Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Wang-sinawang atawa Saling Pandang dan Membatin

Selasa, 25 Maret 2008 @ 13:58 | Personal

KESAN SEKILAS SOK TAHU SETELAH MELIHAT BOCAH TIDUR DI TEPI PEREMPATAN.

anak gelandangan jakarta

Apa sih yang disebut hidup nyaman? Beda orang beda timbangan. Dan anehnya yang jadi ukuran adalah orang lain. Ketika memandang bocah ini masih tertidur pulas di tengah keramaian, tadi pagi pukul delapan kurang lima, orang yang mengidap insomnia mungkin akan iri, padahal kamarnya ber-AC dan bantalnya bersubal bulu angsa.

Tapi juga bisa jadi anak di lampu merah Bunderan Slipi, di perbatasan Jakarta Barat - Jakarta Pusat dari arah Palmerah Selatan, itu menganggap kehidupan orang lain lebih nikmat. Makan tinggal memilih, berjalan tinggal mengayun langkah tanpa kekhawatiran kena garuk polisi pamong praja.

Tentu bisa pula muncul pendapat, bagi anak-anak macam ini, paham Huck Finn yang bebas merdeka tetap lebih memikat. Kamar tidur yang rapi dan hidup serbatertib adalah penjara.

Pendapat lain muncul dari masing-masing Anda. Tak ada yang mutlak benar, apalagi kalau kita cuma menjadi penonton. Pekerja sosial yang mengurusi rumah singgah lebih memahami masalah anak-anak ini dari dimensi yang lebih kaya.

Apa pula kata negara?

Oh, apa tadi negara?

Siapa itu yang menjadi representasi negara? Yang pintar pidato dan bikin juklak? Atau siapa pun yang bergaji dari pajak rakyat lantas melakukan apa pun atas nama cita-cita luhur negara tapi tak lebih dari posting seorang blogger yang hanya bisa berkomentar dan bertanya?

Ada 28 komentar | trackback | Depan

#28

kwak kwik kwek | 31 03 2008 @ 7:27:42

Di palmerah area emang banyak sad story…ooops!


#27

[H]Yudee | 27 03 2008 @ 16:58:36

hmm … kalo liat seperti ini, rasanya ga tega….


#26

edratna | 27 03 2008 @ 14:24:33

Hidup memang sawang sinawang, mungkin ini agar kita selalu menempatkan diri dipihak kalau aku menjadi dia bagaimana….
Bukankah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau?


#25

DiDe | 27 03 2008 @ 14:16:56

“Beda orang beda timbangan” bener banget paman, setiap orang punya masalah sendiri-sendiri yang kadang untuk beberapa orang mudah tapi untuk orang lain bisa susah setengah mati. Kadang dari masalah ini yang klo bener-bener udah eneg jadi kepikiran “memang kita dikasih pilihan?”. Ndak tau juga yang nulis ini juga lagi eneg soalnya ^^


#24

bubba | 26 03 2008 @ 19:16:24

saya berhenti memelihara kucing ketika sekolah sma pakdhe. pasalnya sederhana, saat saya harus mengejar metromini di pagi pagi buta si kucing enak enakan bobo terus sampai siang :(


#23

maysaro | 26 03 2008 @ 16:42:23

Ini adalah kesalahan fatal seluruh elemen msyarakat,siapa yang tahu bahwa dia dulunya hidup berkecukupan sebagai anak seorang pedagang, kemudian muncullah mall, supermarket, minimarket, yang akhirnya orangtuanya tidak mampu lagi menghadapi raksasa2 baru karena masyarakat lebih senang ke berbelanja di mall daripada di tokonya, kemudian ekonomi keluarga semakin turun akhirnya dia harus keluar dari rumahnya karena harus dijual untuk menutupi hutang orang tuanya di bank. Sorry seraya di blog sendiri


#22

yati | 26 03 2008 @ 16:09:08

iri saya…nyaman sekali tidurnya [kelihatannya begitu]


#21

javanese-script.com | 26 03 2008 @ 16:04:58

saya kalo ngeliat mereka ( anak2 jalanan, gelandangan dan orang2 kurang beruntung lainnya) merasa kasiaha tapi di satu sisi saya kagum, salu dengan mereka karna punya mental baja, sanggup hidup di tengah kesulitan, munggkin kalo saya di posisi mereka, saya lebih memilih meminum jus baygon…


#20

kw | 26 03 2008 @ 14:52:15

ya, saya juga cuman ngeliat saja. masih susah banget jadi orang baik. :(


#19

adithz | 26 03 2008 @ 12:10:34

iri kadang….

10thn lagi mereka jadi apa ya ??

masih sudikah kita ngasih uang supaya mereka terbiasa meminta daripada bekerja ?

kita kasihan atau hanya ingin pamer bahwa kita lebih beruntung dari mereka ?


#18

ebeSS | 26 03 2008 @ 11:46:38

gimanapun yang namanya APBN ya tetep anggaran! filosofinya, anggaran itu kan cita2, lha negara itu sok suci dalam nyusun anggaran! lha mbok seperti minimarket, anggarkan sekalian itu barang2 yang dimaling, perbulan! mari kita belajar jujur menganggarkan korupsi, akan jelas nanti kemana jatah anak kecil yang tidur dipinggir jalan itu..


#17

Qky | 26 03 2008 @ 10:46:26

andai blog setara televisi, pasti postingan ini kalah menarik dengan sinetron (ala petinggi republik)


#16

vendy | 26 03 2008 @ 9:55:29

karena kita ini diajarkan untuk menjadi individualis toh?


#15

Hedi | 26 03 2008 @ 9:14:07

saya iri dengan orang2 seperti itu, mereka bisa tidur nyaman tanpa khawatir apa-apa…damai bener


#14

Beta Uliansyah | 26 03 2008 @ 9:05:59

Opo yo sempet bocah itu baca Huckleberry Finn?


#13

Aa Nata | 26 03 2008 @ 8:04:14

Hehehe khas Paman Tyo banget. Bagus banget :D apalagi bagian akhir… posting seorang blogger yang cuma bisa berkomentar dan bertanya. :) What we need is a competent tyrant. Perhaps? Wah again cuma pake kacamata orang lain :P Dooh Paman is right! Again! :D


#12

gagahput3ra | 26 03 2008 @ 6:50:41

representasi negara adalah yang bisa menjawab pertanyaan, sementara representasi kebersamaan adalah siapa pun yang peduli. :(


#11

kunderemp | 25 03 2008 @ 21:42:40

Hmmm….
si anak bukan pengidap narkolepsi, kan?

Jadi pengen tidur melihatnya… sigh..


#10

yudhi | 25 03 2008 @ 19:40:42

Bingung,arep komen opo mbah :(


#9

ruri | 25 03 2008 @ 18:26:36

anak ini baru pulang dugem kali semalam, jadi bangunnya kesiangan :p


#8

andrias ekoyuono | 25 03 2008 @ 17:49:28

katanya di negeri kita ini banyak orang miskin yang bahagia, semoga saya juga bahagia tanpa harus menjadi miskin, hihihihi


#7

Parta | 25 03 2008 @ 16:58:02

ah negara kita cuma bisa mengusik (memberantas) yang lemah saja, tidak bisa memberikan solusi yang baik buat kaum gelandang seperti mereka…


#6

mpokb | 25 03 2008 @ 16:57:25

masih suka kasih uang ke anak jalanan?


#5

escoret | 25 03 2008 @ 16:41:17

di jogja juga bnyak…
dan semoga mereka pules tidur bukan gara2 SEKALENG LEM AIBON


#4

daustralala | 25 03 2008 @ 15:43:10

kayaknya kalau yang begini bukan lagi masalah nyaman atau tidak. rasa letih (dan lapar) yang luar biasa tidak bisa ditahan, sedangkan dia tidak punya pilihan. itu saja.


#3

ebo | 25 03 2008 @ 15:31:11

Anak2 tidur ditrotoar kayaknya ada disetiap kota.kl mo dibilang lg ngetren kayaknya kok malu2in banget negri kt ini.mo tutup mata kok tiap hr kt nglihat..py jal??


#2

mastogog | 25 03 2008 @ 14:38:26

berarti kaya tidak sama dengan nyaman ya paman ?


#1

ekakurniawan | 25 03 2008 @ 14:15:07

rumput tetangga emang selalu lebih hijau … teman saya yang kaya raya, punya toko di mall, suatu hari pernah iri karena banyak orang punya waktu luang menulis (termasuk ngeblog). saya bilang: nulis aja kamu, kan udah kaya. jawabannya: enggak bisa. saya harus kerja. kalo enggak kerja, saya takut kelaparan. aneh, kan?