Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Mata Plus dan Gadget

Selasa, 10 Juni 2008 @ 10:19 | Personal

KOMEDI ORANG TUA, BAKAL MENIMPA SIAPA SAJA. :D

mata plus

Gila, saya membatin. Di lampu merah, meskipun ada polisi sejauh 50 meter, penumpang taksi itu mengeluarkan Nokia E90-nya sampai menerobos jendela. Saya pikir dia akan memotret. Ternyata, di tengah antrean lampu merah Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, itu dia hanya membaca dan menulis teks.

Jika masalahnya adalah jarak nyaman handset dengan mata, mungkin dia bisa memutar badan sedikit ke kiri, lantas meminta penumpang di sebelahnya menjauh. Bahwa mereka lagi jothakan, saling mendiamkan, itu bukan urusan kita.

tanpa kacamata plus susah baca smsIni persoalan orang sepuh. Yang muda boleh tertawa, dan ketika tiba pada gilirannya maka sejarah pun akan berulang: ditertawakan oleh orang yang lebih belia. Soal apa? Mata plus atawa presbiopia.

Mata saya, selain minus (miopia), juga plus. Ketika hanya minus, tanpa kacamata berarti rabun, lamur, cadok. Jika penerangan kurang bagus, dan jarak pandang tak aman, maka bahasa tubuh orang lain yang hanya mengandalkan mimik, bukan gestur, berkemungkinan tak saya tangkap.

Hasilnya? Kalau bukan sombong, ya saya tampak sok ramah sok akrab karena mengangguk dan tersenyum duluan. Maka pelintas jalan di depan rumah pun kadang saya hormati berlebihan karena saya tak tahu wajahnya.

Ketika plus datang, akibat rambatan usia (mulai terasa usia 38), membaca angka kalender pada arloji adalah kesulitan. Begitu pula dengan colok-mencolok di komputer dan peranti elektronik lainnya.

Dulu, ketika masih bekerja, saya manja. Urusan colok-mencolok komputer dan audio saya serahkan ke Mas Opisboi. Niat hati melakukan sendiri, tetapi setiap memundurkan mata agar semuanya jadi tampak maka kepala kejedot tembok. Ketika membetulkan kabel lampu kabut dan switch lampu mundur dari kolong mobil, kepala kejedot ke lantai. Nasib mata plus.

Kacamata progresif memang memberi solusi, tapi tak setiap saat. Ada ketidaknyaman kalau berkacamata. Maka cara paling gampang adalah mengangkat kacamata tapi masih menempel di jidat, terutama untuk mbaca dan ngomputer.

Kenapa tak diletakkan saja? Ponsel terselip bisa saya telepon sehingga ketahuan lokasinya. Tapi kacamata? Teman saya menganjurkan agar setiap kacamata dinamai, kalau terselip tinggal dipanggil.

Tentang ponsel, inilah preferensi orang seperti saya: “Teksnya bisa besar nggak? Seberapa besar?”

Jawaban paling menyebalkan dari penjual, secantik apapun mereka, adalah, “Masa sih segini kurang, Oom/Bang/Pak?” Kelak di kemudian hari kau akan mengalami, Nak… :D

Teman saya punya visi yang jitu. Dia tak terlalu risau dengan jarak pandang tanpa kacamata saat membaca SMS. “Entar orang lain aja yang kita suruh megangin henpon,” begitu katanya. Maklum, dia direktur. Terbiasa menyuruh.

Ada 37 komentar | trackback | Depan

#37

aghostina | 15 06 2008 @ 1.57.51

walah… jaman sekarang?di jakarta? saluuut!
hebat ya paman, dia punya kebranian yang besar!


#36

Mihael Ellinsworth | 14 06 2008 @ 13.35.37

Wah, pemandangan seperti itu jarang ada di Bandung. Memamerkan HP, beberapa menit dalam sunyi senyap bisa hilang dalam sekejap.


#35

adithz | 13 06 2008 @ 17.30.11

mungkinkah karena itu mencari sinyal Wifi yang lebih kuat dari gedung sekitarnya ???

tambah sinting aja orang jakarta….
ajaib dah


#34

mimi | 13 06 2008 @ 11.56.15

kacamatanya di miskol aja paman, jadi tau doi ada dimana hihihi


#33

Yudha | 13 06 2008 @ 10.30.49

ato dia lagi baca pesen yg rahasia supaya gak ketauan sama yg di sebelahnya :D


#32

Beyez kemlinthi | 12 06 2008 @ 19.47.02

Kalo baca SMS memang suka dijauhkan paman. Takut meledak ponselnya. :))


#31

sluman slumun slamet | 12 06 2008 @ 13.15.48

kok sempat-sempate motret…
:D


#30

Antoni | 12 06 2008 @ 8.25.13

Ntu HP sinyalnya lemah x…
jadi aja nyari2 sinyal.


#29

mas kopdang direkrut FPI | 11 06 2008 @ 23.20.08

direktur itu biasa nyuruh?
kalo direkrut biasa apa Om?

“dibayar, ngegebukin, ngumpet, dicari, akhirnya menyerahkan diri..?”

:D


#28

emyou | 11 06 2008 @ 11.33.37

Kalo saya minus tiga. Moga aja ketika tiba waktunya memasuki usia tua, mata saya bisa normal lagi. kan minus mengecil karena tertimpa presbiopia *ngarep*


#27

Saya Satria | Makannya Berhenti saja ngeblog! | 11 06 2008 @ 10.56.26

Makanya berhenti saja nge-blog…
kalo paman susah cari alasan untuk berhenti nge-blog nih saya kasih…
berhenti sekarang juga Paman…


#26

edratna | 11 06 2008 @ 5.51.55

Hehehe…saya kebalikannya paman….saya udah plus dan minus, tapi karena minusnya lebih besar, saya masih bisa baca (syukurlah, hobi ini udah mendarah daging, saya tak dapat tidur sebelum membaca), bisa memasukkan benang ke lubang jarum …tapi kalau jarak jauh, hanya bisa lihat wajah jarak 2 meter. Kalau nonton TV harus pake kacamata…makanya jadi males nonton kecuali ada yang menarik.


#25

silly | 10 06 2008 @ 19.39.38

ahhhh, jadi ingat posting yang ini paman….hihihihi…
disini

*digebukin dech gue*
*pulang babak belur*


#24

Ahmad Sahidah | 10 06 2008 @ 19.38.20

Ketika kemampuan kita hilang satu persatu karena dimakan usia, mungkin hanya kematangan jiwa dan rasa yang makin bertambah.

Di sini bersemayam kearifan. Tapi, tak tahu apakah orang-orang galak yang memukuli orang lain itu terjadi sebaliknya?


#23

silly | 10 06 2008 @ 19.35.58

Ennnnggg… maap paman… jadi waktu paman bales sms saya, lamaaa banget… itu karena paman lagi di taksi itu yach paman… ndak bisa liat hurup2nya???… (hihihihi… saya mah brani ajah ngeledekin, kenapa harus takut kualat… wong paman tahu kok kalo saya becanda… iya khan paman???… :D ).
*
(ditimpuk N90, hahahahaha… mayannn, sering2 aja pamannn… hahahaha… :D )


#22

joko supriyanto | 10 06 2008 @ 19.34.35

kok ndak takut kena jambret :)
atau jangan2 di dalam ndak ada signal kali


#21

Jari Jari Ampuh | 10 06 2008 @ 18.31.56

jadi ingat lelucon cah cah BHI apa Cahandong..kirim sms ke mbilung, isinya BACA SMS JANGAN JAUH JAUH MATANYA


#20

bubba | 10 06 2008 @ 16.14.04

yang didalam taksi itu paman kemplu ya pakdhe?


#19

Affan | 10 06 2008 @ 15.00.33

Wah kasihan ya penumpangnya, mending tukar aja ama handphone yang font nya ukuran gede, kayak Samsung apa itu yang tipis banget, bapak saya beli yang itu. Lalu E90 nya boleh dihibahkan kepada anaknya yang lebih ahli memanfaatkannya :P


#18

Donny Verdian | 10 06 2008 @ 14.53.25

Saya yang make kacamata minus sejak sd kelas V merasa di usia yang ke 30 ini minus semangkin turun.

Dulu pernah kena minus tujuh, sekarang minus 5 (awal dulu minus 1.5)

Apa gejalanya memang begini ya, hingga nanti di usia 38 akan jadi plus ?


#17

galih | 10 06 2008 @ 13.31.03

ya ya ya… paman memang sudah semakin sepuh… :)


#16

JaF | 10 06 2008 @ 13.23.18

Apa memang 38 usia standar untuk mulai menggunakan kacamata plus? Saya baru beberapa bulan lalu di selamati oleh dokter di Aini: “Selamat pak, bapak resmi memasuki usia tua!” katanya hehehe.. Dok dok.. ngenyek opo memuji..


#15

edziardo | 10 06 2008 @ 13.19.12

untung mata saya cuman rabun jauh (lho? koq untung?!)…anyway, kena rabun jauh aja udah merepotkan, suka salah tegur orang..hehehe :D

anyway, salam kenal ya paman! udah lama baca blog ini, tapi baru pertama kali kasih comment :P


#14

wisnubrata | 10 06 2008 @ 12.59.47

Ini nyata…hanya di indonesia….


#13

fahmi! | 10 06 2008 @ 12.00.03

wah, E90-nya ngundang jambret itu.


#12

mikow | 10 06 2008 @ 11.56.20

mungkin didalam gelap jd ga bisa baca :)


#11

pnsgila | 10 06 2008 @ 11.48.13

gila ya, apa gak takut dijambret tuh di jalan…


#10

evi | 10 06 2008 @ 11.34.03

berarti masih beruntung saya hanya minus 4, belum plus hehehe…. :)

tapi kalo kacamata ketinggalan atau lupa oh….duniaku remang-remang


#9

anno' | 10 06 2008 @ 11.32.03

gw juga bermasalah dgn mata..keseringan di kompiu euy….so sekarang klo denger/liat presentasi kudu paling depan euy….
tapi gak mau pake kacamata..bikin tambah tua kelihatannya…..piss paman….


#8

bobby | 10 06 2008 @ 11.04.48

bersyukurlah para orang tua.. karena tidak semua orang diberi kesepatan jadi orang tua :)


#7

mpokb | 10 06 2008 @ 11.01.30

kalau di jalan thamrin masih mungkin begini.. di grogol atau senen? waks..
direktur = direken batur, kata ibu saya..


#6

yantee | 10 06 2008 @ 11.01.25

hehehe…jadi inget ortu, masih setia pake nokia 3315 karena huruf tampilannya besar dan keypadnya mudah dipencet2…*ga berani ngakak, secara dalam hitungan jari (1 tangan aja ga abis) usia saya sudah mencapai 38*


#5

yos | 10 06 2008 @ 11.00.04

Teman saya menganjurkan agar setiap kacamata dinamai, kalau terselip tinggal dipanggil.
Thanks paman.


#4

oon | 10 06 2008 @ 10.55.31

ampyun pak de…gak brani ikutan ketawa, takut kuwalat


#3

cm4nk | 10 06 2008 @ 10.47.31

Sebenarnya mo ketawa baca ini,tapi takut kena karma Paman…38 ya? …hmmm 12 tahun lagi..
*tetap ja ketawa* wakakak…


#2

setiaji | 10 06 2008 @ 10.44.02

Lampu kabinnya kemana ?


#1

jun | 10 06 2008 @ 10.27.52

Nasib kita sama, Paman. Saya pakai lensa minus 5,25 sekaligus plus 1,5. Makanya sejak sekira enam bulan lalu pakai kacamata progresif. Kadang-kadang tidak nyaman, memang; tapi apa boleh bikin.