POTRET MANUSIA URBAN MEDIOKER DARI “BENI DAN MAIS”.

Manakah yang lucu dari orang-orang Jakarta: kelas menengah-atas atau kelas bawah? Masing-masing punya kelucuan. Tentu, itu bergantung pada posisi kita dan sudut pandang kita.
Dasar manusia — ya, kita semua! — suka bergunjing, maka apa yang menyangkut “keanehan” orang lain, padahal tak merugikan, akan dijadikan bahan tertawaan.
Karena sirik tanda tak mampu, maka orang lain punya kamera bagus tapi tak bisa memotret akan kita tertawakan. Orang lain punya ponsel mewah tapi hemat pulsa akan kita lecehkan. Teman beli MacBook Air tapi cuma buat gegayaan akan kita anggap norak.
Di sisi lain, kelompok yang berduit dan merasa hepi dengan pola konsumsinya, sebagai bentuk mensyukuri kehidupan, itu akan takjub dan geli melihat pola konsumsi orang lain yang “kesannya maksa”.
Misalnya? Datang ke spa ecek-ecek padahal cuma salon kelas ruko dengan pegawai berseragam. Juga: beli Cartier palsu, Luis Vuitton palsu, DVD bajakan, CD kompilasi MP3 Rp 10.000-an. Atau maksimal beli barang-barang bermerek setelah great sale padahal sudah ketinggalan zaman (baca: ketinggalan semusim versi Barat). Bisa juga beli barang bekas, misalnya velg yang refurbished.
Dalam kepala orang mapan makmur, para peniru gaya itu adalah orang kaum snobbish sejati. Cuma tahu merek tapi miskin apresiasi terhadap filosofi produk, bahkan cara melafalkan merek asing pun salah melulu, sampai-sampai nama Italia dilafalkan secara sok Prancis karena dikiranya semua produk fashion dari Paris.
Dengan ilustrasi nyinyir (dan fiktif) saya tadi, di manakah posisi serial ledekan Benny dan Mice ini?
Di tengah tapi berat ke bawah. Sama seperti mayoritas kita, yaitu Anda dan saya: medioker. Kelas lower-middle yang sok, tapi merasa bijak dengan menertawakan diri sendiri dan terutama orang lain yang selevel.
Kaum medioker ini, termasuk saya, adalah kelas tanggung yang duitnya cekak tapi merasa pengetahuan umum tentang dunia konsumsi agak relatif mendingan sedikit (padahal hanya sebagai penonton dan pengunyah iklan).
Jadi, buku Benny dan Mice — terutama yang terakhir: 100 “Tokoh” yang Mewarnai Jakarta — itu jahat, karena hanya meledek orang dari sisi apa yang kita yakini sebagai “kejanggalan”, padahal kita tak dirugikan?
Justru tidak. Sama sekali tidak.
Kalau pun ada “pendekatan jahat”, anggap saja itu kejahatan mereka berdua.
Mereka jahat karena memindahkan gumam dan batin kita, juga rasan-rasan kita dalam obrolan ngopi, blog, dan internet messenger.
Mereka berdua jadi ember sekaligus bemper, dan kita boleh merasa aman karena tak akan dianggap sebagai peleceh sesama — padahal kejatan kita lebih banyak, lebih dari ngerasani 100 “tokoh”.
Bagi saya, karya mereka selama ini — dari yang lama, di Kompas, sampai yang baru — adalah sebuah dokumen sosiologis masyarakat urban Indonesia. Potret sosial kita, pada suatu masa, terekam secara karikatural di sana.
Tiga puluh tahun mendatang, karya mereka akan menjadi rujukan untuk menengok masa lalu Indonesia tercinta yang sontoloyo tapi ngangeni ini.
Akan basi kalau kita hanya melihat serial komik mereka dengan berkomentar sopan, “Gaya penggambaran mengingatkan kita kepada Lat dengan karakterisasi yang burook, dan pemotretan sosialnya mengingatkan kita pada serial Sarong Party Girl dari Singapura.”
Mereka berdua unik sekaligus mengesalkan. Bukan tidak mungkin yang masuk ke dalam 100 “tokoh” itu juga kita — selain, tentu, mereka sendiri. Bravo!
JUDUL: 100 “Tokoh” yang Mewarnai Jakarta • PENULIS & ILUSTRATOR: Benny Rachmadi & Muhammad “Mice” Misrad • PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta, Januari 2008) • UKURAN: 17,5 cm x 22 cm • TEBAL: 160 halaman • HARGA: ini dibelikan oleh Miss Mbak Mpokb! Terima kasih banyak…
Bonus:
+ Snobisme Duo Kenthir
+ Hiperlucu yang Aneh





Blognya Tedy Tirtawidjaja » Surabaya IV (part 2) - Buku Komik Lucu | 06 05 2008 @ 22:02:39
[…] ini adalah buku komik ciptaan Benny & Mice. Dulu saya lihat review buku ini di blognya Paman Tyo. Kick Andy juga pernah mengulas buku ini dalam salah satu episodenya. Salah satu episode Kick Andy […]
Silly-Stupid | 14 03 2008 @ 17:04:25
Saya suka beli CD compilasi yang Rp 10.000an… kalo pengen barang merk, suka nunggu GREAT SALE dulu… wah, saya termasuk kaum nanggung itu paman… apa namanya???… Snobbish sejati?, hakahakahakahak…
Bukunya pasti sangat mewakili rasan-rasan saya, sekaligus menohok perut sendiri, karena sebenarnya yang dibahas adalah potret diri sendiri bukan???, hehehe… beli ahh :-)
emyou | 13 03 2008 @ 15:42:13
uda punya yang buku2 sebelumnya, tapi belum sempet beli. Yang ini baru ngintip di gramedia aja uda bikin senyum2 sendiri. next target deh…
bubba | 12 03 2008 @ 20:40:40
itu pronounce-nya bukan beni dan miceu ya pakdhe?
ancilla | 11 03 2008 @ 23:36:29
wueee.. baru aja hari jumat kemaren aku melihat-lihat secara acak halaman buku ini..
termasuk benny&mice di buku lainnya…
Dony | 11 03 2008 @ 20:41:09
Benny dan Mice yang kemarin aja belum beli, eh udah keluar lagi.
Yang ini berapa duit, Paman? Biar saya siap2 nabung dulu, hehe
stey | 11 03 2008 @ 17:15:30
saya belum tau dan belum beli buku itu..
golda | 11 03 2008 @ 12:29:43
om tyo kenal sama mreka? titip salam ya, dari penggemar berath mereka!!! hihihi.. aku koleksi mereka abis2an :D
annots | 11 03 2008 @ 8:57:17
beberapa gambar sayangnya ndak bisa diperbesar paman, padahal sangat menarik sekali kalau paman scan semua *alasan biar ndak usah beli bukunya*
mbakDos | 10 03 2008 @ 19:17:57
apalagi setelah direkomendasikan oleh paman… tadinya cuma melintas aja waktu melihat buku ini terpajang di rak, sekarang sepertinya jadi ingin memilikinya juga.
mpokb | 10 03 2008 @ 18:44:08
uh, kalo paman yg motret, jadinya keren banged..
setelah baca buku ini, saya jadi makin jelalatan di jalan, merhatiin orang2 :P
buat pendosa medioker yg nyinyir seperti saya, buku ini benar2 menyuarakan isi hati (sekaligus nampol saya juga :P)
yuki tobing | 10 03 2008 @ 18:16:50
wah saya belum punya yang edisi 100 tokoh ini, haha, kalo yang dua buku sebelumnya udah, mesti nyari.
andrias ekoyuono | 10 03 2008 @ 18:06:41
wah sampeyan juga baca buku ini, kemaren si mas kw juga baca, jadi pengen ikutan baca nih