Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Koruptor (dan Bekas Koruptor) Boleh Memimpin

Sabtu, 22 Maret 2008 @ 16:13 | Komedi Indonesia

NIAT BAIK DAN NIAT BAIK, MANA YANG LEBIH BAIK?

politikus koruptor dalam pilkada

Mari mencoba menafsir dan menerapkan apa yang kita yakini sebagai “niat baik”. Kalau koruptor dan atau bekas koruptor, yang pernah menjalani pidana, itu mencalonkan diri jadi wali kota, bupati, dan gubernur bagaimana?

Kelompok niat baik yang pertama menentang. Alasan utamanya: orang yang sudah terbukti punya cacat moral dan hukum tak layak memimpin (lagi). Kasihan rakyat. Ini bukan pendidikan politik yang baik dan benar.

Di seberang yang lain, kelompok niat baik yang kedua menyetujui. Alasannya: si bekas narapidana korupsi sudah menebus kesalahannya melalui keputusan hakim, sehingga tak perlu dihakimi lagi melalui pelarangan untuk menjadi kepala daerah.

Atas nama pendidikan politik, kelompok kedua yakin bahwa inilah bentuk praktik demokrasi yang benar. Berikan hak setiap orang untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin, lantas sesudahnya biarlah rakyat yang menimbang.

Sederhana kan? Mungkin. Sayang sekali persoalannya tak hitam-putih, apalagi jika menyangkut rakyat pemilih.

Ada yang menganggap, peduli setan dengan track record kandidat. Yang penting orangnya keren dan baik hati. Lagi pula di dunia nyata ini tak ada malaikat. Bisa saja seseorang tersandung kasus korupsi karena dia harus mempertanggungjawabkannya, padahal dia tak memperkaya diri serupiah eh sedollar pun dari sana.

Pihak yang berseberangan bisa bilang, “Oh, pemimpin yang tulus, tapi sayang naif. Apa dia tak tahu bahwa tanda tangan dan persetujuannya itu hanya memperkaya anak buah dan pihak lain, tapi sekaligus merugikan rakyat?”

Bagaimana jalan keluarnya? Serahkan kepada rakyat? Tidak, Saudara-saudariku. Serahkanlah kepada politikus dan politisi. Mereka itu ahlinya.

+ Mau rujukan? Lihat arsip.

© Hak cipta gambar asli: entah. Olahan: blogombal.org

Ada 21 komentar | trackback | Depan

#21

pelintas | 29 03 2008 @ 14:03:11

Asli gregetan dah nyaksiin banyak penomena ancur2an ahir2 ini,BLBI lah,bisnis diamond lah……hmmmm pernah tau tentang dark justice ? ….asyik juge kali yak !


#20

sluman slumun slamet | 25 03 2008 @ 1:23:56

bagus mana mantan kiai sekaligus habib atau mantan gigolo yang suka nyuri dan korupsi?
ahhh, entahlah…


#19

dhany | 24 03 2008 @ 8:59:54

mari korupsi
siapa tahu nanti masyarakat lupa lagi..


#18

M Fahmi Aulia | 23 03 2008 @ 18:09:18

ah, gombalisme nich!! ;-)


#17

tehaha | 23 03 2008 @ 15:59:46

susah memang memilih pemimpin..
mayoritas berkarakter penguasa, bukan pemimpin..


#16

kwak kwik kwek | 23 03 2008 @ 14:41:43

tikuse gemah ripah loh jinawi


#15

getmobilegame | 23 03 2008 @ 12:08:17

yang lebih baik ,para bekas koruptor g usah mimpin.Kan masih banyak pemimpin yang laen,betul g?
getmobilegame


#14

it is more art than science | 23 03 2008 @ 11:42:31

Di sebuah negara tertentu di timteng, pejabat yang pernah korupsi tidak dipecat dan dihukum oleh pimpinannya. Diberikan kesempatan kedua, hanya saja karena pernah korupsi maka pengawasan lebih ketat lagi, sangat ketat malah, dari pimpinannya di berabagi sektor. Menurut kabar, cara ini berhasil menghilangkan tindakan korupsi.
~~~~
Tapi itu di negara lain, saya tidak tahu persis hasilnya jika di negeri tercinta.


#13

anno' | 23 03 2008 @ 8:26:16

yup…gw gk setuju…yg pernah koruptor khan udah ketahuan jeleknya…kayak qta ja yg ikut tes2 harus diserta surat berkelakuan baik….nach koruptor itu pa gak lebih jelek dar ikelakuan jelek…


#12

suci | 23 03 2008 @ 0:49:57

serahkan pada rakyat??? gak yakin rakyat(termasuk saya) udah punya ‘kemampuan’ memilih dengan baik dan benar.


#11

Adiska | 22 03 2008 @ 22:32:31

Wah… asik juga nih tulisannya. Keep posting ya bro


#10

Kesambet | 22 03 2008 @ 22:18:43

Oya Paman Tyo…trimakasih untuk panduan cpanel…ini hasilnya…sebuah blog yang ndak mutu…hahaha


#9

Kesambet | 22 03 2008 @ 22:17:11

Jangan berikan kesempatan kedua karena dia akan lebih pinter dan lebih hati2 untuk korupsi…karena niat baik belum tentu hasilnya baik…

NB : kotoran ndak layak jadi pemimpin


#8

Hedi | 22 03 2008 @ 21:57:11

niat baik yang lebih tulus yang lebih baik.


#7

lexi | 22 03 2008 @ 21:27:17

salah satu cara agar(bekas) koruptor tidak bisa jadi pemimpin adalah dengan mengeksekusi mati mereka. Untuk kebaikan bangsa ini, para koruptor (yang nilai korupsinya di atas Rp 1 M) itu memang harus dihukum mati. Atau, kalau ada yang tidak setuju hukuman mati, hukuman seumur hidup juga boleh. Di negeri dengan tingkat korupsi yang sudah berada pada level empat (koruptor pun dikorup) ini, tidak boleh ada kesempatan kedua untuk para koruptor. Dan, kelompok pertama yang harus dihukum mati atau seumur hidup adalah para hakim, jaksa dan polisi korup.


#6

Teguh Budi | 22 03 2008 @ 21:01:04

Satu lagi bukti - setelah kasus Nurdin Halid - punahnya sanksi sosial di masyarakat kita, pakde…


#5

gagahput3ra | 22 03 2008 @ 20:42:07

Kalo gw sih termasuk orang yang percaya sama kesempatan kedua.

Tapi kalo setelah kesempatan kedua dia gagal, mari kita tindak dengan tegas dengan mengasingkannya ke Papua. :P


#4

iman brotoseno | 22 03 2008 @ 18:28:46

Dalam politik, dibutuhkan lebih dari niat…ada kompromi, dana, dan dagang sapi. Jadi ‘ niat baik ‘ harus berkompromi juga pada akhirnya.


#3

yudhi | 22 03 2008 @ 17:06:08

#1,ho`oh lupa.Lupa banget,malahan.Apalagi klo udah disodori duit+beberapa iming-iming yang “menggiurkan” lainnya,dijamin akan cepet lupanya.


#2

vendy | 22 03 2008 @ 16:39:18

moral dari cerita pak sukab : tikus


#1

Abihaha | 22 03 2008 @ 16:32:06

ah… kita kan cepat lupa tho pakdhe?