Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Hemat Energi (Kalau Bayar Sendiri)

Rabu, 07 Mei 2008 @ 16:27 | Komedi Indonesia

LEBIH KUAT MANA: KAMPANYE ATAU MENGALAMI SENDIRI?

meteran listrik

Hemat energi, hemat biaya. Itu kata kampanye. Semua orang mengamini dalam lingkup pengetahuan umum. Soal praktik, itu lain perkara. Lha iya, wong bergantung pada siapa yang menanggung biaya.

Seorang suami selama bertahun-tahun berkewajiban membayar biaya air minum, telepon, dan listrik. Keluhan bahwa tagihan cenderung naik, bukan hanya karena tarif tetapi juga konsumsi di keluarganya, selalu ditanggapi si nyonya dengan, “Oh ya? Masa sih, Pa? Habis gimana lagi dong, Pa…”

Suatu kali sang suami disekolahkan ke negeri lain. Segala tagihan rutin diurus nyonya. Konsumsi telepon dan terutama listrik turun, tinggal 70 persen dari biasanya.

Tanggapan suami ketika dilapori istri — dengan menirukan “Oh ya? Masa sih, Ma?” — berbuah cubitan karena dianggap meledek.

Ada cerita lain. Di sebuah perusahaan, seorang kepala unit yang beberapa kali pindah lokasi gedung dianggap rewel oleh bagian teknik. Penyebabnya, dia selalu minta penambahan saklar.

Dengan begitu, lampu di ruang rapat yang tak terpakai, dan juga di ruang lain, dapat dipadamkan. Sebelumnya semua panel saklar ditaruh terpusat. Dua meja butuh terang, yang menyala seluruh ruang.

Tak pernah terukur seberapa banyak penghematan yang telah dicapai, karena tagihan setiap bulan tetap, angkanya konstan, ditentukan oleh anggaran tahunan.

Mas Tespen Bawatang bilang, “Buat apa kita irit tapi selisih hasil penghematan nggak jadi duit buat kita?”

Mestinya dia menanya bagian keuangan, supaya tahu bahwa bonus dan THR lancar karena penghematan. :D

Mas Karyawanto Sesukahati bilang, “Mau boros mau ngirit, tagihan juga tetap, lagian bukan kita yang bayar kan, Bos?”

Kalau mendengar itu, orang keuangan mungkin akan bilang, “Mulai besok gaji sampeyan dipotong buat bayar listrik. Mau?” Lha iyalah, lebih gampang menyunat gaji ketimbang kasih kompensasi.

Maka lihatlah, yang namanya penghematan hanya kentara kalau ada kampanye dan imbauan — apalagi ada rencana pengawas konsumsi energi di setiap instansi.

Setelah itu semuanya kembali kepada kebiasaan. Kalau merasa tak ikut bayar, buat apa mematikan lampu dan AC yang tak terpakai?

Tapi Mas Opisboi sebuah kantor pernah kebablasan. Setiap menjelang pulang dan mengunci kantor dia cabut colokan kulkas dan dispenser, lalu mematikan AC di ruang dokumentasi foto (plus server).

Bukan salah dia. Tak ada prajurit bodoh, begitu kabar dari tangsi. Yang ada hanyalah komandan yang bego.

Sang komandan pun membela diri, “Bukan bego! Kurang ajar kamu ya! Cuma nggak sempet aja ngurusin remeh-temeh gituan. Tau?”

mobil toyota tanpa bbm

© Foto gerobak: entah. | © Foto meteran listrik: blogombal.org

Ada 31 komentar | trackback | Depan

#31

boim lebon | 14 05 2008 @ 0:53:37

“hemat energi, hemat biaya”
“hemat biaya, ga usah pake apa2″
kyknya jargon ini yng harusnya di terapkan di indonesia…he..he..salam kenal


#30

sahrudin | 10 05 2008 @ 12:19:48

Ya…hemat lagi…hemat lagi…
dah susah suruh berhemat….gak disuruh aja sudah hemaat….
Nih gratis…Rahasia meninggikan badan…
- gratis akses internet…
http://www.tiphit.wordpress.com


#29

mbaung | 10 05 2008 @ 11:45:12

Ada desa yg sudah mandiri energi di dekat Parungkuda Sukabumi. Masyarakat menggunakan kincir air sederhana untuk membangkitkan listrik untuk keperluan sehari-hari. Ini terjadi karena listrik PLN belum masuk ke desa tsb. Mungkin karena infrastruktur belum memungkinkan, jadi tiang2 PLN belum bisa dipasang.

Karena pada ulangtahun ke-75 nanti PLN akan menjadikan 100% Indonesia teraliri listrik, maka desa mandiri energi tersebut dipaksa untuk memakai listrik PLN. Inisiatif warga yg menggunakan listrik murah, hemat, dan ramah lingkungan tsb harus dimusnahkan dulu demi suatu ambisi. Belum lagi beban puncak pemakaian listrik yg akan semakin berat.


#28

infogue | 10 05 2008 @ 10:31:42

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://energi.infogue.com/hemat_energi_kalau_bayar_sendiri_


#27

Laks | 09 05 2008 @ 12:01:32

koq bisa meteran listrik baris gitu ya paman? baru liat


#26

fg | 09 05 2008 @ 10:53:36

kesian sapinya :(


#25

samsul | 09 05 2008 @ 6:33:09

ternyata toyota bikin varian toyota sapi yah? kalo kijang kan kenceng larinya, kalo yg sapi ini paman udah coba? :-)
btw, emisinya yg di dashbor depan itu yg bikin ga kuat


#24

bubba | 08 05 2008 @ 19:32:37

di negeri yang super boros ini, kalau mau hemat energi bisa dianggap gila, pakdhe…


#23

arimurti.com | 08 05 2008 @ 17:53:39

yang belum berkeluarga dan punya 2 anak pasti tulisan ini gak begitu pengaruh….:D


#22

adithz | 08 05 2008 @ 15:37:18

renewable energy masa depan: matahari, air, angin…..

mengelolanye g tau deh….


#21

isdiyanto | 08 05 2008 @ 13:44:31

harus pinter-pinter ngirit lah…


#20

Fiz | 08 05 2008 @ 12:34:21

Untung ngeblog kali ini pake fasilitas kantor…. :D


#19

kwak kwik kwek | 08 05 2008 @ 10:47:27

Bumi smakin tuwa..energinya dah kembang kempis, ya harus dihemat biyar selamat :D


#18

stey | 08 05 2008 @ 10:06:59

saya sebagai orang keuangan mendukung postingan ini!ya betul banget paman, kalo ga mengalami sendiri emang kita ga tau kenapa kita harus menghemat..


#17

Rafki RS | 08 05 2008 @ 10:05:12

Yah, mungkin sudah sifatnya manusia. Kalau belum merugikan diri sendiri, fikirannya cuma satu: ‘emang gue pikirin’.


#16

latree | 08 05 2008 @ 9:42:57

ya… paling nggak kita mulai dr diri sendiri, walaupn cuma berlaku di rumah. daripada udah di kantor boros, di rumah juga boros….


#15

adipati kademangan | 08 05 2008 @ 9:32:11

listrik terus dihemat, tapi perumahan dan mall terus dibangun dan dibangun. sampe kapan kita bener2 menghemat listrik ?


#14

Erwin | 08 05 2008 @ 8:48:22

Blog paman ini kebetulan judulnya sama dengan blog saya yang dibuat kemarin, intinya sih di kantor saya mulai dijalanin penghematan energi sampai-sampai lampu neon harus dikurangi setengahnya. Sekarang bekerja pun jadi agak remang-remang, semoga semangat kerjanya tidak ikut meredup.


#13

Hemat Energi (kalau bayar sendiri) « yoyo on the web ++ | 08 05 2008 @ 7:30:10

[…] Terima kasih untuk Paman Tyo […]


#12

Ahmad Sahidah | 08 05 2008 @ 6:10:21

Saya tinggal di asrama mahasiswa. Dengan RM 120 sebulan, saya bisa seenaknya menggunakan listrik dan air, tapi saya berusaha untuk tidak melakukannya.

Mematikan lampu, alat elektronik dan lain-lain adalah bagian ibadah dan tanggung jawab.

Duh, kok jadi narsis sih?


#11

andra | 08 05 2008 @ 4:43:59

swadaya energi, gimana caranya..?? bikin PTL (Pembangkit Tenaga Listrik) sendiri..??


#10

Aris | 08 05 2008 @ 1:53:07

Utk hemat energi, coba deh ikuti langkah Pemkab Bantul, mengganti komputer desktop dengan laptop.


#9

riosadja | 08 05 2008 @ 0:35:55

hemat listrik berarti jarang ngeblog dong…


#8

sluman slumun slamet | 07 05 2008 @ 21:33:46

potonya ituh lho paman….


#7

Abihaha | 07 05 2008 @ 21:03:39

Coba kapasitor penghemat itu pakdhe? Di saya bener lho, hemat bayar 20% dengan pemakaian tetap.
Hemat energinya? mbuh… sejauh ini yang penting hemat bayarnya.


#6

Rian | 07 05 2008 @ 20:45:07

Tahukah, Kota Tarakan telah memecahkan rekor “biaya listrik termahal” se-Indonesia


#5

ebong | 07 05 2008 @ 19:29:31

Ya susah, wong warga seisinya pada boros, ………boros energi, boros korupsi, boros subsidi, sampai ketempat ibadah boros. kota amal banyak isinya dikit heheheh boros tdk pada tempatnya halah


#4

Yoyo | 07 05 2008 @ 18:58:13

Biaya energi sudah masuk ke perhitungan Harga Pokok Produksi yang mempengaruhi Harga Pokok Penjualan, perusahaan masih ada untung, dengan catatan, perhitungan HPProduksi-nya bener, hehehe……


#3

Mbilung | 07 05 2008 @ 18:28:03

@daustralala: lha dalam uji emisi, yang diuji apa yang dikeluarkan sapinya, bukan apa yang bisa diperbuat dengan keluarannya itu.


#2

daustralala | 07 05 2008 @ 17:21:08

@Luwak, justru metana dari kotoran sapi bisa dibuat biogas.


#1

luwak | 07 05 2008 @ 16:43:10

ah, nggak jadi kost di betawi deh, takut ngabis2in air tanah orang betawi :P
btw, maap, kewan pemamah biak itu gak lolos uji emisi, karena penyumbang besar gas metana, juragan paman.. =’.'=