KASUS PLANGI: KESALAHAN ADA DI MANA?

Jejeran barikade berupa palang putih-biru berkaki A itu bisa bagus bisa buruk. Bergantung kepada kepentingan siapa.
Untuk yang diperlancar karena dari arah Slipi bisa langsung belok kiri lalu masuk ke Plaza Semanggi, itu merugikan.
Adapun bagi pelintas dari arah Jalan Jenderal Sudirman yang perjalanannya lancar, karena tak dipotong oleh kendaraan dari arah Slipi, itu menguntungkan.
Jika akses masuk ke plaza di tepian Simpang Susun Semanggi, Jakarta, itu tak dipagari maka soal menguntungkan dan merugikan jadi berkebalikan. Yang sebelumnya diuntungkan akan menjadi dirugikan.
Kalau kesimpulannya hanya berujung pada obrolan selagi ngopi — “Yah, itulah dunia, ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan. Biasalah…” — maka hal serupa akan berulang dan berulang di tempat lain. Apalagi kalau tiga tahun lagi jumlah mal bikinan Lippo saja akan jadi 50 — dan Daus mencemaskan resapan air.
Mari belajar dari kasus Plangi, terlepas dari apakah kita menyukai atau mengemohi tempat itu, tak soal apakah kita sering kehilangan orientasi di sana atau saat mati lampu pun bisa dengan gampang mencari pintu keluar.
Plangi terletak di tepian salah satu kelopak daun semanggi. Di sana terjadi perpotongan jalan searah. Dua dari kiri (berupa belokan), satu dari kanan (barupa ruas lurus jalan utama).
Ketika lalu lintas padat, masuknya kendaraan ke Plangi dari ruas jalan lurus akan memotong arus dari kelokan. Hasilnya: kemacetan. Orang-orang pun menyumpah — kecuali hendak ke Plangi pula.
Sebagai awam kita bisa menyalahkan perencanaan awal dalam menetapkan entrance. Jika hanya ada satu gerbang masuk tunggal dari Jenderal Sudirman (tepatnya dari arah Bunderan HI), maka pengendara yang akan masuk dari arah lain akan kerepotan karena harus memutar jauh. Pengelola dan penyewa plaza akan dirugikan — dan tentu kita bilang: publik lebih dirugikan lagi.
Jadi gimana dong enaknya? Saya bukan ekspert, bukan pula empu, dalam mengurusi kota. Tanyaken kepada si achli.




belalang | 14 03 2008 @ 20:51:15
saya termasuk yang diuntungkan dengan barikade ini. soalnya kalau dari arah benhil, terus mau pulang ke bekasi biasanya selau terhalang oleh yg mau masuk ke Plangi. gara2 barikade ini pas lewat situ bisa jalan dengan lancar. terima kasih Plangi :-)
mikow | 14 03 2008 @ 15:17:00
enak numpak motor bisa nyelos lewat sela-sela barikade :D
edratna | 14 03 2008 @ 13:43:06
Iya nih paman, pas hari Sabtu kemarin, saya dari arah blok M, muter di Semanggi…ternyata dipalang di pintu masuk Plangi dari arah Barat (Slipi). Lha untung saya naik taksi, jadi ya terus jalan kaki aja….kalau naik mobil, mosok harus muter jauh lagi ke arah Kuningan.
bahtiar | 14 03 2008 @ 11:02:37
ngobrolin jakarta mboten wonten rampunge mase …
kulo pamit rumiyin
:)
Hedi | 14 03 2008 @ 9:59:01
kayak daerah perang militer aja ada barikadenya hehehe
stey | 14 03 2008 @ 7:38:08
saya belum pernah ke pelangi..:(
blogombal : catatan ringan angin-anginan » Blog Archive » Cara dan Tujuan: Mana sih yang Mesti Diubah? | 14 03 2008 @ 1:27:47
[...] Segera saya dapatkan jalan lengang. Dari Bulungan ke Semanggi tak sampai sepuluh menit. Tapi ketika akan belok ke Plangi, saya terhalangi barikade — perkembangan baru yang saya telat tahu. [...]
Totok Sugianto | 14 03 2008 @ 0:19:42
ah saya malah jarang banget ke plangi, jadi gak tahu kalo jalan kesana muter2 :D
Beta Uliansyah | 13 03 2008 @ 22:30:29
Dasar orang kita, disuruh desain yang bener aja susah, apalagi yang penuh makna occultic konspiratif macam Washington DC itu.
jun | 13 03 2008 @ 21:41:48
mo komen kalimat terakhir :
kasian loh anak kecil imut gitu ko di ledekin …
bubba | 13 03 2008 @ 21:07:52
tahukah anda?
1. drainase plangi membuat genangan air di kolong jembatan semanggi yang menyebabkan aspalnya selalu mengelupas.
2. plangi menyebabkan anak atma sering bolos untuk sekedar ngupi atau nonton.
3. kulit bangunan plangi menyediakan space reklame jauh lebih banyak daripada titik billboard di daerah semanggi.
4. setiap sentimeter bangunan plangi menjadi lahan iklan dan dapat disewa apabila harganya pas
5. keselamatan kerja di plangi begitu minim diperhatikan sehingga menewaskan beberapa pekerja gondola.
6. kebisingan musik live di pelataran plangi setiap jumat malam terdengar hingga perumahan danau walahar diseberangnya.
7. namun demikian, plangi memiliki sebuah tenant karaoke langganan saya yang begitu menjaga privacy konsumennya, sehingga menjadi tempat yang tepat bagi para pasangan selingkuh ibukota. cihuy!
daustralala | 13 03 2008 @ 19:49:39
saya termasuk yang sering menyumpahi Plangi :)
venus | 13 03 2008 @ 19:06:44
makanya saya gak suka kopdar di plangi. cibubur aja, paman :D
GuM | 13 03 2008 @ 18:44:41
enaknya bikin jalan layang 3 sap pak :D
mpokb | 13 03 2008 @ 18:30:49
waktu kuliah takot pada bolos tuh :P bikin mal kok dekat persimpangan dan pintu masuk jalan tol. meneer yg bikin takot batavia bisa muntah darah liat jakarta sekarang..
rezayazdi | 13 03 2008 @ 18:23:07
Yah namanya kota gila paman, semuanya gila. Kalau kita yang tidak gila, brarti kita yang gila! hehehehe
pacul | 13 03 2008 @ 18:20:47
walah…AMDALnya gimana ituh?