PANJANG, MELELAHKAN UNTUK DIBACA. YANG NULIS SAJA CAPEK.

Saya termasuk yang kurang sreg dengan seruan pembubaran (kemudian diralat: pembekuan) FPI. Memang, kalau belum menjadi badan hukum, bagaimana bisa dibubarkan secara formal? Saya pun tak setuju jika ada balasan, berupa penyerbuan dan ancaman penggunaan kekerasan ke markas dan pos FPI.

Paling fair, pelakunya saja yang ditangkap, disidik, dan diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hakim, dalam sidang yang adil dan netral. Bahwa polisi terkesan kikuk — kata lain untuk “mencoba bijaksana” — dalam menangani ini, ya apa boleh bikin. Ketika menyangkut ranah peka, yang sarat sentimen primordial, kriminalisasi (kadang) memang tak segampang pasal undang-undang. ;)

Kalau berbalas tindak dilakukan semudah berbalas pantun, maka kacaulah kehidupan sosial kita dalam wadah yang kita yakini sebagai “nasion”. Ini sama saja mengabsahkan dorongan bahwa setiap kelompok boleh membangun milisi atas nama pertahanan diri karena negara tak sanggup melindungi warganya sendiri.

Sebagai bibit, milisi maupun paramiliter bisa dilihat dari satgas ini dan itu, termasuk dari partai. Namanya saja sudah militeristik: satuan tugas (task force?), yang biasanya disertai posko (pos komando), dengan (sok) disiplin ala tangsi (misalnya apel siaga). Belum lagi seragamnya. Bukan, itu bukan lantaran fashion, tepatnya army look, yang belum terlalu meredup padahal sudah sepuluh tahun menggaya itu.

Adapun respon terhadap peristiwa Ahad Berluka di Monas, yang muncul dalam bahasa verbal tak kurang galaknya. Lihatlah kliping berita. Ada tokoh yang menggunakan kata “gila”. Berseliweran pernyataan galak. Dibalas oleh yang disebut.

Untunglah, kalau ibarat komik, baru sebatas balon teks dengan font tebal berpadat tanda seru. Belum sampai “Dzikkk!”

Misalkan itu terjadi dalam tatap muka, apalagi dalam atmosfer kaki lima dan terminal, ayun bogem matang bakal terjadi. Kita bukan masyarakat yang bisa menahan diri dalam cekcok yang saling mendekatkan busung dada (antarpria) dengan otot leher mengencang sambil mengangkat dagu.

Lantas bagaimana kita memetakan Ahad Berluka di Monas? Uh, memetakan. Mungkin rumit.

Harus diingat, setiap pemetaan adalah penyederhanaan. Repotnya, setiap penyederhanaan cenderung terjebak dalam penafian terhadap unsur penting dalam sebuah kompleksitas.

Namun sebagai pendekatan masalah, yang tak hendak memonopoli kebenaran, pemetaan satu dan pemetaan lainnya bisa dipertimbangkan.

Pendekatan Laskar

Laskar dan sejenisnya, sebagai kekuatan “bersenjata” nonregular, mengemuka dalam tiga babak. Pertama: saat revolusi. Kedua: tahun 65-66. Ketiga: masa-masa pengukuhan Orde Baru sejak 70-an, ketika korporatisme politik melanggengkan onderbouw (organisasi payung), dan paramiliter kepemudaan adalah salah satunya. Mungkin aneh, mungkin tidak.

Menjadi tampak aneh, karena ketika militer saat itu sangat dominan, kenapa juga membiarkan bahkan “membina” sejumlah paramiliter. Kuat kok nggak pede. :D

Bisa juga tidak aneh, karena ketika militerisme menjadi kultur, maka wadah pendisiplinan dan penyaluran agresivitas apa pun akan merujuk ke gaya tangsi.

Apa yang terjadi setelah Orde Baru (dianggap) selesai, hanyalah kelanjutan. Bedanya, model pemanfaatnya lebih meriah daripada kampanye pemilu, bila perlu nyemplung ke konflik horizontal.

Tentu, alasan primordial adalah obor paling benderang. Mobilisasi laskar bambu runcing saat Sidang Umum MPR 1999 dan konflik di beberapa wilayah telah membuktikan. Berapa nyawa rakyat yang melayang?

Lantas spanduk dua-tiga tahun lalu di beberapa kantor Kodim, yang isinya mengingatkan bahaya komunisme, seakan segendang sepenarian dengan arus pernyataan beberapa laskar. Siapa memanfaatkan siapa? Entah.

Apakah laskar-laskar yang galak merupakan bagian dari itu? Saya bukan pakar, bukan pengamat.

Saya hanya warga biasa, yang heran ketika mendapat kabar bahwa anggota laskar kesukuan-kedaerahan, yang berjaringan posko di pangkalan-pangkalan ojek, menagih honor setelah mengamankan calon gubernur (incumbent) di sekitar balai kota bandar besar.

Yang terdengar seterusnya adalah perkelahian bersenjata berebut pengamanan lahan. Salah satu panglima laskar itu ber-Mercy S Class, berarloji berlian, berkantor di gedung mentereng Segitiga Emas (jauh dari rumah basisnya di pinggir kota), dan pada suatu Jakarta Fair memegang pengamanan kawasan Kemayoran.

Mungkin uang bukan tujuan. Tetapi mobilisasi bisa dinilai dengan uang. Bukankah kesukarelaan pun, di mata pebisnis tulen, bisa dicatat dengan valuation? Bagi laskar, karena masalahnya bukan uang, portofolio adalah sarana penegak tawar-menawar.

Sampai di situ urusannya menjadi wilayah mainan para elite kelompok. Massa pengikut, yang true believers itu, boleh larut dalam ilusi tentang penegakan kebenaran. Selebihnya jangan memercayai posting saya. Sudah gombal, meracau pula. Eh maaf, masih ada lagi gombalan saya.

Pendekatan isu: negara dan agama

Inilah sengketa pandangan dari Ahad Berluka di Monas itu. Sebagian pihak, terutama korban, menempatkan persoalan pada penyerangan terhadap semangat keberagaman dan kebebsan beragama.

Di sisi lain, termasuk pelaku, masalahnya bukan antikeberagaman dan kebebasan beragama, melainkan jawaban terhadap tantangan dari pihak yang membela “musuh”. Tepatnya: musuh yang tak punya hak hidup — atau boleh hidup tapi tak boleh bernapas.

Masing-masing mengajukan bukti siapa menyerang siapa, siapa menantang siapa, yang intinya adalah siapa yang mencari perkara. Terus ter-update. Bahkan jurus intelijen — berupa penyusupan ke kubu seberang — pun dibuka.

Rasanya, polisi mana pun — apalagi tingkat bintara ke bawah — akan pusing menghadapi ini. Ini ranah sensitf yang menjadi jatah para jenderal.

Pada dataran isu, cara pandang saya mungkin tak menyenangkan. Misalnya, dalam batas dan lingkup apa negara, melalui kepanjangan tangannya, atas nama Ketuhanan yang Maha Esa, boleh mencampuri kehidupan keagamaan? Adanya lima ditjen bimas “agama resmi” di Depag mungkin bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Begitu pula dengan pendikan (tentang pengetahuan) (ke)agama(an) di sekolah-sekolah. Seberapa jauh negara boleh campur tangan?

Soal berikutnya adalah kewenangan (bisa dibaca “hak dan sekaligus kewajiban”) setiap lembaga keagamaan. Saya sangat menghormati keputusan petinggi lembaga atau wadah keagamaan apa pun yang menyatakan sebuah “aliran” sebagai sesat, menyimpang, melenceng, menodai, mencatut, yang intinya adalah “salah”.

Tapi saya tidak setuju jika keputusan itu menjadi alasan bagi siapa pun yang merasa di jalur benar untuk melakukan kekerasan fisik — atau minimal ancaman penggunaan kekerasan fisik — padahal pihak sasaran tak melakukan pengacauan.

Pada titik inilah sengketa pendapat belum mendapatkan titik temu. Negara dan birokrasi, beserta jaringan keamanan, terpaksa terlibat — mungkin sebagian dengan setengah hati.

Dalam ketidakjelasan yang mengambang itulah meletup Ahad Berluka di Monas. Justru karena masing-masing butuh ketegasan dan penegasan. Padahal itu bisa dicapai dengan dialog.

Oh Indonesia!

Tagged with:
 

74 Responses to Laskar Ini-itu dan Ahad Berluka di Monas

  1. arimurti.com INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    saya juga ikut capek baca tulisannya yang panjang bener…hehehe..becanda

  2. rico INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    Oh Indonesia..
    Negara penuh dagelan tidak lucu, ya paman?

    salam

  3. ichanx INDONESIA Opera Windows says:

    intinya sih pemerintah kudu tegas, jangan mencla-mencle kayak sekarang. Penjarain anggota2 fpi yang suka berbuat kriminal seenaknya. berbarengan dengan itu, keluarin keputusan resmi pemerintah tentang ahmadiyah. kalo sesat, ya sesat. silahkan ganti nama agamanya. kalo gak sesat, ya gak sesat. yang penting jangan ngeblur kayak sekarang… iya kan paman?

  4. Ikut ikutan bikin laskar ah …
    LASKAR CINTA LAURA …ada yang mo gabung ?

  5. bubba UNITED STATES Internet Explorer Windows says:

    lha kalo LASKAR CINTA itu termasuk yang mana pakdhe?
    :)
    *ketawan kalo gak baca sampe abis*

  6. [...] karenanya, perbincangan yang ada di sini, di sana, dan di situ akan lebih klop bila kita telah mengetahui sejarah asal muasal “kelompok” [...]

  7. poniman INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    hehe…serasa lagi baca ndorokakung.com

  8. Kardjo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Yang ini menarik…

    ..saling mendekatkan busung dada (antarpria) dengan otot leher…

    Kok ya diperjelas.. emangnya permempuan gak boleh saling membusungkan dada?? Kebetulan saja jika dada sudah membusung, tetapi bukan berarti gak boleh silang pendapat khan??????

    Hihi!™

  9. ivn INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    adakah ajaran islam yang menyuruh memukuli saudaranya sendiri,,
    nabi muhammad SAW sewaktu perang aja gak ganggu anak2 dan wanita ini koq malah mereka berbuat anarkis atas nama islam

  10. senimanpeta INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Paman, yang rusuh-rusuh saya ndak ikut-ikut loh..:)

  11. Kacank Mas SINGAPORE Mozilla Firefox Windows says:

    Kekerasan itu hanya boleh dalam rumah tangga :). Peristiwa Monas, PlayBoy dll sebenarnya itu tidak boleh terjadi, masak hantam sana-sani, ga mutu. Tapi FPI tidak perlu dibubarkan,ibaratnya ini mesin otomatis pintu yang ber ID, kalo ID ga cocok ya ga buka, tp kalo diakalin mungkin buka tapi bikin yang lewat kejepit, salah sendiri hehehe. si Ahmad dikasih pilihan, kalo mau berdiri sendiri ya silahkan, tapi tanpa embel2 Islam, karena ini yang bikin umat Islam marah. Semua pihak tau diri lah…..masak udah gede kok masih (suka bikin) ribut. Pusing-pusing amat…sepusing baca tulisan paman ;)

  12. adi FRANCE Internet Explorer Windows says:

    memang betul paman ….
    maksudnya betul-betul capek baca tulisan paman, hihihihi ….
    *kabur ke timbuktu*

  13. Sulit kalau tuntunannyapun panglima perang yang tak segan memancung kepala yang gak mau ngkiut dia

  14. pelintas INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    @ #13 KEKERASAN kagak ade tempatnye di muka bumi ini,setuju boss !,ntu berarti kite jijik ame segale macem pekare kekerasan iye kagak ? dimane aje ,kapan aje selame ntu kejadian di muke bumi.Kagak berarti ngecilin tapi kalo jidat bocor aje mah kagak nempil noh ame kekerasan dengan atas name entah ape,dimane manuse di gelontor ame berton-ton bom,dibunuhi dengan care nyang katenye sistematis,jijik kagak ?.Nyang kemaren di Monas,entu mah cume kerjaan orang bodo ,gelisah, pengangguran,nyang dibakar bakar ame pimpinan mereka nyang sama sekali kagak bijak,tapi hmmmmm…. nyang namenye dunia kadang emang perlu orang 2 radikal kayak entu sebage penyeimbang ,apelagi ini sejatinye maenan pulitik,tapi…ya tetep nyebelin ya ngeliatnye,iye kagak ?

  15. Syafrudin Abi-Dawira INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Setuju, FPI tidak perlu dibubarkan. Laskar – laskar yang terorganisasi baik pada dasarnya mudah diatur. Lha mereka mau melakukan aksi di Monas kemarin saja sudah mengantongi ijin polisi dulu (katanya :-)).

    Insiden Monas bisa diselesaikan dengan jalur pidana biasa. Apalagi sudah terbukti FPI bisa bekerja sama sehingga penangkapan para tersangka pada Rabu pagi ini berjalan lancar.

    Untuk #32: saya lebih resah oleh laskar parkir.

    Setuju, premanisme yang demikian yang harus diberantas bersama. Mereka secara langsung menjadi pemalak warga sementara FPI kan sebetulnya ada karena Polisi belum bisa membersihkan penyakit masyarakat (judi, miras, pelacuran). Insiden Monas kan cuma
    karena mereka merasa aksi yang mendukung Ahmadiyah harus dibubarkan karena Ahmadiyah sudah dijatuhi fatwa sesat.

    NB.
    Saya kok curiga kenapa namanya “Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan”. Apa maksud berkeyakinan di sini ? Apakah maksudnya aliran kepercayaan ?

  16. pasar sapi INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    memang paman, sebagai yang melihat pasti bingung, males dan capek. Tapi sebagai korban (maaf) kebetulan teman sekantor saya digebuki, padahal dia bawa istri, liat badannya babak belur.. sampe opname..yaaaa sedih paman. Dan saya jadi tidak bisa se-obyektif paman.

    NB : inilah kalo beragama diatur oleh negara, agama bukan lagi petunjuk hidup tetapi status.

  17. kopdang INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    oh indonesia?

    sebetulnya sekup kecil saja, Paman:
    “Ah, Ibu kota…”

  18. edratna INDONESIA Mozilla SeaMonkey Windows says:

    Akhirnya polisi turun tangan……kita tunggu hasilnya.
    Mungkin lebih mudah berurusan dengan mahasiswa ya….diambilnya bisa langsung….ini perlu tiga hari, dan setelah SBY pidato.

  19. bocah INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Sebagai warga biasa, saya lebih resah oleh laskar parkir… Soalnya saya tak pernah bersentuhan dengan laskar jubah putih. Kalau laskar parkir, saban hari

  20. r INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ah, Indonesia!
    ah, Paman!
    *mikir serius* kasian ya orang-orang itu, yang dimangpaatkan… yg gak ngerti apa-apa tapi ikutan nabokin dan ditabokin…
    ah, kasian Indonesia…

    *tapi teteup… bensin masih mahal dan listrik masih sering mati :P *

  21. dwee INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    sangat setuju dengan pernyataan pak hasyim (http://fpipetamburan.blogspot.com/2008/06/hasyim-ancam-provokator-yang-kompori-nu.html) kenapa (sebagian elemen) NU amat sangat merasa terusik?!
    saling intropeksi dirilah…

  22. F4T80YS INDONESIA Mozilla Firefox Linux says:

    ppssttt…. Laskar bukan cuma FPI lho… ada banyak lagi bakan kelakukan Banser NU juga mirip mereka…. belum lagi FBR dan laskar2 lainnya….. mungkin ini terbentuk karena melihat ketidakmampuan keamanan Polisi memberikan perlindungan yang pasti kepada masyarakat…. salah si Polisi ??? belum tentu juga…. karena saat ini polisi juga dalam posisi serba susah…. terlalu berani ambil tindakan duluan dianggap melanggar HAM… mengambil tindakan belakangan dianggap tidak antisipatif…. hidup yang susah… :(

  23. Jadikan angkatan kelima eh keempat saja mereka! Forum Preman Indonesia. Kalau jadi habib jangan jadi habib resek.

  24. deeco INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Ya inilah Endonesiah paman… Banyak orang lebih suka ngurusin orang lain, menyalahkan orang lain ketimbang bercermin dan memperbaiki diri… Tak heran acara infotaiment selalu laku….
    Trus siapa yang salah? Gak ada, kita semua hanya seorang anak kecil yang sedang belajar bermain biola… (merujuk ke cerita di blog ini http://www.henlia.com/?p=1307)

  25. udah bubarin aja laskar itu, capek dech denger berita kaya gini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.