BANYAK MENGAKU ATAU BERPELIT CERITA, ITU SOAL SIKON. :D

Setelah bertukar kartu nama dengan penumpang sebelah (ya, sama-sama naik bus malam), si kenalan baru menanya sohib saya, "Ini perusahaan apa? Kok nggak terkenal?"
Waktu itu, likuran tahun lampau, sobat saya baru menjalani awal bekerja di sebuah kumpeni besar di Jakarta. Karena masih berstatus percobaan, dia belum mendapatkan kartu nama.
Untunglah dari pamannya, tempat dia menumpang dan membantu usaha pengangkutan, sobat saya mendapatkan kartu nama. Hasilnya ya pertanyaan mengesalkan dalam perjalan mudik ke Sala naik bus malam itu. Sekarang dia mengenangnya penuh tawa pemakluman.
Tentang tempat bekerja seseorang, saya mendapatkan sejumlah pengalaman. Ada kenalan baru yang penuh semangat menjelaskan bidang usaha CV tempatnya bekerja. Ujung-ujungnya adalah, "Gini dah, Mas butuh apa, saya dan teman-teman bisa bantu. Kami ini general contractor dan ahli di bidang general trading ."
Sungguh seorang wiraniaga yang sangat percaya diri. Bagaimana dia bisa meyakinkan orang lain kalau dia sendiri kurang pede?
Namun tak jarang saya jumpai orang yang agak tertutup bahkan ogah-ogahan. Ketika ditanya bekerja di mana, jawabannya, "PT Anu."
Di bagian apa? "Ya, gitu deh. Omong-omong perumahan di sini punya angkot sendiri ya, Mas?"
Padahal PT Anu itu terkenal, termasuk pembayar pajak terbesar, dan punya reputasi bagus di bidangnya.
Saya? Dulu juga sering begitu. Merasa tak nyaman ditanyai pekerjaan. "Oh di penerbitan? Maksudnya media? Wartawan gitu? Banyak tahu dong. Omong-omong bener nggak sih kalau blablabla…"
Paling menyebalkan jika berurusan dengan kewajiban menyumbang, misalnya sekolah dan kepanitiaan. "Bapak kan kerja PT Abrakadabra Simsalabim. Kata orang, di sana bagus kesejahteraannya…"
Maka cara teraman, tanpa harus berdusta, saya dulu kerap menyebutkan nama PT yang (sebelumnya) memegang SIUPP beberapa media tempat saya bekerja. Nama PT itu biasanya tidak terkenal. Yah, seperti nama banyak PT pemilik radio dan biro iklan, kadang kan tak setenar brand -nya. :D
Tapi kalau berurusan dengan lembaga keuangan, atau apa pun pokoknya saya berposisi sebagai pengharap (tapi tak ada hubugan dengan suap-menyuap), saya juga tak berdusta. Yang saya sebut adalah nama holding company dan kadang dengan brand . Urusan dijamin lancar. :D
Rada curang mungkin ya? Yang penting, saat mereka mengecek status kepegawaian saya dan sejenisnya (termasuk gaji), semua data benar. :P
Dari semua pengalaman soal tempat bekerja itu, paling menyenangkan adalah jika si kenalan baru merasa bangga bahkan terkesan karena saya agak (sok) tahu kantornya.
Ada yang girang karena saya tahu beberapa nama pendiri yayasan tempat dia bekerja. Ada yang senang karena saya tahu lokasi kantornya bahkan nama bosnya. Ada yang terkesan karena saya agak tahu apa saja produk kumpeninya.
Tak sedikit orang yang merasa kurang pede gara-gara kantornya, menurut mereka, kurang dikenal. Mereka kesal kalau harus menjelaskan.







emyou | 02 06 2008 @ 13:36:20
Dalam kasus saya, pertanyaan yang biasa menyusul setelah “kerja di mana??” adalah “backing-nya siapa??kok bisa masuk situ??”. Fiuuuhhh… padhal saya masuk murni karena lolos tes. Backing yang saya andalkan cuma Tuhan.
sluman slumun slamet | 31 05 2008 @ 21:05:57
kalo saya terkadang bingung… mau jujur nanti malah gak percaya… lha gondrong dan acak kadut kok ngaku dosen…
egghead | 31 05 2008 @ 11:34:40
baca tulisan paman yg ini aja nyali-ku langsung ciut.
jangankan orang lain, satpam gedung-nya aja mungkin gak inget nama kumpeni tempat aku nyari ‘uang makan’.
Abihaha | 30 05 2008 @ 17:29:54
Kok saya selalu merasa pertanyaan ‘kerja dimana?’ selalu sebagai basa-basi chit-chat bla-bla hobba-hobba ya?
Sama seperti ‘Sudah kemarau ya sekarang?’ (di antrian ATM outdoot) atau ‘Bensin mahal ya sekarang?’ (di waiting room bengkel spooring-balancing)
Satu-satunya pertanyaan ‘kerja dimana? (sekarang)’ yang formal adalah ketika interview kerja. Njawabnya bingung, dibilang di’PT.X’ pasti disangka mata gajian, minta gaji tinggi. Dijawab ‘nganggur’ takut disangka kualitas SDM jongkok, makanya tidak ada yang mau pakai. Dijawab ‘wiraswasta’, nanti dianggap tidak becus, lha kalo becus pasti tidak melamar.
funkshit | 30 05 2008 @ 15:21:05
klo saya malesnya gini.. udah nyebutin t4 kerja.. trus mereka nanya kenan pak ini, bu itu ngga. .. absen deh :D
woelank | 29 05 2008 @ 20:10:04
saya PD dengan kantor dan pekerjaan, cuma males nerangin ke orang2 kerjaan 3D Modeler & Animator for Architectural Visualization itu apa…
bubba | 29 05 2008 @ 19:42:07
waktu saya kerja di BUMN dulu rasanya memang bangga lho pakdhe, dulur sak brayat memandang kagum.
sekarang sudah ndak begitu, walaupun kerja kumpeni asing tapi ndak ada yang kagum lagi.
*post power syndrome*
wa | 29 05 2008 @ 17:50:35
Saya kalau lagi cuti di Indonesia, suka bingung kalau ditanya kerja di mana? Bukannya malu jadi TKI, tapi enggak nyaman aja, soalnya ada orang berpikir kalau kerja ke LN banyak duit.
wati | 29 05 2008 @ 17:48:39
Saya kalau sedang cutidi Indonesia ditanyain kerja apa, bingung mau jawab. Bukannya malu kalau dibilang TKI, tapi orang ingat kalau kerja di LN banyak duit.
wisnubrata | 29 05 2008 @ 15:46:29
kata orang-orang tua seh kerjaan yang paling mentereng adalah PNS, pake seragam keren, bisa balik cepet dan yang paling kerennya, biaya masuknya “MAHAL” …..jadi punya alasan untuk mencari uang balikan modal….
alfaroby | 29 05 2008 @ 14:45:43
emang sulit sih… ketika ditanya udah kerja berapa lama trus kitanya baru jawab beberapa bulan kok kesannya kita ini pekerja biasa atau mungkin baru dipecat…
kalau ditanya terus jawabnya udah lama dan bertahun tahun… kesannya juga kok tunjangannya dikit banget ya… masak udah kerja bertahun tahun kok masih pulang kantor naik angkot..
zafek dech…
OFANK | 29 05 2008 @ 14:13:22
Yang paling penting dapat berusaha untuk menjalani hidup sembari berdo’a. Rejeki udah ada yg mengatur kok, yg penting halal. Bagaimana kita mensyukuri nikmat dan indahnya hidup ini.
Masih banyak loh yang sebetulnya rezeki mereka lebih kecil, lebih sederhana dibandingkan kita. sebut saja “Wong Cilik“.
Mari bersyukur…!!! ;-)
kw | 29 05 2008 @ 14:10:10
biasanya cuman nyebutin nama tempat. kerja di buncit. :)
edratna | 29 05 2008 @ 13:18:21
Yang penting halal, berkeringat dan baru dapat imbalan…..
Adis | 29 05 2008 @ 13:13:38
Kantorku tak seterkenal kantor itu.
isdiyanto | 29 05 2008 @ 11:10:01
yang penting kerja, kerja, kerja,,,
dan dapat imbalan yang pas,,,
mpokb | 29 05 2008 @ 11:02:57
kalo mau menikmati fasilitas diskon untuk karyawan, mau tidak mau ya disebut sambil nunjukin name tag, hehehe..
pnsgila | 29 05 2008 @ 11:00:10
hmm…sama, paman. Saya kadang malu ditanya kerja dimana. Pns? Pns dimana? Wah udah deh, pasti ujung2nya malah nawarin anaknya untuk diminta masukin jadi pns. Emangnya sayah makelar pns apa…
nonadita | 29 05 2008 @ 10:46:29
paman sudah kelola perusahaan sendiri tho sekarang?
poniman | 29 05 2008 @ 10:38:36
terkadang saya juga agak malas menyebutkan tempat saya bekerja.
takut nanti ditanyain soal teknis, padahal saya cuma klerk biasa…ndak ngerti masalah teknis….
suprie | 29 05 2008 @ 10:30:11
ah klo saya menyebutkan nama pt saya kerja, percuma. toh nda terkenal :))
vendy | 29 05 2008 @ 10:22:19
ah, cuek aj. yang penting tempat kerjanya pas buat perkembangan mental, bukan degradasi mental :D
kopdang | 29 05 2008 @ 9:41:01
lelaki yang jantan dan gagah perwira, tiba-tiba layaknya wanita ditanyakan perihal usia, bila sudah nyerempet masalah kerja, dinas dan usahanya apa…
ebong | 29 05 2008 @ 9:21:57
Hitam putih dunia kerja. bahkan ada yg abu abu.
BBM naik gaji tetep.
Jadi susah juga ya paman, mau protes tdk didenger,
Nasib ….. nasib
Big company but low salary
Anusapati | 29 05 2008 @ 6:01:49
Dulu kerja bakti di pabrik abal-abal, sekarang mburuh di pabrik yang ngetop, tetep aja tuh …saya gak sreg ditanya kerjaan. Masih di sebelah blok M kan paman?
yudhi | 29 05 2008 @ 5:15:26
memang paman kerja dimana to sekarang ?
*polos*
qiqiqiqiqiqi
Hedi | 29 05 2008 @ 3:42:48
kantor tenar tapi gaji cekak, percuma juga ya, paman? :D