SEBUAH CATATAN ORANG JADUL.

Baiklah, saya akui terus terang saja kendesitan saya. Buat saya aneh, dan kurang enak, kalau minum hangat pakai sedotan. Tapi yang terjadi, dari warung kaki lima sampai warung mentereng ber-AC, minuman hangat (dalam gelas, bukan cangkir), terutama teh, tetap diberi sedotan.
Bagaimana dengan teh botol dan limun dingin? Tetap enak kalau langsung tenggak. Tentu dengan catatan bibir botolnya bersih, tanpa karat dan sejenisnya.
Minum pakai sedotan itu kurang enak karena tidak melewati bibir, bahkan kadang melompati ujung lidah. Secara ekonomis juga kurang sip: belum hilang dahaga tahu-tahu isi botol sudah habis.
Maka saya pun bisa paham kenapa penganjur minum air putih menyarankan kaum yang sulit mengonsumsi air putih untuk menggunakan sedotan. Tanpa terasa (diharapkan begitu), air yang masuk sesuai kebutuhan minimum tubuh.
Kapankah kita mengenal sedotan secara meluas? Seingat saya pada akhir 60-an. Saat itu masyarakat kota kecil mulai mengenal es jus — minuman yang sulit ditenggak itu. Sebelumnya sedotan yang lumrah adalah yang berbahan kaca, seperti yang untuk koktil itu. Entah bagaimana mencucinya — korah-korah, kata wong Jawa Timur.
Saat meluasnya penjualan es jus pula, pada awal ekonomi Orde Baru, industri plastik dan impor barang-barang plastik mulai menderas. Tapi karena es jus belum terjangkau oleh semua orang, dan bahkan limun berpenutup keramik dengan pengikat kawat pun masih mewah, maka sedotan plastik dijual eceran.
Buat apa? Buat mainan anak-anak. Sebatang sedotan bisa dipotong jadi lima. Setiap potongan dipotong ujungnya sehingga mem(p)unyai dua lidah “V”. Potongan itu, di mulut yang terampil, bisa menjadi peluit.
Menurut kabar burung yang saya dengar waktu bocah, banyak anak yang tanpa sengaja menelan peluit sedotan itu sehinga ususnya robek. Benar tidaknya entahlah.
Saat itu, sebagai benda baru, sedotan plastik juga menjadi bahan hasta karya. Ada yang dibuat ronce, ada yang dibuburkan untuk dijadikan manik dan bros. Sedotan plastik, kayaknya, begitu modern. Apalagi, sepuluh tahun kemudian, muncul sedotan yang bisa dibengkokkan.
Sekarang sedotan “ada sedia di mana-mana warung makan”. Entahlah, kenapa belum diterapkan untuk kopi tubruk panas yang endapan kopi dan gulanya sampai sepertiga gelas itu.





bubba | 26 03 2008 @ 19:36:11
mungkin saya salah, tapi sedotan yang bisa bengkok seperti di gambar itu baru beredar di negri ini awal taun 90an. kalau dirunut dari cerita pakdhe, seharusnya tahun 2010 akan muncul model sedotan yang baru ya?
r | 26 03 2008 @ 17:00:24
padahal klo teh puuuanas itu enaknya minum sambil bunyi: sssrrrlllrrruup… aah…. *aih, jadi kebayang makan nasi hangat lauk gepuk dan sambel pedes,makannya muluk lalu minum teh tawar panas yg langsung membakar rasa pedas*
kok jadi ngiler2 gini ya?!
Beta Uliansyah | 26 03 2008 @ 9:09:53
Wih gila! Googling “sedotan”, post ini masuk nomor #2.
Padahal mau cari sejarah sedotan yang kabarnya didesain untuk minum soda. Airnya di bawah, krimnya di atas. Gimana minumnya tanpa mengotori mulut dengan busa.
idarmadi | 26 03 2008 @ 8:32:39
Setidaknya ada 2 justifikasi kenapa saya memakai sedotan.
1. higenis. Pernah melihat bagaimana mereka mencuci gelas di warung bakmi, bahkan sampe level foodcourt? Bukan 1-2 kali saya menjumpai sisa lipstik. Lha, kalo bekas lipstiknya Luna Maya sih gpp deh.. tapi siapa tau bekas lipstik Madam Gunawan.
2. untuk minuman berkarbonasi, pemakaian sedotan bisa membuat lebih menggigit.
wedhouz | 25 03 2008 @ 19:04:15
sedotan plastik kalau di dalam minuman panas sepertinya tidak baik karena plastik dan zat warnanya mungkin ada yang terlarut dalam air panas minuman
tobing | 25 03 2008 @ 19:00:04
pake sedotan buat minum emang gak enak, masuknya dikit2, segernya beda
kw | 25 03 2008 @ 14:32:08
kalau aku selalu usahakan pake sedotan ( kan sedotan di warung itu masih di bungkus plastik). apalagi kalau minum dingin. dengan sedotan minuman dingin/ panas tidak mengguyur gigi. sehingga gigi kita lebih awet. :)
Qky | 25 03 2008 @ 13:44:47
sedoooot teruuus :-P
edratna | 25 03 2008 @ 10:28:00
Itu kayaknya lagi mode paman…coba beberapa tahun lalu, kan nggak pake sedotan.
Ngerinya kalau sedotan bekas yang dicuci lagi….jadi mesti minta tanpa sedotan aja, atau sedotannya masih terbungkus plastik.
Jay | 25 03 2008 @ 10:22:45
Hihihi, waktu kecil dulu minum dengan sedotan adalah hal yang aneh, dianggap sebagai belum mampu minum dari gelas langsung.
Hingga sekarang saya lebih prefer minum langsung dari gelas atau ditenggak dari botol. Dingin ataupun panas.
lexi | 25 03 2008 @ 10:04:10
Saya tidak tahu, apa paman pernah dengar cerita soal sedotan yang satu ini. Siti, pelayan warteg di dekat saya tinggal, dimarahi habis sama juragannya gara-gara penggunaan sedotan di warteg itu boros sekali. “Pasti kamu yang ngabisin itu sedotan. sedotan itu khusus buat tamu, bukan buat pelayan,” tuduh si juragan, jengkel.
“Bukan saya, bu. Soalnya, sedotan yang habis saya pakai biasanya saya kembalikan ke tempatnya,” jawab Siti, membela diri.
Sejak dengar cerita itu, paman, saya selalu membuang tiap sedotan pas minum di warung. Bahkan, kalo ingat, saya sejak awal pesan, “tolong minumnya ndak pake sedotan…”
yantee | 25 03 2008 @ 10:02:25
ice lemon tea ya paman…hmmmm sluurrpp…seger…
Fiz | 25 03 2008 @ 10:01:21
Bahkan hingga saat ini saya masih menganggap sedotan sebagai sampah plastik. Jadi harus sesegera mungkin dibuang ketika masuk gelas atau botol. GILO…!!!
ebeSS | 25 03 2008 @ 9:22:13
dua sedotan, bisa segelas bersama emak . . . :P
Hedi | 25 03 2008 @ 9:03:14
saya ga seneng pake sedotan…pokoknya ga seneng…kaya anak kecil aja :P
jalansutera | 25 03 2008 @ 8:44:42
saya punya kebiasaan aneh kalo habis minum menggunakan sedotan di warung atau pinggir jalan. sedotan yang sudah saya pakai pasti saya rusak dengan cara membuat simpul di tengah-tengah. atau, kalau saya minum minuman yang menggunakan botol, maka sedotan itu saya tekuk, kemudian saya masukkan ke dalam botol. dengan cara ini saya berharap sedotan itu tidak akan dipakai lagi untuk orang lain. atau, semoga yang punya botol benar-benar mencuci bersih botolnya sebelum dipakai lagi untuk menghidangkan minuman.
ada yang punya kebiasaan spt saya juga? keliatannya sih jarang.
Abihaha | 25 03 2008 @ 7:47:18
Baru akhir 90′an muncul sedotan yang warnanya solid, ndak semi transparan. Heran lihat sedotan warna hitam pekat, sampai curiga bahannya pasti plastik limbah dan bisa dicuci ulang, wong kalao dalamnya kotor ndak kelihatan.
snydez | 25 03 2008 @ 7:46:30
ketika pertama kali minum teh yang dipesen di mekdi,
kirain yang putih pendek itu adukan doang, ternyata bisa jadi sedotan..
pernah sekali nyoba nyedot, hasilnya tenggorokan terbakar teh panas :D
galih | 25 03 2008 @ 7:42:37
benar paman, saya juga lebih suka minum tanpa sedotan. kalau nggak membasahi bibir rasanya kurang afdol
sawung | 25 03 2008 @ 6:23:31
Minuman panas pake sodotan ga enak paman. Kadang teras arasa plastiknya. Plastik yang dipanaskan bisa memunculkan dioxsin yang karsiogenek
sang_editor | 25 03 2008 @ 5:53:39
Ralat atas tulisan paman:
“Sepuluh kemudian” –> (mungkin) maksudnya “Sepuluh tahun kemudian”
*comment gak mutu*
—
terima kasih. justru ini mutu.
Aris Heru Utomo | 25 03 2008 @ 4:58:18
Wah fotonya keren abis man. Yang motret pasti gak jadul donk :)
sluman slumun slamet | 25 03 2008 @ 1:27:14
sedot om…
sepakat sama Gum, mampir amlang paman!
mbakDos | 24 03 2008 @ 23:26:39
lha waktu perkencanan dengan saya tempo dulu itu, memang ndak ada sedotannya tho minumannya panjenengan? atau jangan2 mereka sudah tau kesenengannya paman ndak pake sedotan itu?
herru | 24 03 2008 @ 23:05:06
dengan semangat stop global warming, mari kita hentikan menggunakan sedotan paman
GuM | 24 03 2008 @ 22:53:39
“kopi tubruk panas yang endapan kopi dan gulanya sampai sepertiga gelas itu.”
ah, pak. njenengan mesti mampir ke malang. banyak kopi dengan karakteristik seperti itu di sini. istimewanya, lethek (endapan)-nya halus.
walah OOT :))
ebo | 24 03 2008 @ 22:46:48
jd inget ma org jepun..diet pake sedotan!!!met kenal