INFORMASI KURANG KOMPLET DAN KENANGAN SAYA.

Baru hari ini saya melihat surat tagihan dari PLN. Suatu hal yang sudah lama dilakukan oleh Telkom, operator selular, dan ISP. Bagaimana surat tagihan itu? Terinci — lebih komplet daripada tagihan via SMS. Informatif? Tidak.
Saya yakin tidak semua konsumen listrik tahu rincian perhitungan dan rumusnya. Tidak semuanya mengikuti pemberitaan di koran. Tidak semuanya membuka situs PLN (semoga ada info ini). Tidak semua konsumen sadar bahwa mereka membiayai penerangan jalan umum — sehingga boleh mencak-mencak kalau pemda ingkar kewajiban.
Kalau semua konsumen seperti Dimas Priyadi, yang cermat dan tanggap terhadap segala hitungan, tentu produsen senang. Produsen tak perlu menjadi kamus, sehingga bisa langsung berdiskusi ke pokok persoalan.
Nah, usul saya untuk PLN adalah menjadikan lembar belakang surat tagihan sebagai halaman takarir (glosari). Daftar bank dan sejenisnya bisa dibikin lebih ringkas.
Dengan begitu konsumen akan paham apa yang dimaksud dengan “cicilan pemakaian kWh kurang tagih” dan “dis-insentif energi”, selain “faktor rugi trafo” dan “pemakaian kWh Blok III/kVrh“.
Uh, penuh jargon? Memang. Ada belasan. Periksalah lembar tagihan Anda. Kalau Anda paham semuanya berarti Anda well informed — atau mungkin Anda instalatur listrik yang jadi anggota DPR.
Tentu lembar tagihan ini juga punya nilai plus. Misalnya mencantumkan kurva pemakaian listrik tiga bulan terakhir. Sayang, cuma dihitung dari biaya per bulan, tak menyertakan konsumsi setrum bulanan.

Selama ini saya tak pernah mendapatkan tagihan, dan tak punya lembar bukti tagihan berikut bukti lunas. Sudah sepuluh tahun lebih saya membayarnya secara online.
Akibatnya setiap kali dimintai bukti konsumsi listrik, misalnya oleh sekolah (biasanya untuk membuktikan ke[tidak]makmuran), saya pun kelabakan. Maksimal, kalau ada, dan masih terbaca, saya hanya punya struk ATM atau cetakan dari transaksi e-banking. Bukti pembayaran via ponsel tentu akan merepotkan.
Tentang rekening listrik, saya punya dua kenangan. Pertama: sebelum membayar secara online, dulu saya memilih langsung membayar ke kantor PLN dua hari selewat jatuh tempo.
Lebih baik membayar denda daripada mengantre di loket inkaso. Di loket inkasi, selain lama, ketika nama dipanggil saya tak mendengar karena sedang membaca atau tertidur.
Kenangan kedua: saya pernah menunggak sebuah tagihan pada sebuah bulan, dan berlarut, sampai lupa, padahal bulan-bulan berikutnya beres. Akbatnya PLN mengancam mencabut sambungan listrik rumah saya.
Kenapa saya sampai terlambat dan lupa berlama-lama? ATM tempat saya membayar dibongkar perusuh, dan mesinnya digondol penjarah. Itu terjadi saat Kerusuhan Mei 1998.
Denda yang saya bayar banyak sekali. Kesalahan PLN adalah tidak memasukkan tunggakan ke tagihan berikutnya. Jawaban orang PLN yang menangani kasus saya, “Iya ya, kenapa bisa begitu ya? Namanya juga kerusuhan ya, Mas.”
Rusuh di luar, kacau di sistem dalam dong. :D





dyksa | 27 05 2008 @ 15:55:35
Sesuai aturan yang ada (UU ttg pajak daerah) tagihan penerangan jalan adalah pajak daerah.
Besarnya tergantung peraturan daerah setempat, maksimum 10% dari harga listrik yang dipakai (kalau UU-nya belum diubah, soalnya sekarang ini merubah UU kayaknya cepat)
>22
Pajak berbeda dengan retribusi, jadi nggak berarti Pemda harus nyediain penerangan jalan umum. Ini juga bukan berarti sah untuk nyantol listrik, walaupun sudah bayar pajak.
> 11
PLN nggak menyediakan service penerangan jalan umum, tapi bertindak selaku kepanjangan tangan Pemda untuk menarik pembayaran pajak dari pelanggannya. Uang ini diteruskan PLN ke Kas Daerah setempat.
dhany | 19 05 2008 @ 9:26:07
saya dah banyak bantu pabrik listrik
penerangan jalan di kampung saya pasang rame-2 pake dana pak RT.
meski listriknya mbantol sah-sah saja.
toh saya udah bayar mahal penerangan jalan.
pengikut setya | 18 05 2008 @ 23:06:22
toloooooooooooooooooooong!!! Daerah tempat tinggal saya sekarang, belum dapet saluran listrik PLN, sedih banget deh gw.
daniy! | 18 05 2008 @ 20:02:17
kalo saya biasanya ditagih ibu kost, bukan PLN!
sahrudin | 17 05 2008 @ 13:19:50
Wah….PLN makin keren aja….
Yang ini gimana yah…
http://www.tiphit.co.cc
GRATIS AKSES INTERNET
latree | 17 05 2008 @ 4:18:12
saya gak pernah urusin bayar listrik sih… dan suami juga bayarnya selalu via ATM. ga punya bukti pembayaran listrik. baru tau kalo ada ‘ini-itu’nya…
xocu | 16 05 2008 @ 22:21:28
Dikota saya PLN sudah Swasta, memang bayar gak perlu harus antri, pelayanannya juga lumayanlan (daripada PLN pusat), namun akhir2 ini mereka mulai bermasalah, Listrik byar pet 3xsehari.
Alasannya pasokan gas dari PGN macet, sedang PGN bilang kontrak dengan PLN, tidak mengikat, eh malah jatang GAS kesingapura yang lebih diutamakan oleh PGN daripada ke Batam,…..
benar emang yang namanya apapun perusahaan yang belakangnya ada “N” -nya gak pernah beres…
edratna | 16 05 2008 @ 16:32:22
Saya membayarnya lewat bank, dan kartunya udah online, ada catatan berapa pembebanannya, dan berapa biaya masih harus dibayar. Saya bayar lewat Bank, karena sekaligus untuk dua rumah, dan membayar tiap tgl. 7 agar sekaligus juga membayar telepon.
Rafki RS | 16 05 2008 @ 11:44:25
Untungnya PLN di tempat saya (Batam) berstatus khusus dan merupakan anak perusahaan PLN Pusat. Pelayanan sudah sedikit lebih profesional.
Tapi belakangan, mulai juga berulah. Byar pet kayak Bapaknya di Jakarta. Memang PLN itu sama saja, nggak Bapak nggak Anak, banyak kali tingkahnya.
Anusapati | 16 05 2008 @ 9:28:11
Lho? Saya koq belum pernah dapat surat begituan? Tahu besarnya tagihan cuma dari ATM. Jangan-jangan listrik di rumah saya bukan PLN….kabur mode on.
Silly | 16 05 2008 @ 8:59:26
“…Lebih baik membayar denda daripada mengantre di loket inkaso. Di loket inkasi, selain lama, ketika nama dipanggil saya tak mendengar karena sedang membaca atau TERTIDUR…. {gak ketawa… gak ketawa…gak ketawa)…
***
Wakakakkakakakakak… maap :D
Saya juga tidak pernah merhatiin tagihan PLN, udah berlaku belum sih, tarif progresif itu??? :(
woelank | 16 05 2008 @ 0:57:06
paling sebel dengan yg tagihan penerangan jln itu. dah dr dulu tp jarang yg ngeh.
gmn dgn perumahan diplosok yg jarak antar rumah cuma dibatasi jalan setapak dan penerangan jalan dari lampu listrik rumah masing2 yg notabene nyedot listrik sendiri.
memangnya kita bayar tagihan penerangan jalan buat jalan mana?
jalan protokol?
kenapa ga minta pemda?
mengherankan nih Pemonopoli Listrik Nyeleneh ini
sluman slumun slamet | 16 05 2008 @ 0:26:01
apa juga byar pet kayak di bogor paman?
Fiz | 15 05 2008 @ 22:54:03
Ternyata mirip-mirip penampilan google analytics ya Paman…!!!!
SayaSatria | Tika dan Cosa itu cuma Newbie | 15 05 2008 @ 22:43:03
Paman, sabar ya…
sebentar lagi PLN berubah kok…
serius…
Mohon doanya paman, saya sebentar lagi jadi Dirut PLN…
SayaSatria,
Manajer ‘Pelanggan Langganan Nunggak’
bubba | 15 05 2008 @ 21:41:25
waktu saya tinggal di australia, tagihan listrik sebulan rumah cuman sebesar honor 3 jam kerja. dibayar setiap 3 bulan sekali. padahal semuanya serba listrik; masak, bersih bersih, sampe slimutan pun pake listrik.
disini, di negara tercinta, meteran sudah diirit irit tagihan masih memusingkan kepala.. ihik
geblek | 15 05 2008 @ 19:51:56
la kalau nunggak tagihannya spt apa paman
Ben | 15 05 2008 @ 18:21:55
setahu saya sih utk surat ‘tagihan’ itu by request, bisa minta dikirim dan bisa gak. Dan itu gak gratis… :)
mpokb | 15 05 2008 @ 17:51:24
kok nggak semua pelanggan dapat ginian sih pam? btw, baru tau takarir = glosarium :)
Tresno | 15 05 2008 @ 17:19:38
Kalo saya pernah bayar dua kali dalam sebulan, pas dikonfirmasi lagi pihak PLN bilang kalo nota itu gak bakal keluar dua kali… buktinya ada dua nota, yang satu dibayar bapak saya, yang satu dibayar ibu saya…kan malah dobel huakakakakaka
yus aja | 15 05 2008 @ 17:16:42
Keruwetan PLN? kayaknya itu lagu lama dan selalu terulang,paman.
Laks | 15 05 2008 @ 17:15:00
wah ada kemajuan nih PLN, akhirnya ….