan. Hanya penggemar filateli yang masih mendambakan lalu lintas pos yang tinggi — dengan catatan: amplop dan kartu pos tak ditera oleh mesin prangko.

Sering saya dapati halaman kantor pos kecil yang kurang terurus, bahkan bangunannya pun kurang terawat. Mungkin itu berhubungan dengan kekosongan bangunan sebelah yang merupakan rumah dinas.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

PERAWATAN. Engsel lepas dan kunci seret masih diurusi karena masih ada yang menyewa. Sampai kapan orang menyewa kotak di kantor pos?

Untuk sekian lama kantor pos adalah pengaya peradaban. Itulah lembaga yang, dalam keyakinan teman saya Putu Laxman Pendit, telah membiasakan orang untuk menulis agar dapat bertukar kabar.

Mungkin hulu sejarah pos adalah kebatinan atau telepati. Kemudian jalan yang dibangun untuk kepentingan perhubungan — bahkan dengan mengorbankan manusia. Lantas telegram dan radio (morse) mempercepat pengiriman dan penyebaran pesan.

Tapi warisan kantor pos, yaitu menulis surat, mestinya tak hanya berpindah media menjadi e-mail dan SMS. Tradisi berkabar itu bisa dilanjutkan ke blog. Bedanya yang ini beranah publik. Konsekuensinya juga berbeda. :)

Bonus: Kartu pos Luigi untuk Iman Brotoseno

NB: Yang mau ikut jalan-jalan murah dalam kota silakan tunjuk jari, tapi perginya tidak bareng saya :D

Ada 35 komentar | trackback | Depan

#35

cecep | 20 04 2008 @ 14:47:40

p’saya mau tau alamat kantor benny n mice dong


#34

blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Kirim Kue buat Si Oner | 17 04 2008 @ 16:50:38

[…] Kiriman: 5.039 Kotak Pos […]


#33

cecep | 17 02 2008 @ 19:12:00

(saya tunjuk tangan)
Tapi perginya sama siapa dong??
jangan-jangan ditempel perangko di jidat trus dikirim ke Kotak Posnya Paman, he4x


#32

stey | 13 02 2008 @ 7:31:06

udah lama banget tidak bersentuhan dengan surat menuyrat dalam arti sebenarnya..apalgi kantor pos..saya coba membayangkan keberadaan kantor pos 20tahun kedepan..


#31

kw | 13 02 2008 @ 7:21:10

waduh sudah lama tidak ke kantor pos.


#30

bubba | 12 02 2008 @ 19:59:55

pak pos itu punya email gak yaa :)


#29

anno' | 12 02 2008 @ 18:58:39

o..tnt kotak pos itu didalamnya bolong toch ….

n kotak pos 5039 punya paman tach?…


#28

pnsgila | 12 02 2008 @ 16:22:44

Ulasan yang menarik! Jd inget waktu ngirim surat cinta…hehehe


#27

bumisegoro | 12 02 2008 @ 13:30:31

sempet-sempetnya blusukan ke kantor pos ;-)


#26

-=«GoenRock®»=- | 12 02 2008 @ 13:08:15

Saya kekantorpos cuman buat nabung aja Paman, itu lho yang katanya ATMnya ngantri


#25

Laks | 12 02 2008 @ 12:26:46

jaman dah berubah ya paman


#24

elgato! | 12 02 2008 @ 12:23:26

jaman sekarang,
kotak pos udah pada pindah ke yahoo! atau gmail.
kapasitasnya gede2, lagee..


#23

mikow | 12 02 2008 @ 11:25:26

penasaran sama poto no 4 :D


#22

kwak kwik kwek | 12 02 2008 @ 11:09:15

Pamane, sampeyan saiki kok kluyurane daerah deket istana mulu to? Ya wis, pokoknen payungmu kae ojok lali dibawa yah (payung yang gak ganteng itu tuhhh…huahaha). Hla aku iki mung kwatir, Man, yen istana banjir lagi, soale dikau kan ndak punya SS buwat nuker mubil di tengah jalan..:)


#21

Goen | 12 02 2008 @ 10:27:57

Betapa keterlaluannya saya ini, produk 90an yang ga tau apa-apa tentang kotak pos… :(


#20

ebeSS | 12 02 2008 @ 9:50:48

kartu nama jadul memang gelar dan alamat harus keren. Maka PO Box akan memperkeren kartu nama, padahal itu alamat kantor!


#19

manda | 12 02 2008 @ 9:12:28

waduh ngomongin kotakpos toh..
baru nyadar..
(kliatan ngasal kasih komen.*ngumpet*)


#18

manda | 12 02 2008 @ 9:10:07

ah ndak sepi juga Pak De, nyatanya di kantor pos jogja masih rame bgt kok. Apalagi pas pada pingin ngirim STNK perpanjangan motor, ngirim oleh2, ato cinderamata dari jogja ke daerah2.

dijamin ngantri ampe pintu keluar loh :)


#17

semprul | 12 02 2008 @ 8:30:04

Saya pernah punya tuh kotak pos waktu bikin thesis. Eh, dosennya nggak mau suvery online (web-based). Terpaksa deh survey pakai surat. Nah supaya praktis, ya sewa PO Box. minimal 6 bulan. ya udah sewa 6 bulan aja. padalah kepakenya cuman 2 bulan-an. Berapa duit waktu itu ya? Lupa… yang jelas buat surveynya lumayan mahal karena harus pakai perangko balasan dengan flat-rate.


#16

Neny | 12 02 2008 @ 6:10:01

Ehm, ke kantor pos Salatiga dulu buat nganter embah ngambil pensiun tuh pakdhe! Tapi rasanya lucu juga kalo punya kotak pos, secara tukang pos yg di kantor pos kampus udah nawarin. Murah meriah lho…


#15

andrias ekoyuono | 11 02 2008 @ 18:13:45

wah ada orang pacaran juga di kantor pos, ada foto2 adegan selanjutnya gak paman ? atau selanjutnya langsung beranjak ke hotel di deket kantor pos pasar baru itu ? :-D


#14

sluman slumun slamet | 11 02 2008 @ 18:11:54

wah rasanya saya sudah lama tidak mengirim surat lewat pos ya?
wah jangan heran pos sekarang semakin gesit berkelit di tengah lesunya dunia surat dan wesel….
mau bayar apa saja kemana?
ke kantor pos!


#13

Alex Budiyanto | 11 02 2008 @ 18:09:27

Wah, sempat-sempatnya moto yang sedang punya “kegiatan pribadi”
*halah*


#12

Abihaha | 11 02 2008 @ 17:13:27

Tetangga pernah iseng2 sewa PO BOX 25ribu/bulan utk 1 bulan, terus pasang iklan baris di koran;
“Agen model dan artis sinetron cari bibit baru”. Wuuaahh.. dapat kira-kira 500-600an surat plus foto-foto kemayu kenes niku.

Konon para carding’ers juga masih pakai PO.BOX. Lumayan soalnya masih muat Vaio & PSP. Ah… indon…


#11

Nazieb | 11 02 2008 @ 16:56:21

Weleh, itu ada yang lagi pacaran yah?
Ya mungkin PT Pos sebaiknya mengikuti jaman juga, menyediakan layanan email contohnya :D


#10

khusen | 11 02 2008 @ 16:43:00

saya lupa kapan terakhir ke kantor pos, paman


#9

Pak Pos Kopidangdut | 11 02 2008 @ 15:55:42

kotak pos itu berarti ada sebuah petak tersembunyi dalam diri kita, yang tak perlu untuk dikethaui dan dimengerti oleh orang lain.

Masalahnya kerahasiaan kotak pos tak seketat kerahasiaan rekening simpanan di bank.

Sehingga ketika petak itu akan dijarah, digusur atau terlibas banjir bandang maka “keamanan identitas” kita akan terancam…


#8

kalangkabut | 11 02 2008 @ 14:11:07

wah, saya masih suka kirim2an kartu pos, pakde….

NB: pakde! ada bom di ternate… siap2 ngungsi ah! kabuuur….


#7

suprie | 11 02 2008 @ 14:05:16

saya juga biasa ngirim kartu pos, lewat email :D , kasihan pt POS makin banyak yang ngirim email, dia harus pintar - pintar nyari cara lain buat menghasilkan pendapatan.


#6

Mbah Sangkil | 11 02 2008 @ 13:57:04

saya tau..saya tau.. paman pasti ngebet mau nyewa kotak pos buat nyimpen duit meteran yg masih gelondongan itu kan?

*kabur keburu dijewer*


#5

fahmi! | 11 02 2008 @ 13:43:40

eh, nyewa kotak pos gituan mbayar berapa sih, paman?


#4

Dedhi | 11 02 2008 @ 13:31:45

Saya dulu waktu kecil di Jogja tahun 1970-80-an, malah berpikir penyewa kotak pos itu orang orang ndesit (baca: aneh) yang terinfeksi budaya snob orang kota yang tidak mau beli rumah, tapi maunya ngontrak terus. Di kalangan budaya Jawa yang punya rumah merupakan syarat “dewasa makmur”, pemikiran untuk hanya menyewa rumah walaupun rumahnya besar magrong-magrong itu aneh.


#3

annots | 11 02 2008 @ 13:19:30

prihatin kalo lewat kantor pos di daerah saya, rame kalo pas awal bulan itu pun bukan karena orang-orang pengen ngirim surat tetapi para veteran/pensiunan yang mau ngambil uang, setelah itu sepi lagi :D


#2

mpokb | 11 02 2008 @ 13:03:42

kalo orang biasa mana mungkin bisa mblusuk2 masuk kantor pos gini, sampai minta dibukakan kotak pos segala. cuma blogger nomor 3 yg bisa, kayaknya =’.'=


#1

lexi | 11 02 2008 @ 12:27:51

Seorang kawan minta saya menemani dia ke kantor pos besar di kota xy#@. Di sana dia menyewa Kotak Pos. Jebuk, saya baru tahu belakangan kotak pos itu dia gunakan untuk alamat surat, ketika pasang iklan jodoh di media.
Tentu saja dia tidak berani pasang alamat rumah karena istrinya galak. Tekanan dalam rumah tangga, paman, ternyata bisa membuat seorang suami ‘kreatif’ untuk mencari cara aman buat selingkuh.