SESUNGGUHNYA, APA DAN SIAPAKAH YANG TUAN BELA?
Izinkanlah saya bertanya satu soal. Ajaran luhur manakah yang membenarkan penganiayaan dengan alasan siapa pun yang berbeda pendapat, apalagi berpihak kepada apa pun dan siapa pun yang dianggap seteru, adalah lawan baru yang mengajak berperang secara fisik?
Banyak orang telah tahu. Banyak orang telah mendengar. Banyak orang telah melihat. Ada saja kelompok yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Ajaran Luhur Penganjur Jalan Terang yang tega berlaku keras bahkan cenderung mencitrakan diri sebagai si bengis. Seolah semua orang harus sependapat dengan mereka. Kalaupun tak sependapat maka diminta diam, jangan bersuara terang-terangan.
Tuan Pemimpin katakan, “Kalau tak mau berperang, jangan menantang!”
Ah, gagah sekali. Tetapi setahu saya, kegagahan sejati tak perlu diwujudkan dengan menganiaya orang yang tak mengajak berperang, apalagi orang yang tak melawan ketika dianiaya.
Maafkanlah kepicikan saya. Tapi dari sepenggal sejarah yang terkumpul di benak, saya belajar dari Seorang Agung Berakhlak Mulia tentang kasih sayang, tentang kedamaian, tentang penataan kehidupan bersama secara beradab.
Beliau, yang panglima perang dan cendekia lagi bijak bestari itu, beserta keseluruhan jalan hidupnya, adalah teladan. Pada zamannya tetapi menduhului arus masa saat itu, beliau menganjurkan, merintis, dan membuktikan sebuah jalan terang agar kehidupan lebih tertata karena manusia harus membuktikan akal budi yang dikaruniakan oleh Sang Maha Pemberi.
Ketika amarah dilembagakan dan keberingasan dibolehkan atas nama bela ajaran — dan lebih jauh atas nama pembelaan terhadap Sang Sumber Ajaran Kekal Tiada Tergantikan — di manakah nurani dan akal sehat ditempatkan?
Jawabannya bukanlah ditempatkan di pelataran Monas pada suatu Ahad. Bukan. Sama sekali bukan.




djarwo kentir | 06 06 2008 @ 9:54:52
FPI kita ikutin kejar paket A, atau kejar pake B aja paman, biar otak nya lebih berisi daripada dengkul nya…
Kardjo | 04 06 2008 @ 20:58:46
Sancai…sancai….
Omitohud!
Eling…eling..
Damai dan kasihilah sesamamu
Assalamu alaikum
Om santi santi om
Manakah dari beberapa istilah tersebut yang berkonotasi ‘Serraaanngg…Serbuuu’. Adakah ajaran agama yang mengatakan demikian???????
Kepada siapakah kisanak berucap mengaku bela ajaran?
bubba | 04 06 2008 @ 18:35:07
well told pakdhe, enuff said.
FPI memang seharusnya dibubarkan macam GERWANI dan PKI…
Syafrudin Abi-Dawira | 04 06 2008 @ 13:34:25
Untuk #8: Mahatma Gandi pernah mengatakan bahwa kemiskinan adalah kekerasan paling buruk.
–> Betul sekali, kita semua sudah tahu kekerasan yang dilakukan oleh FPI. Namun perlu mawas diri apakah kita terbebas dari melakukan “kekerasan” dalam bentuk pemiskinan ?
Jumlah penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan tahun 2006 masih 17.8% (penghasilan di bawah 1 USD per hari alias kurang dari 270.000 IDR per bulan) atau 49.0% (penghasilan di bawah 2 USD per hari alias kurang dari 540.000 IDR per bulan) menurut sensus BPS, atau 27.1% menurut kriteria UNDP, atau 17.8% menurut kriteria CIA. Sementara menurut laporan UN FAO (Food and Agriculture Organization) dan UN WFP (World Food Programme) tahun 2006, pada kurun waktu 2001 - 2003, 6% penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan.
Dan tingkat pengangguran Indonesia masih 9.75% menurut sensus BPS 2006.
HDI Indonesia masih pada tahun 2007 masih 0.728 atau di peringkat 108 dari 177 negara PBB.
Jadi kita yang tidak menganggur, tidak kelaparan, dan mempunyai penghasilan di atas 2 USD per hari, termasuk 51% rakyat Indonesia yang beruntung, dan WAJIB membantu 49% yang kurang beruntung, antara lain melalui Pajak, Zakat, Persepuluhan, … Jika kita tidak melakukannya, sungguh kita sudah melakukan “kekerasan” dalam bentuk lain. Dan mengikuti “hukum mata dibalas mata”, mereka melakukan kekerasan untuk membalasnya.
Syafrudin Abi-Dawira | 04 06 2008 @ 13:26:32
Untuk #9: Sepak terjang kekerasan FPI, HTI, dsb.
–> HTI melakukan kekerasan ? Organisasi Islam yang “keras” dalam bersikap tidak berarti pasti menganut jalur kekerasan dalam bertindak ? Jangan sampai ketidaksukaan kita pada pendapat yang berbeda menyebabkan kita menyamaratakannya semua dengan FPI.
Bukan anggota HTI atau FPI.
kopdang | 04 06 2008 @ 12:58:18
betul..!
ini semua cuma kalkulasi bisnis, portofolio dukungan, dan kemampuan mempengaruhi orang kebanyakan..
Tebak, tonton,..dan terbukti!
silly | 03 06 2008 @ 17:31:25
hmmmmm….. capek ahhh, ndak kuat lagi melihat kekejaman dinegri ini… beneran dech… jijikkkk…
isvara | 03 06 2008 @ 17:28:22
Kenapa ya Paman, tak henti-hentinya orang berkelahi. Gebuk-menggebuk. Capek deh…
Padahal sekarang kan semua serba susah. Sesama orang miskin jangan berkelahi!
(eh, bukan berarti yang kaya dipersilakan berkelahi, hehehehe)
Yoyo | 03 06 2008 @ 15:50:53
terima nasib aja buat AKK, no way untuk pendukung-pendukung kaum penoda……
blogombal | Blog Archive » Laskar Ini-itu dan Ahad Berluka di Monas | 03 06 2008 @ 15:05:28
[...] respon terhadap peristiwa Ahad Berluka di Monas, yang muncul dalam bahasa verbal tak kurang galaknya. Lihatlah kliping berita. Ada tokoh yang [...]
mbah wongso | 03 06 2008 @ 14:33:36
DAN SEBAGAI KATA TERAKHIR : ” KASIANILAH FPI KARENA FPI TIDAK TAHU APA YANG MEREKA PERBUAT “
mbah wongso | 03 06 2008 @ 14:22:09
Saya sependapat dengan tuan , manusia itu sebenarnya mempunyai hati nurani dan jika manusia itu tidak menggunakan hati nurani , apa itu bisa disebut dengan manusia ? . Dan manusia yang tidak menggunakan hati nurani selalu senang diadu dan tidak suka dengan kedamaian sejati , lalu apa bedanya dengan binatang.
Coba tuan - tuan merenungkan sejenak pada saudara2 kita yang lain , yang sedang kesulitan didalam mengarungi hidupnya. Katanya kita ini sebangsa dan setanah air , dan bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menolong sesamanya bukan malah sebaliknya.
Mugi - mugi Gusti kang Welas asih maringi dalan padang kita sedaya.
windede | 03 06 2008 @ 13:28:20
inilah endonesah… yang budaya berkelahinya memang dahsyat, meski penduduknya selalu mengaku cinta damai….
fg | 03 06 2008 @ 12:40:23
ada yang mau carok ya?? siapa?? kapan? dimana?? *siap2 handycam* :D
Yoyo | 03 06 2008 @ 12:38:13
terjadi begitu karena mereka pendukung penodaan terhadap Ajaran Luhur Penganjur Jalan Terang…
poniman | 03 06 2008 @ 11:07:36
mereka itu bukanlah penganut Ajaran Luhur Penganjur Jalan Terang atawa Pemegang Kunci Nirwana….mereka itu cuma Pengacau Berjubah…
mikow | 03 06 2008 @ 9:06:12
sempet mikir, apa ini bagian dari sebuah trik politik? untuk mengcover berita2 yg lalu?
Beyes Kemlinthi | 03 06 2008 @ 9:02:37
Negeri ini memang sudah penuh dengan hal-hal memuakkan Paman. Termasuk yang bikin rusuh itu. Apa perlu kita minta superman menurunkan ajian sapu jagat. Heran!
bangsari | 03 06 2008 @ 8:08:00
negoro preman. preman dipelihara dan dilembagakan, supaya menjadi sumber uang yang tak bisa habis. damn!
edratna | 03 06 2008 @ 6:00:47
Seingat saya dulu ada ajaran orangtua….jika memang pandai, mahasiswa dan kaum pintar gunakan pena untuk berbicara…dan beri contoh pelaksanaan secara nyata.
Apakah kita sedang mengalami penurunan? Tak sanggup bicara…namun hanya bogem yang bicara…tak bisakah kita bicara, berdebat untuk kebenaran?
Dony | 03 06 2008 @ 5:51:39
Sesungguhnya Tuhan tak butuh dibela,bukankah Dia Maha Segalanya,Maha Kuasa?
Atau jangan2 kau justru ingin menjadi tuhan, tuhan yg maha ditakuti,tuhan yg penuh dengan amarah, tuhan yg tak mau disalahkan apalagi dikalahkan. tuhan yg bersurban tapi kelakuan mirip preman…
Wahai tuhan,apa darah mereka halal bagimu tuk ditumpahkan? Apa yang sekarang kau bela wahai tuhan?
Arif Widianto | 03 06 2008 @ 0:10:59
Keren cara nulisnya pak. Saya menikmatinya.
Tapi seandainya alias-aliasnya diganti nama beneran, pasti jadi rame. Saya aja kenak amuk banyak orang hehehe…
Lagi-lagi, ini seperti ngumpat ketika begitu banyak pengendara motor tidak mematuhi aturan, sementara saya sendiri yang pingin bener, disempritin dari belakang…
Bener-bener negeri kurang waras..
Salam pak…
Tulus Handoko | 02 06 2008 @ 22:47:20
Lha wong dari Presiden ampe tukang becak ya pada berantem je :(
diego | 02 06 2008 @ 22:47:17
*clinguk mode on*
Ini ngomongin FPI kan ya? :D
*clinguk mode off*
Hueran guweh, itu begundalan koq gak dibubarin aja sih?
Cara menggunakan trackback | Trashbin of Joko Supriyanto Weblog | 02 06 2008 @ 22:27:49
[...] kalian masukkan, setelah itu jangan lupa klink save. So mari kita ngeblog bersama, lupakan cerita cerita itu, ndak usah di urus biarin saja ituh yang penting ngeblog saja, siapa tau blog kita akan berguna [...]
liemz | 02 06 2008 @ 22:12:11
“Kalau tak mau berperang, jangan menantang!”
___________________________________
Kok perang sama saudara sendiri ya?
bukankah lebih keren, “Indonesia memang cinta damai, tapi tidak menolak untuk berperang.”
*lho?! kok saya malah ikut-ikutan.
venus | 02 06 2008 @ 21:45:28
jijik, paman. sumpah saya jijik liat mereka. lebih jijik lagi ketika tau bahkan aparat penegak keadilan di negeri ini tidak berbuat apa2 untuk menindak mereka. dan apa kabar MUI???? coba. kemana mereka? sibuk solat tengah malam tapi membutakan mata dan hat melihat kesintingan ini? hebat sekali. sungguh negeri dagelan. kenthir.
dhany | 02 06 2008 @ 21:37:58
berotot makin digdaya
bermasa makin bernyali
berotak makin mengerti
berhati makin menyayangi
berbudi makin disayangi
…………
Rian | 02 06 2008 @ 21:30:29
“Hei…!” kata tetanga seberang
“Kalo berani satu lawan satu dong!” nada menantang…
Kekerasan oh kekerasan kenapa dibiasakan?
Kekerasan oh kekerasan kenapa dibiarkan?
Kekerasan makin keras dan kerasan di tanah ini…
Gombal | 02 06 2008 @ 21:26:06
Indonesia memang negara aneh, salah satu negara yang membiarkan adanya militia.
Lebih buruk lagi karena saya yakin bahwa aparat penjaga keamanan (polisi) tidak akan melakukan tindakan apa-apa.
Percayalah, itu FPI dan pemimpin-pemimpinnya akan tetap malang melintang tak tersentuh hukum!
Bosan saya membaca, melihat, dan mendengar sepak terjang kekerasan FPI, HTI, dsb.
Sudah waktunya ditindak dan dilawan!
Sungguh memalukan bangsa Indonesia yang terkenal sopan santun dan penuh toleransi.
Ahmad Sahidah | 02 06 2008 @ 20:50:35
Mahatma Gandi pernah mengatakan bahwa kemiskinan adalah kekerasan paling buruk.
Semoga tragedi Monas ini tidak mengalihkan isu lebih besar bahwa kenaikan BBM telah menambah ‘kekerasan’ baru itu. Jutaan!
Orang miskin telah mengalaminya dan tak pernah ada yang mencoba menolongnya, karena kekerasan itu tak kasat mata.
manusiasuper | 02 06 2008 @ 20:25:42
Jadikan momentum untuk memulai perbaikan, mendesak ketegasan terhadap semua penyalahgunaan dan pemaksaan atas nama kebenaran…
satria | 02 06 2008 @ 20:16:43
Mereka tidak membela Islam tetapi MEMALUKAN Islam….
geblek | 02 06 2008 @ 19:47:34
preman dilawan paman :)
Epat | 02 06 2008 @ 19:37:22
bukankah negara ini adalah negara hukum? semoga semuanya bisa diselesaikan dengan komitmen kepada hukum yang berlaku dan tidak ada aksi-aksi pembalasan berlarut-larut.
mpokb | 02 06 2008 @ 19:18:08
malu-maluin ih.. orang indonesia kok bisanya cuma ngamuk sih. tapi paman, tanpa cekokan ideologi sekalipun, orang lapar dan pengangguran memang biasanya cepat ngamuk..
dil | 02 06 2008 @ 19:16:13
bukannya mereka udah gak punya nurani dan akal sehat paman? ditinggal di rumah, ndak dibawa…
*muak skali aku*
dil | 02 06 2008 @ 19:14:37
wehh..?pertamax niy?