Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





Zamannya Sekolah Beriklan

Senin, 31 Maret 2008 @ 17:11 | Komedi Indonesia

BISNIS YANG BAIK BUTUH PEMASARAN.

iklan lp3i

Gaya Pak Ketua itu berbeda dari umumnya iklan lembaga pendidikan. Bukan cuma pakai jas, lalu difoto agak menyamping, tetapi mengarahkan telunjuk ke pembaca. Seperti gaya presenter dan musisi kita yang ditulari oleh MTV.

Tak apa. Ini memang zamannya pemasaran. Apa yang dulu, dalam “paradigma lama”, dicitrakan sebagai “badan sosial”, misalnya sekolah dan rumah sakit, sekarang pun giat memasarkan diri.

Maka lihatlah, Sekolah Binus pun memasang bilbor, melintang di sisi jembatan penyeberangan di atas jalan tol Slipi, Jakarta Barat.

Adapun perguruan (tinggi) negeri, sejauh ini masih agak kikuk dalam memasarkan diri. Pengecualian berlaku untuk program magister manajemen di PTN. Sudah lama mereka memasarkan diri selayaknya sekolah bisnis.

Sedangkan lembaga pendidikan swasta, baik penyedia program diploma maupun sarjana, lebih berani mengiklankan diri. Pernah saya dengar iklan di radio (bukan adlips), “Mahasiswanya keren-keren loh!” — yang penting gaul, bukan ilmu. Ada pula, “Kampusnya pake AC lho!” — kalau ditambahi “pakai musik” jadilah bus malam: “full AC, full music“.

Pernah juga saya lihat di koran beberapa tahun lalu, sebuah sekolah komunikasi yang terkenal dengan spesialisasinya dalam PR memampangkan beberapa mahasiswa dan alumninya yang jadi selebritas. Kalau tak salah, Roger Danuarta salah satunya. :D

Mau tahu iklan paling garing dari sekolah milik negara? Pendaftaran Akmil, AAU, AAL, dan Akpol! Mestinya ada biro iklan yang mau menolong. Lho? Yah, minimal untuk ikut Citra Pariwara, gitu kan Pakde Totot?

Di media (cetak) luar negeri, sering kita jumpai iklan dari akademi militer dengan sajian yang keren. Misalnya US Navy yang menampilkan angota SEAL berwajah coreng-moreng kamuflase, mirip hasil still photography sebuah film.

Di koran Singapura, pernah saya jumpai iklan sehalaman penuh untuk calon taruna akpol dengan menjadikan iming-iming gaji sebagai headline. Gajinya yang setara pegawai anyaran bank sana.

Saya tak tahu apakah IPDN, atau apalah namanya sekarang, perlu sepaket rencana komunikasi, yang muaranya tak hanya iklan di media tetapi juga lainnya. Artinya pengumuman pendaftaran hanya salah satu di antara itu.

Lembaga pendidikan apa pun memang kudu dikelola secara bisnis. Maksud saya dikelola dengan baik dan benar, dan pemasaran hanya salah satu dari itu.

Begitu seriusnya pengelolaan bisnis lembaga pendidikan sehingga pekan lalu, ketika Jane Mendillo menjadi CEO Harvard Management, soal ini pun layak diperhatikan.

Itu soal duit gede dari kanan-kiri. Kalau ndak genah menanganinya bisa jadi urusan kejaksaan dan pengadilan. Katanya buat beasiswa kok disalurkan ke HPH dan maskapai penerbangan. Lantas kalau ada masalah, penyelesaian menunggu pendirinya mati. :D

Ada 20 komentar | trackback | Depan

#20

anno' | 01 04 2008 @ 21:52:09

bener juga y paman…jadi seolah2 lebih penting duitny dibanding ilmu yg didapatny….


#19

vendy | 01 04 2008 @ 20:12:20

pendidikan sudah jadi lahan bisnis sejak lama. cuman, kalau main rebut pasaran bus AC dengan slogan full music, aneh kali…hehehe…


#18

dhany | 01 04 2008 @ 11:30:23

untung cuma 1 jari…
kalau 2 jari dikira nyaingi TUKUL..


#17

sluman slumun slamet | 01 04 2008 @ 10:35:36

lha kalau sekolah tahun 2030 kayak gini paman!


#16

Aa Nata | 01 04 2008 @ 8:53:04

Hehehe di Amrik lagi ribut soal setoran duit bisa ngeganti nama sekolah dengan nama philanthropist nya Paman. Ga berminat jadi ubah Harvard misalnya jadi Gombal Graduate School Of Business paman? :D hehehe…

PTN juga udah mulai ngiklan, tempohari rektor UI juga ngiklan ga kalah gaul sama rapper kita hehehe…

Blogombal yang saya liat blon bikin baliho nasional ato pengiklanan di TV. Kapan apa perlu kita IPO kan paman? :)


#15

Mbelgedez | 01 04 2008 @ 7:22:22

Apa boss Tyo jugak berminat menjadikeun Blog nya sebagai papan iklan ???

***sambil jari menunjuk ke Blog diri sendiri….***


#14

Tukang Ngerumpi | 31 03 2008 @ 22:09:14

Kasih saran Man. Kalau paman pengen punya sekolah, bikin yang bagus dan SPPnya mahal sekalian. Jangan bikin sekolah yang membawa misi sosial segala. Nanti yang daftar kere-kere Man. Dan menurut pengalaman, selalu siswanya selalu nunggak uang SPP. Kalau toh Paman ingin meningkatkan sekolah-nya lebih tinggi, susahnya minta ampun, karena sudah dicap sebagai sekolah sosial, bukan komersial.


#13

samsul | 31 03 2008 @ 22:05:22

jangankan sekolah yg lembaga pendidikan, garuda indonesa airweis yg transport komersil aja dulu nggak mau ngiklan kan, paman?


#12

yati | 31 03 2008 @ 21:12:02

weks…gaya bener nih bapak2… hahaha. banyak ga ya yg daftar karena gaya ini?


#11

bubba | 31 03 2008 @ 21:09:30

setelah rumah sakit dan sekolah beriklan, suatu saat nanti dokter notaris dan pengacara pun akan beriklan juga… horeee!
Hidup dunia periklanan Indonesia!!!


#10

Saya Tawarkan Anda Kebahagiaan, Mau? | 31 03 2008 @ 20:46:42

Iklan terbaik institusi pendidikan adalah kualitas lulusannya, tingkat penyerapannya di dunia kerja, kemandiriannya dalam wirausaha, terakhir tapi tak kalah penting: kemampuannya membuat blog sesuai dengan pendidikan dan profesinya, agar ilmu-nya tidak berhenti pada diri sendiri.
~~~~
he..he..comment-nya kayak orang tua banget.


#9

Only Easy Things | 31 03 2008 @ 20:02:01

Pasang iklan di Blogombal.org juga perlu dipertimbangkan kaya’nya.

20% anggaran ditujukan buat advertising :)


#8

oon | 31 03 2008 @ 19:18:35

skola pake iklan, pasti bikin mahal duit semesteran….


#7

ebo | 31 03 2008 @ 19:13:06

iklan lembaga pendidikan? jgn2 isi kuliahnya cuma suruh nyari iklan lowongan kerja dikoran2!!


#6

adithz | 31 03 2008 @ 18:43:41

ugm pakek iklan di koran….

katro dah


#5

yuki | 31 03 2008 @ 18:23:46

betul itu, emang gak ada salahnya kok mempromosikan institusi pendidikan lewat iklan, toh itu cara yang terkadang terbukti lebih efektif daripada dari mulut ke mulut saja. apalagi kalo yang pake billboard segala, pas lagi macet mau gak mau kebaca tuh.


#4

HARUHI-ism | 31 03 2008 @ 17:47:34

Ha, sekolah negeri belum lepas dari sisi fundamental pendidikan formal :P


#3

masboi | 31 03 2008 @ 17:34:19

wah, sosok sang pak ketua yang gaul. mengingatkan saya dengan gaya rapper iwa-k. btw, agar bisa survive di tengah alam yang kompetitif, sekolah memang harus dikelola ala bisnis: disitu ada unsur ‘promotion’ alias beriklan. namun dari iklannya kita juga bisa melihat kualitasnya: iklan yang rame, rumit, dan dijejali informasi dengan font yang kecil-kecil, bisa menggambarkan kualitas sekolahnya seperti apa.


#2

mpokb | 31 03 2008 @ 17:33:40

chairman = pria kursi?
mungkin karena sekolah milik negara merasa nggak perlu mengiklankan diri, pam. kalo pas pendaftaran taruna di kodam itu sampai bermeter2 antreannya ke jalan mayjen sutoyo..


#1

sawung | 31 03 2008 @ 17:29:34

akmil ada iklannya lho om.
ga ada angka gajinya seh.