Si Thole (dan Bakso) dalam The Last Supper
PERSIAPAN PASKAH PASCA-KONTROVERSI SAMPUL TEMPO.
Misalkan pameran On Last Supper di Cemara 6 Galeri ini muncul bareng kontroversi sampul Tempo yang menggambarkan Keluarga Cendana dalam Perjamuan Terakhir ala Leonardo da Vinci, mungkin akan lebih seru pro-kontranya.

DEPAN: Superstar Christ (31 cm x 33 cm x 13 cm, fiber electroplated & fabrics). BELAKANG: Holy Mass (150 cm x 700 cm, charcoal on canvas)
Ah, itu cuma pengandaian saya. Tapi cara saya melihat persoalan tak berubah. Kalau saya ringkas jadi begini: jika masalahnya hanya bertolak dari karya Da Vinci, bukan menerakan alam perlambang, maka itu bukan soal.
Tempo telah menempatkan Keluarga Cendana, dengan sang kepala keluarga menempati posisi Yesus di tengah, pada sampulnya beberapa waktu lalu.
J. Ariadhitya Pramuhendra (Hendra, 24), perupa muda yang keponakan saya itu (kadang saya panggil “Le”), menempatkan sosok dirinya dalam ketiga belas tokoh (Yesus dan 12 murid), bahkan menirukan bahasa tubuh mereka dalam enam gambaran charcoal di atas kanvas dan tiga keluaran cetak digital.

The Waiter ( 200 cm x 400 cm, charcoal on canvas)
Ketika sampul Tempo mengundang protes, saya memahami keberatan sekelompok pemuda Katolik itu. Di sisi lain saya juga tak menganggap Tempo sepenuhnya salah (dengan kata lain juga tak sepenuhnya benar, hahaha).
Waktu itu, dalam diskusi dengan anak saya di meja makan, saya katakan bahwa Perjamuan Terakhir, sebagai karya manusia, telah mengalami reproduksi dan pengemasan ulang ratusan bahkan mungkin ribuan kali.

The Chairmen’s Dialogue (150 cm x 400 cm, charcoal on canvas)
Setahu saya tak ada bukti sejarah yang sahih bahwa suasana perjamuan memang seperti itu. Da Vinci — dengan segala kontroversi ala Dan Brown — hanya merekonstruksikannya ke dalam mural. Lantas karya yang mengikon itu (dan sebagian besar tiruannya), bagi orang tertentu mungkin diyakini sebagai sebuah kebenaran.
Berikutnya, karya manusia yang menjadi bagian dari perlambang itu pun diangap sakral. Hiasan salib dan patung Yesus, serta Maryam, jelas bikinan manusia. Hanya saja tradisi gereja, seperti halnya kelompok keagamaan lainnya, telah menempatkannya sebagai lambang suci.
Artinya urusan telah masuk ke wilayah peka. Di situlah Tempo kesandung: antara konsep visual dan persepsi sebagian khalayak ternyata kagak nyambung.
Cara pandang saya bisa salah. Mungkin karena kombinasi burook dalam diri saya: sudah sekular, bukan orang protesan yang baik dan benar pula.
Dengan cara pandang itulah saya bisa menerima ekspresi si Thole yang sekarang berbadan gempal. Ekspresi macam apa? Yaitu kegelisahan dalam pencarian bentuk estetis sebagai artis (eh, seniman) maupun laku relijius sebagai anak muda Katolik. Sebuah ekspresi dan kegelisahan yang “binal sekaligus banal” menurut Romo Y.H. Christyanto, O.S.C. dalam pidato saat pembukaan pameran.
Perjamuan Terakhir, sebagai lukisan maupun terutama rujukan utama ekaristi, dia hayati penuh pencarian dan gundah dengan menempatkan dirinya sendiri.
Hubungannya dengan Tempo? Tidak ada. Rangkaian karya itu disiapkan berbulan-bulan sebelum Tempo terbit. Tapi kalau harus dicari-cari hubungannya, itu ada pada bakso. Sampul Tempo memasang mangkok bakso bergambar ayam. Meja perjamuan Hendra dirujuk dari pemotretan meja bakso.
Maju terus, Le! Ars longa, vita brevis.
33 Responses to Si Thole (dan Bakso) dalam The Last Supper
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Gowok: Ada yang Khusus untuk Cowok
October 2, 2006 by AntyoLAMA TAK MENDAPATI, BUAH ITU SAYA CICIPI LAGI.
“Ini apa? Kok warnanya mirip anggur?” tanya anak-anak saya. “Oh ini gowok. Sudah lama Bapak nggak lihat, makanya tadi beli di pasar,” jawab saya.
Sudah dua pertiga usia saya lalui tanpa buah gowok (Syzigium polysephalum). Saya bukan penggemar gowok, yang rasanya asem agak manis itu. Tapi [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)






isu sara bikin ketar ketir ya pak de :(
hiks…untung yang punya ordebaru dah kelaut…kalau belum? maunya kreatif malah dituduh subversif :p
keren, paman. benar2 kreatif.
Andai, sekali lagi ini hanya andaikata, karya Thole (maap, karena saya merasa seusia dg dik antyo, jadi ikut-ikut manggil thole) ini yang jadi sampul majalah TEMPO waktu itu, barangkali (sekali lagi, barangkali) tidak ada reaksi pro kontra. Maksud saya, ganti wajah Thole dengan wajah soeharto dan anak cucunya, sama-sama bertelanjang dada, lengkap dengan ada yang perutnya buncit dan ada yang langsing,mungkin teman2 pemuda katholik tidak terlalu risau.
Kemarin, mungkin, yang membuat ‘rasa’ kita terganggu adalah atribut2 yang melekat pada tokoh Yesus dan murid2nya yang kita persepsikan sakral di lukisan da vinci begitu plek dilekatkan pada Soeharto & keluarganya, padahal Soeharto itu kan blablabla…
Tetapi, mungkin, Tempo tidak mau memasang foto wajah Soeharto & anak-cucunya dengan tubuh setengah telanjang karena takut digugat. Kalau sudah masuk wilayah hukum positif kan urusannya tak cukup hanya minta maaf…..
Itu sepatu maksudnya apa ya?
bagus paman, andai saya ada waktu mau dateng ke cemara 6 …..hehehehehe
dulu pendeta saya pernah bilang, manusia itu pada dasarnya homologonicus, senang menggunakan lambang atau logo untuk melegitimasi tindakannya…kasarnya biar afdol :)
Saya tidak mau berkomentar apa-apa kecuali ini:
Bagus ya fotonya, gila banget konsepnya.
* nggak aku sangkut pautin sama agama lho aku ini *
*katanya nggak mau komen tapi kok komen ya?*
Gambar pertama itu nyambung, gak sih?
Perjamuan terakhir, kan?
‘good’ timing, knows how to prepare excuses. ndak ada hubungan sama agama. nou ja.. kecuali rating penjualan yg ‘wow’ dianggap sebuah ‘agama’. :D jetje, minah zeg!
lama ndak klik lsg je.. :)
waktu isu itu kuat, sayah coba cari di mana mana ituh edisi TEMPO, tapi habbiiissss!!!
mungkin da vinci yang memegang kamera saku untuk mengabadikan acara perjamuan terakhir itu.
eh tapi… hadir di tempatnya Yesus atau di cendana ya?!
terlepas dari kontroversi, karya mas pramuhendra itu keren ya… kok sempet sempetnya kesitu pakdhe?
Ngomong-ngomong soal paskah dan ‘perjamuan terakhir’, silakan hadiri peringatan ‘paskah’ kami, paman. Namanya Perjamuan Malam Tuan’. Undangan bisa dilihat di
http://warungselat.dagdigdug.com/2008/03/09/anda-diundang
Ahh.. senang rasanya bertemu orang yang sealiran.. :D
“sudah sekular, bukan orang protesan yang baik dan benar pula.”
out of topic:
Weh, gambarnya keren-keren…
Saya suka dengan kilah Tempo. “Kami tidak minta maaf untuk memajang lukisan dengan ide the last supper, tapi kami minta maaf karena tidak peka”
Ya, sebenernya setuju dengan pak de dan tempo. Gambaran jamuan terakhir bisa dipersepsikan berbeda disetiap artis/seniman. ^_^
hmmmm . . . suci dan tidak suci..!
masih ada yang korup dan tidak korup
ya . . . yang manalah . . yang kepegang duluan . . . :P
cetaknya pake plotter seperti blue print gitu? btw, namanya mirip nama paman tito yg di bogor yak?
Idenya gak orisinal
BTW, kalo gambarnya kartun bakal ada huru-hara gak?
:P
karya-karya yang menarik. Beda dengan TEMPO, pameran bukanlah ruang publik, jadi tentu lebih homogen dan mengurangi kemungkinan perbedaan persepsi
Menjelang Paskah jadi agak rajin ke gereja gak Paman? ;)
Btw: saya setuju denganmu Perjamuan Terakhir (sebagai lukisan) gak perlu disakralisasi.
wah bagus juga karya sang ponakan, semoga lahir Dadang Christianto berikutnya yah!
karya yang menarik. mengingatkan saya pada On Last Supper nya Greta Buysse yang betul2 indah, spektakular, original, dan tentunya kontroversial.
dalam karya fotografi artistik-nya, Greta Buysse mengganti 13 figur ini dengan perempuan.
Tapi apa the Last Supper versi Da Vinci it salah satu lambang2 yang disucikan?mungkin yang diprotes ya karena ada Yesus dan murid2Nya
resiko bermain dengan lambang-lambang yang disucikan toh? sama seperti kasus sampul album dewa dulu.