PANJANG, MELELAHKAN UNTUK DIBACA. YANG NULIS SAJA CAPEK.
Saya termasuk yang kurang sreg dengan seruan pembubaran (kemudian diralat: pembekuan) FPI. Memang, kalau belum menjadi badan hukum, bagaimana bisa dibubarkan secara formal? Saya pun tak setuju jika ada balasan, berupa penyerbuan dan ancaman penggunaan kekerasan ke markas dan pos FPI.
Paling fair, pelakunya saja yang ditangkap, disidik, dan diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hakim, dalam sidang yang adil dan netral. Bahwa polisi terkesan kikuk — kata lain untuk “mencoba bijaksana” — dalam menangani ini, ya apa boleh bikin. Ketika menyangkut ranah peka, yang sarat sentimen primordial, kriminalisasi (kadang) memang tak segampang pasal undang-undang. ;)
Kalau berbalas tindak dilakukan semudah berbalas pantun, maka kacaulah kehidupan sosial kita dalam wadah yang kita yakini sebagai “nasion”. Ini sama saja mengabsahkan dorongan bahwa setiap kelompok boleh membangun milisi atas nama pertahanan diri karena negara tak sanggup melindungi warganya sendiri.
Sebagai bibit, milisi maupun paramiliter bisa dilihat dari satgas ini dan itu, termasuk dari partai. Namanya saja sudah militeristik: satuan tugas (task force?), yang biasanya disertai posko (pos komando), dengan (sok) disiplin ala tangsi (misalnya apel siaga). Belum lagi seragamnya. Bukan, itu bukan lantaran fashion, tepatnya army look, yang belum terlalu meredup padahal sudah sepuluh tahun menggaya itu.
Adapun respon terhadap peristiwa Ahad Berluka di Monas, yang muncul dalam bahasa verbal tak kurang galaknya. Lihatlah kliping berita. Ada tokoh yang menggunakan kata “gila”. Berseliweran pernyataan galak. Dibalas oleh yang disebut.
Untunglah, kalau ibarat komik, baru sebatas balon teks dengan font tebal berpadat tanda seru. Belum sampai “Dzikkk!”
Misalkan itu terjadi dalam tatap muka, apalagi dalam atmosfer kaki lima dan terminal, ayun bogem matang bakal terjadi. Kita bukan masyarakat yang bisa menahan diri dalam cekcok yang saling mendekatkan busung dada (antarpria) dengan otot leher mengencang sambil mengangkat dagu.
Lantas bagaimana kita memetakan Ahad Berluka di Monas? Uh, memetakan. Mungkin rumit.
Harus diingat, setiap pemetaan adalah penyederhanaan. Repotnya, setiap penyederhanaan cenderung terjebak dalam penafian terhadap unsur penting dalam sebuah kompleksitas.
Namun sebagai pendekatan masalah, yang tak hendak memonopoli kebenaran, pemetaan satu dan pemetaan lainnya bisa dipertimbangkan.
Pendekatan Laskar
Laskar dan sejenisnya, sebagai kekuatan “bersenjata” nonregular, mengemuka dalam tiga babak. Pertama: saat revolusi. Kedua: tahun 65-66. Ketiga: masa-masa pengukuhan Orde Baru sejak 70-an, ketika korporatisme politik melanggengkan onderbouw (organisasi payung), dan paramiliter kepemudaan adalah salah satunya. Mungkin aneh, mungkin tidak.
Menjadi tampak aneh, karena ketika militer saat itu sangat dominan, kenapa juga membiarkan bahkan “membina” sejumlah paramiliter. Kuat kok nggak pede. :D
Bisa juga tidak aneh, karena ketika militerisme menjadi kultur, maka wadah pendisiplinan dan penyaluran agresivitas apa pun akan merujuk ke gaya tangsi.
Apa yang terjadi setelah Orde Baru (dianggap) selesai, hanyalah kelanjutan. Bedanya, model pemanfaatnya lebih meriah daripada kampanye pemilu, bila perlu nyemplung ke konflik horizontal.
Tentu, alasan primordial adalah obor paling benderang. Mobilisasi laskar bambu runcing saat Sidang Umum MPR 1999 dan konflik di beberapa wilayah telah membuktikan. Berapa nyawa rakyat yang melayang?
Lantas spanduk dua-tiga tahun lalu di beberapa kantor Kodim, yang isinya mengingatkan bahaya komunisme, seakan segendang sepenarian dengan arus pernyataan beberapa laskar. Siapa memanfaatkan siapa? Entah.
Apakah laskar-laskar yang galak merupakan bagian dari itu? Saya bukan pakar, bukan pengamat.
Saya hanya warga biasa, yang heran ketika mendapat kabar bahwa anggota laskar kesukuan-kedaerahan, yang berjaringan posko di pangkalan-pangkalan ojek, menagih honor setelah mengamankan calon gubernur (incumbent) di sekitar balai kota bandar besar.
Yang terdengar seterusnya adalah perkelahian bersenjata berebut pengamanan lahan. Salah satu panglima laskar itu ber-Mercy S Class, berarloji berlian, berkantor di gedung mentereng Segitiga Emas (jauh dari rumah basisnya di pinggir kota), dan pada suatu Jakarta Fair memegang pengamanan kawasan Kemayoran.
Mungkin uang bukan tujuan. Tetapi mobilisasi bisa dinilai dengan uang. Bukankah kesukarelaan pun, di mata pebisnis tulen, bisa dicatat dengan valuation? Bagi laskar, karena masalahnya bukan uang, portofolio adalah sarana penegak tawar-menawar.
Sampai di situ urusannya menjadi wilayah mainan para elite kelompok. Massa pengikut, yang true believers itu, boleh larut dalam ilusi tentang penegakan kebenaran. Selebihnya jangan memercayai posting saya. Sudah gombal, meracau pula. Eh maaf, masih ada lagi gombalan saya.
Pendekatan isu: negara dan agama
Inilah sengketa pandangan dari Ahad Berluka di Monas itu. Sebagian pihak, terutama korban, menempatkan persoalan pada penyerangan terhadap semangat keberagaman dan kebebsan beragama.
Di sisi lain, termasuk pelaku, masalahnya bukan antikeberagaman dan kebebasan beragama, melainkan jawaban terhadap tantangan dari pihak yang membela “musuh”. Tepatnya: musuh yang tak punya hak hidup — atau boleh hidup tapi tak boleh bernapas.
Masing-masing mengajukan bukti siapa menyerang siapa, siapa menantang siapa, yang intinya adalah siapa yang mencari perkara. Terus ter-update. Bahkan jurus intelijen — berupa penyusupan ke kubu seberang — pun dibuka.
Rasanya, polisi mana pun — apalagi tingkat bintara ke bawah — akan pusing menghadapi ini. Ini ranah sensitf yang menjadi jatah para jenderal.
Pada dataran isu, cara pandang saya mungkin tak menyenangkan. Misalnya, dalam batas dan lingkup apa negara, melalui kepanjangan tangannya, atas nama Ketuhanan yang Maha Esa, boleh mencampuri kehidupan keagamaan? Adanya lima ditjen bimas “agama resmi” di Depag mungkin bisa jadi bahan diskusi yang menarik.
Begitu pula dengan pendikan (tentang pengetahuan) (ke)agama(an) di sekolah-sekolah. Seberapa jauh negara boleh campur tangan?
Soal berikutnya adalah kewenangan (bisa dibaca “hak dan sekaligus kewajiban”) setiap lembaga keagamaan. Saya sangat menghormati keputusan petinggi lembaga atau wadah keagamaan apa pun yang menyatakan sebuah “aliran” sebagai sesat, menyimpang, melenceng, menodai, mencatut, yang intinya adalah “salah”.
Tapi saya tidak setuju jika keputusan itu menjadi alasan bagi siapa pun yang merasa di jalur benar untuk melakukan kekerasan fisik — atau minimal ancaman penggunaan kekerasan fisik — padahal pihak sasaran tak melakukan pengacauan.
Pada titik inilah sengketa pendapat belum mendapatkan titik temu. Negara dan birokrasi, beserta jaringan keamanan, terpaksa terlibat — mungkin sebagian dengan setengah hati.
Dalam ketidakjelasan yang mengambang itulah meletup Ahad Berluka di Monas. Justru karena masing-masing butuh ketegasan dan penegasan. Padahal itu bisa dicapai dengan dialog.
Oh Indonesia!




Joseph Stalin Starvation Euthanasia | 30 08 2008 @ 13:24:25
hidup Khieu Samphan, Adolf Hitler, Ohnishi, Joseph Broz Tito, Pol Pot, Karadzic, Joseph Stalin, Mussolini, Heng Samrin, Mao Zedong, Ante Gotovina, Vietcong, Kamikaze, Goebbels, dll. mereka adalah orang2 yg berani berbuat, dan juga berani mati. seandainya mereka masih hidup, fpi akan di bunuh habis2an, he…he…ho…ho…hi…hi…ha…ha…hu…hu…
Joseph Stalin Starvation Euthanasia | 30 08 2008 @ 13:11:13
hei fpi bangsat!sy mau panggil taliban buat bunuh fpi, kalau taliban kalah, terpaksa sy turun tangan sendiri! fpi akan sy masukkan ke penjara Tuol Sleng, tempat di mana “orang masuk, tapi tak bisa keluar”. oh iya, atau sy panggil ryan si penjagal aja buat ngebantai fpi, mungkin ryan mau.
absorption chiller gas servicing | 04 08 2008 @ 9:27:36
avnh aexd atkwub
kirby ds | 01 08 2008 @ 6:35:44
lozkamw anct cfhymiz suwjp
lyric to linger by the cranberry | 29 07 2008 @ 10:53:46
dkflnuh
accessory cellular lg phone wholesale | 27 07 2008 @ 12:30:07
fvpz bafmz kontqm
taking her shoes off | 25 07 2008 @ 14:18:09
suwglh cxerwp
giya | 21 07 2008 @ 11:28:17
JIL Berada Dibalik Skenario Bentrok Monas, SBY pun Tahu…!!!
Pengakuan Seorang Aktivis JIL
Berikut ini tulisan dari seseorang bernama Nong Darol Mahmada…!!! Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu, nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL.
Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu. Perlu kawan kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan kedok saja untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan. Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng.
Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain. Rizal M, yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan keras dari FPI.Lalu setelah mendapatkan ‘restu’ dari presiden Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat
skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. Lalu setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan membuatsemacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta yang hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa massa FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan pengerusakan.
Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, menghubungi SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk melancarkan aksi tersebut.
Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL, termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat isu kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang damai.
Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk dan ratusan
anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini yang diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi yang dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa membubarkan aksi tersebut..
Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis ketahui bahwa:
1. Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan isu BBM.
2. Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena selama ini FPI merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi.
3. Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi dibubarkan.
4. Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan keuntungan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.
Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email kekawan-kawan sekalian. Terima kasih.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS: Surat ALI IMRAN, 104)
UMAT MUSLIM INDONESIA, PEMILU 2009
PILIH PEMIMPIN & PARTAI YANG MENDUKUNG PEMBUBARAN AHMADIYAH
—
sebuah komentar yang panjang, mirip sebuah post dalam blog. tapi karena saya menghargai keragaman pendapat maka komentar ini tetap saya pajang. salam.
tyo
salt pepper chicken wings recipe | 21 07 2008 @ 7:41:58
isfal
acid indigestion reflux symptom | 21 07 2008 @ 7:14:24
vpyiu hagce gksf
free nude video samples | 18 07 2008 @ 16:27:27
xtowu rnuzg
kardjo | 05 07 2008 @ 21:19:21
Setahu saya, para perempuan justru suka kekerasan. Soalnya kalau nggak ‘keras’, pasti kuciwaa….
*gubrak!*
trimbill | 05 07 2008 @ 14:25:43
ya gitu aja kok diurusin.., mending urusin masalah kita sendiri aja. ok
Cahaya | 27 06 2008 @ 21:55:59
bener…
bener panjang banget maksudnya. sampe ngga lucu lagi
Muhammad IQbal | 20 06 2008 @ 3:24:58
hidup memang penuh perjuangan atau perbuatan yaaa…:)
salam kenal…
dodolipet | 11 06 2008 @ 11:10:07
damai bro damai…..
blietzkrieg | 09 06 2008 @ 13:18:45
Blom sempat baca….
Panjang bener…
ichanx | 08 06 2008 @ 20:56:45
sedih….
Kacank Mas | 05 06 2008 @ 21:06:01
hiks…………mungkin ini yang dimaksud pak Karno……..musuhmu lebih berat dari musuhku………hiks……
[e]0ne | 05 06 2008 @ 11:24:36
yang gw takutkan adalah perpecahan umat ISLAM… semoga tidak terjadi! Amin.
toim | 05 06 2008 @ 11:23:32
moga2 gak ada kekerasan lg di indonesia, apapun bentuk alesannya.
kecuali kalo kekerasan dlm olahraga tinju :D
escoret | 05 06 2008 @ 10:29:16
yap,setuju…!!!
perlu ketegasan dr pemerintah.
macam hutan rimba saja,ketika bersebarangan kok GOLOK yg berbicara…!!
ebong | 05 06 2008 @ 9:32:55
indONEsia
Kata satu dalam indonesia. Dimana Indonesia Ku
Miris melihat dagelan di negara ini.
Kekerasan di pertontonkan, Proses Pembodohan di lakukan dimana mana.
Siapa yg BERTANGGUNG JAWAB.
Pelakukah atau Korban.
Keduanya adalah korban dari penyelengara di negara ini yg tidak mempunyai rumus dan arah yg jelas dalam menjalankan roda pemerintahan.
YA indONEsia
Suram dan legam
Ya sdh Toton saja dagelan di Negara Ini
Laks | 05 06 2008 @ 8:58:47
cuma jadi dikit berpikir apakaha ini politik lagi untuk mengalihkan fokus rakyat yang demo BBM menjadi isu pembubaran FPI?
kayaknya sejak ada berita FPI ini dah lupa tuh BBM dah naik :D
arimurti.com | 05 06 2008 @ 3:01:57
saya juga ikut capek baca tulisannya yang panjang bener…hehehe..becanda
rico | 04 06 2008 @ 23:15:19
Oh Indonesia..
Negara penuh dagelan tidak lucu, ya paman?
salam
ichanx | 04 06 2008 @ 21:44:10
intinya sih pemerintah kudu tegas, jangan mencla-mencle kayak sekarang. Penjarain anggota2 fpi yang suka berbuat kriminal seenaknya. berbarengan dengan itu, keluarin keputusan resmi pemerintah tentang ahmadiyah. kalo sesat, ya sesat. silahkan ganti nama agamanya. kalo gak sesat, ya gak sesat. yang penting jangan ngeblur kayak sekarang… iya kan paman?
pramudyaputrautama | 04 06 2008 @ 19:45:09
Ikut ikutan bikin laskar ah …
LASKAR CINTA LAURA …ada yang mo gabung ?
bubba | 04 06 2008 @ 19:18:01
lha kalo LASKAR CINTA itu termasuk yang mana pakdhe?
:)
*ketawan kalo gak baca sampe abis*
Ya, Habib… « Mas Kopdang | 04 06 2008 @ 18:30:12
[...] karenanya, perbincangan yang ada di sini, di sana, dan di situ akan lebih klop bila kita telah mengetahui sejarah asal muasal “kelompok” [...]
poniman | 04 06 2008 @ 18:12:52
hehe…serasa lagi baca ndorokakung.com
Kardjo | 04 06 2008 @ 17:50:27
Yang ini menarik…
Kok ya diperjelas.. emangnya permempuan gak boleh saling membusungkan dada?? Kebetulan saja jika dada sudah membusung, tetapi bukan berarti gak boleh silang pendapat khan??????
Hihi!™
ivn | 04 06 2008 @ 17:05:20
adakah ajaran islam yang menyuruh memukuli saudaranya sendiri,,
nabi muhammad SAW sewaktu perang aja gak ganggu anak2 dan wanita ini koq malah mereka berbuat anarkis atas nama islam
senimanpeta | 04 06 2008 @ 16:36:14
Paman, yang rusuh-rusuh saya ndak ikut-ikut loh..:)
Kacank Mas | 04 06 2008 @ 16:00:05
Kekerasan itu hanya boleh dalam rumah tangga :). Peristiwa Monas, PlayBoy dll sebenarnya itu tidak boleh terjadi, masak hantam sana-sani, ga mutu. Tapi FPI tidak perlu dibubarkan,ibaratnya ini mesin otomatis pintu yang ber ID, kalo ID ga cocok ya ga buka, tp kalo diakalin mungkin buka tapi bikin yang lewat kejepit, salah sendiri hehehe. si Ahmad dikasih pilihan, kalo mau berdiri sendiri ya silahkan, tapi tanpa embel2 Islam, karena ini yang bikin umat Islam marah. Semua pihak tau diri lah…..masak udah gede kok masih (suka bikin) ribut. Pusing-pusing amat…sepusing baca tulisan paman ;)
adi | 04 06 2008 @ 15:30:53
memang betul paman ….
maksudnya betul-betul capek baca tulisan paman, hihihihi ….
*kabur ke timbuktu*
Kartun Orang Batak | 04 06 2008 @ 14:53:43
Sulit kalau tuntunannyapun panglima perang yang tak segan memancung kepala yang gak mau ngkiut dia
pelintas | 04 06 2008 @ 14:49:54
@ #13 KEKERASAN kagak ade tempatnye di muka bumi ini,setuju boss !,ntu berarti kite jijik ame segale macem pekare kekerasan iye kagak ? dimane aje ,kapan aje selame ntu kejadian di muke bumi.Kagak berarti ngecilin tapi kalo jidat bocor aje mah kagak nempil noh ame kekerasan dengan atas name entah ape,dimane manuse di gelontor ame berton-ton bom,dibunuhi dengan care nyang katenye sistematis,jijik kagak ?.Nyang kemaren di Monas,entu mah cume kerjaan orang bodo ,gelisah, pengangguran,nyang dibakar bakar ame pimpinan mereka nyang sama sekali kagak bijak,tapi hmmmmm…. nyang namenye dunia kadang emang perlu orang 2 radikal kayak entu sebage penyeimbang ,apelagi ini sejatinye maenan pulitik,tapi…ya tetep nyebelin ya ngeliatnye,iye kagak ?
Syafrudin Abi-Dawira | 04 06 2008 @ 14:48:24
Setuju, FPI tidak perlu dibubarkan. Laskar - laskar yang terorganisasi baik pada dasarnya mudah diatur. Lha mereka mau melakukan aksi di Monas kemarin saja sudah mengantongi ijin polisi dulu (katanya :-)).
Insiden Monas bisa diselesaikan dengan jalur pidana biasa. Apalagi sudah terbukti FPI bisa bekerja sama sehingga penangkapan para tersangka pada Rabu pagi ini berjalan lancar.
Untuk #32: saya lebih resah oleh laskar parkir.
Setuju, premanisme yang demikian yang harus diberantas bersama. Mereka secara langsung menjadi pemalak warga sementara FPI kan sebetulnya ada karena Polisi belum bisa membersihkan penyakit masyarakat (judi, miras, pelacuran). Insiden Monas kan cuma
karena mereka merasa aksi yang mendukung Ahmadiyah harus dibubarkan karena Ahmadiyah sudah dijatuhi fatwa sesat.
NB.
Saya kok curiga kenapa namanya “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”. Apa maksud berkeyakinan di sini ? Apakah maksudnya aliran kepercayaan ?
pasar sapi | 04 06 2008 @ 13:36:13
memang paman, sebagai yang melihat pasti bingung, males dan capek. Tapi sebagai korban (maaf) kebetulan teman sekantor saya digebuki, padahal dia bawa istri, liat badannya babak belur.. sampe opname..yaaaa sedih paman. Dan saya jadi tidak bisa se-obyektif paman.
NB : inilah kalo beragama diatur oleh negara, agama bukan lagi petunjuk hidup tetapi status.
kopdang | 04 06 2008 @ 12:56:07
oh indonesia?
sebetulnya sekup kecil saja, Paman:
“Ah, Ibu kota…”
edratna | 04 06 2008 @ 12:55:11
Akhirnya polisi turun tangan……kita tunggu hasilnya.
Mungkin lebih mudah berurusan dengan mahasiswa ya….diambilnya bisa langsung….ini perlu tiga hari, dan setelah SBY pidato.
bocah | 04 06 2008 @ 12:17:12
Sebagai warga biasa, saya lebih resah oleh laskar parkir… Soalnya saya tak pernah bersentuhan dengan laskar jubah putih. Kalau laskar parkir, saban hari
r | 04 06 2008 @ 10:35:41
ah, Indonesia!
ah, Paman!
*mikir serius* kasian ya orang-orang itu, yang dimangpaatkan… yg gak ngerti apa-apa tapi ikutan nabokin dan ditabokin…
ah, kasian Indonesia…
*tapi teteup… bensin masih mahal dan listrik masih sering mati :P *
dwee | 04 06 2008 @ 9:24:35
sangat setuju dengan pernyataan pak hasyim (http://fpipetamburan.blogspot.com/2008/06/hasyim-ancam-provokator-yang-kompori-nu.html) kenapa (sebagian elemen) NU amat sangat merasa terusik?!
saling intropeksi dirilah…
F4T80YS | 04 06 2008 @ 7:39:27
ppssttt…. Laskar bukan cuma FPI lho… ada banyak lagi bakan kelakukan Banser NU juga mirip mereka…. belum lagi FBR dan laskar2 lainnya….. mungkin ini terbentuk karena melihat ketidakmampuan keamanan Polisi memberikan perlindungan yang pasti kepada masyarakat…. salah si Polisi ??? belum tentu juga…. karena saat ini polisi juga dalam posisi serba susah…. terlalu berani ambil tindakan duluan dianggap melanggar HAM… mengambil tindakan belakangan dianggap tidak antisipatif…. hidup yang susah… :(
Sluman slumun slamet | 04 06 2008 @ 1:20:08
Jadikan angkatan kelima eh keempat saja mereka! Forum Preman Indonesia. Kalau jadi habib jangan jadi habib resek.
deeco | 03 06 2008 @ 23:22:22
Ya inilah Endonesiah paman… Banyak orang lebih suka ngurusin orang lain, menyalahkan orang lain ketimbang bercermin dan memperbaiki diri… Tak heran acara infotaiment selalu laku….
Trus siapa yang salah? Gak ada, kita semua hanya seorang anak kecil yang sedang belajar bermain biola… (merujuk ke cerita di blog ini http://www.henlia.com/?p=1307)
pramudyaputrautama | 03 06 2008 @ 22:59:47
udah bubarin aja laskar itu, capek dech denger berita kaya gini
pebbie | 03 06 2008 @ 22:49:55
bukankah keadaan yang mengambang juga genderang tari bagi rakyat Indonesia yang hobi gosip? :P
ujang | 03 06 2008 @ 22:47:27
Kenapa tidak setuju dibubarkan? Jelas sekali organisasi ini seringkali melakukan kekerasan kok. Nyata sekali ini, coba saja lihat ke banyak peristiwa2 sebelumnya yang melibatkan FPI.
Polisi aja tidak berani bertindak, mau jadi apa coba?
Yang saya herankan, mereka ini dapat dana dari mana? Iuran anggota kah? Atau dana siluman dari pejabat2 pemerintah yang mendukung (bahasa jawanya “ngatok”) mereka?
Mereka punya banyak cabang, punya markas, punya struktur organisasi. Apa lagi? Tunggu mereka berkembang menjadi besar?
Before it is too late, better to stop now, or we will regret.
Rian | 03 06 2008 @ 20:53:32
Ini tulisan terpanjang yang paman buat ya?
Saya sampe capek bacanya :)
Johan | 03 06 2008 @ 20:08:31
Mau bilang bagaimana lagi? Itu memang sudah bakat turunan sih. Bagaimanapun, ini memang fakta yg menyedihkan, memalukan, menjijikkan, dsb.
aditio | 03 06 2008 @ 20:06:09
duh, tumben panjang amat….
gara2 nonton berita gini jadi perang ama pacar…..
soalnya liat berita ini reaksi gw; “wow keren…. tuh liat tu… orang sholat lima waktu terus, sujud dan wiritnya kenceng, tahajud segala kali ye…. wow….. dashyat, saya jadi takut kalo sholat”.
Jadilah dijewer dengan wejangan “engga semuanya kakanda tayang” abis itu di diemin seharian…
la kok saya jadi ikutan susah….
cheers, no offends
lop n piss
geblek | 03 06 2008 @ 19:53:41
siap siap ke loundre cuci otak ahhhh
capek mikir dan mendengar berita endonesia inih
daaan | 03 06 2008 @ 19:00:23
Ahh sepertinya manusia indonesia perlu di brainwash paman, biar lebih bersih pemikirannya ^_^
Yoyo | 03 06 2008 @ 18:42:26
AKK-BB nya udah bubar Paman, digebukin FPI…, kasian…!
sawung | 03 06 2008 @ 17:54:48
http://sawung.blogspot.com/2008/05/pengalihan-isu.html
Gampagn bener buat ngalihin isu
andrias ekoyuono | 03 06 2008 @ 17:49:12
semua pihak merasa terprovokasi, semua pihak merasa harus membalas, semua pihak merasa benar, susah diurai
Ahmad Sahidah | 03 06 2008 @ 17:08:32
Dari jauh, meski tak begitu sangat jauh, saya miris melihat wajah muram saudara kami di Indonesia. Duh, kok jadi kayak sandiwara di kampung ya?
Doa saya untuk mereka semua agar menahan diri dan berbuat kebaikan antara sesama. Tak perlu menyatakan perang untuk menegakkan kebenaran, karena dengan sendirinya sang pemberang itu telah menginjak kebenaran yang dibelanya. Apa pun wujudnya.
mpokb | 03 06 2008 @ 17:01:43
kenapa polisi takut sama fpi? hayah… pertanyaan kok kurang ajar banget yak..
silly | 03 06 2008 @ 16:58:17
*%@$@!%!#$^#%&#!@#~%#$^%&*$@%*$@%*%:(
(sedang ngeGremeng sendiri :( ).
(bentar paman, silly tarik nafas dulu biar gak komentar tolol karna esmosi…)
*
Gini, mo bener kek mo salah kek, yg namanya KEKERASAN tidak ada tempatnya dimuka bumi ini. Dah itu ajahhh… susah bener sich… sapa yg ngasih hak buat kita mukul/nyiksa orang lain… ngasih makan aja enggak… Bapak Ibunya aja belum tentu pernah ngegebukin.. (hehehee… stupid and Childish bgt emang, tapi it’s true right?).
*
Masih gemes dan jijik rasanya melihat insiden monas kemarin, dan Insiden balas dendam bagi kelompok fpi… Duhhh, udah donggg.. gak capek yach, saya aja capek lohhh… Termasuk baca tulisan paman ini… lamaaaaa banget baru kelar, hahaha :D
**dirajam2 pake ulekan**
pema | 03 06 2008 @ 16:56:29
ya…saya setuju banget dengan Paman. Dia berani kan karna ga berbadan hukum….!!! Oh Endonesea….!!!
123 | 03 06 2008 @ 16:51:05
http://www.goldindonesia.com
Epat | 03 06 2008 @ 16:45:39
salam damai saja untuk indahnya sunset dan cantiknya sunrise diseluruh pelosok nusantara…
avianto | 03 06 2008 @ 16:36:18
Agak diluar topik, tapi kalau jadi anggota FPI tidak perlu pakai helm loh kalau naik motor, cukup peci putih saja. Polisi aja tidak berani nilang loh.
Atau jangan-jangan peci putih sudah termasuk pengganti helm sekarang?
devie | 03 06 2008 @ 16:35:24
cuman Laskar Pelangi yang sejuk dimata dan dihati. :D
Jauhari | 03 06 2008 @ 16:32:36
Negeri ini itu
cm4nk | 03 06 2008 @ 16:22:28
Ah.. laskar..
Kalo emang niat ngebantu,daftarlah kalian jadi Polisi,atw Satpam jika tak mampu.. bukannya membangun “Polisi-polisian” beugh…
suprie | 03 06 2008 @ 15:59:37
dialog memang bisa di lakukan, tapi entah mengapa mereka memilih jalur yang keras, mungkin karena merasa jika lewat dialog, mereka tak akan di dengar, atau juga mereka mencoba mencari jalan yang paling singkat.
Anang | 03 06 2008 @ 15:40:12
kalo pemimpinnya fpi jadi presiden. wah ciut nyali koruptor kita wahahah
Hedi | 03 06 2008 @ 15:31:29
neo fasis percuma tak berguna, tapi lembaga itu kan bentukan pemerintah untuk menunjukkan pemerintah itu ada…sebuah strategi yg aneh…
emyou | 03 06 2008 @ 15:22:20
bener.
lelah bacanya hehehe…
Yan | 03 06 2008 @ 15:20:22
“boleh hidup tapi tak boleh bernapas”.
Kalimat yang ini saya suka sekali :-)
Kata paman “Padahal itu bisa dicapai dengan dialog”. Duhai, benarkan demikian?