SISTEM INFORMASI LALIN DI REPUBLIK KEBATINAN.

Saat menyalip sebuah mobil, ekor pandangan mata kiri saya menangkap petugas jalan tol sedang memasang tulisan “Lancar” di tepi jalan.
Isian itu seperti kotak info kantor pemerintah: “Kepala Dinas | Ada”. Kalau diubah menjadi “Kepala Dinas | Amrin Membolos”. Ya, serupa papan daftar nomor nyanyian dan ayat untuk liturgi dalam gereja. Bisa digonta-ganti secara manual.
Yang terjadi ketika itu, dua bulan lalu, setibanya saya di dekat pintu keluar Mampang, ternyata macet cet cet. Padahal saya mau keluar setelahnya, ke Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Tentu saya tak menyalahkan info yang terpasang di JORR sekitar ruas Bambuapus, Jakarta Timur, itu. Ketika info terpasang, demikianlah keadannya. Bahwa setelah petugas PT Jalantol Lingkarluar Jakarta itu masuk ke pikap ternyata ada (misalnya) tabrakan di lain tempat, itu bukan tanggung jawab dia.
Yang saya heran, karena lalu lintas Jakarta ini unpredictable, kenapa pengelola jalan tol tak memasang sistem informasi elektronik yang real time?
Memang sudah ada sih, berupa panel elektronik LED, tapi hanya ada di beberapa tempat. Maka saya memaksudkan penempatan papan info itu merata.

Bayangkan, papan tempel ini letaknya sekitar satu kilometer dari loket tol. Petugas penempel — kecuali sedang disetrap untuk jalan kaki karena nakal dan kebanyakan ngeblog — amat bergantung pada mobil. Belum tentu urusan penggantian status (macet/lancar) akan beres dalam lima menit.
Tapi, yah…, inilah Indonesia. Sudah dikasih info itu mestinya berterima kasih, kok masih menuntut lebih. Soal ketepatan, wah itu terserah kebatinan setiap orang. Bukankah kita hidup di republik kebatinan?





kw | 02 04 2008 @ 18:36:57
man, aku yang naik angkot sudah agak pinter memprediksi macetnya jalan tb simatupang-ragunan-warung buncit. senin berangkat siang sekalian, paling pagi jam 9 30 dari sarang yang ada di sekitaran organon.
selasa, berangkat lebih pagi, agak siangan macet.
rabu, kamis unpredictable. jumat, siang macet atau ga yang penting sampai pabrik duduk, chat, blogwalking trus jumatan yang jauh trus makan siang di lanjut cari2 yang gak perlu banget sampai pabrik jam 3 an, teken uang makan trus pulang… :)
jonijontor | 02 04 2008 @ 17:18:58
paman juga harus inget masalah pergeseran bahasa, apalagi di jakarta yang isisnya dari berbagai penjuru negri dengan berbagai suku bahasa. tersendat apakah benar maksutnya ‘tersendat’
dan lancar yang kita mangsud belum tentu ]lancar yang mereka mangsud :)
mikow | 02 04 2008 @ 10:21:13
itu maksudnya lancar untuk pengendara motor om :)
oon | 02 04 2008 @ 9:03:47
xixixi…pake sapu terbang aja pak de :p
Adhi Yudho | 02 04 2008 @ 8:00:51
hahaha.. bener Om Tyo, kita hidup di dunia kebatinan :D
Yang bisa dilakukan cuma “mbatin” :D
Salam kenal om :)
gagahput3ra | 01 04 2008 @ 23:22:31
Yang jelas klo dipasangin papan LED musti mikirin dulu dana yang diminta untuk tender supaya terkesan ‘fantastis’ seberapa besar ya bagusnya?
Dan biasanya besoknya headline di koran jadi “Jasa Marga Habiskan 4 Triliun Untuk Pasang Papan Petunjuk”.
Yah elah. Gitu aja kok repot. XD
day | 01 04 2008 @ 21:50:55
bapak, kalo diubah jadi led gitu. nanti petugas yg dihukum gara-gara sering ngeblog.gak bisa dihukum jalan kaki lagi, kan?
bubba | 01 04 2008 @ 20:18:10
masalahnya pakdhe, ‘lancar’nya petugas tol belum tentu sama dengan ‘lancar’nya kita :(
yati | 01 04 2008 @ 18:56:15
ya ampun :)) masa sih manual? hahahaha…. saya pikir yang manual2 kek gitu cuma papan nama di depan pembicara pas acara seminar ato apa :d
ebo | 01 04 2008 @ 15:08:17
kok jd curiga..waktu nyalip masih sempat ngeliat petugas tol!!jgn2 petugas tol nya si elma theana!!!
Qky | 01 04 2008 @ 14:42:04
butuh joki terawangan, paman?
ebeSS | 01 04 2008 @ 14:33:01
iyaa . .. ini rekiblik kebatinan dan kesurupan . . . yang korbannya kok ya selalu perempuan . . !
isdiyanto | 01 04 2008 @ 12:44:20
percuma dong ada info seperti itu kalo tidak akurat,,, jadi ga ada gunanya,,,
sayang kan…
mpokb | 01 04 2008 @ 11:32:50
rada repot, pam. jalanan macet karena mobilnya nambah terus. mungkin bisa lancar kalo dini hari, hehe.
btw, ayo bahas payung cap kapal! :D
dhany | 01 04 2008 @ 11:32:05
pengelola tol bilang :
Khan sudah ada radio….
ario dipoyono | 01 04 2008 @ 10:32:05
saya anjurkan anda untuk melaporkan kejadian ini ke Dinas Transmigrasi… walah salah maksud saya ke dinas terkait, jangan di biarkan informasi yang menyesatkan itu terus di pampang.
sluman slumun slamet | 01 04 2008 @ 10:31:29
masih manual?
untung gak dipasang PERSIJA vs PERSIB
Aa Nata | 01 04 2008 @ 8:43:23
Hehehe ini deh yang bikin saya balik ke Bandung Paman. Hidup di Jakarta tua dijalan :D
Cecep | 01 04 2008 @ 7:36:05
kalau kebiasaan saya sih, tanya sama petugas di gerbang tolnya.
mba, daerah itu macet gak. bukan jawaban yang tepat sih yang diharapkan. ya cuma pengen nyapa si mba yang manis rupawan saja :))
tentang foto disamping, harusnya ada informasi tambahan “terakhir di update jam …” tapi tentunya pihak pengelola juga tidak mau terlihat kalau papannya itu jarang diupdate. maka dibiarkanlah seperti itu :D
sufehmi | 01 04 2008 @ 6:13:49
Jalan tol di Indonesia memang konyol.
Di luar negeri, jalan tol sudah gratis, kualitasnya malah prima.
Misal, kalau ada kemacetan (yang jarang terjadi) kita sudah diberitahu melalui papan LED sejak sekitar 20 km sebelumnya. Masih cukup banyak waktu untuk pindah rute.
Jalanannya juga tidak bergelombang. Di tol Indonesia, mobil saya pernah terloncat sampai nyaris pindah jalur, he he
Banjir di jalan tol? Haram berat.
Di Indonesia? Saya pernah kena siram muncratan air jalan tol sampai kaca mobil tertutup total oleh air kotor itu selama beberapa detik - selama beberapa detik saya menyetir tanpa ada visual sama sekali
Mau ngerem mendadak juga ngeri ditabrak oleh mobil dari belakang
Kalau pepatah berbunyi “gratis kok mau bagus”, kalau di jalan tol Indonesia menjadi “bayar kok minta bagus”. Luar biasa :)
GuM | 01 04 2008 @ 3:42:41
wooo.. sekarang petugas jalan tol udah pada ngeblog to, pak? :))
yuki | 01 04 2008 @ 0:42:34
Ya kadang terjadi seperti berikut ini, anda melihat tulisannya lancar, tetapi kenyataannya padat di bagian menjelang akhir, mungkinkah karena melihat tulisan lancar para pengendara berbondong2 mengambil jalur tersebut?
Pengadaan sistem elektronik untuk info lalu lintas jelas saat membantu, harus yang sangat detail dan jumlahnya pun memadai. Di Jepang, info lalu lintas elektronik sangat membantu pengendara, jalurnya pun digambarkan di papan info itu, apabila berwarna hitam berarti kosong, kuning agak ramai, oranye ramai, merah padat, dan tanda x berarti tabrakan.
Akhmad Guntar | 01 04 2008 @ 0:08:53
Klo mau dipasang yg elektronik, khawatirnya ntar petugasnya tergoda utk membuat tulisan2 yg tidak lagi terbatas oleh template semacam “tersendat” atau “lancar”. Bisa2 ntar petugas kasih pesan sponsor usahanya atau sekedar titip salam lewat panel sistem informasi elektronik itu :mrgreen:
samsul | 31 03 2008 @ 22:11:18
jadi membayangkan yang lewat jalan itu flintstone sama barney :-)
Mas Kopdang | 31 03 2008 @ 21:30:28
kekekekek…
Paman,
itu papan bukan ditempel apalagi diganti secara manual..
namun sudah diprediksi oleh penasehat spirituil sehari sebelumnya dan berlaku seharian penuh..
Tingkay akurasi: 68%
kekekekek…
Ahmad | 31 03 2008 @ 21:29:35
Ralat: baris kedua, biasaya seharusnya biasanya. Demikianlah, kesalahan telah diperbaiki. Semoga menjadi maklum.
Ahmad | 31 03 2008 @ 21:28:18
Republik kebatinan? Duh, kosa kata baru lagi yang menohok. Sebab, biasaya ia merujuk kepada dukun atawa paranormal.
Kenapa nggak dengar radio aja yang menyiarkan info lalu lintas Paman?