MUNGKIN CARA PIPISNYA BERBEDA. SIAPA SAJA SIH EKSEKUTIF?
Saking kebelet pipis, saya setengah berlari ke kamar kecil. Tapi sayang pintu peturasan terkunci.
Oh, rupanya itu bukan untuk saya karena saya bukan eksekutif. Padahal kemarin itu saya sedang menjadi tamunya beberapa eksekutif di sebuah headquarter daripada yang mana a state-owned company.
Di akhir pertemuan, setelah pamitan, saya mampir lagi ke toilet. Ya, toilet tanpa keterangan “executive“. Sepanjang lorong saya berserobok dengan satu-dua anggota staf Pak Eksekutif (Pak Kutip). Mereka barusan dari peturasan kelas biasa. Di dalam kamar kecil, saya bersua tangan kanan Pak Kutip.
Soal atribut “eksekutif” ini pun membingungkan. Siapa yang berhak menyandang sebutan hebat itu? Di kantor bisnis komunikasi pemasaran malah banyak eksekutif. Dan media, termasuk radio, senang menggolongkan pendengarnya sebagai “eksekutif muda”.
Anehnya radio untuk orang (tua) mapan tak pernah menyapa pendengarnya sebagai “eksekutif tua”, padahal banyak di antara mereka yang setingkat direktur bahkan CEO (chief executive office [boy]).
Ada yang lebih aneh. Para tuan legislator, yakni para wakil partai yang merasa sebagai wakil rakyat di parlemen, itu oleh kalangan bisnis sering ditempatkan sebagai eksekutif. Trias politika atawa teori separaton of power pun luntur.
Kembali ke markas BUMN kemarin itu. Sayang sekali saya tak mencari tahu apakah Pak Kutip menggunakan toilet khusus itu. Jika ya, berarti ada tiga kemungkinan cara mengaksesnya.
Pertama: membawa kunci sendiri (artinya tidak beda dengan Mas Opisboi).
Kedua: memanggil dan menunggu Mas Kliningserpis untuk membukakan pintu, sambil berharap tidak ngompol.
Ketiga: berseru, “Buka pintu, Sesam!”
Ehm, soal pembedaan toilet itu sebetulnya soal lama. Dari dulu banyak sekolah yang membedakan WC untuk murid dan guru. Mungkin harus dipisahkan agar pemeo tak terbukti. Itu lho, “Guru (wanita) kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Bagaimana dengan perkantoran modern di Indonesia? Beberapa petinggi departemen memang punya peturasan sendiri yang dekat dengan ruang kerjanya.
Untuk kantor swasta, hanya juragan besar dari kumpeni yang bergedung sendiri yang punya toilet sendiri. Sedangkan untuk kumpeni modern yang menyewa gedung, tak jarang tempat berbuang bos sama dengan karyawan. Kalau output sama, ngapain juga dibeda-bedakan? Justru kesamaan akses itu yang akan menentukan tingkat kebersihan fasilitas.
Sewa properti kian mahal. Per meter persegi adalah uang. Maka bisa dimaklumi bila di negeri maju ada peturasan kantor yang tak membedakan kelamin.
Memang untuk soal ini (pencampuran kelamin) belum semua orang bisa menerima. Membetulkan lipstik di kaca wastafel di samping pria yang sedang menggunakan shaver belum tentu merupakan hal yang menyenangkan. Tawaran sok ramah bisa menjadi pasal pelecehan, “Mbak mau pinjem cukuran saya? Bisa trimming lho…”
Pembedaan toilet berdasarkan strata kedinasan mungkin juga ada alasannya. Setidaknya mempertipis gunjingan, “Pak Bos kalo pipis lama banget. Jorok, lagi. Netes di mana-mana karena dikopat-kapitkan mulu, sambil kentut pula. Kebiasaan dari kecil ‘kali yak?”







alhakim | 06 10 2008 @ 9.51.41
wkwkwkkwkw… baca pargraph paling akhir. Panjenengan emang pinter banyol :D
blogombal | Blog Archive » Pipis Sambil Bersiul, Tangan di Belakang | 25 09 2008 @ 0.30.57
[...] Ekstra: Toilet khusus bos [...]
cm4nk | 28 05 2008 @ 16.38.38
Wakakak….ngakak bener2… *jadi kyk orang gila gw ditengah orang2 serius ngadepin kompie di kantor* ..
Ada-ada ja..
andra | 08 05 2008 @ 7.21.08
entah itu eksekutif atau kelas ekonomi atau kelas bisnis, yang penting GRATIS..
dari pada buang air di toilet berbayar, mending sedikit nahan, dibuang di hotel, yg pasti gratis dan bersih..
network_pirates | 06 04 2008 @ 19.55.00
iki termasoek blog paling memboeat tjape’ orang yang batja. Semoga blog glebeg ini semangkin panjang oemoer dan banjak redjeki
dumbledore | 06 04 2008 @ 8.50.01
Dik antyo ini memang pintar bikin orang ngguyu, bahkan ngakak. Bagus, dik. Dalam terminologi agama, meski dik antyo mengaku sekuler, itu pahala: membuat orang bahagia, minimal gembira.
Tetapi, saya penasaran dg penggunaan diksi dikopat-kapitkan itu. Saya buka KBBI, ternyata tidak ada lema KOPAT di situ. Sedang KAPIT –PENGAPIT– artinya, pendamping, semacam ajudan.
Karena masih penasaran, saya tanya Margono, opisboy di kantor, jangan-jangan itu bahasa jawa. Margono bilang itu juga bukan bahasa Jawa.
Katanya, istilah jawa untuk orang habis kecing itu biasanya diobat-abitkan (dia memberi contoh dengan mengayun-ayunkan tangan, begitu).
Tetapi, atau dikopat-kapitkan atau diobat-abitkan, saya kira sebaiknya diserap aja karena belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Betul, dik antyo?
——–
kopat-kapit dari bahasa jawa, biasanya dipakai untuk menjelaskan tindakan menggerakkan anggota badan yang kecil, misalnya ekor (untuk anjing). :)
[tyo]
sluman slumun slamet | 06 04 2008 @ 1.47.52
paragrap penutupnya itu lho paman…….
pengalaman ya?
:D
kwak kwik kwek | 05 04 2008 @ 11.46.29
paman, percayalah bahwa negeri kita ini jauh lebih maju pemikirannya. dengan adanya diskriminasi perpipisan ini akan mencegah kasus kayak yg dialami senator Larry Craig itu loh. Yang resign setelah konangan “gak sengaja” meraba tangan pak pulisi di kompartemen pipis sebelahnya..hehehe
kw | 05 04 2008 @ 11.32.54
ada juga paman lift khusus untuk para kurir dan opisboi dan pengirim barang di gedung tertinggi dekat perempatan mampang yang warnanya kebiruan.
toilet VIP yang terkunci aku temukan di gedung cyber :)
masboi | 05 04 2008 @ 3.20.18
“Pak Bos kalo pipis lama banget. Jorok, lagi. Netes di mana-mana karena dikopat-kapitkan mulu, sambil kentut pula. Kebiasaan dari kecil ‘kali yak?”
‘Kopat-kapit’ artinya apa paman?
*ngekek terus, sampai kebeles pipit*
*mana wc-nya antri pula*
anno' | 04 04 2008 @ 23.24.35
berserobok…..wekeke
ingat kampung gw..
emang udh masuk kamus besar tach,,,,
stey | 04 04 2008 @ 21.58.23
buat direktur ya paman?kok ga dibuatin di kantornya masing2 aja yah?ehhmm..mungkin pengiritan..
bubba | 04 04 2008 @ 21.56.32
mustinya ada peturasan satu lagi ya? kelas bisnis! eh, lho? bisnis kok dikakus, ngawur…
samsul | 04 04 2008 @ 21.01.21
ealah..di kota tu ternyata pipis susah ya. mo pipis di executive harus punya kartu member dulu, paman.
Hedi | 04 04 2008 @ 20.51.34
setahu saya, kamar khusus itu malah jarang dipake eksekutif. lha wong udah kebelet kok masih disuruh muter kunci dulu…nggak praktis :D
Ahmad | 04 04 2008 @ 20.50.51
Aseli, saya tertawa Paman. Semoga ini menjadi amal baik yang akan dicatat oleh para malaikat, sebab Paman telah membuat saya sehat walafiat.
windede | 04 04 2008 @ 18.10.09
suatu hari anggota dewan yang terhormat bepergian dengan pesawat, duduk di kursi kelas ekonomi. karena pramugari mengenalnya, ditawarkanlah kursi eksekutif yang kebetulan kosong. “kursi eksekutif ini gratis, khusus untuk bapak,” kata pramugari.
eh, si anggota dewan marah-marah. “jangan sembarangan kau ya. saya ini legislatif… bukan eksekutif!”
antown | 04 04 2008 @ 18.02.03
Netes di mana-mana karena dikopat-kapitkan mulu (emang sempat diamati ya??) haha…
lucu
mas kopdang | 04 04 2008 @ 17.44.54
gileee…
kebelet aja masih sempet moto..
de_nis | 04 04 2008 @ 17.25.04
kacian jg ya tu eksekutip! harus pegang kunci ndiri! klo kuncinya ketinggalan di rumah atw ketuker ma kunci mobil, gimana donks? ;)
Harianus Zebua | 04 04 2008 @ 16.59.54
saking banyaknya jabatan yang diembeli kata executive, malah jadinya tak executive lagi :-)
Nazieb | 04 04 2008 @ 16.58.47
Walah, itu jenis kelamin baru yah?
yoyo kesambet | 04 04 2008 @ 16.08.33
(Plong…akhirnya fasnetku bisa online lagi…)
[...Netes di mana-mana karena dikopat-kapitkan mulu, sambil kentut pula...]
Cuma bagian ini yang menarik…hahaha
lha kalo yang mbaca perempuan kan bisa cekikik’an sambil mbayangke…
galih | 04 04 2008 @ 15.38.13
hahahaha… saya jadi ketawa terkikik kikik karena baca artikel ini.
adith | 04 04 2008 @ 14.28.25
g sekalian di jepit-jepit gt ta..
ebo | 04 04 2008 @ 14.08.37
mo eksekutip,mo ob..yg namanya pipis ttp pesing pa lg kl e`ek..btw si om tambah laris aja kayk minyak tanah.Jd rebutan kesana kemari.minta resepnya dong!!!
Fiz | 04 04 2008 @ 13.28.50
Ada gak ya yang kelas ekonomi? Semoga bebas dari pengamen & pedagang asongan… :)
gagahput3ra | 04 04 2008 @ 12.29.42
Sungguh perenungan yang bagus, paman. ^__^
Saya speechless jadinya. :P
jalansutera | 04 04 2008 @ 12.12.41
Seorang mahasiswa di Yogya tengah antri tiket kereta api di stasiun tugu. Setelah cukup lama berdiri, akhirnya sampailah dia di depan loket. Mbak yang ada di seberang ruangan bertanya,”Mau kemana, mas?”
“Mau ke Jakarta, liburan. Saya mau pesan tiket kereta Taksaka untuk besok.”
“Bisa liat KTP-nya?” kata mbak itu
“Kenapa harus menyerahkan KTP? Saya bukan calo, kok..”
“Maaf mas, kereta Taksaka itu kereta eksekutif. Mahasiswa dilarang masuk!” kaya Mba itu. Rupanya dia baru membaca blogombal pagi ini yang menulis tentang kamar kecil khusus untuk eksekutif.
“Modar!!!”
dhodho | 04 04 2008 @ 12.09.22
Paman pintar menjebak, eh, mengarahkan fokus kita kepada soal toilet eksekutif. Padahal, ada yang lebih penting dari sekadar toilet berkasta tinggi tersebut, yaitu maksud dan tujuan paman ke markas BUMN kemarin itu. Misalnya, apakah paman dapat order membuatkan blog Pak Kutip di markas BUMN itu, atau mengajari bikin blog beberapa eksekutif di sebuah headquarter daripada yang mana a state-owned company tersebut….?
rendy | 04 04 2008 @ 12.08.10
di cyber juga ada, tulisannya VIP
aprikot | 04 04 2008 @ 12.05.57
di tempat saya, ada toilet untuk expatriate. nah klo ini pembedaan menurut suku bangsa ya paman? :D
mpokb | 04 04 2008 @ 11.18.25
sekarang di mal2 juga ada musholla eksekutip. tapi bukan berarti yg salat di sana bisa masup sorga eksekutip.. emang ada?
Mihael Ellinsworth | 04 04 2008 @ 11.12.17
Hahaha….WC dengan pembeda strata sosial seperti itu juga ada di sekolah saya. Hanya saja banyak pelanggaran yang terjadi berkaitan dengan kelas sosial itu sendiri. Artinya, banyak siswa yang pakai WC Guru. :D
Dee | 04 04 2008 @ 11.04.48
DI kota tempat saya tinggal, WC umum 20 sen, WC eksekutif 50 sen
ndhalkonthos | 04 04 2008 @ 10.39.16
mungkin kalau di WC eksekutif, tai yang keluar bisa langsung dimakan lagi, pipis yang keluar aromanya serasa bau parfum dan longlasting …
jonijontor | 04 04 2008 @ 10.38.41
“Pak Bos kalo pipis lama banget. Jorok, lagi. Netes di mana-mana karena dikopat-kapitkan mulu, sambil kentut pula. Kebiasaan dari kecil ‘kali yak?”
kebiasaan karyawan ngomongin bos :P
“Pak bos kalo pipis knapa pisah yah, ada yang disembunyiin kalii. Kali aja #@$!@nya #@$!#$, eh apa jangan-jangan @#@$!^, gila ga sih?”
rd Limosin | 04 04 2008 @ 10.25.30
he he… beda fasilitas kali, ada wifi-nya
b0ker | 04 04 2008 @ 9.46.03
sebagai “toilet society” ini sudah melanggar hak azasi pertoiletan….
nymcast | 04 04 2008 @ 9.40.31
sumpah, ngakak … kalo pak kutipnya seperguruan ama YZ, bisa dikopat-kapit gak ya ?
bootdir | 04 04 2008 @ 9.33.27
Busyet, recaptcha Paman bertulis “Funeral daily”….
bootdir | 04 04 2008 @ 9.30.19
Kemungkinan keempat Pak Bos punya pee’s pot di bawah meja, supaya tidak perlu beranjak dari kesibukan yang teramat sangat.
Toilet eksekutif hanya berupa wastafel tempat opisboi membuang isi pee’s pot tiap sore. Makanya dikunci rapat.
oon | 04 04 2008 @ 9.29.29
wc eksekutif full ac dan full music mungkin pak de?
ada karaoke juga
Mbilung | 04 04 2008 @ 9.22.16
bagus mungkin jika keseharian peturasan begini di sinetronkan. termasuk yang dikopat-kapit itu.