SIAPA YANG SOMBONG? KITA MEMANG PENGINTIP!

Sahabat saya kesal. Sejak rumah yang dibangunnya itu menampakkan sosok, padahal belum jadi, ada saja orang yang mampir, masuk ke halaman bahkan ke dalam rumah.
Ngapain? Liat-liat. Atas nama apresiasi, mencari ide, dan komparasi. Bahkan ada yang dari luar kota segala. Sebagian berombongan. Beberapa yang datang adalah… arsitek!
Saran saya untuk melengkapi pagar proyek yang bukan di kompleks perumahan itu adalah memasang papan pengumuman. Siapa pun dilarang masuk tanpa izin. Hanya tamu dengan perjanjian yang diperbolehkan masuk.
Mungkin akan tampak sombong. Tapi siapa yang sebetulnya sombong? Pemilik properti atau para pengabai privasi orang lain?
Saran saya yang lain adalah segera kontak perusahaan jasa keamanan untuk menyewa anggota satpam. Memang sih, menaruh satpamwan berarti mengurangi keleluasaan dan privasi — apalagi pemilik bangunan adalah seorang nona. Apa boleh buat.
Saran yang belum saya sampaikan adalah meniupkan kabar bahwa dirinya bukan sombong atau asosial tapi penyakitan, dan alergi terhadap orang asing. Tapi cara macam ini tampaknya akan merugikan citra diri.
Juga belum saya sarankan untuk mengontak pengacara, karena memasuki halaman orang tanpa izin itu melanggar hukum. Yang pernah menggunakan pasal ini adalah seorang wanita terkenal dari keluarga terkemuka yang menyimpan kekasihnya, seorang perwira polisi, di rumahnya. Korbannya? Dua wartawan yang melompati pagar. Mereka sempat dicocok lalu ditahan.
Yah, inilah hidup. Ada saja orang yang tak sopan. Pernah ada seorang pria yang sedang memperbaiki rumah kontrakannya kesal karena tiba-tiba tetangga barunya masuk, tanpa memperkenalkan diri, bertanya soal ini dan itu kepada tukang.
Ada si empunya rumah saja mereka nekat tanpa permisi, apalagi kalau tanpa si empunya.
Beberapa tahun kemudian pria itu merubuhkan rumah kontrakan yang dibelinya. Lalu membuat rumah baru. Tak hanya tetangga, pelintas pun banyak yang mau tahu bagaimana rumah dibangun, dan bagaimana bagian dalamnya, lalu masuk tanpa permisi.
Salah satu penyatron, yang berpenampilan sopan, malah menyikat dompet-dompet dan ponsel-ponsel milik tukang. Ini sontoloyo asli!
Ada juga orang yang aneh. Dia berpendidikan, bergaji besar, tapi setelah melihat rumah itu dia dan istrinya mau pinjam gambar cetak biru dari pria pemilik bangunan (dan mungkin sekalian dokumen Excel untuk kalkulasi proyek). Bahkan kontraktor dan tukang yang sama pun akan mereka gunakan.
Sebuah jalan pintas, maunya. Tak perlu bayar arsitek dan konstruktor. Cukup penyesuaian rencana tapak di komputer. Bahkan si-calon-pemintas itu tak punya kebiasaan mengurus IMB setiap kali merombak rumah.
Misalkan jalan pintas memang diizinkan oleh pemilik bangunan dan arsiteknya, tidakkah dia paham bahwa sebuah rumah belum tentu cocok untuk dirinya?
Orang yang doyan ditamui akan merasa sesak oleh ruang tamu mungil untuk dua orang. Pemilik tiga MPV akan mumet oleh carport untuk satu city car.
Rumah bukan kodian dibikin sesuai cita rasa, kebiasaan, dan kebutuhan — bahkan filosofi — penghuninya. Gaya “minimalis” hanya cocok untuk orang yang tidak suka asal borong barang. Gaya eklektik-norak-murah-meriah cocok untuk saya yang suka nyusuh dan kemproh.
Lantas, apa masalahnya?
Sebagian besar dari kita adalah pengintip. Tidak saban tahun merenovasi atau beli rumah dan apartemen, tapi kita senang melihat arsitektur (termasuk interior) keren yang belum tentu layak jiplak! Itulah yang membuat media cetak hidup, baik melalui rubrik maupun majalah khusus.
Lho, kok jadi melenceng kesimpulannya? Iya. Memang. Biarin.
Baiklah kita kembali ke fokus. Dalam batas apakah sebuah ruang hunian pribadi memiliki ranah untuk publik?
Jika lanskap adalah milik bersama, dalam batas apakah sebuah bangunan privat boleh menjadi pengalaman bagi orang lain?
Saya bukan arsitek, tak paham soal wastuwidya maupun seni bina. Sebagai awam saya hanya mengandalkan akal yang semoga sehat. Apa? Terlepas dari citra bahwa sebuah bangunan itu menyebal dari lingkungan atau selaras, cicip pengalaman maksimal bagi orang luar adalah secara visual dari luar pagar.
Apakah dalam pengalaman visual itu termasuk perekaman melalui kamera? Aha, itu diskusi yang lain lagi.
Sebagai catatan baiklah saya ingatkan ketidaknyamanan yang pernah dilontarkan oleh beberapa penghuni Kota Wisata. Kompleksnya jadi ramai, didatangi orang yang menonton perumahan dan bahkan berfotoria.
Memang, untuk soal ini orang bisa menyalahkan konsep bisnis pengembang, dan menyalahkan pembelinya karena tak waspada sejak awal ketika memilih bermukim di sebuah taman mini mondial.
Rumit, ya? Ndakik-ndakik?
Mumpung belum ngelantur baiklah saya kunci: relakah Anda bila kamar tidur Anda dilihat oleh banyak orang tanpa permisi bahkan dipublikasikan?
© Gambar asli gubuk dan bibir: entah





kwak kwik kwek | 12 04 2008 @ 10:15:23
Haha, aku tau rumah siapa, bilangin sama dia Pamane, kalo sampe ada arsitek lompat tembok en nengokin rumahnya, itu salah yang punya rumah tuh. Hla, sapa suruh bikin rumah kok manis sekali gitu.., biar dibilang sama manis kayak pemiliknya yaaa… :))
bubba | 09 04 2008 @ 16:27:55
mangkanya, bikin rumah itu sederhana saja. kalau perlu yang kodian. masih banyak saudara saudara kita yang tinggal di kolong jembatan…
Jelas dan Tegas « Cocot Ria | 08 04 2008 @ 2:46:55
[…] Mungkin cara ini perlu dicoba ya paman? « Fasilitas Gratisan, Perawatan Dihiraukan! […]
Fiz | 08 04 2008 @ 0:53:57
Ternyata alurnya dari media mainstream ke blog terus ke mainstream lagi Paman (ups salah bicara ya??? :D)
Epat | 07 04 2008 @ 18:29:36
ini gak terkait dengan akan open housenya “istana presiden” kan? hehehe
Blog Kenthir | 07 04 2008 @ 18:19:12
Rumit je Paman…hehehe.
[…relakah Anda bila kamar tidur Anda dilihat oleh banyak orang tanpa permisi bahkan dipublikasikan?…]
Jawab : Ndak rela to Paman…kalo orang2 itu ngliatnya pas tengah malem, apalagi pas malam Jum’at (Malam Sunah Rasul)…wuedan po…hahahaha
melly | 07 04 2008 @ 16:10:27
suka banget posting ini
stey | 07 04 2008 @ 16:01:02
jelas ga rela dong, Paman..tapi kalo disini mah jarang yang liat2 gitu, mungkin budaya pekewuhnya lebih banyak yah?
Aris | 07 04 2008 @ 15:52:53
Wah kalau ditempat saya enaknya mereka telpon dulu minta ijin beberapa hari sebelumnya. Terserah kita, mau kasih ijin atau tidak. Tapi itu tentunya beda dengan budaya di betawi, yg kadang seenak udelnya.
tata | 07 04 2008 @ 15:37:27
Belum ada undang2 yang melarang mencontek rumah orang laen yah paman tyo ??
ario dipoyono | 07 04 2008 @ 15:29:44
walah panjang banget postingnya
nna | 07 04 2008 @ 15:07:56
pasti rumah yang lagi dibangun keren.. :D
Dee | 07 04 2008 @ 13:56:12
Aku belum punya rumah je Paman, kapan-kapan ikut-ikutan nginjen aahh.
Hedi | 07 04 2008 @ 13:44:04
Saya yakin ga ada yang rela dipaksa open house, kecuali pemilik lapak gemar pameran ala narsistik kebangetan…
jalansutera | 07 04 2008 @ 13:33:26
Ada orang yang sedang merenovasi rumah. Tetangganya yang kebetulan lewat mampir. Tanpa diundang, tanpa disuruh dia nyelonong masuk ke dalam rumah yang sedang berantakan. Lantai masih belum dikeramik, atap masih belum dipasang. Para pekerja turun naik memasang bata. Ada juga yang membawa ember berisi adukan semen dan pasir. Sementara itu pekerja yang lain sibuk memasang rangka untuk cor-coran lantai dua. Dia sibuk memaku ini dan itu menggunakan palu. Tiba-tiba pukulan palunya meleset. Palu terlepas dari pegangan, meluncur turun ke bawah. Duggg!!! Palu jatuh tepat di dahi ‘tamu yang tidak diundang’ itu. Siapa yang salah? Jangan tanyakan itu.
Abihaha | 07 04 2008 @ 13:06:00
Lha kan memang semua bidang selalu punya profesional yang kualitas brontosaurus atau kualitas kirik.
Kalo kelas bronto diponten 10 dan kirik ponten 1, arsitek yang ponten 1 - 8,8 tiada lain tiada bukan ya umumnya tukang kutip tadi. Comot majalah, comot buku, comot jpg (dari internet), comot dari brosur perumahan.
Justru yang mangkin ahli mengawin-serasikan comotannya itu yang makin laris je’. Lha wong saya pernah nemu rumah mewah makplek-plek sampai kolam koi’nya. Jebule 1 arsitek dan 1 kontraktor, kalau 1 bisa dijual 2x kenapa tidak barangmungkin.