Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Rupiah yang Payah

Jumat, 02 Mei 2008 @ 22:04 | Komedi Indonesia

UANG DISAYANG, UANG MELAYANG.

Warung layanan cetak digital ini jujur. Meski mengesalkan dia sudah bikin disklaimer. Jadi, kalau konsumen tak suka, silakan bawa uang pas (receh). Jangan mengharapkan seribuan akan menyisakan kembalian. Belum tentu ada.

Apa yang terjadi jaringan cetak digital Ibu Kota itu hanya meneguhkan cerita lama. Rupiah semakin tak bernilai. Maka berbahagialah yang memegang euro, poundsterling, dan dollar Ostrali.

Jika menyangkut rupiah, maka Polisi Cepek pun akhirnya hanya kita piara sebagai nama. Koin Rp 100 pun semakin sulit. Kalau pun ada, masa tega sih kita memberikan hepeng cepek?

Apalagi kalau kita bicara koin Rp 50 yang nyatanya masih ada itu. Pengamen saja merengut. Kernet angkot akan mengajak berkelahi jika diberi 60 keping gocapan.

Kalau saya tak salah ingat, sampai tahun 70-an blanko pos wesel (ini pun sudah melenyap) masih menyiskan kotak sen di belakang rupiah. Padahal saat itu sen tinggal cerita.

Lantas pada awal 90-an muncul iklan (cetak) layanan masyarakat bergambar jejeran koin berbagai negeri. Untuk Indonesia, koinnya diganti permen. Headline-nya, kalau tak salah, “Inilah kelebihan uang Indonesia: bisa dimakan.” Pakde Totot mungkin punya data siapa biro iklan yang mengerjakan iklan lucu tapi sinis itu. Matari Advertising mestinya menyimpannya, karena majalah Cakram dulu memuat iklan itu.

Kita tunggu munculnya uang kertas Rp 250.000 dan Rp 500.000. Tapi kalau kedua pecahan besar itu sampai muncul, berarti usianya di dompet juga singkat. Saat itu teh botol mungkin sudah berharga Rp 50.000.

Ada 31 komentar | trackback | Depan

#31

memo | blogombal.org | Koin Enak Kita | 15 05 2008 @ 17:27:26

[…] Terima kasih untuk Totot yang telah memberikan link gambar ini ketika mengomentari tulisan di blog induk. Moral cerita: kita tidak boleh membayar dengan permen ketika […]


#30

bubba | 08 05 2008 @ 19:08:43

ah, ini pasti snappy jakarta. kalau snappy jember pasti masih nerima koin cepekan


#29

andra | 08 05 2008 @ 4:20:57

kalau butuh receh cepekan, di tempat saya kerja masih ada..

ya.. secara saya hidup di desa..


#28

Anusapati | 05 05 2008 @ 22:28:05

Jadi ingat betapa nyeseknya saya setiap mengeluarkan lembaran limapuluh ribuan. Perasaan baru tadi pagi keluar, koq sore sudah harus njedul lagi. Duh gusti paringono duit meteran-mu…hehehe


#27

sluman slumun slamet | 05 05 2008 @ 11:37:20

hemmm, gimana nasib anak cucu kita ya paman….


#26

fg | 05 05 2008 @ 10:03:41

saya suka kembalian permen, next time kembaliannya harus miz0ne. :D


#25

mikow | 05 05 2008 @ 9:12:10

wah itu dimana paman? bilangin, saya punya byk recehan tuh. kali aja mereka mau tuker.


#24

Rafki RS | 04 05 2008 @ 18:14:49

Inflasi memang memakan nilai uang termasuk Rupiah. Inflasi terparah tercatat pada tahun 1965-1966. Inflasi terparah kedua tercatat tahun 1998. Asalkan inflasi bisa terus dikendalikan di bawah dua digit, sepertinya impian paman untuk melihat pecahan mata uang Rp 250.000 dan Rp 500.000 masih harus nunggu lama.


#23

Jenk | 04 05 2008 @ 16:02:02

teman saya malah menyerang balik pelanggan ketika nota kembalian struk pembayaran tertera Rp. 10.850. Pelanggan tetap ngotot ingin uang kembalian sesuai dengan struk.

Teman saya : Maaf pak, uang receh kita lagi engga ada. (Dan permen pun lagi engga beli-pen)

Pelanggan : Pokonya saya engga mau tau.

Teman saya : yasudah. Saya kasih uang seratus rupiah. Bapak punya kembalinya engga ?

saya cuma tersenyum si empul sampe ngebul.


#22

Aa Nata | 04 05 2008 @ 11:26:23

Cerita lain, salah seorang direksi Apple pas berkunjung ke Jababeka bareng liat2 lahan disana, komentar “di berapa duit tuh rumah disini”… ~ saleswomannya bilang 500jtan… dia bilang 10rb dollaran ya? Gua bilang 50rb atuh.

Hehehehe dia juga cuma nyengir, jrit murah banget, kita bisa beli iseng…

Sial banget :D


#21

Aa Nata | 04 05 2008 @ 11:23:59

Hehehe, ada kejadian seorang mitra singapore datang ke indon dan nongkrong di bar bareng, terus ngasih tip…

yang dikasih tipnya ngedumel, buset pelit amat mungkin gitu katanya. gua tanya lu ngasih berapa? 3000 rupiah bukannya 5 dollar? katanya? jrit kata gua itu cuma 50 cents…

doi langsung nyengir bilang “Yaloohh, I’m chaos man… too many zeroes I’m confused :P “… nasib jadi negeri bermata uang katrok wakakaka


#20

Fiz | 03 05 2008 @ 23:42:04

“Saat itu teh botol mungkin sudah berharga Rp 50.000.”

…. dan saya selaku yang punya dompet sudah jadi fosil… :D


#19

Mas Kopdang | 03 05 2008 @ 22:36:05

per 17 Mei bila Mas Boed yang mimpin, rupiah masih aman…
apalagi nanti saya yang dapet giliran, uang cepek bergambar wayang bisa buat beli pulsa bicara jam-jaman..

bukan karena rupiahnya yang menggeliat, namun sekadar harga pulsa -nya yang makin gak ketulungan!

kekekekekek…


#18

totot | 03 05 2008 @ 19:54:09

Iklan bikinan MACS909, Bos. Stevie pernah tiga tahun di sana, tapi kayaknya bukan dia yang bikin.

http://www.macs909.com/mac909site/koinok.jpg


#17

malinda | 03 05 2008 @ 18:03:04

iya nih… recehan 100-an yang saya kumpulkan dari masa silam serasa tidak berguna…

mau dibawa-bawa… berat dan berbunyi cring-cring-cring
disimpan aja… takut inflasi lagi
dikoleksi aja kali yah, siapa tau jadi uang langka n harganya mahal wekekeke…


#16

pengikut setya | 03 05 2008 @ 14:22:54

Untuk belanja nyamannya pake debit, soalnya bawa rupiah sebesar 200 USD aja saat belanja bikin dompet menggelembung, berdiri gak nyaman, dibawa duduk ngeganjel.

~~~

Soal nilai mata uang agak repot dikotak-katik, perlu keberanian maha dahsyat dari BI. Maka saya setuju ada pecahan 500rb dan 1 jt. Biar simple aja bawa-bawanya.


#15

bewe | 03 05 2008 @ 14:14:29

Kalau uang receh Rp. 50,- di Manado masih disayang Oom. Soalnya tarif angkot di Manado Rp. 1.750,-.


#14

Mihael Ellinsworth | 03 05 2008 @ 13:38:28

Pribadi, kalau mata uang berdigit enam itu sampai keluar, hanya akan mengukuhkan “fakta” kalau nilai tukar Rupiah itu kecil. :(


#13

edratna | 03 05 2008 @ 13:22:46

Saya masih punya uang koin Rp.100 an…juga bingung mau dikemanakan….karena tukang parkir lebih suka pakai uang kertas seribuan


#12

andra | 03 05 2008 @ 12:48:44

terkadang si penjual juga tidak benar, uang kembali kita diberi permen, toh ketika kita memberi permen untuk mencukupi biaya belanja mereka nggak mau… (kayaknya Bank Indonesia) mesti mengeluarkan permen bermerk dan berlogo legal untuk dijadikan uang…


#11

r | 03 05 2008 @ 10:26:50

aku pernah dijutekin si mbak kasir, gara-gara waktu dia mau kasih kembalian permen, kebetulan aku punya logam Rp. 50 yang menggenapkan jumlah belanja…
kesian duit gocapan ituh….


#10

dhany | 03 05 2008 @ 7:15:49

cara meningkatkan omzet…
beli lagi dong…


#9

Silly | 03 05 2008 @ 4:02:42

Ahhh, jadi teringat ketika saya akan masuk toll lingkar luar dan saya harus membayar sebesar Rp 11.500 rupiah. Bukan nilainya yang menarik, tapi… MASYAOLOHHH, SAYA LUPA BAWA DOMPET!!! Beruntung tas saya ini kantong DORAEMON, jadi tiap terima kembalian receh saya lempar langsung ke tas. Saya tuang isi tas saya, kumpulin semua receh. Saya butuh waktu sekitar 7 menit untuk menghitung :D
Waktu bayar ke “tollgirl”-nya, saya bilang maaf ya mba, duitnya kecil2. Mulai hitung, 1,2,3,4,5,6,7,8,9..seribu,
1,2,3,4,5,6,7,8,9..dua ribu,
Ehhh, si mbak gak sabar langsung bilang, udah mbak gak usah diitung, percaya aja deh, hahaha, mbaknya gak kuat ngeliat hmpir smuanya CEPEAN :D


#8

Hedi | 03 05 2008 @ 2:19:19

biasa jadi uang receh masuk kotak pajang para kolektor


#7

mpokb | 03 05 2008 @ 1:03:21

ongkos bikin duit lebih mahal daripada nilai duitnya, kali yak?


#6

samsul | 03 05 2008 @ 0:00:48

saya punya banyak di celengan nih paman. kalo bayarnya pake recehan boleh kan?


#5

Rhino | 02 05 2008 @ 23:31:08

De facto, matauang kita adalah ribu-rupiah. Kalau saja ini diakui, berapa besar nilai presisi (teknologi) kalkulator akunting yang dapat dihemat, atau betapa sederhananya mengajar anak SD kita berhitung praktis ketika kita berbelanja di warung atau minimart.


#4

احمد شهيدة | 02 05 2008 @ 23:28:14

Di Malaysia sen masih dipake. Satu ringgit buat ongkos naik bis. 3 ringgit makan siang. kalau di kampus bolehlah RM 1.5. Jadi nggak kebayang kalau kita menyebut jutaan, karena di sana sangat besar nilainya.

Kita memang bangsa yang besar, bukan?


#3

Nayantaka | 02 05 2008 @ 23:17:51

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah jiran, mendadak jadi kere paman. Lha biasane nyekel juta-juta, sekarang cuma nyekel ribu-ribu saja, atau bahkan cuma ratus-ratus saja. Guyonan orang sini, cara termudah jadi jutawan, pergilah ke Indonesia.


#2

mbakDos | 02 05 2008 @ 22:51:39

nanti saya berikan aja celengan saya pada mereka ya… banyak tuh yang isinya lima ratusan…


#1

lexi | 02 05 2008 @ 22:18:52

Paman, zaman ketika uang kuliah satu semester Rp 12.000,00, rasanya baru kemarin lewat. Iya, Rp 12.000,00 itu sudah semua, untuk kuliah dengan 24 SKS. tak ada lagi uang ujian, praktikum, dan entah apa lagi yang bikin (orang tua) mahasiswa sekarang pusing tujuh keliling.
Waktu itu, biaya kos setahun masih ada yang Rp 50.000,00. Iya Rp 50.000,00 setahun. Sekarang, rasanya, sudah susah mencari sewa kamar yang Rp 50.000,00 per bulan….