Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Atas Nama Rakyat

Kamis, 08 Mei 2008 @ 20:39 | Komedi Indonesia

APAKAH DEMOKRASI BERARTI MAYORITAS BOLEH APA SAJA?

Mobil yang keren. Modifikasinya bolehlah. Tema visualnya sangat Hanura. Mungkin bukan milik partai tetapi kepunyaan seorang kadernya. Tentu inilah mobil untuk rakyat. “Hanumpaki rakyat,” kata sobat saya yang wong Yoja.

Memang makin terasa ancang-ancang untuk pemilu tahun depan kian kencang. Datanglah ke beberapa tempat layanan digital yang bagus. Ada saja order untuk partai. Itu baru yang tampak, karena ada di hilir. Saya tak tahu apa yang ada di hulu, yaitu anggaran.

Entahlah berapa anggaran untuk bikin partai terutama biaya operasional lima tahun pertama. Kalau cuma bikin sih mungkin cukup ke notaris lalu mendaftar ke pemerintah.

Apa pun nama partainya, dari cap gurem sampai cap dinosaurus, sebagai mesin politik mereka butuh bahan bakar dan pelumas yang bernama uang.

Di satu sisi, kemarakan partai ini menyenangkan. Tersedia banyak pilihan. Bahwa ternyata kalau semakin banyak akan semakin riuh, sehingga pemenang pemilihan apapun tak menang mutlak, karena kalau lawan bersatu akan jadi mayoritas, yah itu apa boleh bikin. Sekolah hidup bernama demokrasi kadang menyebalkan.

Lebih menyebalkan lagi ketika partai-partai itu, atas nama rakyat, melalui wakilnya di parlemen, akhirnya hanya menyandera kepentingan banyak orang. Pakai main suap dan peras pula. Hayah.

Situasi macam itu bisa melahirkan keputusasaan sehingga muncullah kerinduan akan hadirnya diktator berhati malaikat, yang tidak demokratis tapi menyenangkan, bisa menjamin pangan dan bahan bakar tetap terbeli. Revolusi tangsi atau revolusi embuh, itu tak penting. Impian lebih utama ketimbang cara?

Dengan segala kesontoloyoannya, partai-partai itu tetap kita butuhkan. Demokratisasi, sebagai proses, memang melelahkan, bikin gondok, tapi yah jalan itu harus kita lalui. Kalau ada yang tak beres ya kita teriak (dan semoga didengar). Selebihnya, kalau masih gusar, kita boikot saja.

Ehm, itu tadi memang pikiran naif. Yah hak sayalah untuk naif. :D

Itu sebabnya saya, yang bukan warga Bandung, mendukung langkah Adinoto yang pengin jadi walikota. Salah satu alasan adalah karena dia bukan orang partai.

Bahwa perjuangan dia berat, kalah start pula, bagi saya yang lebih penting adalah spiritnya, untuk tidak memasrahkan diri kepada partai. Penyebaran spirit itulah yang lebih utama.

Tentu bisa ada hipotesis muram, yang bukan merujuk ke Adinoto, yaitu: bagaimana jika calon independen yang kuat ternyata adalah kekuatan yang antidemokrasi (misalnya sektarian, tidak memberi hak hidup kepada minoritas) tetapi menang melalui jalan demokratis, dengan pembenar utama vox populi vox dei yang kadang tak lebih dari tirani mayoritas?

Demokrasi, Saodara. Demokrasi. Memang pelajaran tiada henti. Inilah eksperimen sejumlah orang yang menjanjikan kemerdekaan.

Sayang, yang sering terlewat dari pendidikan ini adalah kemerdekaan yang mencukupkan pangan-sandang-papan itu mestinya tak mengganggu dan tak merugikan kemerdekaan orang lain.

Utopis? Barangkali utopia adalah candu yang membuat kita berani menjalani kehidupan.

Salam gombal, Sodaraku.

© Foto: blogombal.org

Ada 47 komentar | trackback | Depan

#47

sibori | 24 06 2008 @ 15:34:02

teknologi udah maju ,kok korupsi bisa ga ketahuan ya ? apa kita2 ini emang suka melihat para pejabat negara itu korupsi sama seperti kita nonton sinetron ?(ga nyambung, sambung sendiri aja)


#46

bubba | 15 05 2008 @ 20:38:53

iya ya? mending pake sistem kerajaan aja ya pakdhe? seperti jaman majapahit dulu kita lebih maju


#45

leksa | 14 05 2008 @ 16:31:20

jadi teringat pengalaman saya bertemu kader muda HANURA setahun lalu..

seorang DJ dan sangat gaul sekali..

Mungkin memang begini proses kampanye anak muda mereka, paman…


#44

andra | 12 05 2008 @ 11:57:49

“Hanumpaki rakyat,”

bagi saya itu bermakna, bahwa partai itu menggunakan masyarakat..

artinya, apa yang mereka kerjakan, lakukan adalah “menggunakan” rakyat, ya.. tentunya demi kepentingan mereka sendiri..

itu lah politik tikus..

saya pilih partai lain..


#43

edratna | 12 05 2008 @ 7:44:52

Paman ada-ada aja…ketemu mobilnya dimana? Ngejreng ya warnanya….dari jauh udah pasti terlihat.


#42

aRuL | 11 05 2008 @ 19:54:12

bukan promosikan ini :D hehehe
semoga harapan2 itu tercapai :)


#41

kwak kwik kwek | 11 05 2008 @ 13:30:16

what? “Hanumpaki Rakyat”? Wahahaha.., bagoooos, Man!


#40

panggiring | 10 05 2008 @ 22:39:35

my opinion about kepemimpinan negeri ini.

http://alasroban.web.id/2008/03/08/pingin-makmur-pilih-pemimpin-yang-benar/


#39

jenk | 10 05 2008 @ 19:35:17

jadi inget lagu idealismenya Iwan Fals….Jangan Bicara.


#38

Donny Verdian | 10 05 2008 @ 17:52:43

Saya membaui… hmmmmmh sesuatu dari masa lalu yang sangat kita rindukan, ORDE BARU :)


#37

Update PageRank dan Kiriman dari Paman Tyo » aLix wiJaya . Com | 10 05 2008 @ 14:00:59

[…] keperluan kirim barang dan alhamdulillah kemaren barang dah nyampe ditangan aLe Terimakasih buat Paman selaku pemilik […]


#36

rani | 10 05 2008 @ 13:57:44

monarki konstitusional nampaknya menarik dan menggoda :D


#35

Parta | 10 05 2008 @ 13:42:05

tapi apa bisa independent maju tanpa partai ???

nunggu paman yang dipilih aja laah…


#34

Parta | 10 05 2008 @ 13:41:11

tapi apa bisa independent maju tanpa partai ???
nunggu paman yang dipilih aja laah…


#33

oesoep835 | 10 05 2008 @ 12:51:55

Pamaaaan Tyooo….
apa kabaaaarrr ??


#32

Aris | 10 05 2008 @ 12:43:15

Paman Tyo, maaf ya kalau saya enggak sempat memberitahu sampeyan ttg keberadaan mobil saya tsb.

*kabuur naik mobil HANURA


#31

paman tyo | 10 05 2008 @ 10:06:13

Terima kasih untuk semua tanggapan. Foto mobil itu asli. Metadatanya ada. :) Saya memergokinya di sebuah tempat di Jakarta Selatan.


#30

Okta Sihotang | 09 05 2008 @ 21:14:42

wah..sepertinya dagh bisa buat parpol negh ;)


#29

sluman slumun slamet | 09 05 2008 @ 20:39:51

HANURA, hati nurani tentara ya paman.


#28

bumisegoro | 09 05 2008 @ 16:31:00

kalo biasanya kampanye rame-rame naik mobil dengan bak terbuka atau yg preman naik di kap mobil. masalahnya, boleh ga ma yg punya mobil ini?


#27

Qky | 09 05 2008 @ 16:09:06

Kapan Partai GOMBAL “sempat” terbit?


#26

andrias ekoyuono | 09 05 2008 @ 14:23:07

Ini asli atau hasil olah digital ? Tapi memang partai itu didanai oleh orang2 yang saya percaya punya dana yang lebih dari cukup


#25

vansya | 09 05 2008 @ 14:15:29

Entahlah, paman, nggak kebayang kalau ketua parpol yang memiliki mobil seharga miliaran rupiah itu makan nasi aking.

Harga mobil itu mungkin setara dengan 1.000 ton beras. Kalau dibagi kepada kaum miskin, 1 kk dapat 50 kg (untuk makan sebulan), maka ada sekitar 20 ribu kk yang terbebas dari makan nasi aking, minimal selama 1 bulan. Itu kalau mereka ngasih bantuan berupa ikan.

Kalau mereka kasih bantuan dalam bentuk pancing, mungkin lebih sedikit yang menerima, katakan 2 ribu kk a Rp 2,5 juta. Tetapi, uang sebesar itu, bisa jadi modal usaha. Keluarga miskin itu tentu lebih lama lagi terbebas dari makan nasi aking.

Mungkin sang ketua parpol bisa berkilah, urusan kaum miskin itu tugasnya pemerentah. Itu (sebagian) ada benarnya. Tetapi, O lala, kalau belum memerintah saja sudah memamerkan kemewahan begitu rupa, apa yang bisa diharapkan rakyat miskin kalau orang itu berkuasa?

Mungkin sang penguasa itu akan dengan jumawa menyaksikan rakyat miskin makan nasi aking dari balik kaca Ferari.

Paman, saya tidak punya preferensi politik. Dan, saya, setuju berat dengan sikap paman, kita harus dukung calon independen, bukan hanya untuk walikota, bupati, atau gubernur, tetapi juga presiden dan wakil presiden.

salam kenal.


#24

aditio | 09 05 2008 @ 12:06:39

mobil e apik ik…

golput aja lah…. ben kapok partai2 ne… duitnya diterima aja tapi.. cekakaka…..

kita harus nunggu satu generasi lagi kali pak… gembongnya dah mangkat tinggal kroni2nya nih…. semoga pada cepet modar juga…. biar gimana mereka kan juga didikan wong sing wis modar…


#23

Laks | 09 05 2008 @ 11:59:19

ya politik ya paman? ya gini2 aja mah indonesia memang


#22

evi | 09 05 2008 @ 9:55:06

wow…keren banget mobilnya.
sepertinya partai ini emang punya orang-orang kaya ya…? seperti tetangga komplek sama orang partai itu juga, mobilnya keren-keren dan semuanya berplat 1 digit aja.


#21

Erwin Baja | 09 05 2008 @ 9:54:26

Paman, kok saya melihat isi tulisannya rada kurang mendukung judul ‘..Mayoritas boleh apa saja’. Hanya di line / para ke-12 dari atas saja yang bicara soal ini.

Terlepas dari itu, bicara pemilu saya sudah dari beberapa tahun lalu golput termasuk dengan pilkada. Sudah apatis karena janji2 palsu baik calon eksekutif maupun legislatif..


#20

adipati kademangan | 09 05 2008 @ 9:39:09

yang penting saya dan jutaan rakyat endonesah bisa makan, punya pakaian, punya rumah bagaimanapun caranya.


#19

ebong | 09 05 2008 @ 9:21:21

Mau demokrasi, demo aksi, semuanya sama saja.
Kalu tatanan masyarakat sudah rusak yg tinggal menunggu ke hancuran.
yang ada kepentingan.
dimana kepentingannya terakomodir ya sdh rakyat di tinggalkan.
semerawutnya negara ini seperti melihat kemacetan lalu lintas di jakarta.
Pejabat seenaknya jadi rakyat susah diatur.
Korupsi dimana mana tiap detik terjadi korupsi.

Jangan jangan mobil Hanura tdk bayar pajak iklan ??? Meneketehe


#18

didi | 09 05 2008 @ 8:45:17

ahh… demokrasi!! basi! macam pake kacamata kuda aja. padahal pilihan sistem laen banyak.


#17

Ahmad Sahidah | 09 05 2008 @ 8:34:29

Demokrasi bukan segalanya, karena ia adalah yang terbaik dari yang terburuk. Ketika dulu pada zaman reformasi awal kita memilihnya, maka sekarang kita harus merawatnya. Saya masih percaya itu.

Lalu, apakah Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin dan FPI boleh bertanding di arena ini? Boleh. Silahkan. Tetapi, saya tidak memilihnya.

Lalu, jika saya pernah menjadi anggota PAN dan tahun depan berkampanye untuk PKS dan memilih SBY sebagai presiden, apakah ini masih disebut sebuah pilihan? Ya, sebeginikah sebenarnya jika idealisme ingin ditegakkan, utopia.


#16

Kartun Orang Batak | 09 05 2008 @ 8:13:02

Jadi ingat dulu PDIP bikin penutup sisi becak dari kain pakai logo mereka.

Itu kali yang diteruskan dan sekarang pakai “kendaraan rakyat” modern

:P


#15

galih | 09 05 2008 @ 7:43:45

maaf agak OOT: saya cuma mengagumi bagaimana kamera saku bisa mengisolasi objek dari background seperti itu. :)


#14

Yoyo | 09 05 2008 @ 7:29:13

Kalau ada yang membentuk, saya mendukung Partai Lidah Tak Bertulang


#13

riosadja | 09 05 2008 @ 6:11:20

coblos hadiahnyaaaaaa


#12

yudhi | 09 05 2008 @ 5:02:48

coblos apel nya!
eh?


#11

edwin | 09 05 2008 @ 3:06:13

demokrasi == mayoritas.boleh_ngapain_aja # true :-)

sekarang tinggal tergantung mayoritasnya. mau garang atau mau damai. kalo minoritas mau damai sih ya dengan tampang memelas: “damaii doooonk” (seperti diperagakan mario teguh di o-channel) :-)


#10

mpokb | 09 05 2008 @ 0:04:27

suara rakyat suara tuhan? kalo itu benar2 tercapai, mestinya nggak ada yg namanya penindasan kaum minoritas seperti sekarang. dengan catatan, rakyat tidak sedang sakit lahir batin.


#9

yus aja | 08 05 2008 @ 23:07:44

Ada yang mau menghidupkan PKI paman. PKI (Partai Krupuk Indonesia)


#8

Rafki RS | 08 05 2008 @ 22:29:22

Kalau saya sih, mendukung penuh tekad Inu Kencana untuk jadi Presiden.
Begini petikkan visi dan misinya: “Visi sekaligus misi saya, Allah, saya berada di titik nol, sedangkan engkau berada di titik paling tertinggi. Artinya, semua karena Allah, dengan begitu kita akan merasakan kekuasaan Allah. Orang tidak korupsi juga karena Allah, saya memeluk istri juga karena Allah, saya tidak memeluk Maria Eva juga karena Allah,”


#7

Totok Sugianto | 08 05 2008 @ 21:52:36

mobilnya cuakep poll.. jangan2 itu olah digital paman :D


#6

fahmi! | 08 05 2008 @ 21:49:24

eh iya! mobilnya keren!


#5

Toni | 08 05 2008 @ 21:38:35

Kalau nama partainya “Gobang Gocir” kira2 mobilnya apa ya?


#4

Epat | 08 05 2008 @ 21:38:06

loh blog ini kan juga media dari sebuah partai? partai gombalan gress! huehehehe


#3

Eka Putra | 08 05 2008 @ 21:33:35

Kira-kira berapa tahun lagi sistem demokrasi ini melahirkan pemimpin2 Indonesia yang amanah? Baru sepuluh tahun sejak orde reformasi dimulai.


#2

Nayantaka | 08 05 2008 @ 21:06:20

HANURA kok plat nomornya SBY eh BSY ding !


#1

suci | 08 05 2008 @ 20:54:02

wew mo balapan om?