IKLAN DUKUNGAN POLITIK, REZEKI BAGI MEDIA.

Te(r)rorist memasang iklan di halaman depan koran Galamedia. Isinya seruan, tepatnya “intruksi” (bukan instruksi) agar anggota memilih duo Da’i (Danny dan Iwan) dalam Pilgub Jabar.
Iklan itu tampaknya bukan semata seruan internal pengurus, melainkan bukti dukungan korps terhadap kandidat.
Siapa yang membayar pembelian ruang halaman, apakah si pemasang atau si kandidat, saya belum mencari tahu. Demikian pula siapa penanggung biaya iklan dukungan lainnya di koran-koran, misalnya yang menampilkan Solihin G.P. (Mang Ihin), bekas gubernur Jabar.

Mobilisasi dukungan itu biasa. Biasa melalui tokoh, bisa pula melalui organisasi. Ketika kita mengenal pilkada, yang menjadikan pemilih mencoblos langsung, maka mobilisasi lebih kentara.
Sebelumnya mobilisasi hanya melalui partai untuk pemilu, dalam hal ini Golkar, sekalian sebagai tangga ke karier politik.
Maka wajar saja jika dulu nyanyiannya sama: “Kami bukan onderbouw Golkar, tapi menyalurkan aspirasi politik kami ke…” Halah, gitulah pokoknya. Ujung-ujungnya fungsionaris organisasi jadi pengurus Golkar, kemudian jadi anggota DPR, dan seterusnya. Kaderisasi yang bagus sih, mempertipis kutu loncat dan anak kos partai. :D
Omong-omong soal iklan dukungan politik, itu juga berarti rezeki bagi media dan (mungkin) penyalurnya. Iklan ucapan selamat kepada bupati, walikota, dan gubernur baru, misalnya. Ada yang berupa iklan sporadis, ada pula yang rombongan dalam satu paket.
Siapa yang sebetulnya membayar? Hehehe…





mikow | 15 04 2008 @ 15:00:03
galamedia koran apa tuh paman?
dipabrik saya byk orang2 yg bawa koran2 aneh, trus minta duit karena sudah memberitakan salah seorang juragan disitu :D
kwak kwik kwek | 12 04 2008 @ 10:32:02
Rorongsokan? ada organisasinya? Weleh-weleh, apa cagub Dani-Iwan itu dianggap berasosiasi dengan barang rongsokan gitu ya? Ndak ngerti saya…
sluman slumun slamet | 11 04 2008 @ 15:55:37
berarti calonnya itu rongsokan ya paman?
:D
mpokb | 11 04 2008 @ 9:08:07
aye pasti kagak milih siapa2.. lha kartu pemilih aja kagak kebagian. milih gubernur gombal surombal aja dah..
arya | 11 04 2008 @ 5:44:44
gimana kalo memasang iklan pilkada di blog? bloggernya bisa kaya ndak tuh, paman?
masboi | 10 04 2008 @ 21:54:15
ada url-nya nggak paman? saya tanya mbah gugel, katanya salah ketik.
pemulung | 10 04 2008 @ 21:37:06
Pragmatis itu apa ya?
Mbilung | 10 04 2008 @ 19:31:48
melarang (jangan) untuk tidak terpengaruh hal-hal pragmatis adalah sesuatu yang menarik dari iklan itu.
lexi | 10 04 2008 @ 19:19:31
Andai para pemulung itu baca koran, andai mereka paham arti intruksi dan “jangan terpengaruh hal2 pragmatis”, apa lantas mereka bisa betul-betul bebas dari sikap pragmatis itu? Saya kira ada pradoks dalam intruksi itu.
Para pemulung hampir pasti tidak terdaftar sebagai pemilih di kota-kota besar Jabar, di mana mereka memulung. Kalau beruntung, mereka terdaftar sesuai KTP di desa masing-masing. Untuk nyoblos mereka harus pulang 1-2 hari ke desa. Mereka hrs bayar ongkos angkutan PP dan kehilangan penghasilan Rp 100 rb/hari, anggap saja totalnya Rp 250 rb/pemulung. Kalo ada 10.000 pemulung, TERORIST (atau siapalah)harus menyediakan dana Rp 2,5 m. Di sinilah paradoksnya, paman. Kalo Terorist membayari para pemulung Rp 250 rb/orang untuk nyoblos pada hari-H, maka intruksi “jangan bersikap pragmatis” justru malah tidak jalan.
Tetapi, yach, sudahlah. Iklan macam milik terorist ini memang selalu penuh paradoks.
vendy | 10 04 2008 @ 19:12:30
dan sapa yang sebetulnya nrimo bayaran? :p
GuM | 10 04 2008 @ 18:13:37
instruksinya ditujukan untuk kalangan pemulung dan pengumpul sampah daur ulang.
tapi apa mereka ngerti istilah ‘hal2 pragmatis’?
wong saya aja ndak mudeng
gagahput3ra | 10 04 2008 @ 17:59:56
Hah capek ngeliatnya. Disfungsi organisasi tuh…jadi inget jaman nyokap saya waktu msh jadi PNS…disuruh milih Golkar….
mas kopdang | 10 04 2008 @ 16:37:56
Yang mbayar ya Da’i, Om…
Minta tulung liwat segelintir orang supaya temmpat si segelintir orang itu beraktivitas mendukung dirinya…
Ya, lumayan la..ada uang dukungan mengalir…
Blog Kenthir | 10 04 2008 @ 15:42:18
Yang mbayar siapa ? Tanyakan pada rumput yg bergoyang saja Paman…
Menurut isu yg beredar untuk periode berikutnya katanya Paman nyalon jadi Cagub JaBar…betul to Paman ? trus Cawagub-nya siapa…Ndorokakung po ?
(saya percaya je…soalnya duit Paman kan ndak “meteran” lagi tapi sudah “glondongan”….hehehe !)
ebo | 10 04 2008 @ 15:18:31
Kaderisasi yang bagus sih, mempertipis kutu loncat dan anak kos partai. :D …..jd pengen katawa.
oon | 10 04 2008 @ 14:56:53
bukan saya pak de!…
hiks…moga² gak ada utang yang gak tau siapa yang harus mbayar aja..tukang sablon dah capek² e taunya gak dibayar karena si calon gak menang pilkadal
Aris | 10 04 2008 @ 14:07:06
Intruksi Fungsionaris Terorist: agar anggota cari tahu siapa itu yg membayar biaya iklan/kampanye, agar Paman Tyo mempostingnya lebih lengkap!!!
Kita juga dukung Paman Tyo jadi Bupati Bekasi !!!
ttd
Amrozi (teroris)
nonadita | 10 04 2008 @ 13:45:56
pilkada(l): panen rejeki juga buat para pengrajin sablon dan tukang reklame