Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Vagina, Me***, Klitoris, I***, Penis, Kon***, Oops…

Jumat, 30 Mei 2008 @ 10:36 | Keluarga, Personal

ANTARA MEMBIARKAN TAHU SENDIRI DAN MENGAJARKAN…

Huh, bikin judul kok sekalian cari sensasi. Mana mengundang robot spammer lagi. Bahkan bisa saja (semoga tidak) terkena jerat hukum. Apa nggak ada kata-kata lain? Maafkan saya. Tahanlah kegusaran Anda. Izinkanlah saya bercerita tentang seorang ayah dan kedua putrinya. Setelah selesai membaca, tumpahkanlah kekesalan Anda.

“Mari kita lihat gambar,” kata si ayah, untuk memperjelas diskusi. Lalu dibukanya sebuah halaman web. Kedua putrinya, yang satu remaja, yang satunya lagi jelang akil balik, menyebut gambar itu “wawuk” dan vagina.

“Benar, Sayang,” kata si ayah. Dia tambahkan, “Yang tepat ini disebut vulva atau pukas. Tapi orang sering menyamakannya.”

Lantas pelajaran anatomi secara visual pun berlanjut. Klak-klik ke web dengan banyak penjelasan. Antara bingung, senyum geli, dan kaget, anak-anak mengikuti.

Semua ada namanya. Setiap orang punya. Dan sebaiknya dikenali dan dirawat seperti setiap orang memperlakukan lutut maupun telinga.

grafiti jorok

Bedanya, untuk genitalia penyebutannya tak seleluasa bagian tubuh lainnya. Setiap bahasa (dan kelompok penuturnya) mengatur kepantasan penyebutan seiring perkembangan zaman.

Memang penyebutan dengan istilah medis cenderung terasa lebih netral, tetapi tetap saja tak seleluasa penyebutan bagian lain. Buktinya pidato kepresidenan dan debat di DPR, atau headline koran, tidak pernah (atau jarang) menyebut itu.

Dalam forum domestik terbatas itu sang ayah juga memperkenalkan kosakata. Tentang vulva dan vagina, misalnya, orang sering manjadikannya sebagai paket. Maka dalam kehidupan sehari-hari ada istilah “me***” (tanya Daus — ada komentar saya di sana) yang dibelokkan menjadi “meki”. Orang Jawa menyebutnya “tu…” dan “tem***” — kabarnya sih kedua hal itu berbeda.

Bagaimana dengan klitoris? Sambil menunjukkan gambar,sang ayah menyebutkan padanannya, yaitu kelentit dan “i***”. Anak-anak melongo, menatap ayahnya, lalu kakak-adik saling pandang. Mereka belum pernah mendengar itu semua.

Diskusi berjalan lancar,dengan senyum dan kadang takjub. Tiada yang tabu. Begitu pula ketika membahas genital lelaki dan kopulasi. Tentang penis dan testis, anak-anak tahu. Hanya padanan katanya selain zakar dan titit yang mereka belum tahu. Misalnya “kon***”.

Padahal dari “kon***” dengan imbuhan “é” (artinya “nya”) itulah orang Jawa mengenal panggilan “tholé” yang disingkat “lé”. Adapun panggilan “wuk”, itu dari “bawuk” (wawuk).

Sperma? Mereka tahu. Mani? Belum pernah dengar, apalagi pe**h. Tapi untuk semen, mereka membayangkan bahan bangunan. Maka kesalahkaprahan pun diluruskan, dan lagi-lagi bertolak dari makna denotatif kata.

Seks, kata si ayah, itu nikmat dan indah. Tidak jorok. Nafsu adalah karunia Alam supaya makhluk hidup tak punah. Tapi tentang hubungan seks atau making love atau sanggama atau ngen**t, itu hanya boleh setelah dewasa karena orang dewasa bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Diskusi yang gayeng. Buku dan halaman web, termasuk wikipedia dan the-clitoris, banyak membantu.

Soal kecil tapi menggelikan adalah bagaimana dengan pipis? Lelaki dan wanita berbeda. Tapi jangankan anak kecil, wanita dewasa saja ada yang kurang begitu tahu ujung saluran luarnya. Maka apa boleh buat, mohon maaf, si ayah membukakan halaman web dewasa yang khusus memampangkan close up wanita pipis.

“Wow! Gitu ya?” tanya salah satu anak. Si ayah menjelaskan, letak genital yang tersembunyi memang mempersulit setiap orang untuk memeriksa. Sama seperti orang memeriksa punggung dan unyeng-unyeng. Maka selain dengan cermin, cara untuk mengenali adalah dari gambar.

Bila merujuk Ruth Westheimer, edukator seks abad lalu, maka sebaiknya wanita berterima kasih kepada model porno (dan medianya) karena membantu wanita lain mengenali genital kaumnya.

Si ayah menyatakan, genital lelaki lebih sederhana, relatif mudah untuk dilihat sendiri. Tapi si ayah mengaku, ketika masih kecil pipis bareng teman-temannyanya di pinggir selokan, mereka geli banget melihat pria dewasa supergendut.

“Kalo mandi dia nggak bisa melihat burungnya sendiri…” kata salah satu anak bengal. Teman-temannya terbahak. Semoga setelah dewasa anak itu tahu bahwa tebakannya salah. Begitu pula nona-nona yang pernah menggosipkan Luciano Pavarotti (almarhum) yang besar dan gendut.

Anak-anak perempuan itu juga ketawa ketika mendengar masa kecil ayahnya.

Ilustrasi: grafiti buatan tukang (?) pada sebidang beton di dekat rumah makan padang Sederhana, Pondok Indah, Jakarta.
© Foto: blogombal.org

Catatan: pembaca pertama post ini adalah salah satu dari anak perempuan itu :)

Ada 69 komentar | trackback | Depan

#69

Doli Anggia Harahap | 08 08 2008 @ 13:50:56

Berani Pedas Lugas

Paten kali ah, nanti saya coba juga lah mas.


#68

areta | 06 08 2008 @ 22:42:51

saya bingung.. kelak, ketika saya sudah punya anak, gimana cara ngasi tau mereka..
saya sendiri gak pernah dikasi tau sama orang tua. semua tau dari temen.


#67

aristo | 02 08 2008 @ 21:24:25

postingan unik nih. emang karena barangnya ada yang hrs ada namanya. memberi nama bagi Mr. P dan Mrs. V memang susah. Apapun namanya akan terasa porno. jadi sebenarnya bukan namanya yang porno, tapi asosiasi dan motivasi kita saat menyebutnya. tergantung usia, konteks, daerah dan masa.
Paman Tyo memang pas membawakan topik ini.


#66

utuy | 31 07 2008 @ 14:28:53

Setiap masa ada cara-caranya sendiri untuk menjelaskan.


#65

Ronny Salam | 28 07 2008 @ 0:50:59

Gimana mau ngajarin boz kalau yang diajari lebih pinter…?!


#64

tetangga di chandra baru | 22 07 2008 @ 17:01:18

hi,hi,hi,hi.., saya geli banget membaca postingan paman ini, bisa banget yah paman ? lugas dan akurat dan pasti untuk dipahami.. salut !! suatu saat saya akan memberikan pencerahan dengan cara seperti paman buat anak saya kelak


#63

novi | 20 07 2008 @ 17:07:01

hahahahaha, coba waktu SMP or SMA dulu guru biologi nya Paman, pasti mata melek semua denger Paman jelasin masalah ini…….
Oh iya baru inget,dr buku yg prnh saya baca, saya br tau knp penis sering disebut dgn Mr.Happy?..karena kerjanya hanya untuk hapy2 hahahahahaha
Btw, salam kenal ya Paman


#62

humble | 11 07 2008 @ 23:34:14

antara membiarkan tahu sendiri dan mengajarkan melalui cara-2 yang diharamkan agama.
keduanya salah!!
kayaknya sih keren… liberal… ayah masa kini, tapi gak sadar malah mengajarkan kepada anak-2nya bahwa melihat aurat orang lain itu ‘biasa’… ‘normal’… asal gak pikiran kotor
atas nama ‘education’ boleh-2 aja…
gak sadar (atau malah mungkin dg sadar) dia jejalkan bibit-2 dosa ke anak-2nya
astaghfirullah al-adzim
inilah kita, yang merasa cara-2 ketimuran yg berbasis agama yg dianut orang-2 tua kita sebagai sebuah kekunoan dan segala sesuatu yg datang dari dunia barat adalah modern dan serasa kiamat kalo gak ngikutin.


#61

Kardjo | 11 07 2008 @ 22:53:11

jadi ingat cerita tentang hal itu.


#60

Tetes Embun dotORG » Blog Archive » Microblogging berembun (part 1) | 11 07 2008 @ 22:26:40

[...] tahu hanya berkisar 1 hingga 5 orang. Bagaimana jika anda semacam seleb blog seperti mas Iman, jongos tua, bapak blogger,  new blogstar atau ibu tolol ini… whuah… pasti capek ketika harus [...]


#59

alhakim | 11 07 2008 @ 16:25:50

sex education ya… kaget juga waktu pertama baca judul nya ;)


#58

reply | 10 07 2008 @ 12:16:50

Ini pasti postingan yg paling banyak komentar.. hehe


#57

arhan | 27 06 2008 @ 2:38:04

weleh


#56

silly | 26 06 2008 @ 8:44:28

Maaf, paman, numpang konfirmasi soal komentar saya yg dibawah, karna sepertinya banyak yg nyasar ketempat saya dari link komentar saya dibawah itu… Jadi biar yg lain juga gak kejebak, yg saya maksud “multiple orgasme” itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sex, percayalahhh, sumpah… kalo masih gak percaya juga baca sendiri aja disini
*
Semoga gak dituduh SEO lagi… Pizzzz…
*blinking-blinking eyes*
*dipentung paman karna nyampah2*


#55

indah | 23 06 2008 @ 13:48:02

Ngapain seh mikirin yang gak penting??
jalanin ja X pa yang da di hadapan lo semua sekarang!!!
yang penting, pa yang dilarang ma agama lo semua, GAK SAH DILAKUKAN…
tu klo U semua Mo mSK SURGA.
ok???
:), :)


#54

triesti | 21 06 2008 @ 19:49:19

Emang di sekolah ngga diajarin lagi? Dulu di sekolah katolik sih ada yg ngajarin dari keuskupan. Di rumah, papa juga yg ngajarin. Lebih baik belajar dari orang tua, daripada dari teman sebaya yang bisa malah bikin kita nyasar. Sayang tidak semua orang tua mau ngomongin hal yang katanya tabu ini.

terus terang saya heran kenapa menyebut vagina dan penis saja tabu. Sebutan miss V atau mr P jauh lebih tolol kedengarannya, tapi herannya sampai dokterpun menggunakannya di media Indonesia.


#53

nina | 21 06 2008 @ 12:16:42

cara amam melakukan hubungan seks dengan pasangan?


#52

edi | 21 06 2008 @ 12:13:07

cara amam melakukan hubungan seks dengan pasangan?


#51

jamiludin | 21 06 2008 @ 12:11:38

apa sebaiknya cara menghindari apabila kita melakukan hubungan seks agar kehamilan tidak terjadi elain memakai alat pengaman yang lain.


#50

lina | 06 06 2008 @ 11:43:24

waww…mencerahkan paman. aku juga mau praktekin ah kalo anakku dah mau akil baliq… :D


#49

bangpay | 05 06 2008 @ 18:23:33

alhamdulillah meskipun buncit, saya masih bisa melihat”nya”

nice writing, paman….


#48

iRFAN | 05 06 2008 @ 15:26:19

Wel lhahhh.. Untung gka di blok ama adminku ya.. masih bisa dibuka di kantor..


#47

bahtiar | 03 06 2008 @ 12:24:38

he hehe …
gayeng tenan …

:)


#46

raka | 03 06 2008 @ 10:43:22

Meong…


#45

yoshi | 02 06 2008 @ 18:01:18

^^ nice


#44

pinkina | 02 06 2008 @ 15:03:13

baca postingan paman yg satu ini…serasa pengen jadi kecil lagi trus paman yg jadi orang tuaku :D dijelasin satu2 biar gak salah kaprah


#43

emyou | 02 06 2008 @ 13:13:22

hmmm… jadi gitu caranya ngajarin ke anak2

*manggut-manggut*

tar deh kalo uda punya anak hehehe…


#42

dhany | 02 06 2008 @ 0:36:05

posting ini tak bisa dibuka di kantor ku.
reeeseeeeee…m kate EDP.


#41

masboi | 01 06 2008 @ 4:22:31

kayaknya yang komen diposting ini bisa tembus 100. yakin deh! apalagi kalau sudah terendus mbah gugel.


#40

sluman slumun slamet | 31 05 2008 @ 21:03:58

niru ah… entar kalo anakku dah gedhe takajarin kayak gini. paman emang hebat….


#39

budiw | 31 05 2008 @ 17:51:18

Ada juga the-penis dot com.

–budiw


#38

Hedi | 31 05 2008 @ 14:04:11

gaya mengajar dan menjelaskan yang cespleng!!!


#37

r | 31 05 2008 @ 9:47:46

salut paman!
aku termasuk yang dibiarkan tahu sendiri, org tua, mungkin nggak kepikir bahkan untuk mengajarkan & memberikan informasi. tidak bisa disalahkan juga. untungnya, aku ketemu dengan sumber yg dapat dipertanggungjawabkan *halah naon seh*
err… nanti beberapa tahun lagi, apa aku bisa menjelaskan dengan bahasa yang sama baiknya dengan paman ya?


#36

antown | 31 05 2008 @ 7:09:59

apa besok kalo saya sudah punya anak juga bisa mengkomunikasikan seperti ini ya? mantap nih paman…
anaknya dah umur berapa nih yang gede? punya blog juga kan?


#35

Arif Widianto | 31 05 2008 @ 5:48:10

Salut pak Tyo,

Bisa membangun komunikasi seperti itu. Susah saya bayanginnya, tapi pingin bisa seperti bapak.

Salut.

Anak saya masih 2 tahun, berapa tahun lagi ya ada pertanyaan2 itu hehhee…


#34

Taufik | 31 05 2008 @ 3:33:22

“Knowledge is like sex, it’s better when it’s free…”

Menyitir secara lepas dari pernyataan Linus Torvalds.

:)


#33

woelank | 30 05 2008 @ 23:43:06

kadang banyak orang yang menganggap hal ini tabu untuk diajarkan, tetapi ketika mengetahui anak mereka salah dalam mempersepsikan dan kebablasan, mereka secara serta merta mencap tidak2.
siapakah yang salah?
Orang tua yang memegang kuat adat ketimuran dan menganggap hal tersebut dipelajari seiring usia, atau anak yang belajar sendiri dari orang yang salah dan mempraktekan ke orang yang “benar”.

paman… sebaiknya pada anak umur berapakah kita mulai mengenalkan secara bertahap akan pelajaran anatomi ini?


#32

Blog Kenthir | 30 05 2008 @ 22:41:23

Beberapa tahun lagi akan saya ajarkan pada ke 2 anak saya…


#31

f4jar | 30 05 2008 @ 21:51:45

weuiszzzzzzz,..,, mangstabhh mass ,.., rated r weekkekekek


#30

pramudyaputrautama | 30 05 2008 @ 21:47:49

walah si ayah ini seperti sampeyan ya paman :)


#29

Jenk | 30 05 2008 @ 21:47:14

Itulah mengapa kerupuk selalu enak jika dimakan dengan ketimun atau mengapa pula apollo harus meluncur ke arah bulan..

oooupsss.


#28

geblek | 30 05 2008 @ 21:21:33

wedeh 17th keatas hahahahaha siap siap kena terjangan badai sepam jualan viagra paman


#27

yudhi | 30 05 2008 @ 19:42:31

saya suka sekali postingan sampeyan yang ini dhe :-). thx untuk wejangan dan keterbukaannya.


#26

omith | 30 05 2008 @ 19:03:27

vulgar men paman..wups..
tp kemasanya .. keren..hihihi

luv it!


#25

Abe | 30 05 2008 @ 17:35:45

PAMAN, ARGHH.. APA YG PAMAN LAKUKAN DENGAN MENULIS ENTRY INI? APA PAMAN GAK MALU SEBAGAI ORANG TUA DAN DITUAK.. *berhenti*

Eh, oh.. ini toh maksudnya!
What a really nice posting, Paman ;)


#24

Abihaha | 30 05 2008 @ 17:35:33

Terlebih jaman video gelinjang YZ vs artis dangdut pinggiran itu, makin santer saja gosip miring pria buncit.
Memangnya ketika perut membuncit kon*** mengkerut?
Sini… saya boleh memberi bukti.


#23

kw | 30 05 2008 @ 16:47:53

lucu banget mannn.


#22

fahmi! | 30 05 2008 @ 16:16:18

paman kan sudah seleb blog. ngapain berbuat SEO kotor lagi pake keyword gitu? hahahaaa…


#21

ayahshiva | 30 05 2008 @ 15:03:24

wah kalo gitu saya juga mesti kasih pengetahuan yang lengkap dan benar neh kepada anak saya yang baru berumur 3 tahun.
makasih ya pak dhe


#20

daniel | 30 05 2008 @ 15:00:54

nanti bila sudah nikah dan punya anak akan saya praktekan ke anak-anak saya…


#19

pnsgila | 30 05 2008 @ 14:49:37

hihihi…saya suka fotonya, paman. Tapi sayang, cuma kata-kata doang yang terpampang di foto, bukan wujudnya, hehehe…


#18

samsul | 30 05 2008 @ 14:24:56

anak saya masih satu balita, belum tau nantinya diajari atau biar tahu sendiri lewat acara biologi di skul. soalnya saya dulu taunya juga dari pergaulan temen sebaya, hehehe


#17

daus | 30 05 2008 @ 14:21:21

si ayah itu jenengan kan? :)


#16

latree | 30 05 2008 @ 14:19:45

ternyata setelah mbaca tulisan ini, sama sekali ga kterasa saru ya….
paman… boleh cerita begini nggak ke anak perempuan umur 8 tahun, dan laki2 umur 5 tahun…


#15

bubba | 30 05 2008 @ 13:45:41

mungkin saya harus belajar sama ABG dulu ya gimana cara menjelaskan pelajaran seksologi sebelum saya menjelaskannya sama anak saya ya pakdhe?

takut salah tanggep aja


#14

edratna | 30 05 2008 @ 13:39:58

Memang sulit menjelaskan pengetahuan seks pada anak-anak, tapi lebih baik dijelaskan orangtua daripada oleh temannya yang malah bisa salah kaprah.


#13

Silly | 30 05 2008 @ 13:25:09

haduh saya pikir tadi salah gaul nih paman, ndak tahunya sex education yach… Anak saya lebih kecil, jelasinnya jauh lebih sulit, terutama ketika sedang mandi bersama dan dia compare antara punya dia dengan punya mamanya.
*
Ya.. Ya.. Ya.. saya pun sedang mempersiapka tulisan (yang ndak kelar2 dari kapan tauk, ttg multiple orgasm). Ternyta sulit membicarakan sesuatu yg sepertinya vulgar padahal tidak sama sekali yach… hihihi… :D


#12

Dony | 30 05 2008 @ 13:05:48

Wah, pengalaman saya seputar selangkangan masih minim, haha


#11

fg | 30 05 2008 @ 12:43:27

kalo kita harus menjelaskan ke anak ABG nan lucu menggemaskan yg bukan keluarga kita gimana ya caranya? buka web juga? :D


#10

venus | 30 05 2008 @ 12:24:35

saya blm bisa se-open njenengan atau mas mbilung kalo soal ini. aduh piye ya :(


#9

Epat | 30 05 2008 @ 12:17:54

wah…ternyata paman juga seorang pakar sex education :-D


#8

iman brotoseno | 30 05 2008 @ 12:13:46

ini agak sulit memang bagi sebagian orang…Saya dulu sampai loncat ketika anakku lanang mengatakan NGACENGG


#7

jalansutera | 30 05 2008 @ 12:12:39

paman, thanks atas entri ini.

saya sebenarnya sering memikirkan bagaimana cara mengajarkan seksologi kepada anak saya yang masing mungil itu. saya tidak ingin dia mendapatkan informasi itu justru dari orang luar, teman atau tanpa pendampingan.


#6

funkshit | 30 05 2008 @ 12:03:30

sayah ngga dikasih tau. . .akhirnya saya belajar sendiri.. namun malu klo kethuan lagi belajar :D

btw.. web yang tentang pipis apa ya ?? saya taunya cuman *****.com


#5

suprie | 30 05 2008 @ 12:01:48

jadi lebih baik mengajarkan anak tentang genital daripada mereka cari tahu sendiri ??


#4

mikow | 30 05 2008 @ 11:45:56

wah ini yg akan saya alami beberapa tahun lg


#3

nothing | 30 05 2008 @ 11:07:43

sebuah cerita bagus di pagi hari, begitu menginspirasi


#2

kopdang | 30 05 2008 @ 11:02:10

Kalau malam sebelum tidur, Ciprut, anak seorang Ayah juga sering berkicau sendiri:

“…Kalo Yayah Didit..Kalo Iput Nhunuk..Kalo Yayah Didit..Iput..Nhunuk..Gitu”

Rupanya apa yang Ayah sampaikan sore setelah mandi padanya, membekas dan diulang untuk diyakinkan minimal untuk dirinya sendiri.


#1

mpokb | 30 05 2008 @ 10:48:39

pagi2 ada pelajaran anatomi :) semasa kecil saya dulu, nyokap lebih terbuka tentang hal2 macam ini daripada bokap. mungkin karena nyokap dokter kewan yak.. duh, habis ini saya mau merawat lutut dan telinga.