Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Susuri Jalanan Jakarta, Harapkan Pekerjaan

Senin, 28 April 2008 @ 16:22 | Umum

JALAN KAKI SEJAUH 60 KM LEBIH. SETIAP HARI.

mencari kerjaDari kejauhan saya menyangkanya seorang mahasiswa yang sedang diplonco. Namun dalam sekejap saya ingat, sekarang belum musim inisiasi akademis. Ketika jarak saya makin dekat, terbacalah tulisan di punggungnya itu: “Saya sedang mencari kerja.”

Namanya Jero. Usianya 35. Lajang. Kulitnya menggelap terpanggang Mentari. Wajahnya berkilat oleh keringat. Bibirnya kering menahan haus.

Sudah hampir sebulan dia saban hari menyusuri jalanan Jakarta. Tadi saya melihatnya selagi dia menyusuri Jalan Radio Dalam dari arah Pondok Indah.

Saban pagi, pukul enam, dia berangkat dari rumahnya di Jatibening, Bekasi, dekat jalan tol. Melintasi Kalimalang, dan seterusnya, lantas tinggal memilih arah.

Rute hari ini adalah Cawang - Jalan M.T. Haryono - Jalan Gatot Subroto - Semanggi - Jalan Jenderal Sudirman - Pejompongan - Jalan Sultan Iskandar Muda, dan sampailah Pondok Indah.

Selama hampir sebulan dia berjalan, baru dua kali disapa orang. Pertama adalah kemarin. Si pengendara mobil menanyakan ijazah terakhirnya karena dia butuh tamatan SMA. “Tapi saya hanya sampai kelas lima SD,” kata Jero.

Penyapa kedua adalah orang yang merasa senasib dengannya, hanya tongkrongannya tampak lebih beruntung, padahal sama-sama tak punya pekerjaan.

Jero tak punya pengalaman bekerja selain membantu orangtuanya berjualan di warung kecil. Ayahnya menyediakan beras, ibunya menyediakan sayur. Tugas Jerolah untuk berbelanja, kulakan.

Setelah kedua orangtuanya tiada, Jero mencoba meneruskan usahanya di rumah kontrakan. Berjualan beras. Modal menipis, padahal harganya kian menanjak, “Akhirnya beras jadi nasi, saya makan sendiri.”

Maka dia putuskan untuk mengiklankan diri, dengan berjalan kaki, “Soalnya nggak ada ongkos naik angkot.”

Kita bisa berjarak karena itu bukan urusan kita. Kita juga boleh tak percaya kisah hidupnya. Tapi berpenat diri untuk mengais lowongan pekerjaan itu bisa menimpa siapa pun.

Jakarta yang panas dan gerah, tadi siang masih menyisakan sedikit keramahan. Jero diajak singgah di sebuah rumah, tempat pria penyapa kedua itu biasa mampir untuk numpang makan siang. Tuan rumah langsung paham, tak banyak tanya, hanya mempersilakan dia bersantap.

mencari kerja

Ketika perut kenyang dan segelas tambahan air dingin kembali mempersegar tubuh, Jero bersiap mengayun langkah. Bengong dan bahagia ketika lelaki penyapa tak bernama itu mencabut dompetnya, lalu membukanya.

Hanya ada dua lembar lima puluh ribuan. “Kita bagi dua. Uang saya hari ini tinggal ini. Lima puluh buat kamu, lima puluh buat saya.”

Bukankah Matahari dan ayun langkah masih menyisakan rezeki, baik untuk Jero maupun si pemberi?

Ada 87 komentar | trackback | Depan

#87

semut ireng | 13 05 2008 @ 11:26:20

Buat paman tyo, bisakah Jero ke SUrabaya? kalau mau kerja seadanya saya carikan 031-72321706
atau hubungi adiku yang ada di Bekasi, bilang suruh carikan kerjaan apa saja yang penting halal ini No HPnya 081385153885


#86

ngatini | 12 05 2008 @ 16:02:43

semoga om jero dapat jalan yang terbaik….(????)


#85

andra | 08 05 2008 @ 4:04:56

mbok saya dikasih kerjaan.. :(


#84

network_pirates | 04 05 2008 @ 0:50:12

untuk mas jero:
ikhtiarnya yang dapat dua jempol

untuk yang penyapa pertama:
terima kasih untuk peduli

untuk yang penyapa kedua:
hehehe, pengangguran di jakarta banyak, tapi pengangguran yang rela membagi uang dikantongnya jadi dua. Weleh-weleh, kesetiakawanan dijakarta?
pengangguran dijakarta melimpah, tapi kalo orang yang setia kawan?,
hehehehe
10 jempol untuk orang ini.


#83

aji | 03 05 2008 @ 13:22:44

hiks…


#82

funkshit | 03 05 2008 @ 12:30:25

WAW. .. orang seperti jero pun kreatif dalam mencari kerja . .:D beruntung lah dia hari itu ketemu bloger ini


#81

unwinged.anang | 02 05 2008 @ 23:47:25

rahman dan rahim sebagai kunci untuk bertahan di dunia. Semoga si pemberi dan Jero bisa terus dipermudah jalan nya.


#80

Ollie | 02 05 2008 @ 23:44:38

Menyesal banget udah spend so much money on food yesterday


#79

dell | 02 05 2008 @ 21:25:39

Terima kasih, Paman, yang membantu telah mengingatkan saya untuk lebih bisa bersyukur lewat tulisan ini. Teriring doa semoga Jero dan Jero2 lainnya dibukakan jalan untuk dapat meraih apa yang diinginkan. Amien.


#78

kw | 02 05 2008 @ 18:42:46

duh aku tiap hari kok masih mengeluh dan memaki… :(
makasih man


#77

Wati | 02 05 2008 @ 16:29:50

Saya sampai menitikan air mata bacanya. Betapa sulitnya mencari pekerjaan di Indonesia. Uang yg dikorupsi oleh pejabat, jumlahnya mungkin cukup utk mendirikan beberapa perusahaan yg dapat menampung banyak pengangguran. Kita wong cilik kesulitan mencari uang, wong gede bingung gimana menghabiskannya.


#76

jongos | 02 05 2008 @ 11:06:00

duuuuh… sedih sekali paman ? tapi siapa suruh datang jakarta ? kalau tanpa ketrampilan dan ijazah yang memadai?
semoga aja orang itu ketemu orang yang jujur seperti paman :) dan bisa mendapatkan pekerjaannya


#75

torus | 02 05 2008 @ 7:42:11

Apa beda Jero dengan pengangguran lainnya????

Bedanya di sini disajikan seolah Jero susah maksimal berusaha. Tp kreatif jugalah buat iklan begitu walopun memang itu gak akan berhasil. Siapa sih orang yg percaya di JKT kalo hal itu bukan tipuan?
Sebaiknya JERO pikirkan cara lain untuk cari makan, jgn hanya kitarin jakarta dengan begitu. Capek tp gak ada hasil.


#74

fg | 02 05 2008 @ 0:10:18

salah satu yang sensasional dari sekian banyak yang bernasib sama. pertanyaan buat kita yang beruntung; apa yang bisa kita perbuat untuk membantu mereka? saya ada ide, gimana kalo buatkan website biografi bagi mereka yang terpuji namun kurang beruntung yang ada di sekitar kita. tujuannya untuk membuka mata dan hati para pemilik lahan kerja. kita jadi project manager mereka yang “freelancer”. halah, ada-ada aja saya ini..


#73

ewan | 01 05 2008 @ 17:39:28

Tulisan dan fotonya amat mengesankan.

Makasih bikin saya bersyukur hari ini.


#72

Muhammad IQbal | 01 05 2008 @ 16:10:52

dapet aja momentnya Bos..
right man on the right place on the right moment


#71

yati | 01 05 2008 @ 13:55:58

:(


#70

muji | 01 05 2008 @ 12:54:10

matur nuwun….om, mengingatkan untuk slalu bersyukur. ijin nggih untuk dishare ke teman-teman


#69

froz! | 01 05 2008 @ 8:20:58

“nikmat engkau yang manakah aku dustakan?”
makanya pertanyaan ini selalu gw tanyain ke diri sendiri sebagai pengingat untuk bersyukur.


#68

vnz | 01 05 2008 @ 2:47:09

Terima kasih untuk postingan ini :)

Membuat aku jadi bersyukur dengan penghasilanku yang mungkin pas-pasan tapi pasti jauh lebih baik daripada nasib si Jero.


#67

Donny Verdian | 30 04 2008 @ 20:41:55

Jadi pengen mendengarkan lagu “Sarjana Muda” nya Iwan Fals sembari membaca berulang-ulang posting ini.

Very touchy, Mas!


#66

sawung | 30 04 2008 @ 19:08:41

………………………………


#65

beyes Kemlinthi | 30 04 2008 @ 17:08:23

Sedih aku paman…. tulisannya nggogrokke ati.


#64

ramadhani | 30 04 2008 @ 16:41:00

wah…hebat sekali yang kasih makan ya…ternyata orang seperti penyapa tadi masih ada di dunia ini.
Alhamdulillah deh….


#63

Aris | 30 04 2008 @ 16:35:32

Seminggu lebih tidak posting di blogombal, sekali posting dalem banget.

Thanks Paman utk mengingatkan agar selalu bersyukur ttg pekerjaan yg kita miliki.

Saya turut mendoakan agar Jero cepat mendapatkan kerja. Dan kepada penyapa kedua (yg menurut dugaan saya berkepala botak) semoga tetap diberikan kerendahan hati, ketulusan dan rejeki yg berlimpah sehingga bisa tetap saling berbagi.


#62

evi | 30 04 2008 @ 15:56:40

aduh, mo ngomong apa ya? *bingung*


#61

Lusi | 30 04 2008 @ 14:03:36

Ini realita yang sebenarnya, ngga seperti di sinetron dimana si miskin tak berpendidikan mudah sekali dapat kerja, apalagi kalau berparas cantik, lugu dan bodoh. Semoga jero cepat dapat kerja. GBU!


#60

omith | 30 04 2008 @ 13:37:38

sumpah … mbrebes mili..!


#59

ebeSS | 30 04 2008 @ 13:31:57

sejak 45 masih tertulis lho :
‘tiap2 warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan’

sama blogger saja pemerintah ketinggalan jauh yaa!


#58

nYam | 30 04 2008 @ 13:18:38

orang-orang seperti Jero seharusnya bikin kita merasa sangat beruntung ya


#57

Erwin Baja | 30 04 2008 @ 13:14:11

Salam kenal Paman Tyo..
Tulisannya bagus dan sangat inspiratif…
Saya minta izin share tulisan ini ke teman-teman di kantor via email.
Biar dapat pencerahan juga dan tidak setiap hari mengeluh tentang pekerjaannya :-)


#56

lexi | 30 04 2008 @ 12:23:14

Aku mengeluh karena pekerjaan yang kutekuni hanya memberikan penghasilan pas-pasan. Lalu aku blogwalking. Di Blogombal, kutemukan seorang yang berjalan puluhan kilometer setiap hari mencari pekerjaan.
Postingan Paman sungguh inspiring, membuatku belajar bersyukur.
Terimakasih paman, teriring doa untuk jero semoga sukses dalam pencarian.


#55

abeeayang | 29 04 2008 @ 23:03:12

hmmm…begitu susahnya nyari duit jamang sekarang….semogah ajah tuhan mengabulkan kehendak jero… :P
*mengamini*


#54

kutaraja | 29 04 2008 @ 20:01:03

Jero, Tuhan pasti menghitung keringatmu.
Paman, Tuhan sedang menunggu Jero dan Pemberi Pekerjaan itu.


#53

yudhi | 29 04 2008 @ 19:47:31

:)


#52

Blog Kenthir | 29 04 2008 @ 19:39:46

Saya trenyuh Paman, postingan sampean membuat saya lebih mensyukuri pekerjaan saya…mudah2an Jero bernasib baik juga Jero2 yang lain yang bernasib sama.


#51

Imponk | 29 04 2008 @ 18:30:21

Apa yang dilakukan Jero mungkin (kita menganggapnya) tidak lazim. Tapi niat dan semangatnya yang tulus, sungguh perlu menjadi contoh. Mungkin dia sadar, tanpa ijazah yang memadai, mencari pekerjaan di Jakarta adalah sesuatu yang tidak mungkin. Namun tekadnya sudah bulat. Cara ini bisa saja menarik simpati seperti paman. Saya yakin, usaha Jero tidak akan sia-sia.


#50

Mihael Ellinsworth | 29 04 2008 @ 17:59:54

Bukankah sebuah realita pun masih menyisakan kesenangan untuk diraih ?


#49

Fiz | 29 04 2008 @ 17:04:00

Semoga kedua pengangguran ‘beda generasi’ itu lekas dapat kerja. Amiin…!!!


#48

Laks | 29 04 2008 @ 17:00:15

semoga sebelum saya koment jero dah dapat pekerjaan….

saya hanya bisa ikut berdoa semoga jero cepet dapat kerjaan.
makin banyak pengangguran di negeri ini.
saya jadi bersyukur dah punya pekerjaan :(


#47

mbah joyo | 29 04 2008 @ 16:46:25

semoga jero segera mendapat kerja..


#46

mbaung | 29 04 2008 @ 16:23:30

Salut buat Jero yg gigih mencari kerja, tidak ngemis, tidak mau naik angkutan tanpa bayar, tidak putus asa

Salut juga buat para penyapa dan yg punya rencana memberinya kerjaan

Lha yg prihatin thd orang ini ada gak? :
“Penyapa kedua adalah orang yang merasa senasib dengannya,…padahal sama-sama tak punya pekerjaan.”


#45

Harianus Zebua | 29 04 2008 @ 16:19:26

Ya Tuhan ajari aku untuk mensyukuri pekerjaan yang telah Engkau berikan kepadaku dan beri aku hati yang peduli dan mau berbagi terhadap sesamaku yang “tak seberuntung” aku seperti Mas Jero

Terima untuk postingan yang sangat menyentuh ini Paman!


#44

irwandiaz | 29 04 2008 @ 15:39:11

padahal dia udah kerja….
jalan kaki heuheuheu…


#43

eko magelang | 29 04 2008 @ 15:02:08

aku yakin persaanku sama yang lain: trenyuh, meh mrebes mili pakde !


#42

bubba | 29 04 2008 @ 13:56:56

aduh mentolo tenan sih pakdhe? udah yatim piatu, ngga punya modal, umur udah tiga lima, ga punya pengalaman apa apa, ga bisa kerja, nekad berbisnis pun kandas…

Tuhan punya rencana…


#41

adhi nurul | 29 04 2008 @ 13:49:29

kepp trying my bro
gw salut banget
biar orang2 yang udah kerja dan bingung mau buang uang kemana memperhatikan !!!
biar luar negeri juga ngeliat, kondisi bangsa kita sperti apa
selamat berjuang,
tuhan selalu bersama orang-orang yang bersabar dan selalu berjuang


#40

Saherman | 29 04 2008 @ 13:42:21

Mata saya mulai perih… Dia mau bekerja, menawarkan yang ia bisa. Bukan mengemis, ia hanya ingin bekerja? Ah negeriku, ada sekian banyak orang seperti Jero…


#39

adi | 29 04 2008 @ 13:22:34

*mengusap air mata*


#38

احمد شهيدة | 29 04 2008 @ 12:53:37

Apakah SBY akan menitikkan air mata melihat nasib Jero, sama ketika beliau menonton film Ayat Ayat Cinta bersama para petinggi di gedung bioskop yang berhawa dingin dan mahal.

Hentikan tangis itu jenderal, sebelum kami mengatakan bahwa itu adalah sandiwara!!


#37

setiaji | 29 04 2008 @ 12:53:18

Saya pernah menjadi orang yang menjaga jarak dengan Jero. Saat itu, saya berada di sebuah mobil berpendingin milik teman. Di tengah macet, di perempatan Pondok Indah dari tol lingkar luar. Mata saya cuma bisa nanar melihat Jero. Dan terlintas di pikiran, seandainya saya ada di posisinya. Juga menghujat diri sendiri yang cuma bisa melongo seperti kambing dungu.


#36

soep | 29 04 2008 @ 12:27:08

paman, saya juga spiclEssss ;(
(di fikiran : semoga saya ga bernasib sama nanti, kalo udah lulus )

dengan sangat hormat, saya kutip ini di blog saya, gapapa ya paman… untuk ikut menyebarkan info eh, fakta ini


#35

fallenopique | 29 04 2008 @ 11:55:32

ha..ha..ha..( maaf klo saya sedikit lain sendiri, saya tertawa)Akhirnya saya merasa bahagia karena ternyata saya tidak sendirian “menikmati” kondisi yang seperti Mas jero alami. Tapi mas Jero lebih keren lagi, soalnya beliau berjuang tidak hanya untuk perutnya sendiri, Mas Jero berjuang untuk keluarganya juga. sungguh perjuangan yang membutuhkan kesabaran dan kebesaran jiwa.

“mari bergabung di JPI ( Jemaah pengangguran Indonesia)lebih dari 12 JUTA orang di negeri ini masih berstatus sebagai unemployed, banyak SARJANAnya lagi!”

kalau benar-benar BERSATU sepertinya 2009 nanti bisa ikut mendaftarkan seseorang untuk bakal calon Presiden RI.
Dan sebenarnya kalau benar-benar BERSATU, paling tidak 1-5 Perusahan (Lapangan Kerja Raksasa)bisa terbentuk.Dengan catatan harus benar-benar bersatu.

JPI (jemaah pengangguran indonesia) BERSATULAH!
“Berdua-Bersepuluh-berseratus-Berseribu-BERSATULAH!”


#34

sluman slumun slamet | 29 04 2008 @ 11:49:53

hemmm… trenyuh saya membacanya paman. jero, sosok pejuang tangguh, dia lebih mulia daripada obligor dan legislator ituh………


#33

stey | 29 04 2008 @ 11:34:02

mencari kerjapadahal itu di Jakarta yang katanya kalo ada niat pasti bisa kerja..hemm..hidup emang ga pernah mudah..


#32

bangsari | 29 04 2008 @ 11:32:38

susah komennya, mengharukan…


#31

Charly Silaban | 29 04 2008 @ 10:32:53

Terkadang kegetiran hidup memang memacu seseorang untuk berbuat hal-hal yang tak terpikirkan.. gerakan hopeless..

Pikiranku sedikit menerawang dengan filosofi orang batak bahwa semiskin apapun, pendidikan itu yang utama dan kekerabatan “dalihan natolu” kuat dipertahankan.. Salah satunya ya untuk mencegah hal begini.. Pendidikan sebagai bekal diri sendiri untuk maju, dan keluarga untuk saling menopang dan membantu baik dalam suka dan duka.. Sungguh hebat memang kearifan lokal karya nenek moyang kita dulu..

Jero.. semoga keyakinanmu tidak runtuh dan kegigihanmu membawa hasil.. Hope Your Wish come true soon..
Dan yg terakhir.., Fuck The Goverment !


#30

Don't Give Up ! | KotakubuS | 29 04 2008 @ 10:15:59

[…] Susuri Jalanan Jakarta, Harapkan Pekerjaan […]


#29

Silly | 29 04 2008 @ 5:01:53

paman… jeronya bisa dihubungi dimana?… rute yg paman berikan jarang sekali saya lewati. Kalau memang dia belum menemukan pekerjaan, barangkali saya bisa bantu nyalurin kemana aja yg kira2 cocok dengan bakat atau apapun yg dia punya, (even mungkin hanya tenaganya aja, well… let say jadi tukang batu, atau apapun yg tidak memerlukan ijasah), let me know ya paman…

please email me paman. Thanks a bunch.


#28

satria | 29 04 2008 @ 0:02:29

I’m speechless


#27

Rafki RS | 28 04 2008 @ 23:02:52

Potret dari adanya kontradiksi laporan BPS tentang membaiknya kondisi ekonomi di negeri ini.

Saya kurang setuju dengan tindakan yang dilakukan si pemberi. Karena tanpa disadarinya tindakan memberi uang secara langsung itu akan membuat semangat si Jero untuk mencari kerja pada hari itu, akan hilang.

Kenapa si pemberi tidak memberi pancing kepada si jero ketimbang memberikan sepotong ikan?

Mudah-mudahan kalau komentar ini dibaca oleh si pemberi, besok dia akan memberikan pekerjaan kepada si Jero bukannya memberikan uang yang akan membuat si Jero menjadi malas.


#26

mbakDos | 28 04 2008 @ 22:50:33

pamaannnn *peluukk* terharuuu


#25

Nayantaka | 28 04 2008 @ 22:45:11

Seandainya saya diberi kemampuan dan kesempatan untuk menjadi orang ketiga yang menyapanya, mudah-mudahan bisa memberikan sesuatu yang bermakna …
Eh, itu bukan Sultan Zam yang sedang mengembara di Jancukarta kan?


#24

Totok Sugianto | 28 04 2008 @ 22:10:44

berharap ada yg bisa memberinya pekerjaan. :(


#23

Hedi | 28 04 2008 @ 22:08:19

idem dito.

Memprihatinkan, saya ikut berdoa (juga) saja deh


#22

venus | 28 04 2008 @ 22:03:31

ah, paman..saya sampe bingung mau komen apa :(


#21

Taufik | 28 04 2008 @ 21:58:59

membaca post ini membuat saya menitikkan air mata…


#20

samsul | 28 04 2008 @ 21:39:16

melihat usahanya jero memang gigih mencari kerja. semoga ada seseorang lagi seperti mbak edratna, yang memberikan kail untuk mencari rezeki


#19

tongki ari wibowo | 28 04 2008 @ 20:51:56

gimana nasib saya selulus sma nanti ya?


#18

yuswae | 28 04 2008 @ 20:17:20

Semoga penyapa kedua duitnya meteran lagi..ketemu jero lagi dan menyapa kembali..Amien


#17

ebong | 28 04 2008 @ 20:04:09

apakah kita diam saja ???? bantu yuk


#16

mitra w | 28 04 2008 @ 19:30:55

haduh, jadi males cari kerja nih saya jadinya :(

apa bikin usaha wae lah


#15

nonadita | 28 04 2008 @ 18:52:28

semoga ada penyapa ketiga yang memberikan pekerjaan buat Jero


#14

asa | 28 04 2008 @ 18:46:50

miris euy bacanya..


#13

ndoro kakung | 28 04 2008 @ 18:41:37

wah postingane jero tenan ki, hiks :(


#12

tsonjaya | 28 04 2008 @ 18:39:13

Ada banyak Jero-Jero yg lainnya. :( Ayo dong dikasih kerjaan. Sayang, saat ini saya cuma bisa ngomong doang. Lha saat ini masih jadi buruh kok, TKI pula. (kamu alesan aja!!!).


#11

mas kopdang | 28 04 2008 @ 18:38:09

Jero berarti dalam. Penuh buah makna yang tak terpermanai.

Jero berarti masih ada batas. Ketika ketidaktahuan akurasi jarak vertikal, dapat dipersepsikan masih jauh.

Postingan yang Jero, Paman…

Yang buas yang ganas, dalam wiracarita Paman menandakan bahwa “pahlawan” biasanya hadir sekilas dalam ornamen yang tersajikan -dan kebetulan-disampaikan Paman.

Semoga Jero tak terlupakan..


#10

galih | 28 04 2008 @ 18:37:43

wew… paman memang berhati mulia :)


#9

edratna | 28 04 2008 @ 17:43:09

Sedih sekali…mudah2an Jero segera ada yang menolong memberinya pekerjaan. Saya ingat anak asuh saya dulu, ijazah SD nya hilang, dia mau ikut saya sebagai pembantu dan disekolahkan, serta diajari menyopir. Dia keluar setelah bisa menyopir, lulus SMU dan mendapat pekerjaan sebagai sopir di perusahaan semir sepatu. Kemudian suami ganti mengambil adiknya, diekolahkan, begitu seterusnya sampai saat ini….untuk sekolah terbatas umur, tapi masih bisa sekolah sore ( ijazah dipersamakan)…


#8

diditho | 28 04 2008 @ 17:35:55

benar-benar speechles…,nyesek banget bacanya, semoga Jero cepat mendapat sumber penghasilan.


#7

ebo | 28 04 2008 @ 17:32:55

semangat 45..contoh buat temen2 berijazah tinggi tp masih nganggur!!Tabik


#6

pranala | 28 04 2008 @ 17:15:13

Coba dicek lagi dompetnya Pam..
yakin cuma tinggal tersisa 2 lembar limapuluhan?


#5

TIM's | 28 04 2008 @ 17:14:48

hidup memang berat. tetapi jujur saya respek sekali dengan Jero ini, mudah-mudahan ia tidak patah semangat dan tidak menjadi peminta-minta yang dikarunia jasmani yang sehat. semoga ia lekas mendapat pekerjaan.

buat paman, terima kasih karena tulisan ini insipiratif sekali bagi saya.


#4

fahmi! | 28 04 2008 @ 17:07:25

duh! bingung mau nulis komen apa nih. bolak balik backspace terus. wes tak bantu doa ae moga2 jero segera dapet kerjaan dan hidup makmur, aamiin.


#3

jun | 28 04 2008 @ 17:00:16

Penyapa Jero yang kedua itu, apakah bukan ayah dari dua putri dan suami dari satu istri, yang bermukim di tenggara Jakarta, sudah termasuk wilayah Jawa Barat?


#2

yuki tobing | 28 04 2008 @ 16:59:34

Astaga, bener-bener sebuah perjuangan. Mudah-mudahan Jero cepat mendapatkan sumber penghasilan, kasihan juga berjalan berjam-jam seharian di tengah panas terik begitu. Saya yang hanya sekitar 3 jam per hari saja rasanya capek banget setiap sampai di rumah. Saya masih disuplai makanan bergizi pula.


#1

jalansutera | 28 04 2008 @ 16:54:13

perih sekali saya baca entry ini. speechless!!