Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Menyapu Kantor

Rabu, 04 Juni 2008 @ 04:58 | Umum

BERSYUKURLAH JIKA ANDA YANG DIPERTUAN.

circle k jalan ahmad dahlan jakarta

Ada yang aneh, di luar kebiasaan, ketika pagi gelap tadi saya mendatangi sebuah Circle K di Jakarta Selatan. Ada suara srek-srek-srek sapu lidi menggaruk pelataran. Sudah sepi, tak ada lagi gerombolan cowok-cewek nongkrong di waserba 24 jam itu. Dua pegawai toko yang merangkap kasir ada di luar. Yang satu jongkok. Yang lainnya menyapu. Mereka ngobrol dengan suara keras.

Si penyapu menggiring puntung rokok, tisu, bungkus cokelat, bungkus permen, tutup botol, dan sampah lainnya.

“Biasa Pak, kotor kalo habis dipake nongkrong anak-anak,” kata si penyapu. Temannya yang tadi jongkok di dekat motor langsung masuk, tanpa saya minta mengambilkan rokok untuk saya. “Yang merah, kan? Yang pakai gambar ya, Pak?” tanyanya.

Bukan sesuatu yang istimewa jika pegawai kedai, resto, kafe, dan minimarket punya tugas tambahan sebagai pelaksana cleaning service. Jika tempat kerja disebut kantor, maka mereka itulah yang menyapu kantornya.

Di Pondok Indah Mall, menjelang tutup toko, saya sering menjumpai pramuniaga toko berseragam (bukan resto) menenteng ember berpenutup serbet. Mereka hendak mencuci gelas dan piring.

Bedanya, orang-orang toko itu membereskan apa yang mereka lakukan. Orang warung? Mereka membereskan apa yang ditinggalkan oleh orang lain. Memang sih, orang lain itu adalah pembeli dan pelanggan.

Baiklah, kita bisa bilang mereka memang digaji untuk itu. Tak perlu kita campur tangan atau mau tahu. Ini serupa sebagian dari kita yang ketika melewati pengepel lantai di kantor dan mal tak merasa perlu bilang permisi. Juga serupa dengan kepelitan kita bilang terima kasih kepada pramusaji kedai.

Tapi sekali mereka lalai tugas, sehingga yang semula tertata jadi berantakan, kita akan uring-uringan, tak merasa nyaman, bila perlu mengumpat.

Ketika mereka benar, kita tak mengingat. Ketika mereka salah, kita tak melupakan. Bersyukurlah orang yang jadi ndoro tuan.

Ada 42 komentar | trackback | Depan

#42

elkhalil | 20 07 2008 @ 16:56:14

Bagus tuh ceritanya….
aku juga pengen tuh buat cerita2 kayak gitu tuk dimasukin ke http://www.elkhalil.wordpress.com
tapi g’ da ide tuh…

bagi2 idenya donk..!!


#41

idbloghosting | 07 07 2008 @ 7:15:20

yang nyapu punya blog gak ya?
yang belum punya, jangan kalah. ayo bikin di idbloghosting.com


#40

fg | 16 06 2008 @ 17:45:37

dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. btw, saya juga suka cari merah yg ada gambarnya :D


#39

ichanx | 08 06 2008 @ 20:48:59

dunia kejam ya…. :)


#38

Tukang Joget | 07 06 2008 @ 1:54:25

Kalo aku lagi di situ, tak syuting, deh. Buwat dipajang di sini http://www.joget.net. Biar otak ndak terus togang…


#37

dhany | 06 06 2008 @ 21:02:24

berbahagialah saya…
karena setiap pagi sebelum masuk kerja harus nyapu & ngepel lantai kantor..
maklum, pengiritan ala kantor..
Mr Cleaning ter-PHK


#36

Ahmad Sahidah | 06 06 2008 @ 16:37:39

Mungkin, di depan Circle K perlu diletakkan tempat sampah dan para pengunjung diberi contoh bagaimana memperlakukan ‘buangan’ sendiri. Selalu saja, perokok menyebalkan karena di mana-mana puntungnya berserakan. Saya pernah merokok tapi tak pernah membuangnya begitu saja.

Sekarang saya berhenti dan telah memasuki tahun keempat. Anda pun pasti bisa!


#35

Embun | 06 06 2008 @ 14:52:09

Sedih jika melihat orang berjalan begitu saja di lantai yang basah karena sendang di-pel sama petugas. Sudah begitu tanpa permisi dan tanpa merasa bersalah.
Mereka tidak berpikir bahwa sang petugas harus mengulang dan mengulang lagi pekerjaan yang seharusnya sudah bisa selesai.

Mungkin orang-orang itu (yang tidak merasa bersalah) kurang memiliki empati dan rasa bersyukur.
Masih beruntung mereka diberi anugerah 2 kaki untuk berjalan.


#34

- | 06 06 2008 @ 10:04:14

Melayani Sejabodetabek : Limbah Domstik Industri; Perkantoran; Gedung; Ruko/Apartment; Perumahan; Sedot WC; Air Kotor; Saluran mampet;Rembesan & Bikin Septictank Silahkan Segera Hubungi : YANI No. Tlp. 021-92809383; 021-93709430 dan 021-98736434 Pelayanan Memuaskan…


#33

Aa Nata | 06 06 2008 @ 9:19:30

Oh ya satu lagi, bagaimana pendapat yang dipertuan soal suasana Bandung pada saat weekend yang menjadikan Dago sebagai tempat tumplek plek anak-anak “menodong” mobil dengan cara maksa bayar nyanyi dadakan?

Kok ya seperti primitif sekali kebudayaan pasca krisis moneter ini ya? (Pertama muncul sekitar 1998).

Maklum saya bukan walikota :D


#32

Aa Nata | 06 06 2008 @ 9:17:55

Fenomena keberadaan Circle K diseluruh penjuru kota (termasuk Bandung), kayaknya perlu dicermati. Kebanyakan dari hasil observasi malah kok jadi tempat nongkrong, dan malah? menimbulkan budaya nongkong ga penting?

Beberapa kejahatan perampokan terhadap Circle K pernah terjadi di Bandung, termasuk melanda pengunjung yang kehilangan Mobil Honda Jazz karena dirampok jam 5 pagi.

Hmm, bagaimana pendapat yang dipertuan?


#31

escoret | 05 06 2008 @ 10:37:54

klo Circle K sewa tukang bersih2,aku yakin akan nambah bajet yg di keluarkan…

mungkin itu.

*mewakili yg punya Circle K”


#30

mbakDos | 04 06 2008 @ 22:03:11

cleaning the others’ mess? :-)


#29

Syafrudin Abi-Dawira | 04 06 2008 @ 20:56:54

@26: Mbelgedez.

Kalau menurut saya, kita harus melampaui mental block kita dalam hal ini, mencoba berpikir di luar kotak.

Kalau menurut saya, justru kita nggak maju - maju dan banyak pengangguran karena mental kita hanya jadi pelayan (meski gajinya kecil dan rentan PHK), bukan pedagang. Maunya TDB (Tangan Di Bawah), bukan TDA (Tangan Di Atas).

Mirip seperti debat tentang anti rokok, mau dikemanakan sekian ribu orang yang bekerja untuk rokok dan kita kehilangan sekian milyar cukai rokok. Padahal justru anggaran kita habis trilyunan karena rokok (data Depkes).


#28

dito | 04 06 2008 @ 20:44:11

ya Ampun itu Circle K deket rumah saya….


#27

pramudyaputrautama | 04 06 2008 @ 19:53:11

Tukang Sapu Kantor menurut saya adalah sebuah pekerjaan mulia, bayangakan kalo gak ada tukang sapu / cleaning service di kantor kita, pasti kantor kita tidak akan terasa nyaman. Sudah sepatutnya apabila kita (siapapun kita,setinggi apapun jabatan kita)lewat melintas apabila mereka bekerja, kita mengucapkan “permisi”


#26

Mbelgedez | 04 06 2008 @ 19:38:49

@ Syafrudin Abi-Dawira, #17

Kalok di Indon maunya kayak di negri manca, mau dikemanakeun tenaga kerja kelas bawah ituh boss….???

Dalam kondisi mereka jadi pelayan ajah mingsih banyak nyang nganggur…


#25

bubba | 04 06 2008 @ 19:31:21

waktu masih di australia, saya pernah bekerja menjadi ‘kitchen steward’ yang bahasa sederhananya tukang ngepel dapur. cukup fun loh, selalu dapet makanan gratis dan bisa belajar banyak sama chef yang pintar dan lucu. ndadak skill masak jadi canggih. cuman ya itu pakdhe, jadi warga negara kelas tiga itu nelangsa. ndak dianggap manusia :)


#24

sluman slumun slamet | 04 06 2008 @ 18:20:37

sungguh mulia mereka, paman!
:D


#23

aditio | 04 06 2008 @ 17:51:27

nyapu itu seberapa beratnya to ?

daripada nge-mall gw mending bersih2 rumah sendiri….

berhubung saya pernah jadi buruh abis makan ditaruh ke tempat kotorannya, jalannya muter kalo ada orang ngepel,

tapi ada juga yang bilang saya pelit, mbayar laundry aja g mau, pakek pembantu gitu loh, dsbnya…

masalah asli ne sih kere….hihihi


#22

isvara | 04 06 2008 @ 17:31:26

Kalau di kantor saya terbalik, Paman. Yang menyapu, mencuci piring, mengepel justru si bos. Anak buah datang telat dan tinggal tau beres, alasannya bukan job-desknya.
Si bos tetap saja melakukan tugas (yang tidak dalam job-desknya itu), sambil berharap ada anak buah yang akan mencontoh.
Hiks, sedihnyaaaaa….


#21

silly | 04 06 2008 @ 17:08:22

ahhhh, paman… saya tiba2 teringat sama jero lagi, duah kerja belum dia yach… :(
*
ehh, itu circle K yg di gandaria khan???… iya, anak2 muda emang suka nongkrong disitu, nyampah2, tanpa mikirin org mesti bersihin sampah mereka… hmmm, semoga mereka mendapat berkat yg setimpal ya paman… :D


#20

tongki | 04 06 2008 @ 15:04:34

yang sering paman lewat yang mana, yang di gandaria? ahmad dahlan, ato yang di radio dalam? kalo yang di radio dalam itu lho paman, kasirnya baik, yang cowok.


#19

prast | 04 06 2008 @ 14:19:36

tukang sapu itu resikonya besar lho. Kalo di batam ini, tiap brangkat kerja pasti lihat ibu-2 atau bapak-2 dengan rompi orange ada di pinggir-2 jalan. Yang mereka lakukan adalah menyapu jalan-2 tsb.

Ini resikonya besar, karena bisa jadi tertabrak kendaraan yang lewat.

moga aja mereka dapet asuransi jiwa dan kecelakaan kerja persis sama dengan anggota dewa. :)

saya kira resiko mereka hampir sama dengan orang yang kerja di offshore :)


#18

edratna | 04 06 2008 @ 12:59:09

Walau ada cleaning service, saya masih benahi sendiri meja dsb nya…maklum rasanya nggak bisa mikir kalau berantakan…..


#17

Syafrudin Abi-Dawira | 04 06 2008 @ 12:55:24

Tentang menyapu kantor, saya jadi ingat pada profesi officeboy, bellboy, porter, supir, dan pelayan.

Katanya kantor - kantor di manca negara sebelah barat tidak mempunya iofficeboy ataupun supir. Dapur di kantor tetap ada, tapi self-service. Kitalah yang mesti ke dapur untuk membuat kopi atau teh sendiri lalu membawa sendiri ke ruang kerja kita. Selewat jam kerja, akan datang petugas cleaning service dari perusahaan outsource untuk melakukan beberapa pekerjaan sesuai kontrak (biasanya ya cuma bebersihan lantai dan pintu - jendela saja).

Juga katanya kantin (juga fastfood resto seperti McDonald) di sana tidak mempunyai pelayan yang bertugas membereskan meja atau tukang sapu bersiaga membereskan sisa makanan yang mungkin berserakan di lantai. Setelah kita makan, kitalah yang mesti membersihkan meja sendiri, termasuk menjaga agar tidak berserakan :-) lalu kitalah yang mesti membawa nampan kita untuk ditumpuk secara rapi di tempat khusus di dekat pintu keluar. Tukang cuci cukup bersiaga di situ, tidak ke mana - mana.

Juga katanya hotel berbintang di sana tidak mempunyai bellboy yang bersiaga membukakan pintu mobil atau di pintu menyambut tamu ataupun porter yang menunjukkan kamar kita atau membawakan koper. Pintu terbuka sendiri karena memang otomatis. Setelah check-in, kita mesti cari jalan ke kamar dengan menyeret koper kita sendiri.

Hmm, pantas kalau oranng bilang mereka lebih rajin dan produktif dibanding bangsa ini. Bangsa ini masih merasa perlu dibukakan pintu, dibersihkan mejanya, dibuatkan kopi, dibawakan kopernya, …


#16

Setiaji | 04 06 2008 @ 12:55:09

“Ketika mereka benar, kita tak mengingat. Ketika mereka salah, kita tak melupakan” >>> ini memang hukum alam Wong Cilik :)


#15

Menik | 04 06 2008 @ 12:20:35

Saya di sekolah pun selalu menyempatkan diri untuk menyapu ruangan.
supaya anak murid juga berpikir,
gurunya saja nyapu,
kenapa dia ga piket :)

Salam kenal Paman…
Saya berkunjung dari blognya Cak Kris nih :)


#14

nothing | 04 06 2008 @ 12:00:12

semoga kita semua menjadi manusia yang manusiawi


#13

ebong | 04 06 2008 @ 11:54:20

begitulah budaya disini.
budaya nenek moyang yg ramah tau tatak krama dan sopan satun sdh tdk ada yg ada kesombongan dan keangkuhan.

Ada banyak org yg gajinya baru 5 jutaan lagunya sdh bak Bos besar tdk nyaman sedikit sdh komplain.

Coba kita perhatikan apa bila kita makan di resto.

Apakah kita makan dan minum rapih dan sopan ?

yg ada berantakan, yg ada dipikiran kita, kita sdh bayar terserah kita mau berbuat apa.

HHA lagu org kota,


#12

IRupiah.com | 04 06 2008 @ 11:36:12

Jangankan di indonesia, di Australia juga masih sering kejadian spt ini. Sebenarnya sih pinter pinternya si karyawannya saja tau tidak hak dan kewajibannya apa. Kalau kita tau hak kita, employee juga gak berani sembarangan ke kita.


#11

funkshit | 04 06 2008 @ 11:05:37

nyapu itu biasanya ada itung2 an nya sendiri lho :D


#10

wati | 04 06 2008 @ 10:30:28

Saya kerja di kantor juga kadang-kadang nyapu & ngepel lantai kalau lagi nggak ada yang bersihin. Kadang-kadang cuci toilet, gantian sama temen. Nggak ada hinanya menurut saya menyapu, yang hina itu menyapu uang Negara. Saya senang kalau tempat kerja bersih lagian para klien yang datang ke kantor akan merasa nyaman.


#9

mpokb | 04 06 2008 @ 10:18:55

nggak ada orang yang dilahirkan bercita2 jadi tukang sapu (sampah orang lain). semoga bisa segera dapat kerjaan lain, atau buka warung sendiri.


#8

anusapati | 04 06 2008 @ 10:03:39

Juragan yang pintar ngasih job multitasking, atau karyawan yang gawe tanpa pamrih ya?


#7

pnsgila | 04 06 2008 @ 9:37:42

klo kerjaannya halal mengapa tidak??


#6

acakadut | 04 06 2008 @ 8:31:36

@kopdang
bener banget …
bersyukur kerjaan gw gak kayak mereka …
bersyukur mereka juga masih ada kerjaan …


#5

kopdang | 04 06 2008 @ 7:22:02

bersyukur…


#4

Yoyo | 04 06 2008 @ 7:07:37

itu adalah perasaan ikut memiliki piring tempat makan, bukan budaya boss sama jongos….


#3

geblek | 04 06 2008 @ 6:26:35

ambil sapu duluh buat bersihin komen 1&2 biar sayah yang pertamak :d
memang mereka patut diacungi jempol


#2

Epat | 04 06 2008 @ 5:31:50

Pembeli adalah raja, meskipun tidak akan menggusur tahta Sang Raja, karena Raja akan tetap menjadi Sang Raja


#1

senimanpeta | 04 06 2008 @ 5:12:27

Paman, membersihkan memang sering tidak mengenakkan. Terutama karena yang perlu dibersihkan itu sesuatu yang reged (= kotor). Tapi kalau membersihkan uang dari brankas gimana yach?. Saya kira yang punya dan yang lalai akan panik, lapor polisi bahkan bisa stress berat..Bersyukurlah orang yang tidak lalai membuang sampah pada tempatnya, karena lalai bisa membuat orang lain “sengsara”