Lupa dan Ingin Melupakan*)
DARI TAMAN PROKLAMATOR, JAKARTA, DI BAWAH MENDUNG.

Jika orang hanya menoleh ke belakang, dia tak akan pernah jauh melangkah.
Kalau tak pernah menoleh, bahkan melalui kaca spion, kita tak akan pernah tahu jejak dan arah perjalanan kita.
Semuanya basi. Sudah mengering itu mawar, kenanga, dan melati di pucuk giri — memang sih selalu saja ada yang mengganti. Jangan hanya menoleh masa lalu. Pikirkanlah yang baru!
Apa yang ada hari ini, dan peluang kita untuk membentuk esok yang nyaman bagi semua orang, hanya bisa ditempuh kalau kita tahu dan ingat yang pernah terjadi.

Jika bicara luka, siapa sih yang tak pernah luka? Jika bicara luka, mereka yang tak terluka parah kadang bicara lebih lantang, seolah lebih tahu peta perjalanan…
Sakit karena luka adalah pelajaran, tak hanya bagi yang mengalami langsung. Manusia dikaruniai kemampuan untuk belajar dari kesalahan. Manusia lumrah tak ingin luka dan sakit itu berulang…
Tentang hari esok yang baik, haruskah digapai dengan mendidihkan kuali dendam, tanpa niat memaafkan masa lalu?
Mengingat adalah satu hal, dan memaafkan adalah hal lain. Ini bukan soal berkubang dalam dendam, tetapi mengingatkan semua, ya semua, semua yang masih hidup, untuk menata kehidupan bersama agar lebih baik…
Haruskah dengan menghidupkan soal yang itu-itu saja?

Tunjukkan kepadaku cara lain yang membuat orang jujur terhadap apa yang telah dijalani kemarin, syukur bila dengan kepala dingin dan hati yang jernih, bukah kesumat dalam didih, agar hari esok lebih baik…
Aku tak punya petunjuk. Aku orang biasa, yang kadang penat oleh semua masalah dan tekanan kehidupan. Mengingat kepahitan adalah derita tambahan. Tapi untuk memaafkan, hmmm… sejujurnya belum dapat kulakukan. Yang kucoba hanyalah berusaha melupakan, sesulit apa pun…
Baiklah kita maafkan bersama, tapi tak mungkin kita lupakan. Kita mengingat dan mencatat bukan untuk kita, bukan untuk mereka yang ujung mistar usianya mungkin sudah dekat. Kita mengingat dan mencatat untuk anak-anak kita…
Membekali anak-anak dengan luka orangtuanya? Itukah masa depan?

Kita masih bisa berbincang lagi. Menimbang dengan hati, menakar dengan nalar, berjarak namun tak hendak memanglingkan diri, berlandaskan kehendak baik untuk kepentingan banyak orang. Kalau hari ini kau jenuh, aku yakin hari lain akan tersedia. Akan tiba saatnya…
*) Judul lama yang klise, tanpa pernah membaca keseluruhan teks asli, adalah “Ingatan Melawan Lupa”.
21 Responses to Lupa dan Ingin Melupakan*)
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Ribut Ribet Bulan Puasa
September 15, 2008 by AntyoMUNGKIN KARENA WAKTU LUANG TAK MENDAPATKAN PENYALURAN.
Maaf, jangan salah sangka dulu. Bukan bulan puasanya yang saya persalahkan, tapi memang ada saja orang yang keterlaluan. Bukan orang dewasa, tapi anak-anak tanggung. Misalnya, pada jam tarawih sebagian warga was-was, bahkan seksi keamanan RT pun harus ekstrawaspada sehingga pernah tak ke masjid untuk bertarawih. Penyebabnya: tawuran antarbocah [...]
Recent Comments
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Ada postingan menarik, yang saya kutip dari sini, berikut kutipannya: [...]
Gimana dengan pelajaran anak sd untuk materi sejarah ya ?
hmmm…..
sejarah cuma ada di buku pelajaran
bangsa ini..suka lupa sama sejarahnya..
Mengingat bukan berarti mennghidupkan kembali dendam, tapi untuk belajar agar lebih baik :D
pelurusan sejarah itu . . . hingga kini . . . tak pernah nyata!
gambar terakhir….
yang bikin tulisan spanduk kreatif dalam pemilihan kalimat!
Hormat bagi orang yang pernah terluka dan dilukai…
Resiko menantang dan menentang rezim, siapapun itu, tak peduli siapa benar siapa salah, adalah berani untuk terluka, bahkan terbunuh. Bagi yg tidak menantang, atau bahkan mengambil keuntungan, tentu tidak akan terluka atau dilukai, bahkan sebaliknya, sejahtera dan disejahterakan. Menggeneralisasi keduanya, sama2 buruknya.
Pihak yg ter/di-rugikan, gak bisa menggeneralisasi bahwa Soeharto sepenuhnya jahat. Sebagaimana pula pihak yg ter/di-untungkan gak bisa menggeneralisasi Soeharto sepenuhnya baik. Rakyat dan negara banyak dirugikan oleh Soeharto. Tapi rakyat dan negara juga banyak diuntungkan oleh Soeharto.
Tetaplah menilai secara obyektif. Hargai yg positif, hukum yg negatif. Kita, juga Soeharto, bagaimanapun tetap manusia, bukan malaikat, bukan pula setan. :D
Sejak awal, perjalanan kekuasaan suharto memang bau darah. Jejaknya meninggalkan banyak nyawa, menorehkan sejumlah besar luka. Banyak luka yang sampai kini belum juga sembuh. Sedang luka yang sudah sembuh pun masih pula meninggalkan parut.
Tetapi, dik antyo, kita juga tidak menutup mata bahwa Suharto mencatatkan jasa dan perbuatan mulia, entah untuk keluarganya, kroninya, juga sebagian rakyat yang hanya melihat sisi baik dia.
Lalu, pahlawan nasional itu? Mungkin terlalu dini. Biarkan sejarah memberikan bukti demi bukti kebaikan dan kejahatan Suharto selama satu dua generasi.
Generasi kita sekarang ini tidak layak mengadili Suharto. Mengapa? Kita adalah bagian dari zaman Suharto, yang sengaja atau tidak sengaja, membiarkan dia menjadi seperti yang kita kenal selama ini. Kalau Suharto salah, kita juga salah dengan pembiaran itu.
Tetapi, bukankah ada di antara kita yang mati atau dihabisi rezim Suharto?
Saya khawatir mereka mati bukan karena sungguh2 berjuang dengan sepenuh hati melawan rezim Suharto, sebagaimana dulu para pahlawan kita berperang melawan penjajah Belanda. Mereka, mungkin, mati lebih karena rezim Suharto ingin membuang kerikil dari sepatu, menyisihkan onak dari semak-semak. Tidak ada di antara kita yang sungguh2 melawan rezim itu, kecuali mungkin teman2 di aceh sana, dulu. Kepada mereka yang tak pernah menyerah terhadap rezim Suharto itu, kita layak menaruh respek. Mereka orang-orang yang berani.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang belakangan menuntut adili Suharto setelah dia tak lagi berkuasa?
Silakan dik antyo saja yang menjawab dalam tulisan berikutnya.
Untuk apa memaafkan, jika yang bersangkutan tak pernah melontarkan permohonan maaf semasa hidupnya, semasa diberi kesempatan untuk meminta maaf.
Ketika kejahatan HAM dan sebagainya dilakukan oleh negara, siapakah yang paling layak bertanggung jawab di meja hijau?
Sayang, bangsa ini memang gampang pelupa,paman. Sejarah seakan pengulangan kesalahan masa lalu dan selalu saja kita jatuh di lobang yang sama.
urusan sejarah, kita serahkan saja sama ‘ahlinya’, gimana?
Sedap dan sejuk.
Semenjak simbah sakit dan seterusnya seterusnya, kebanyakan rame lantang bengak-bengok.
Ta’pikir pakdhe cuek, lha wong kabar gegeran cuma nyelip di artikel pilkada thok.
Jebule mengkonklusi dengan manis.
Melupakan kadang lebih baik dari pada mengingat-ingat. Khususnya untuk hal yang menyakitkan.
“Jika bicara luka, siapa sih yang tak pernah luka? Jika bicara luka, mereka yang tak terluka parah kadang bicara lebih lantang, seolah lebih tahu peta perjalanan…”
Biasanya memang begitu.
“Mengingat adalah satu hal, dan memaafkan adalah hal lain. Ini bukan soal berkubang dalam dendam, tetapi mengingatkan semua, ya semua, semua yang masih hidup, untuk menata kehidupan bersama agar lebih baik…”
Ya, kalau dasarnya dendam, pasti kita akan melakukan hal yang menyakitkan –seperti yang pernah ita alami– kepada orang lain. Bukan begitu Paman?
*memikirkan yang baru*
Bleh, andai saat itu aku ‘sadar’ semua serba murah…
*dikemplang*
sejarah tetap harus dicari kebenarannya.
mau sampai kapan sejarah bangsa dalam ketidakjelasan?!
ck…ck…ck puitis melankolis bgt Om
memang tak mudah untuk jadi pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa sekali pun.
paman aktifis HAM juga? ikut demo?
pertanyaan klise, sebenarnya.
jawabannya apalagi.
setengah mati disangkal, tapi toh perilakunya tidak menunjukkan demikian. saat sang anak bertanya apa sebab ia harus dibekali demikian, yaaa mungkin jawabannya agak jauh dari nalar :-)