KOMEDI ORANG TUA, BAKAL MENIMPA SIAPA SAJA. :D

mata plus

Gila, saya membatin. Di lampu merah, meskipun ada polisi sejauh 50 meter, penumpang taksi itu mengeluarkan Nokia E90-nya sampai menerobos jendela. Saya pikir dia akan memotret. Ternyata, di tengah antrean lampu merah Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, itu dia hanya membaca dan menulis teks.

Jika masalahnya adalah jarak nyaman handset dengan mata, mungkin dia bisa memutar badan sedikit ke kiri, lantas meminta penumpang di sebelahnya menjauh. Bahwa mereka lagi jothakan, saling mendiamkan, itu bukan urusan kita.

tanpa kacamata plus susah baca smsIni persoalan orang sepuh. Yang muda boleh tertawa, dan ketika tiba pada gilirannya maka sejarah pun akan berulang: ditertawakan oleh orang yang lebih belia. Soal apa? Mata plus atawa presbiopia.

Mata saya, selain minus (miopia), juga plus. Ketika hanya minus, tanpa kacamata berarti rabun, lamur, cadok. Jika penerangan kurang bagus, dan jarak pandang tak aman, maka bahasa tubuh orang lain yang hanya mengandalkan mimik, bukan gestur, berkemungkinan tak saya tangkap.

Hasilnya? Kalau bukan sombong, ya saya tampak sok ramah sok akrab karena mengangguk dan tersenyum duluan. Maka pelintas jalan di depan rumah pun kadang saya hormati berlebihan karena saya tak tahu wajahnya.

Ketika plus datang, akibat rambatan usia (mulai terasa usia 38), membaca angka kalender pada arloji adalah kesulitan. Begitu pula dengan colok-mencolok di komputer dan peranti elektronik lainnya.

Dulu, ketika masih bekerja, saya manja. Urusan colok-mencolok komputer dan audio saya serahkan ke Mas Opisboi. Niat hati melakukan sendiri, tetapi setiap memundurkan mata agar semuanya jadi tampak maka kepala kejedot tembok. Ketika membetulkan kabel lampu kabut dan switch lampu mundur dari kolong mobil, kepala kejedot ke lantai. Nasib mata plus.

Kacamata progresif memang memberi solusi, tapi tak setiap saat. Ada ketidaknyaman kalau berkacamata. Maka cara paling gampang adalah mengangkat kacamata tapi masih menempel di jidat, terutama untuk mbaca dan ngomputer.

Kenapa tak diletakkan saja? Ponsel terselip bisa saya telepon sehingga ketahuan lokasinya. Tapi kacamata? Teman saya menganjurkan agar setiap kacamata dinamai, kalau terselip tinggal dipanggil.

Tentang ponsel, inilah preferensi orang seperti saya: “Teksnya bisa besar nggak? Seberapa besar?”

Jawaban paling menyebalkan dari penjual, secantik apapun mereka, adalah, “Masa sih segini kurang, Oom/Bang/Pak?” Kelak di kemudian hari kau akan mengalami, Nak… :D

Teman saya punya visi yang jitu. Dia tak terlalu risau dengan jarak pandang tanpa kacamata saat membaca SMS. “Entar orang lain aja yang kita suruh megangin henpon,” begitu katanya. Maklum, dia direktur. Terbiasa menyuruh.

Tagged with:
 

37 Responses to Mata Plus dan Gadget

  1. aghostina INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    walah… jaman sekarang?di jakarta? saluuut!
    hebat ya paman, dia punya kebranian yang besar!

  2. Wah, pemandangan seperti itu jarang ada di Bandung. Memamerkan HP, beberapa menit dalam sunyi senyap bisa hilang dalam sekejap.

  3. adithz INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    mungkinkah karena itu mencari sinyal Wifi yang lebih kuat dari gedung sekitarnya ???

    tambah sinting aja orang jakarta….
    ajaib dah

  4. mimi INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kacamatanya di miskol aja paman, jadi tau doi ada dimana hihihi

  5. Yudha INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ato dia lagi baca pesen yg rahasia supaya gak ketauan sama yg di sebelahnya :D

  6. Kalo baca SMS memang suka dijauhkan paman. Takut meledak ponselnya. :))

  7. kok sempat-sempate motret…
    :D

  8. Antoni INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Ntu HP sinyalnya lemah x…
    jadi aja nyari2 sinyal.

  9. direktur itu biasa nyuruh?
    kalo direkrut biasa apa Om?

    “dibayar, ngegebukin, ngumpet, dicari, akhirnya menyerahkan diri..?”

    :D

  10. emyou INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Kalo saya minus tiga. Moga aja ketika tiba waktunya memasuki usia tua, mata saya bisa normal lagi. kan minus mengecil karena tertimpa presbiopia *ngarep*

  11. Makanya berhenti saja nge-blog…
    kalo paman susah cari alasan untuk berhenti nge-blog nih saya kasih…
    berhenti sekarang juga Paman…

  12. edratna INDONESIA Mozilla SeaMonkey Windows says:

    Hehehe…saya kebalikannya paman….saya udah plus dan minus, tapi karena minusnya lebih besar, saya masih bisa baca (syukurlah, hobi ini udah mendarah daging, saya tak dapat tidur sebelum membaca), bisa memasukkan benang ke lubang jarum …tapi kalau jarak jauh, hanya bisa lihat wajah jarak 2 meter. Kalau nonton TV harus pake kacamata…makanya jadi males nonton kecuali ada yang menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.