Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Suami Didambakan, Penipu Datang dengan Kemesraan

Minggu, 23 Maret 2008 @ 20:50 | Selingan

BUKAN SALAH SI RUBRIK JODOH.

Bagi saya, surat pembaca ini bukan lelucon. Ini drama pahit. Perlu keberanian bagi korban untuk menulis di Kompas, dengan risiko akan ditertawakan oleh orang sinis miskin empati, “Salah sendiri kenapa nyari suami lewat koran.”

Mencari suami lewat rubrik jodoh, dengan memampangkan foto diri, adalah langkah berani. Kenapa di internet bisa? Alamnya berlainan. Koran, saat ini, adalah media lama, yang bisa digunting lalu diedarkan (termasuk via web).

tertipu suamiLho bukannya, di internet juga bisa dicetak, atau dibuatkan screenshot untuk diedarkan dan dicetak? Pembacanya (dan perilakunya), sejauh ini, kayaknya masih berbeda dari koran.

Penah survei? Belum. Ada data rujukan? Tidak. Tapi kesimpulan sementara saya memang begitu. Memasang foto diri di rubrik jodoh perlu keberanian melebihi pasang foto (dengan lingerie segala) di online dating. Penyebabnya, masih dalam dugaan saya, pencari suami (atau istri) di koran, terutama yang berusia 35 ke atas, dan tinggal di kota kecil, belum terlalu menjadi bagian dari aktivitas online. Kontak dengan orang baru-dan-asing masih terbatas.

Kembali ke soal awal: “menawarkan diri” lewat koran. Meski anonim, dan tanpa foto, sejak dulu urusan yang ini perlu keberanian ekstra karena lingkungan kadang tak mendukung. Belum lagi risiko menerima surat perkenalan dari sepupu atau atasan atau malah mantan.

Setelah tertipu, kemudian mengadu ke koran, ini juga butuh keberanian. Salah-salah dibilang beli suami dalam rubrik karung.

Lantas di mana masalahnya? Tipu-menipu ada di mana pun. Mau Astuti (asli tukang tipu) atau Johnny Tricky, itu tak melulu karena kontak via rubrik cetak maupun online (acara Oprah yang ditonton anak saya pernah membahas tipuan lewat kencan maya). Pacaran biasa, lama banget sampai akhirnya menikah, tapi kemudian diporoti, juga ada.

Siapa pemorotnya, lebih banyak pria atau wanita? Saya tak punya data. Tapi bisa saja dalam sebuah perkawinan itu masing-masing pihak secara bergilir menjadi korban dan sekaligus pelaku. Kalau happy ending (tepatnya: never ending story yang memanjakan), urusan tak sampai ke koran apalagi polisi.

Catatan:
semoga tidak ada komentar aneh sebangsa “penulis adalah pengamat rubrik jodoh di koran…” maupun “ini pengalaman pribadi ya, Paman?” :D:P

Ada 32 komentar | trackback | Depan

#32

stey | 04 04 2008 @ 21:56:20

untung ga pernah kepikiran masang iklan di biro jodoh walopun umur semakin merangkak tua..


#31

Parta | 26 03 2008 @ 20:45:17

hua,ha,ha,ha.. lucu juga baca yang ini:

semoga tidak ada komentar aneh sebangsa “penulis adalah pengamat rubrik jodoh di koran…” maupun “ini pengalaman pribadi ya, Paman?”


#30

isdiyanto | 26 03 2008 @ 14:02:10

memang butuh keberanian untuk mempublikasikan dirinya sendiri…
klik: http://simpanglima.wordpress.com/


#29

rd Limosin | 25 03 2008 @ 11:44:23

huehehehe… masih ada aja


#28

edratna | 25 03 2008 @ 10:23:30

Saya salut dengan yang berani menulis di surat pembaca Kompas tsb, padahal dia sudah menanggung malu.

Kadang saya malah berpikir, kenapa ya zaman sekarang masih berpikir harus menikah dan sampai segitunya mencari jodoh melalui kontak jodoh…bukankah menikah atau tidak itu suatu pilihan? Saya nggak akan menikah kalau tak ketemu orang yang cocok….kata suami,”Itu kan kamu”….hehehe.

Terus kata anak saya…”Lha ibu, segala sesuatu dianalisis….pakai cash flow lagi plus sensitivity analisis”…hahaha. Yah, karena menikah atau tidak semuanya ada risiko.


#27

sluman slumun slamet | 25 03 2008 @ 1:28:56

diporoti atau diploroti paman?
:D


#26

endarko | 24 03 2008 @ 23:37:26

Paman, yang cari jodoh di koran itu khan namanya sedang usaha, tapi kalo lagi usaha jangan cuma akal dan otot aja, lebih baik dibarengi dengan do’a supaya kalo ada sesuatu yang nggak beres seperti ini tidak ada yang disalahkan dan sebelum bertindak ada pertimbangannya terlebih dahulu.


#25

dhodho | 24 03 2008 @ 23:30:50

Penipu memang tak pernah berhenti meng-up date modus penipuannya. Btw, penipu Ibu Ani ini pantasnya diberi julukan apa, paman? Pria hidung belang bermata keranjang penjahat pemetik bunga, atau apa? Yang pasti, dia laki-laki kurang ajar!


#24

lexi | 24 03 2008 @ 18:06:28

Saya senang mbak ani mau menceritakan pengalaman tragisnya lewat surat pembaca. Dan saya berterimakasih paman mengulasnya di blog. Saya setuju paman, ini bukan lelucon. Bagi mbak ani, ini bahkan tragedi.
Lewat media lain, saya pernah mendengar ada perempuan (juga pasang pengumuman di rubrik jodoh)lain yang juga menjadi korban penipuan. Bedanya, waktu itu si perempuan belum dikawin, baru tahap pacaran, tetapi hartanya juga dikuras habis-habisan.
Penipu memang datang lewat berbagai pintu. Dan, pada injury time, kaum perempuan merupakan sasaran empuk.
Penyebarluasan kisah2 tragis ini moga-moga menjadi pelajaran bagi kita semua.


#23

Jephman | 24 03 2008 @ 16:36:30

Makasih Om udah mampir di Kartun Orang Batak


#22

andrias ekoyuono | 24 03 2008 @ 16:19:28

jaman sekarang, berani pasang foto di friendster pun bukan jaminan membeli kucing dalam karung, kenalan langsung pun juga begitu. Kesimpulannya, penipu bisa dateng dari mana saja


#21

galih | 24 03 2008 @ 15:23:01

wealah… rubrik yang selalu menarik buat blogombal. tercatat ada banyak postingan tentang kontak jodoh :D


#20

ebeSS | 24 03 2008 @ 14:17:56

wadooooohh . . . dari tempat sir mbilung, juga tentang jodoh, lewat kopdar lagi! jangan2 merekalah . . . yang mampu menjawab


#19

vendy | 24 03 2008 @ 10:15:13

tergencet usia+gunjingan, kucing dalam karung pun diembat


#18

pnsgila | 24 03 2008 @ 9:46:51

wah, jeli juga neh paman…gak bakal komen yang aneh2 kok, cuma dikit nanya, itu biro jodoh mana ya? wah bisa dicoba dunk, hehe..


#17

Hedi | 24 03 2008 @ 9:08:15

Saya tetep nekad, sampeyan udah berapa kali nulis soal rubrik jodoh a.k.a pengamat :D


#16

mpokb | 24 03 2008 @ 9:04:44

anak2 nonton episode oprah yg episode pedofilia pencari mangsa di dunia maya? penting itu..


#15

Abihaha | 24 03 2008 @ 8:20:31

Apa sudah dicari ke ruang jenazah rumah sakit-rumah sakit? Atau ternyata jadi korban kapal tenggelam air pasang kemarin?
Penipu makin berani berkorban dulu ya sekarang, lha wong biasanya terpaksa nipu untuk menghidupi keluarga, lha jaman sekarang malah terpaksa berkeluarga untuk menipu.


#14

tehaha | 24 03 2008 @ 8:06:25

benar paman, perlu ‘keberanian’ untuk mengisahkan cerita semacam itu di koran..


#13

gagahput3ra | 24 03 2008 @ 5:10:09

Kalo saya sih daripada cari jodoh di koran lebih baik di mIRC.

Lebih pasti ketidakpastiannya. :P


#12

pengamat_para_pengamat | 24 03 2008 @ 4:49:28

Penulis ada pengamat rubrik jodoh di koran.

*kabur*


#11

Teguh Budi | 24 03 2008 @ 4:00:17

Nggak boleh nulis yang dua itu ya? Yo wis…Penulis Adalah Pengelola Biro Jodoh Bersertifikasi….guaranteed cash back. hehehe


#10

sawung | 24 03 2008 @ 3:14:27

kalo tertipu mertua ada ga?


#9

fahmi! | 24 03 2008 @ 1:10:36

penulis adalah pengamat rubrik jodoh di koran…
hehehe


#8

Mbilung | 24 03 2008 @ 0:00:46

buka anak blog untuk iklan jodoh sepertinya bakal laku. http://jodoh.blogombal.org ?


#7

mbakDos | 23 03 2008 @ 23:42:55

*paman, maap catatan di bagian bawah postingan ini sulit dibaca* :D


#6

it is more art than science | 23 03 2008 @ 23:13:02

walaupun agak susah payah saya membaca isi surat pembaca itu, akhirnya berhasil diselesaikan juga.
~~~
Namun untuk memberikan komentar yang adil untuk kedua belah pihak, saya menunggu surat pembaca dari pihak laki-laki. Begitulah perilaku adil, katanya. :)


#5

yudhi | 23 03 2008 @ 22:57:57

Jadi ini pengalaman pribadi,dhe ?

*plak*

:P


#4

dhany | 23 03 2008 @ 22:53:33

ada yg lebih parah, saya ambil dari bukunya Asma Nadia
Dapet laki orang bule, kawin disana, disiksa, anak disekap, dan segala perilaku kejam lainnya.
untung bisa melarikan diri ke KBRI


#3

Yahya Kurniawan | 23 03 2008 @ 22:06:04

Sekarang ini apa saja bisa jadi media tipu menipu, so berhati-hatilah.
Apalagi katanya para blogger itu juga penipu …


#2

venus | 23 03 2008 @ 21:42:51

walah….seremmm…

siapa yg salah kalo ada kasus begini, ya?

**paman, nuwunsewu, spam blockernya agak susah dibaca :(


#1

quelopi | 23 03 2008 @ 21:10:48

parah amat…