Pers, Keluarga Besar Aparat, dan Topi PM
GAYA (SEBAGIAN) ORANG MEDIA DI REPUBLIK CALO.

Anda pasti pernah menjumpai mobil dengan setidaknya salah satu atribut ini. Stiker keluarga besar TNI-AD/AU/AL, Marinir, Kopassus, Brimbob, Hansip. Replika topi Polisi Militer. Lencana pangkat taruna Akademi Militer.
Buat apa? Kebanggaan dan solidaritas korps. Lucunya korps di sini termasuk keluarga batih: orangtua, paman, mertua, keponakan, ipar, tetangga.
Khasiat atribut itu? Dari segi sugesti dan harapan adalah kemudahan berupa dispensasi. Dari urusan dengan polantas, petugas parkir, sampai serempetan di jalan.
Sejauh saya tahu — silakan Anda koreksi — di negeri lain yang sipilnya kuat, hal begituan tidak ada.
Baiklah, anggap saja kasus Indonesia itu basi bin klasik. Lantas bagaimana dengan atribut pers bagi pekerja media?
Ada yang lupa dan “lupa” mencopot kartu pers (bedakan dengan kartu karyawan) ketika pulang dari kantor. Ada yang malah mencantelkan kartu pers dan stiker pers di mobil pribadi. Ada yang memanfaatkan kartu pers untuk pelancar urusan di luar peliputan, sejak pesan tiket sepur sampai penempahan di hotel.
Di antara pekerja media penggemar atribut ini, tak sedikit yang sebetulnya bukan awak redaksi. Menurut beberapa cerita, kartu itu cukup sakti.
Saya pernah jadi pekerja media, pernah jadi reporter. Apakah saya pernah belagu, secara sengaja memanfaatkan kartu pers untuk urusan di luar dinas, di luar peliputan di lapangan?
Baiklah dengan malu saya akui: ya. Sering? Seingat saya tidak. Yang saya ingat adalah untuk mendapatkan bangku di kereta api dan pesawat (keduanya dengan harga normal), dan… lolos dari tilang.
Untuk urusan telepon, listrik, IMB, dan jasa publik lainnya saya tidak menggunakan itu.
Eh bohong ding, untuk urusan SIM saya pernah memanfaatkan karena anjuran anggota staf petinggi Polda Metro, penanggung jawab lalu lintas. Tahu-tahu saya digandeng ke ruang Pak Perwira, lalu dibuatkan memo, dan seterusnya lancar, padahal saya tak mengeluarkan kartu nama maupun kartu pers. Sandi bisik-bisik sesama petugas pemrosesan adalah, “Keponakan Metro-1″. Bisik-bisik bernada ledekan (bahkan melecehkan) untuk wartawan. :D
Satu hal yang tak saya penuhi setelah urusan beres adalah kembali ke ruang perwira itu. Apakah saya tak tahu berterima kasih?
Kalau saya kembali ke dia untuk melapor pasti akan dikasih uang, dan bukan tidak mungkin berupa dollar Amrik. Tapi yang jelas saya (kadung) membeli formulir karena tak menduga akan dapat kemudahan. Saat itu peminta SIM membludak karena ada operasi entah namanya, sehingga urusan takkan beres dalam sehari.
Kalau dipikir-pikir, pemanfaatan atribut pers untuk urusan di luar dinas itu nggak beda dengan aksi sejumlah serdadu dan anggota DPR (dulu ada loket khusus di Gambir). Membawa nama korps untuk kelancaran apa saja, dengan mengabaikan pengantre lain, jelas melanggar rasa keadilan.
Adapun di tingkat pemakai, ada yang malu-malu dan ada pula yang bangga bahkan pamer. Pada kelas yang “netral”, pemakai jalan pintas atas nama pers ini punya kilah, “Habis gimana lagi, sistemnya gitu sih. Kita kan cuma ngikut.”
Aha! Sistem! Sakti betul kata itu. Cara, kebiasaan, tradisi, prosedur, dan seterusnya, dinamai sistem. Kalau sudah sistem berarti tak terbantahkan, tak layak koreksi.
Setelah mendapatkan pencerahan (ketika masih bekerja di media), bagi saya lebih nyaman pakai calo daripada memanfaatkan status kewartawanan.
Memakai calo berarti mengurangi rasa bersalah, dan merasa senasib sepengorbanan dengan orang lain. Bukankah kita hidup di Republik Calo?
32 Responses to Pers, Keluarga Besar Aparat, dan Topi PM
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Sopir: Pelengkap Mobil
March 16, 2012 by AntyoKENYAMANAN (DAN KEAMANAN) UNTUK SOPIR, BUKAN JURAGAN.
Saya tak tahu dari sekitar 3,5 juta mobil penumpang berpelat nomor B (perkiraan terhadap berita Area) itu berapakah yang dijalankan oleh sopir. Maksud saya oleh pengemudi yang bukan pemilik mobil. Kesan saya, dari pengamatan sekilas, makin banyak mobil pribadi yang dikemudikan oleh sopir khusus. Si [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





kalo gw sih gak usah keluarin kartu sakti..tapi kalimat sakti
kalo ditilang ama polantas..cukup bilang aja dengan nada sopan namun tegas..
mohon ijin pak …TRI BRATA..
hmm cukup ampuh dan gw dah sering lolos..
Halah . . . .kartu sakti ada banyak macemnya.
wong bon merah dan bon biru pak polisi aja bisa kalah tu.
jaket ijo Penjaga Hutan Gunung Halimun + sepatu bot + cepak saya pernah “berjasa” menyelamatkan anak SMA dari tawuran gak imbang. tapi pernah juga kena stop razia tentara madol :(
iki negara mana ya? kok kacau bener. apa ndak pernah membangun?
enggak pake kartu, tapi keluarin kamera. hmm, kamera pocket. gak ada maksud apa-apa kecuali mau foto aja mukanya.
rumus yang sama buat ngadepin mobil dan motor menyebalkan.
niatnya sih kayak pak koen: ta’ blog lo ya hihihi
Tungganganku ada stiker 3D, ngaruhnya apa ya? :)
*ngakak baca komentarnya pak Koen*
ayo rame2 bikin sticker blogger :-D
*jadi berpikir nempelin sticker kantor di mobil pribadi* hehehe