Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Pedagodi dalam Krisis Energi

Senin, 26 Mei 2008 @ 10:25 | Komedi Indonesia

ARTINYA: SILAKAN JALAN, TUAN MENTERI!

car-free, law-free

Boleh saja, dan bagus adanya, jika menjadikan Jalan Thamrin, Jakarta, sebagai area bebas (dari) mobil pada hari Minggu. Tapi kalau Pak Menteri mau lewat, naik mobil yang haus Pertamax (Plus), ya boleh saja, karena setiap jalan adalah bebas (untuk ber-) mobil.

Itulah kesan yang saya dapat ketika mendapati The Jakarta Post tadi pagi. Sayang versi cetak hari ini belum dimuat di web, sehingga yang muncul baru gambar pertama, padahal caption-nya sama.

hemat energi, tapi tidak untuk menteri

Apa moral ceritanya? Krisis, dan kampanye efisiensi, bagi sebagian petinggi negeri hanya ilusi. Bukankah (maaf kalau saya keliru), jatah BBM dan tunjangan listri rumah dinas mereka belum disunat?

Maaf, sekali lagi bisa saja saya keliru. Bisa jadi mereka sudah mengalami pemangkasan ini dan itu. Begitu pula dengan orang-orang cerdik cendekia yang duduk di parlemen itu.

Saya teringat krismon pada dasawarsa lalu. Sebuah kumpeni besar di bidang penerbitan secara bertahap memotong sejumlah tunjangan dan fasilitas dari lapis atas.

Memang sih, orang sinis bisa bilang, “Buat opisboi, apanya yang mau dipangkas, wong cuma terima gaji dan uang makan?”

Baiklah, silakan sinis dan skeptis. Tapi bagi saya, itu sebuah pedagogi. Sayang hanya diam-diam, karena kultur kumpeni waktu itu tampaknya tak menjadikan ini sebagai hal yang patut diumumkan. Akibatnya tak banyak bawahan yang tahu bahwa bos mereka pun prihatin.

Lantas, bagaimanakah para petinggi memandang krisis? Dulu ada seorang menko kesra menganggap berita banjir hanya dramatisasi oleh media.

Kemarin, seorang petinggi negeri, yang berlatar saudagar (sehingga mestinya amat sangat khatam soal biaya), pura-pura tak tahu bahwa kenaikan BBM akan memicu pendongkrakan harga lain.

Namanya juga Republik Dagelan. Bisa saja presidennya mengkal: “Saya punya niat baik, dianggap janji, lalu diungkit-ungkit. Saya banyak berpikir, dibilang peragu. Akhirnya ketika saya tegas, bisa ambil keputusan karena banyak masukan, eh pada marah.”

pedagodi = pedagogi + komedi

Ada 33 komentar | trackback | Depan

#33

vicong | 19 06 2008 @ 17.17.38

RI 32 kalau nggak salah Menteri Sosial tuh :p


#32

pramudyaputrautama | 29 05 2008 @ 11.22.05

RI 32: Menteri dari departemen apa ya ? kok gak taat aturan. Mo maklumin kalo pak menteri ini rajin bekerja urusan dinas tapi hari minggu. Memalukan pejabat negara gak kasih teladan pada rakyat.


#31

pelintas | 28 05 2008 @ 10.44.19

Kalo ni republik punye pangkat dagelan, pusisi aye sebagei ape ye ? ah… nunggu mledagnye aje kali ye?


#30

Sluman slumun slamet | 28 05 2008 @ 9.42.33

Lho sampean ngiri? Ya mbok jadi mentri sana!


#29

pengikut setya | 28 05 2008 @ 1.31.33

jadi malu…., jawabannya ada dari link yang di kasih Paman Tyo.
Aku gak teliti nih. Thanks.


#28

pengikut setya | 28 05 2008 @ 1.29.11

Numpang tanya,
Ada yang tahu RI 32, punya mentri dari departemen apa?
Thanks sebelumnya.


#27

Beyes Kemlinthi | 28 05 2008 @ 0.14.19

Itu tandanya pak mentri pinter paman. Ingin menghirup (juga) udara segar. Yang apes, kan, yang nyepeda. Sudah ngenjot, masih harus menghirup polusi mobil pak mentri….


#26

pasar sapi | 27 05 2008 @ 16.55.54

yang disuruh ngirit kan yang premium paman..kalo yg pertamax plus ditanggung negara..hahaaaa


#25

Haris | 27 05 2008 @ 16.02.39

mungkin supaya orang sak Jakarta maklum bahwasanya pak menteri ini sungguh rajin bekerja hingga terburu-buru untuk urusan dinas di hari minggu saat orang2 sedang asyik bersepeda…


#24

r | 27 05 2008 @ 14.34.17

aah… paman… gak bisa komen apa2 lagi kalo berkaitan sama para petinggi negeri ini… cuma ngelus dada aja…
yaolooooh…..


#23

Ahmad Sahidah | 27 05 2008 @ 14.05.03

Saya mencoba belajar hemat bensin di negeri tetangga, dengan cara memanfaatkan kaki. Sekalian olahraga. Meskipun, harga bensin di sana lebih murah sekarang dibandingkan dengan Indonesia.

Apalagi, transportasi publik di sana murah dan nyaman. Ya, kita berharap pemerintah di sini memerhatikan angkutan umum agar masyarakat bisa mengatur pendapatan yang tak seberapa.


#22

dveen | 27 05 2008 @ 13.48.15

@#20 hehe. jadi inget The Flintstones.


#21

bumi sambara | 27 05 2008 @ 11.04.30

sekali-kali boleh donk pak de untuk JAPRI di Thamrin. menteri dilawan :-)


#20

aaqq | 27 05 2008 @ 2.19.18

mungkin.. sebenarnya di dalam mobil itu ada sepeda paman.. jadi geraknya tetep pake tenaga pak menteri.. ;)
mesinnya sih ditinggal di rumah..


#19

Sambalewa | 27 05 2008 @ 1.28.45

Wah, Indonesia memang diskriminatif. Yang punya jabatan tambah seenaknya saja.


#18

samsul | 26 05 2008 @ 23.52.47

lha yang di dalam mobil itu lagi ngurusi orang sak indonesia raya lho paman :-)


#17

Hedi | 26 05 2008 @ 23.35.16

seperti yang jenengan pernah bilang, pembuat kebijakan justru ga pernah merasakan pra-kebijakannya sendiri


#16

venus | 26 05 2008 @ 22.31.04

jangan berburuk sangka. mungkin beliau lagi sidak, hahahah…

mungkin gak, paman? lha namanya juga negeri dagelan kok :D


#15

Abihaha | 26 05 2008 @ 22.23.42

Tumben pakdhe, topiknya langsung menusuk masalah.
Biasane mlipir-mlipir tapi ngampleng.
Memang mangkin sulit sabar di jaman kenthir.


#14

Epat | 26 05 2008 @ 20.14.12

E..tanya kenapa?


#13

bubba | 26 05 2008 @ 19.17.39

salut saya buat pak mentri kriwil yang harus menanggung muka di televisi, mengumumkan harga BBM yang baru.
lha bosnya kemana ya pakdhe?


#12

edratna | 26 05 2008 @ 19.11.21

Mungkin memang mau ngecek, apa betul mobil ga ada yang lewat..:P


#11

ebong | 26 05 2008 @ 19.11.15

Ya negara tercinta di bolak balik mampe punyeng rakyat.
Kata kata sdh tdk dapat di percaya.
Proses pembodohan di mana mana.
Yang pintar yang pandai tdk untuk mensejahterakan yg bodoh dan yg kecil .
Mari kita lihat bersama PROSES PEMBODOHAN TERJADI LAGI ATAS NAMA SUBSIDI BBM.

sdh semakin tidak jelas pejabat . . . . ya pejabat SEHARUSNYA beda dengan penjahat, aparat YA APARAT BEDA DENGAN keparat,

mari kita saksikan proses pembodohan umat secara masal


#10

oon | 26 05 2008 @ 17.37.37

hahahaha…pak de, pak de…
eh tapi daripada tidak ditulis itu uneg², nanti malah jadi bisul


#9

geblek | 26 05 2008 @ 17.14.55

hayah masih ngomongin sandiwara di negeri antah brantah ituh paman :)


#8

fg | 26 05 2008 @ 15.31.30

hihihi lucu… :D


#7

didats | 26 05 2008 @ 13.50.01

makanya saya kabur ke kuwait paman.

sampe kapan? ya sampe itu para pejabat ngeh dengan keadaan indonesia sekarang.

lieur ah…


#6

mas kopdang | 26 05 2008 @ 13.32.35

masalah menteri punya privilej itu sah-sah saja bukan? apalagi menteri yang terbit bukan karena kompetensi..namun sekadar pulitisi.

Bukankah Romo Magnis pernah berujar: “Mencari pulitisi jujur di negeri ini, sama saja mencari perawan di sarang pelacur..”

:D


#5

diego | 26 05 2008 @ 13.08.39

ironis… mentri sosial bo’


#4

isdiyanto | 26 05 2008 @ 12.22.57

itulah mentalitas pejabat di negeri ini. sudah menjadi rahasia umum. tapi ya toh mereka yang duduk ‘disana’ pada ga sadar diri…


#3

Nayantaka | 26 05 2008 @ 11.58.21

Itu menteri sosial mau bagi-bagi sembako, jadinya ya boleh aja lewat


#2

suprie | 26 05 2008 @ 11.40.51

pemangkasan itu hanya untuk rakyat kecil aja. Pejabat yang duduk di kursi dewan mah gak mau dipangkas donk, takut gak cukup, kan kebutuhan bahan pokok naik akibat keputusan mereka , mana mau mereka merugi.


#1

empati di mana yak? | 26 05 2008 @ 10.56.01

buat sebagian orang, krisis hanyalah wacana di meja2 seminar. memperjuangkan nasib orang kecil dengan diskusi di hotel berbintang tujuh (:P), mengapa tidak?