Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Cara dan Tujuan: Mana sih yang Mesti Diubah?

Jumat, 14 Maret 2008 @ 01:27 | Personal

MENCARI CELAH KEBAHAGIAAN DALAM KEHIDUPAN… :)

Jika jalan ke A macet, padahal jalan ke C (kutub yang berseberangan, jauh pula) lancar jaya, keputusan macam apakah yang mesti kita ambil?

Kadang saya memilih ke C, yang bukan tujuan saya, semata karena tidak macet parah. Yang penting selama perjalanan saya hepi.

Memang sih sampai di tujuan baru, yang tidak saya rencanakan itu, saya bingung mau ngapain. Tapi kewarasan saya segera pulih dan segera tahu apa yang harus saya lakukan.

Sama seperti dulu: lelah menunggu bus kota yang tak sesak penumpang ke Grogol (Jakarta Barat) dari depan UKI (Cawang, Jakarta Timur), akhirnya saya memilih bus kota yang menyediakan tempat duduk. Saya lupa ke mana tujuan bus itu. Kalau tak salah ke pelabuhan di utara sana. Padahal kantor saya tak di sana. :D

Pernah dari Salatiga mau ke Kartosuro dulu, saat kuliah, busnya penuh penumpang semua. Padahal dari Kartosuro, rencana saya, akan berganti bus ke Yogya.

Saya lihat bus-bus jurusan Semarang, yang bukan tujuan saya, pada kosong. Maka saya pun naik bus jurusan ke utara, bukan ke selatan. Tapi baru sampai Ungaran saya sudah bisa menata pikiran. Batal ke Semarang, turun, ganti bus, menuju Yogya via Bawen dan kemudian Magelang.

Dua hari lalu saya lakukan prinsip pada tiga paragraf awal tadi.

Sudah dua jam lebih, sejak meninggalkan Dharmawangsa Square, saya belum juga tiba di Gandaria, padahal sudah mendekati Mayestik. Normalnya sih sekitar 20 menit.

banjir di sekitar dharmawangsa square & grand wijaya center

Genangan air dan banjir di bilangan Wijaya dan Brawijaya telah mengakibatkan kemacetan parah. Masih untung, dari Square ke Brawijaya (PP) saya dijemput-antar sopir SUV dari seorang mbak juragan.

Kemacetan gila itu mengikis kewarasan saya. Untung kesadaran belum habis sampai nol. Malam itu saya sadar, semua orang yang memenuhi jalan itu menuju ke arah selatan Jakarta: pulang ke rumah. Artinya jalan ke pusat kota pasti lancar.

banjir di sekitar dharmawangsa square & grand wijaya center

Segera saya dapatkan jalan lengang. Dari Bulungan ke Semanggi tak sampai sepuluh menit. Tapi ketika akan belok ke Plangi, saya terhalangi barikade — perkembangan baru yang saya telat tahu.

Maka saya harus menambah 30 menit lagi, memutar via Kuningan, agar bisa masuk ke Plangi untuk rehat dan mengembalikan kewarasan. Sial, kedai untuk selonjor sudah hampir tutup.

Tak apa, yang penting kewarasan saya mulai pulih. Tetap akan ke Gandaria juga? Masih macet. Kewarasan saya menganjurkan tempat lain, yang pokoknya tidak macet, padahal jauh dari Gandaria dan tidak ada hubungannya dengan Gandaria. Alhasil saya bahagia lahir dan batin.

Bukankah urusan Gandaria jadi terbengkalai? Itu bukan salah saya. Itu kesalahan jalan raya kenapa boleh kena banjir dan boleh kena macet. Kalau akan dibikin banjir dan macet mestinya diberitahukan lebih dahulu sehari sebelumnya. :D

Saya menganggap cara saya waras. Diam-diam melawan arus, atau berbeda dari orang lain, kadangkala membahagiakan.

Kalau berangkat kerja pada jam enam pagi hanya akan tersiksa oleh kemacetan, maka berangkatlah pukul empat atau lima pagi. Pasti lancar jaya. Terbukti berulangkali (lihatlah jam beberapa posting saya, termasuk di blog lama).

Jika pulang kerja pada pukul lima sore sampai delapan malam bakal tersiksa lalu lintas sontoloyo, pulanglah pukul dua malam atau pukul empat lagi. Jalanan lancar sekali. Amat sangat lancar nian, apalagi lewat tol.

Sayang istri saya menganggap cara ini aneh. Dia pun tak menyukai cara yang menurut saya masuk akal dan cocok untuk kesehatan jiwa maupun raga. :D

Hanya istri saya? Tidak. Satpam kantor juga pernah menganggap saya aneh. Bahkan pernah oleh penjaga saya dimintai surat untuk masuk kerja pada jam yang membahagiakan saya — jam dan hari ketika kantor kosong, sehingga internet lancar dan saya bisa memutar audio sekencang-kencangnya, bila perlu ikut berteriak.

Meski begitu, seumur-umur bekerja jadi pegawai saya belum pernah mendapatkan kebahagiaan yang saya idamkan. Apa itu?

Masuk kerja pada hari libur, bila perlu menginap, dan saya memutuskan libur pada hari kerja secara mendadak kapan pun saya ingin, dalam jangka waktu yang juga sesuai hati saya. Itu belum pernah terwujud. Beberapa kali sampai terbawa ke mimpi.

Sampai hari terakhir bekerja, saya termasuk orang yang punya kumulasi cuti lumayan karena jarang saya gunakan (tak ada cuti hangus untuk pekerja tertentu). Tentu dengan pengandaian, cuti paksa yang dinamai “cuti bersama” (seperti di kantor lain) itu tak dihitung. :P

Bepergian saat libur kantor, apalagi hari raya dan musim libur sekolah, bukanlah hal menyenangkan bagi saya. Apa-apa harus dipesan jauh hari sebelumnya — suatu hal yang tak saya sukai, termasuk dalam tontonan dan hiburan. Tak ada diskon. Paling benar, bagi saya, adalah libur ketika orang lain tidak libur.

Akhirnya saya paham kenapa banyak orang rela bermacet-macet. Datang pagi ke kantor, katakanlah pukul empat, tak diperbolehkan masuk ke ruang kerja — kudu menunggu empat jam lagi. Orang mau kerja kok dihalangi. Aneh.

Memilih pulang pukul dua malam, tanpa surat lembur, akan diusir. Ingin sebulan menginap (termasuk pada tanggal merah) akan dipanggilkan psikolog. Tapi ingin sebulan di rumah, padahal sehat, akan dipecat. Kantor yang bengis. :D

Saya akhirnya juga paham kenapa banyak keluarga bepergian saat libur sekolah. Kita tidak bisa mengajak anak kita libur saat tes atau ujian, dan meminta guru memberikan pelajaran maupun tes saat libur semester di sekolah (bukan di rumah).

Kadang dunia memang tak membahagiakan. Apa boleh bikin.

Ada orang, saya lupa, kasih solusi yang jauh dari kewarasan, “Kalo nggak mau diatur, ya sana hidup di hutan.”

Ada pula macam, “Jadi, kalau lapangan sepakbola terendam banjir, pemainnya diminta main basket di hall?” Analogi yang memaksa. :D

Ada juga sih yang bilang, “Kalo situ maunya apa-apa sesuka hati, yang menggaji juga boleh semaunya sesuai mood, nggak hanya tanggal gajian tapi juga jumlahnya.”

Ini jelas pikiran waras. Sayang menjengkelkan. :D

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

Aka | 16 03 2008 @ 20:58:10

Ya kalo gitu jangan jadi orang gajian Pakdhe.. lebih cocok wirausaha :D


#21

dhodho | 16 03 2008 @ 0:27:53

‘Masuk kerja pada hari libur, bila perlu menginap’, merupakan salah satu kebahagiaan yang diidamkan paman tapi belum kesampaian. Wah, berarti sampean kalah bahagia dengan saya, dong paman. Saya sering lho, masuk kerja pada hari libur tanggal merah, dan menginap di kantor. (sori, pada komen sebelumnya ada rangkaian kalimat yang katut dicopy paste…)


#20

dhodho | 16 03 2008 @ 0:22:27

‘Masuk kerja pada hari libur, bila perlu menginap’, merupakan salah satu kebahagiaan yang diidamkan paman tapi belum kesampaian. Wah, berarti sampean kalah bahagia dengan saya, dong paman. Saya sering lho, masuk kerja pada hari libur tanggal merah, dan menginap di kantor.

, dan saya memutuskan libur pada hari kerja secara mendadak kapan pun saya ingin, dalam jangka waktu yang juga sesuai hati saya. Itu belum pernah terwujud. Beberapa kali sampai terbawa ke mimpi.


#19

lantip | 15 03 2008 @ 11:17:26

siapa suruh datang jakarta
siapa suruh datang jakarta

*cuma numpang menyanyi*
*menyodorkan kalengan, minta recehan*
hihihi


#18

wini | 14 03 2008 @ 22:38:41

Membaca ini saya benar-benar merasa sangat beruntung… Bisa menyesuaikan jadwal kerja sendiri, sehingga memungkinkan berangkat kerja jam brp saja. Klo mau bgadang sampe pagi dkantor jg gada yg marahin… Malahan, satpam sama supir jaga malem pada seneng, bnyk orang dkntor. hehe..:D


#17

Mbelgedez | 14 03 2008 @ 18:44:02

Sayah pengen komen, tapi sayangnya, sayah Orang Nyang Ndak Ada Kerjaan™


#16

mikow | 14 03 2008 @ 15:18:50

poto yg pertama dari jok belakang, paman sekarang udah punya sopir pribadi rupanya :)


#15

funkshit | 14 03 2008 @ 14:23:33

hahaha.. saya suka postingan ini


#14

andrias ekoyuono | 14 03 2008 @ 14:12:37

untungnya saya udah gak berpabrik di thamrin, dan untungnya pula udah gak masuk jam 8, jadi rada berkurang kemacetan yang saya hadapi tiap hari


#13

edratna | 14 03 2008 @ 13:39:43

Jakarta beberapa hariini tiap sore hujan deras, pakai petir..terus banjir dan macet. Bikin pusing…dan kalaupun pulangnya mundur, jam 9 malampun masih macet.


#12

dheche | 14 03 2008 @ 12:37:50

Hehehe, bener paman, lebih enak pergi-pergi di luar hari libur. ini kenapa saya ndak pernah mudik waktu lebaran.
btw, untung saya nguli di tempat yg mengijinkan saya ngantor jam 12 siang dan pulang dini hari tanpa perlu ribet-ribet.


#11

mpokb | 14 03 2008 @ 12:36:22

duuh.. enaknya kalo jam kantor bisa atur sendiri. yg penting kerjaan beres, kuota absensi terpenuhi (kalo memang diperhitungkan). saya juga masih bingung, gimana cara meyakinkan atasan dan HRD supaya boleh masuk kantor jam 10 pagi dan pulang jam 8 malem.. :P


#10

eri | 14 03 2008 @ 11:53:52

Kedepannya akan semakin susah aja hidup di Jakarta. Tiap bulan penjualan mobil di Jakarta mencapai angka yg fantastis dan terus berlanjut. Pada lewat mana mobil2 baru itu kalo gak lewat jalan raya yg kita lewati sehari-hari.

Adikku sekali-kalinya datang ke Jakarta kena macet 3 jam di tol. Habis itu gak mau lagi ke Jakarta


#9

lenje | 14 03 2008 @ 11:21:02

ha! saya juga paling demen waktu kantor libur karena tanggal merah menurut kalender endonesah (yang kadang2 di sini pas tengah minggu dan tidak libur). seneng jalan2 waktu tau banyak manusia lain di sini harus ngantor :D


#8

Abihaha | 14 03 2008 @ 11:17:43

Pantes sekarang kawan saya di Jakarta yang lulusan psikolog makin susah dihubungi.
Makin banyak yang konsul kayanya.


#7

bangsari | 14 03 2008 @ 10:13:51

berarti saatnya menjadi bos bagi diri sendiri. betul juragan?


#6

Hedi | 14 03 2008 @ 10:04:30

Sampeyan seperti adik saya. Kerja di tanah abang, jalur yang dia pake depok-simatupang-kemang-blok m-sudirman-pejompongan-tanah abang. Alasannya, ga enak lewat Kp. Melayu-Casablanca, motor kena macet juga, hahaha


#5

annots | 14 03 2008 @ 9:40:11

Beberapa kali saya baca “Lancar Jaya” dalam postingan ini, sama dengan nama bus AKAP PO “Lancar Jaya”.


#4

ebeSS | 14 03 2008 @ 8:04:57

sebenarnya cara yang dipilih telah menentukan tujuan dan resiko tentunya!
klo ‘emak’ mengapa selalu dalam ‘dilema’? karena merasa telah berusaha keras memilih dan menjalankan ‘cara’! lha resiko siapa yang nanggung . . :P


#3

stey | 14 03 2008 @ 7:42:36

kemaren Semarang hujan deras, padahal panas dari pagi, dan tempat2 yang ga banjir jadi banjir dan off course macet dan kok malah curhat sih..


#2

Aris | 14 03 2008 @ 5:05:37

Wah tumben komen nomor siji …


#1

Aris | 14 03 2008 @ 5:04:00

Yg mesti diubah adalah cara menaiki kendaraan. Lebih enak kalau ada yg menyupiri. Enggak peduli macet, bisa lihat kiri kanan, foto-foto dan buat postingan. Ini namanya satu cara dan tujuan, beberapa postingan terselesaikan.