PEMOTRET TANPA ORDER DI PERHELATAN.
Sudah ada dari dulu, dan masih mencoba bertahan hingga kini. Apa? Jasa pemotretan tanpa order dalam setiap acara, dari wisuda, penataran, sampai seminar. Saya melihat upaya bertahan itu dua hari lalu di Taman Mini Indonesia Indah.
Di lantai depan pintu masuk Sasono Langen Budoyo itu terjejer foto anak-anak peserta lomba paduan suara SD. Ukurannya 5R, terbungkus plastik. Selain foto tersedia pula sebingkai film negatif.
Inilah warisan gerak cepat fotografi lama yang akhirnya dihajar teknologi digital. Dengan kamera SLR berfilm, pemotret lekas menghabiskan rol, lantas mencuci-cetaknya (istilah kuno ini, tapi lebih maju ketimbang “afdruk”) di minilab kilat.

Ketika acara masih berlangsung, foto-foto sudah terjajakan. Risiko tak laku semakin bertambah jika orang yang terpotret ogah beli. Atau mau membelinya ketika sore, sehingga harga sudah terdiskon, Rp 12.000 pun dilepas. Bagi pemotret, lebih baik begitu daripada rugi menyimpan foto orang tak dikenal.
Tentang fotografi lama ini, Benny dan Mice pernah meledeknya. Mereka mengambil kasus pemotret berkamera Polaroid di tempat wisata yang disisihkan oleh ponsel berkamera.

Apa boleh buat, inilah ekses kemajuan teknologi. Yang kuno dan tidak praktis — kecuali untuk klagenan (kasus Lomo) dan profesional rewel — akan dijauhi.
Pengecualian mungkin akan berlaku, dalam arti foto-foto itu laku, jika acaranya berisi tontonan untuk pria dewasa tapi pengunjung tak boleh memotret. Dijual mahal pun mungkin laku, tapi setelah itu foto atau film negatifnya akan masuk ke pemindai digital — lalu menyebar lewat blog. :)
Misalkan para pemotret itu berbekal kamera saku digital, dengan tambahan lampu kilat, dan didukung oleh layanan cetak cepat, kemungkinan lebih laku masih ada. Tentu dengan catatan hanya berlaku untuk hari ini sampai akhir 2008, ketika kamera saku yang mendingan belum terbeli oleh semua orang.
Meskipun berteknologi lama, kesigapan pemotret tanpa orderan itu membanggakan. Yang penting jepret selekasnya. Langsung hajar bleh, mungkin itu prinsipnya. Suatu kali, sudah lama sekali, masih zaman prafotografi digital, seturun dari taksi saya langsung dijepreti.
Setelah itu pemotretnya menggerundel entah apa. Taksi saya salah berhenti. Mestinya bukan di pintu lobi ruang wisuda di sebuah hotel. Padahal saya akan ke resto dalam hotel.





bubba | 08 05 2008 @ 19:17:28
sebenernya kalau mau jujur ya, foto mereka masih banyak yang saya simpan daripada foto-foto yang saya dapatkan gratisan. mungkin karena mbayar ya? jadi takut hilang.
beberapa malah sudah berumur lebih dari sepuluh tahun. kalau ditilik dari ilmu depresiasi, 20ribu itu dibagi sepuluh tahun murah loh, jadi cuman 2ribu rupiah saja pertahunnya. lebih murah daripada sewa.
topan | 07 05 2008 @ 16:04:11
Sepupu sy sering memanfaatkan hasil sisa jepretan mereka yg tdk laku dibeli dg harga miring sekali( 1 gepok cuma 50 ribu ),sampai dirumah dijadiin wallpaper kamar,hasilnya keren juga tuh.Siapa yg mau ikutan..?
stey | 07 05 2008 @ 11:38:10
saya juga sempet bertanya berapa lama lagi mereka bisa berthan dengan begitu banyaknya kemajuan teknologi.
Kardjo | 07 05 2008 @ 8:36:37
Halah… seumur-umur saya ndak pernah masuk dalam jajaran foto yang dijajakan. Mungkin para tukang foto itu tahu kalau ndak bakalan terbeli. Tampang kere!
cs ugm 98 | 06 05 2008 @ 16:35:05
Era digital memang membawa banyak konsekwensi bagi tergusurnya beberapa profesi lama, dari tukang servis mesin ketik hingga tukang foto ini
Indahjuli | 06 05 2008 @ 15:53:00
Yang betenya nih, kalau kita ngak mau beli, fotonya disebar deh di jalanan, trus diinjek-injek orang :D
ebeSS | 06 05 2008 @ 14:38:58
inilah wajah ‘disguised unemployment’ Indonesia! May Day kemarin rupanya cukup menggugah Nidji, ikut merasakan sedihnya cari kerja di negara ‘gemah ripah’ yang bernama Indonesia ini. BPS dan mbah wiki masih mencatat diatas 10 juta jiwa ‘pengangguran terbuka’, dan itu menempat Indonesia diperingkat 133 dunia, karena banyaknya pengangguran atau sempitnya lapangan kerja!
riosadja | 06 05 2008 @ 4:45:25
untung-untungan…
Kalau yg jeli liat ada prospek, ya, lumayan juga. Bahkan wartawan pun juga ikut-ikutan - Lumayan buat tambahan. Hhehe.. itu di kota saya lho, beneran..
Totok Sugianto | 05 05 2008 @ 16:00:39
kalau tidak terjual, kemana foto2 itu bisa diobral lagi ya paman? apa mungkin diantar kerumah si model dengan harapan bisa dibeli ya.. entah lah hehehe :P
Nostalgi(la) Bundaran HI… « Sillystupidlife’s Weblog | 05 05 2008 @ 12:49:40
[…] saya.. (taelah petualangan… cape dehhh), berujung dengan ngakak2 gak penting di blognya paman tyo. Bagaimana enggak, posting paman kali ini mengingatkan saya pada ketololan saya beberapa waktu […]
lexi | 05 05 2008 @ 12:47:11
Satu lagi, paman, tukang kodak itu juga bisa kepada mereka yang dia jepret: kalo bapak/ibu/kakak/adik puas dengan hasil jepretan saya, saya juga siap menerima order untuk pemotretan berbagai acara, mantenan, sunatan, aqiqahan dll.
kalo perlu, paman ajarin dia bikin blog. yach, mereka butuhlah kiat-kiat marketing untuk menghadapi persaingan era global…
lexi | 05 05 2008 @ 11:59:59
Lain kali, kalo paman ketemu lagi ama tukang kodak (ini bahasa ibu saya) tanpa order itu, mbok ya kasih saran dia supaya buat kartu nama, gitu. Jadi tiap dia habis motret obyek, dia kasih tu kartu nama, seraya bilang: kalo bapak/ibu/kakak/adik tidak sempat liat-liat hasil jepretan saya habis acara di sini, silakan kontak saya. trims….
jasa penulis content | 05 05 2008 @ 11:44:13
memang dunia selalu berubah
seperti kartu lebaran juga sejak adanya SMS ,peminat kartu lebaran semakin turun drastis,dalam bisnis perubahan adalah suatu hal yang pasti
sluman slumun slamet | 05 05 2008 @ 11:31:48
hahahahahaa….
yah terkadang negliat para pejuang potografi ituh lucu juga, main jeprat-jepret…
tapi saluut untuk perjuangan hidupnya!
Silly | 05 05 2008 @ 11:14:21
Wakakakakak, haduh paman, kenapa posting iniada sich, mengingatkan saya akan ketololan saya beberapa waktu yg lalu.
Ceritanya saya ikut-(ikutan)demo di bundaran HI. Nah, karena mungkin saya dianggap cukup manis (entahlah, bukan salah saya dong, :D ) tukang foto kelilingnya pada motret2in saya. Saya yang memang NARSIS merasa harus memberikan POSE yang terbaik dong (secara saya pikir yang moto ini.. WARTAWAN), eh, gak tahunya… bubaran Kampanye, tukang2 fotonya pada nyamperin saya, ada yang megang 5 ada yang 7, paling kurang 3 lbr… Waduhhh, mana bawa duit seadanya lagi, saya minta maaf dong, gak bis a beli semua (lahhh, sapa suruh moto gue mulu, gue pikir situ wartawan, hahahaha…)
Haduh, posting ahhhh… :)
**buru2 pualng ke rumah silly**
mikow | 05 05 2008 @ 9:13:48
jadi inget waktu demo wong² ygy di gedung dpr senin kemarin, ada juga yg bginian dan laku keras :)
rumahkayubekas | 05 05 2008 @ 8:22:33
satu dari sekian ‘pejuang hidup’ tanah- air yang semangatnya layak dipuji.
Ada baiknya barangkali kita manfaatkan jasanya. Karena disamping tidak harus repot2 minta tolong teman untuk potret diri kita, juga seringkali pengambilannya diluar yang kita duga.
any | 04 05 2008 @ 21:10:09
eh paman, foto begitu ternyata juga ada di acara serius lo. saya pernah nemu di acara pertemuan parlemen internasional gitu. saya bener-bener gak nyangka. level internasional gitu lo.
bangpay | 04 05 2008 @ 14:47:37
wah pas kemarin malah lagi bergaya buat dipoto temen, eh ujug-ujug ada tukang poto polaroid kegeeran langsung memotret saya trus minta bayaran…
rong puluh ewu je…
latree | 04 05 2008 @ 13:50:52
hebat ngga sih orang yang bisa surfive begini?
@pengikut setia: trus hasil jepretan dia kau beli tidak?
Mas Kopdang | 04 05 2008 @ 2:09:49
lebih baik disempan saja..
kalo sabar, mbesuk mungkin malah terjual mahal…
karena dicari untuk selempitan halaman buku otobiografi bila si obyek sudah senja nanti..
:D
anno' | 03 05 2008 @ 23:37:10
yup..gw juga liat2 juga pa muka gw keliatan lebih cakep di fotonya ato gak….wekekekke
Fiz | 03 05 2008 @ 23:36:52
Jujur saya merasa kasian kepada mereka Paman. Dari berpuluh2 jepretan, selanjutnya hanya beberapa lembar yang terbeli para wisudawan. Hasilnya?? Bagus. Kasian?? Ya. Beli?? Tidak…. :D
sultan yohh | 03 05 2008 @ 18:06:14
Di Batam, pemotret tanpa order ini malah berbekal kamera digital, laptop, dan pastinya print digital.
Seminar-seminar orang “Pusat” yang gemar digelar di Batam, jadi target utamanya.
Salam kenal dari Batam.
Bang Je | 03 05 2008 @ 18:02:54
Wah, aku sih liat dulu hasilnya. kalo cakep kubeli. Kalo jelek cuma kukomentari aja. Masa jelek dibeli kan rugi(Memang dasarnya jelek ding hehehehe)
Bang Je | 03 05 2008 @ 18:02:23
Wah, aku sih liat dulu hasilnya. kalo cakep kubeli. Kalo jelek cuma kukemntari aja. Masa jelek dibeli (Memang dasarnya jelek ding hehehehe)
pengikut setia | 03 05 2008 @ 14:12:16
saya suka dengan profesi ini, kadang saya minta tolong dan menolong mereka, mengambilkan foto kami. Satu dengan kamera milik saya, satunya nya dengan foto miliknya. Jadi saling membutuhkan.
edratna | 03 05 2008 @ 13:20:38
Serba salah, kalau tak beli, wajah kita kan udah terpampang…..padahal kalau dibeli, paling juga cuma digeletakkan.
andra | 03 05 2008 @ 12:28:54
pemotret sekarang ini harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan penghasilan. Sejak perkembangan teknologi dunia digital dan handphone memiliki megafixel tinggi, tampaknya akan ”membunuh” para pemotret seperti yang dituliskan paman tyo…
galih | 03 05 2008 @ 11:12:24
saya selalu kagum pada kehandalan fotografer-fotografernya. bisa bereaksi dengan cepat dan sigap. padahal kameranya analog. tanpa live preview mereka bisa menghasilkan foto berkualitas bagus.
dhany | 03 05 2008 @ 7:16:47
udah dipajang
tak usah dibeli..
siapa tahu ada pemandu bakat foto model lewat..
mpokb | 03 05 2008 @ 1:11:53
foto2 yg nggak terbeli itu dikemanakan kira2 pam? jadi inget film-nya robin williams. spooky..
Aa Nata | 03 05 2008 @ 0:21:35
Solved Paman! ketemu di http://blogombal.org/feed (dari Google Reader) bisa, tapi kenapa dari beberapa aplikasi RSS ga nemu ya?
Aa Nata | 03 05 2008 @ 0:12:22
Paman, sorry mau tanya, kok ga nemu RSS feeder dari blog ini ya? Aku lagi mo masukin di NetNewsWire (Mac only sorry) hehehe… udah lama bongkar pasang aplikasi sekarang mo manteng jadi pembaca aja dulu.
RSS feedernya dmana paman?
Can’t display news for this subscription because:
The feed for “http://blogombal.org/” could not be found.
Rafki RS | 02 05 2008 @ 23:38:20
Wah dapat giliran pertama komentar nih paman. Apa yang paman sampaikan merupakan potret dari tukang potret yang semakin tersingkirkan akibat kemajuan teknologi.
Tapi mungkin masih ada yang tersisa yang masih bisa mereka manfaatkan sebagai pembeda dari fotografer amatir. Yaitu keahlian mereka memotret. Kalau foto yang diambil lebih memperhatikan aspek-aspek fotografi profesional, mungkin hasilnya akan membuat si pembeli yang walaupun sudah punya foto digital, tetap akan membeli foto tersebut. Tapi pembeli yang seperti ini sepertinya juga tidak banyak.
احمد شهيدة | 02 05 2008 @ 23:31:53
Wah, saya masih merasa tertolong dengan tukang potret ‘keliling’ pas acara di Malang. Karena nggak bawa kamera, jadilah gambar saya diperoleh dari tukang potret ini dengan harga mahal.
Ya, lupa membuat kita alpa.