Jaminan Uang Kembali (ke… Kasir?)
KALAU SAJA TANPA BANYAK TAPI.

Berani juga kedai di Jakarta Selatan ini. Kalau makanan tak enak maka uang dikembalikan. Sayang saya belum mencobanya — karena tujuan saya memang warung di sebelahnya.
Kemarin petang itu, ketika baru menjepret saya didatangi pramusaji yang menawarkan menu. Saya lupa bertanya, apakah uang boleh kembali tanpa tapi. Maksud saya apa saja syarat dan ketentuannya.
Money back guarantee memang mengasyikkan kalau nyata. Saya pernah menjumpai seorang serdadu cepak mendatangi penjual durian, membawa sekitar lima durian hasil rakitan — kulit disatukan lagi bersama isi yang tak termakan, lalu diikat tali rafia. Si penjual menolak. Si serdadu berlalu sambil ngedumel.
Tapi rumit juga kalau syarat dan ketentuan tak jelas. Bisa saja setelah menyantap empat per lima porsi (atau 9/10), di sebuah warung si pembeli bilang, sambil bersendawa, “Ndak enak ini. Ayo mana uang saya?”
Tentang uang kembali, tanpa potongan, saya pernah mengalami. Konser yang akan saya tonton batal, dan penjual karcis via internet itu mengembalikan uang saya.
Kalau yang bukan uang? Pernah, karena masih dalam garansi, engkoh di Glodok menukar CD player rakitan (garansi toko) yang saya beli dengan produk sejenis yang baru. Saya tak tahu, setelah di-refurbish barang eks-saya itu akan jatuh ke siapa.
Untuk kamera saku, karena telat menyervisnya, sehingga melewati masa garansi, saya tak mendapatkan apa yang teman saya peroleh: kamera pengganti. Saya hanya ditawari trade in, alias tukar tambah bersubsidi.
Gampangannya, harga kamera baru, penerus versi yang discontinue, itu senilai ongkos servis. Sebuah fait accompli, tapi ya apa boleh bikin.
Masih mendingan dibandingkan kasus ponsel anyar yang ngadat tapi pemiliknya diminta menunggu sebulan lebih oleh pusat servis — dan tak dipinjami pengganti.
Apakah Anda punya pengalaman manis maupun pahit dalam soal pengembalian uang (atau barang)?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Bahasa yang has been Smackdowned itu
November 28, 2006 by AntyoDI LUAR SOAL BAHASA, KITA PERLU KEJELASAN APA ARTI “BO”. APAKAH SEKADAR MENEMANI ANAK?
Apa yang paling mengesalkan dari orang asing? Mereka nyinyir, sering mempersoalkan hal yang menurut kita bukan masalah. Dalam hal apa? Penggunaan bahasa Indonesia. Maka lihatlah foto di The Jakarta Post edisi cetak hari ini (tangkapan layar versi online [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





paman, kalo yang kena gigi uang kembali ituh syaratnya apa ya?
:d
wah asyik donk, makan aja 10 piring, ajak teman,keluarga,pacar, trus sepakat kl udah makan blg gak enak biar gratis :D oooh iya jgn lupa teman yang punya profesi pengacara,hehehe
kalau satu piring habis.. trus kita bilang gak enak apa kira2 bisa kembali duit.. ntar malah dibilang cari2 makanan gratis hehehe… :P
datang kesana pas kondisi meriang adalah pilihan tepat,
secara orang sakit selalu ga enak makan :P
tanda * nya dimana yah, kok saya ndak melihatnya
Memang mesti dibaca dulu term & condition nya….
saya pernah mang klaim kerusakan ram 512 saya ketampat saya beli dan mereka bilang akan memperbaiki secepatnya (lho koq setau saya bukan diperbaiki tapi langsung diganti) trus saya dipinjami ram 128 (toko yang aneh):p
abis makan tuh di rumah makan, kembaliannya nggak ada recehan, pake permen deh !
Metode untuk membuktikan enak atau nggak enaknya gimana toh?
ada-ada aja.
Waduh kek model kena gigi uang kembali ya Paman?
*syarat dan ketentuan berlaku* :P
Promosi yang berlebihan menurut saya. Enak dan tidaknya sebuah makanan kan sangat relatif Paman?
Bagi yang mau makan gratis boleh juga tuh. Habis makan tinggal bilang aja makanannya nggak enak. Ada nggak ya yang coba lakukan ini?
Btw, ide yang lumayan kreatif juga.
Nah lho, jangan2 makanan yang ‘nggak enak, nggak bayar’ itu juga hasil refurbish :)
Alhamdulillah tidak ada pengalaman buruk.
Pernah beli arloji mewah palsu, dipake 3 hari mati kok ya dengan mudah dikembalikan uangnya karena model yang sama habis.
Henpon juga selalu pake communicator terbaru yang bebas masalah.
N***a Communicator 1200, menggantikan M******a Communicator C115 yang baru mati speakernya setelah 3 tahun. Sudah waktunya dibuang biar mahal juga.
Sekarang aku lagi bingung, HP Nokia seri E61i punyaku kena masalah LCD nya. kata temen yg jadi teknisi di NOKIA Jogja mending buruan di servis di Jakarta
(kebetulan aku di Jkt, n garansi setahun tinggal sampe tanggal 19 Mei 2008..!!! tinggal 3 hari..)
katanya klo ganti LCD skrg masih gratis, tp klo ntar diluar batas garansi bisa kena 2-3 JUTA..!!
GILA…
cepet-cepet ke NOKIA pusat nih.
sang ini juga..!!
Di food court sebuah mall waktu di Surabaya, saya beli seporsi bubur madura. Santan dibungkus plastik terpisah. Waktu akan menyantap, saat sendok sudah di depan mulut, tangan saya terhenti. Santannya mennguarkan aroma basi. Saya minta istri dan anak membaui, dan mereka sampai pada kesimpulan yang sama: basi.
Kabar baiknya, produsen tak pakai bahan pengawet. Kabar buruknya, kerinduan mencicipi bubur madura tak terpenuhi. Apa boleh bikin, di situ memang tak ada garansi. Tetapi, saya tetap membawa bubur itu ke kasir, seraya berkata,”bubur ini basi. saya tidak minta uang kembali, tetapi saya harap ini jadi pelajaran agar Anda tak lagi menjual yang basi-basi, sehingga tak ada korban rugi lagi…”
Lalu, saya kembali ke meja, dan menyaksikan anak istri saya menyelsaikan santapan mereka.
Sekitar 5 menit kemudian, si kasir mendekati meja saya, dan berkata,”pak, kami minta maaf atas kesalahan masih menjual bubur yang sudah basi tadi. Sebagai ganti, bapak boleh memilih makanan lain, gratis…”
Saya menolak, karena saya memang ndak minta diganti. Tetapi dia ngotot. Akhirnya, istri saya yang memilih makanan pengganti itu.
Mestinya, memang ada garansi untuk mengganti makanan yang rusak. Ukurannya kan jelas. Kalau soal rasa enak atau enggak, saya kira, susah ngukurnya. Apalagi, banyak anak kos hanya mengenal dua rasa makanan: enak dan enak sekaleee…
Sebuah siang yang terik. Teman-teman SMP-ku berlarian ke kantin. Ya, biasalah. Namanya juga anak-anak. Yang dikejar pertama adalah kantin yang menjual gorengan dan lontong. Puluhan anak-anak berjubel-jubel di gerai kantin yang sempit. Penjual berupaya mengatur seabreg anak yang lapar kekurangan makan. Ada yang mengambil mendoan. Ada yang mengambil tahu goreng. Sementara dari barisan belakang ada anak yang menyerobot ingin masuk. Apa daya, badannya tidak bisa menembus barikade teman-temannya yang sedang berebut membeli makanan. Untunglah ada yang bisa menjulurkan tangannya untuk mengambil makanan. Suasana gaduh ini berlangsung sampai sekitar 10-an menit. Lima menit waktu sisa istirahat digunakan untuk membayar.
“Pak, mana kembalian uangku?” tanya temen saya, Nafi.
“Oh, uangnya berapa? Kamu makan apa?”
“Uangnya seribu. Saya makan mendoan satu, tahu satu dan lontong satu. Jadi semua tiga ratus khan?”
“Ya,” kata pak kantin sambil menyorongkan uang tujuh ratus.
“Makasih, pak!” kata Nafi sambil ngacir masuk ke kelas.
Belakangan di kelas dia ngakak karena sebenarnya dia sudah makan tiga jenis makanan, belum bayar, dan justru minta uang kembalian. Kami semua juga ketawa-ketawa puas bisa ngerjain tukang gorengan di kantin. Ah…
Ini pengalaman MANISSSS bagi kami soal “pengembalian” uang. Hahahaha…
Pernah. Bahkan belum ada sebulan. Beli sepatu, eh asesoris yg menyertai sepatu itu ada yang patah. Boleh ditukar, tapi kasihan pramuniaganya mencari sampai blusukan gudang.
Paman… ada gak yach yang garansi sebelum menikah… Kalo gak enak… situ gue balikin ke orangtuamu…
*
hehehe… makanan/minuman belum pernah ngalamin soalnya.. Secara, dalam kamus saya cuma ada ENAK dan ENAK BANGETTTT, hihihi (I always thank Him for giving me such a pleasent taste like this on my tounge :D )
itulah sulitnya menggunakan ukuran kualitatif sebagai patokan apalagi jika diterapkan di negara yang penuh dengan pengemplang yang piawai berkelit.
istri saya sekarang jualan baju dan kebetulan distributornya mau untuk mengganti baju yang tidak terjual. ato sizenya ga pas. kalo model yang dipesan ga ada, malah bisa kembali duit. UTUH…
barangnya bagus2 kok.
masalahnya, distributornya ini rada amatiran. servisnya telat mulu’. yang pusing istri saya, karena ditagih pembelinya.
disisi lain, banyak distributor yang lebih bagus dari sisi servis. tapi ga ada jaminan kembali duit ato barang.
untuk sementara ini, disabar2in aja ngadepin distributor yang satu itu. maklum, modal’e cilik.
kesana trus sudah kenyang bilang ndak enak :)) duet kembali perut kenyang dan gratis deh :)
pernah paman, waktu di banjarmasin gara-gara terhalang banjir telat checkin 5 menit dr batas 1 jam sebelumnya, tiket pesawat saya hangus. Eh beberapa bulan berikutnya dgn maskapai yang sama, saya terlantar 7 jam an delay pesawatnya, cuman dapet nasi bungkus! ngelamak bukan? kekekeke
Pernah, tapi si pedagang malah marah2. Padahal saya ngembaliin barangnya karena udah kadaluwarsa, buat kasih tahu dia supaya jangan dijual lagi. “Nanti, bapak bisa ditangkep polisi kalau yang beli produknya anak2 dan keracunan…”
istri cerewet silahkan kembali