Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Tipografi Bangunan (Semi-)Pemerintah

Selasa, 13 Mei 2008 @ 04:48 | Selingan

KENAPA YA ADA KURANG NYAMAN DI MATA?

desain asli di taman mini

Yah, sayanya saja yang lancang dan sok tahu. Jadi maafkanlah saya. Kenapa? Setiap kali melihat papan nama pada (sebagian) bangunan pemerintah atau semipemerintah, kadang saya kurang sreg dengan tipografinya.

Contoh paling tidak enak adalah “papan nama” ruang di Sasono, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Lantas saya mengandaikan huruf itu diganti dengan yang kayaknya lebih cocok.

desain gombal di taman mini

Sejak dulu, bahkan ketika sang pelindung masih ada, dan duitnya tidak seret, seni tata aksara berbahan tembaga di tempat itu terasa wagu, kurang wangun. Apalagi sekarang, ketika tempat itu berkesan kusam.

desain asli di taman miniMemang, dulu, tahun 70-an, belum ada komputer pribadi yang bisa menghasilkan grafika vektor. Tapi nyatanya dengan mal dan skala, huruf berbahan logam di tempat lain (swasta) bisa tampil lebih rapi.

Hal sama berlaku untuk pahatan pada marmer nisan (dan prasasti). Yang warisan zaman Belanda masih rapi hurufnya. Tapi tipografi itu makin merdeka, dan semaunya, justru ketika Mecanorma, Letraset, Rugos dan kemudian komputer mulai dikenal.

Ternyata tidak ada hubungannya. Pembuat huruf asyik dengan gagasannya sendiri. Si pemesan, termasuk atasannya, juga tinggal mengiyakan. Letraset sampai komputer tadi tidak penting.

Jadi, salahkah “gaya bebas”? Tentu tidak. Masing-masing punya tempat. Jika pengemasan ulangnya cocok, maka dari street graphic pun bisa dihasilkan tipografi yang pas untuk keperluan tertentu.

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

mas kopdang | 26 06 2008 @ 11:11:05

street graphic dari tautan Om keren-keren..
mbagus!


#21

cecep | 25 05 2008 @ 18:21:50

kapan ya ada Departemen Grafiti dan Mural, hehehe pasti seru tuh gedungnya


#20

kwak kwik kwek | 18 05 2008 @ 16:53:01

Piye to Pamane, hla itu kan udah sesuai petunyuk bapak presiden? :D


#19

bubba | 15 05 2008 @ 21:27:48

aduh, pakdhe.. jangan jalan jalan ke kantor dpr ya, fontage disana uzur2 semua…


#18

froz! | 14 05 2008 @ 11:37:47

karena eh karena proyek papan nama kurang gede bajetnya paman :d


#17

riosadja | 14 05 2008 @ 9:00:44

¿ɐʎ ʞɐƃ ɟıʇɐǝɹʞ ƃuɐlıqıp ɥɐʇuıɹǝɯǝd uɐunƃuɐq ıp lǝdɯǝʇıp ıuıƃ uɐsılnʇ


#16

riosadja | 14 05 2008 @ 8:58:13

ɐıp ıuı ˙˙ǝɥǝɥ


#15

riosadja | 14 05 2008 @ 8:57:22

paman.. tipografi kebalik juga ada lho..


#14

rezzie | 13 05 2008 @ 19:50:02

Tulisan yang krom/mengkilat pun kalau
cahaya terang jadi susah dibaca.


#13

Fiz | 13 05 2008 @ 11:53:21

Dulu teman-teman sesama pembuat spanduk lukis malah mengharamkan keberadaan font yang banyak sudut ‘njilmetnya’ itu. Mereka menyebutnya Times New Harom…!!!


#12

vansya | 13 05 2008 @ 9:38:51

Mungkin, sekali lagi ini hanya mungkin, paman, para atasan dan bawahan di (semi)pemerintahan itu merasa tidak dibayar untuk mikir dan memlototi tipografi. Mereka dibayar untuk baca koran, main catur, kadang domino, games di PC kantor, atau mengebulkan asap rokok di ruang publik.


#11

kw | 13 05 2008 @ 9:25:18

maklum paman… mereka lebih fokus ke proposalnya aja…:)


#10

ebong | 13 05 2008 @ 8:55:57

Karekter asal jadi di masyarakat kita masih kental.
Yang penting ada dan jadi dari pada tdk ada hehehe


#9

stey | 13 05 2008 @ 8:51:54

saya juga mau order bisa Paman?
*ditendang juga*


#8

gagahput3ra | 13 05 2008 @ 8:47:58

Jadi inget tante saya yang baru aja bikin perusahaan tepung roti kemaren. Dia bikin sendiri logo sekaligus hurufnya pake Spidol, yang langsung diserahin ke tukang sablon plastik. Hasilnya? Amburadul banget. Dan saya gak berani kritik, jadi ya jelek2 aja sampe sekarang.

Bisa diambil kesimpulan, kerapian detail belum jadi perhatian utama di Indonesia. :D


#7

b0wo | 13 05 2008 @ 8:46:11

pakdhe kalau gambar di link ini
http://bp1.blogger.com/_34ZVvpaFARs/SCjyuWsyu2I/AAAAAAAAAGo/NJi762QEydM/s400/pic04734.jpg apakah karena masalah font? atau kern-nya?


#6

adipati kademangan | 13 05 2008 @ 7:56:03

bukannya itu pake Times New Roman


#5

neutrino | 13 05 2008 @ 7:21:29

asik kali yah kalo di bangunan (semi-)pemerintah itu pake font comic sans, hehe :D


#4

Dedhi | 13 05 2008 @ 6:57:08

Tukang bikin plat nomor depan kantor SAMSAT Yogya, atau tukang bikin Letterset dan Stempel di Jl. Demangan Yogya kayaknya lebih expert dari contoh yg ditampilkan deh :(

Sigh… pantesan buat ganti logo Pertamina dan Garuda aja kudu bayar konsultan asing mahal mahal


#3

edratna | 13 05 2008 @ 6:17:10

Jangan-jangan perkiraan paman benar…bos meminta tolong anak buahnya…dan ternyata anak buahnya sama-sama tak paham seni, seperti bos nya….duhh saya jadi introspeksi nih….


#2

sapto | 13 05 2008 @ 5:20:54

Paman, saya order buat plat nomer motor saya yah :P
*dibalang sandal karo Paman Tyo


#1

latree | 13 05 2008 @ 4:54:44

emang sengaja dibikin begitu kali… biar kesan antik….