RINGAN RENYAH DARI ARSWENDO.

Di sana, di Karawang, Jawa Barat, mungkin agak jauh dari kampungnya Yayan Sopyan, ada desa baru bernama Blakan. Di atas tanah milik negara itu ada sebuah komunitas Blakanis pimpinan Ki Blaka. Dia dianggap sebagai guru spiritual. Tak sampai melakukan gerakan mesianistik yang membahayakan sih. Tapi gemanya menasional berupa kesadaran moral. Koruptor bisa insyaf. Anak sekolah ogah nyontek. Jadi, Ki Blaka berbeda dari Mbah Suro. :D
Lantas, karena kepentingan sejumlah tangan-tangan berkuasa, Ki Blaka diciduk, diangkut helikopter, dan pengangkut berbaling-baling itu meledak di udara. Ki Blaka entah ke mana. Kabarnya tewas.
Seterusnya adalah penggalan kehidupan masing tokoh pengitar: dari suster entah apa ordonya, bekas polisi yang suka membunuh, sampai germo bekas pelacur yang menemukan jatidirinya dalam asmara kompleks oedipus seorang pemuda yang mungkin anak lonte. Sementara si tokoh sentral sendiri — ya Ki Blaka itu — tak pernah jelas riwayatnya, kecuali dari kepingan puzzle liputan media dan pengakuannya pada kesempatan terpisah.
Dalam novel ini, Arswendo Atmowiloto, seperti biasanya menulis lancar, mengalir, dalam tuturan yang ringan. Alur ceritanya enak buat dicerberkan di koran tapi tak semenegangkan Opera Jakarta (pernah difilmkan) maupun Opera Bulutangkis. Meskipun menjawa ([Ars]Wendo orang Sala), Blakanis tak senjawani Canting yang berlatar Sala.
Yang terasa, Blakanis seperti sketsa sosial kita — tapi dengan semangat cengengesan, bila perlu menyindir. Tentang tokoh apa saja — termasuk spiritual — yang bisa terlahir secara instan lantas punya true believers.
Blakanis juga menyajikan sketsa tentang kegamangan selebritas urban yang, hehehe, merindukan sebuah jalan terang yang maunya tanpa gebyar tapi akhirnya toh tetap jadi magnet. Itulah Ai, model, beranak satu, yang ketelanjangannya masih memukau, bahkan (maaf) juntai helai bulu kemaluannya masih memesona. Memang ada erotisisme ringan di sana, dan penerbitnya menyebut ini sebagai “novel dewasa”. ;)
Adapun tokoh sentral yang bernama Ki Blaka (bukan Blakasuta Blalabla), ini asyiknya, dikesankan punya spirit “antihero”. Kecuekannya mungkin proyeksi persona penulisnya. :D
Blaka (bahasa Jawa) bisa berarti terbuka, jujur, apa adanya. Karena kata mencakup konsep, maka penjelasan ringkas ala kamus seringkali tak memadai. Jadi untuk memahami “blaka” (baca: “blo-ko”), dalam pemaknaan Wendo, ya kita harus baca buku ini.
Selebihnya ada kejenakaan di sana. Sembari ngopi (sendirian) dan halo-halo jika terpaksa, buku itu bisa Anda habiskan.
Jelas tak jelas, gamblang tak gamblang, menggantung tak menggantung, itulah sketsa Indonesia kita. Bukankah banyak peristiwa — sebagai bagian dari masalah — yang cuma jadi headline beberapa kali setelah itu editornya bosan, lagi pula muncul masalah baru yang lebih juicy?
JUDUL: Blakanis • PENULIS: Arswendo Atmowiloto • PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama (Jakarta, Juni 2008) • UKURAN: 13,5 cm x 20 cm • TEBAL: 288 halaman • HARGA: Rp 36.000





anno' | 21 06 2008 @ 12:54:38
berarti mbacanya k=jado blokonis ya paman?….tapi bhs jawa di dalamnya ada terjemahannya khan?….
ebong | 21 06 2008 @ 10:20:57
Lumayan dapat info Buku baru buat akhir pekan. Baca sambil ngopi di belakang rumah.
Mantabb Thv Paman
JaF | 21 06 2008 @ 1:18:18
Ah.. akhirnya ada penyegaran bacaan.. Saya udah baca Paman.. Sebuah pelarian sementara dari kenyataan. Saya suka idenya yang sederhana tapi membuat kita berpikir.. apa mungkin ya kita begitu? Keliatannya gampang, tapi.. *lirik Artalyta di TV.. muntah2 lagi deh*
jun | 20 06 2008 @ 20:24:57
Mas Wendo, menurut Paman, menulisnya lancar, mengalir, dan dalam tuturan yang ringan. Menurut saya, ini tak jauh beda dengan style menulis Paman sendiri. Setiap membaca posting Paman, saya sering teringat gaya menulis Mas Wendo.
Btw, Mas Wendo kalau pas di Solo jadi tetangga saya, Paman. Soalnya, rumah mertuanya berjarak hanya sekitar tujuh rumah dari rumah saya; kalau ke Solo, dia
menginap di rumah itu.
bubba | 20 06 2008 @ 20:07:35
pengin beli tapi credit limit udah abis sementara gajian masih lama, piye jal?
ayda | 20 06 2008 @ 12:46:37
Btw, Mr Blaka ini berkulit hitam apa sawo matang? ada hub.nya ga, hitam= blak? halah… *kabur.sebelum.dipentung.pamantyo* :D
edratna | 20 06 2008 @ 12:40:39
Wahh perlu beli nih paman…thanks infonya
Donny Verdian | 20 06 2008 @ 12:38:14
Layak dibeli untuk menemani akhir pekan ini.
Makasih infonya, Paman!
blonty | 20 06 2008 @ 11:26:15
semoga tulisannya sebagus saat membuat Canting.
mari, kita menanti tulisan Mas Sarwendo tentang kekayaan ragam budaya dan kuliner Surakarta
Mas Kopdang | 20 06 2008 @ 0:43:11
ane demen ama “Canting”, Om..
woelank | 19 06 2008 @ 22:08:45
kayanya bagus nih, hanya sayang, serial tembang tanah air (terusannya senopati pamungkas) engga diterusin sama beliau.
mpokb | 19 06 2008 @ 14:15:35
setelah muntah2 baca transkrip artalyta-jaksa, sememangnya baca novel bagus, bang paman :)
Desyana | 19 06 2008 @ 13:37:51
wah..must read item ni…
ayo rame-rame beli…
godote | 19 06 2008 @ 11:38:44
nice!
saya akan tumbas
venus | 19 06 2008 @ 10:51:04
arswendo??? a must buy. dan baru kemaren saya ngobrol sm seorang temen yang cekikikan waktu saya bilang jaman SMP sampe kuliah dulu bacaan saya, antara lain, majalah Hai yang ‘banyak arswendo’nya. wah, beda generasi bener dah. Hai, sandiwara radio (yang bikin dia bukan cekikikan lagi tapi NGAKAK JAHAT DAN MENGHINA!). temen saya itu gak paham kenapa ada sandiwara radio, hahaha… gak tau dia, jaman dulu hampir semua orang dengerin saur sepuh, tutur tinular, dan errr…zuraida handoyo? aih, tua banget saya ini :D
suprie | 19 06 2008 @ 9:23:37
emang enak paman, baca buku di coffee bean … :D **gak fokus**
btw, klo baka di jepang artinya bodoh, idiot loh.. gak tau ada hubungannya sama blaka apa ngga :p
jalansutera | 19 06 2008 @ 9:01:05
kenapa bukan blokonis? apakah itu berarti blakanis mengambil latar orang mbanyumas yang ngapak-ngapak? jadi pengin baca nih.
bangsari | 19 06 2008 @ 8:44:21
kalo dah dibaca, bukunya boleh dihibahkan untuk saya paman? :p
ekayudha | 19 06 2008 @ 8:17:58
Ehm, ada versi pdf nya gak paman yach?? *kabur* Wah pantesan beberapa hari ini gak posting, sibuk baca buku baru yach?? he he he he he…
sluman slumun slamet | 19 06 2008 @ 7:58:51
saya belum pernah baca novelnya arswendo, tapi kalau tulisan lepasnya di intisari sering dan bikin ketagihan… ahhh jadiingat balada rumah dan mobil pertamanya bang wendo….
:D
silly | 19 06 2008 @ 7:02:45
Blaka berarti terbuka, jujur, apa adanya???… Wah, gue banget. Maka dengan ini saya mengganti nama saya dengan Silly Blaka, hahahahha…
*nyuguhin bubur merah putih*
*
Silahkan… hidangannya disantap :D
*dihajar pake sapu lidi, dasar anak badung*
Hhihihihihihihihihihihihhi… :-)
kw | 19 06 2008 @ 5:49:13
thx infonya. jadi tetap layak koleksi ya
joko supriyanto | 19 06 2008 @ 5:06:29
nungguin pdfnya :)
ambar | 19 06 2008 @ 1:45:40
paman saget blaka mboten?
Nazieb | 19 06 2008 @ 1:12:00
Blaka (bahasa Jawa) bisa berarti terbuka, jujur, apa adanya.
Hmm.. makanya kalo bersifat terbuka itu namanya blak-blakan..
Ada hubungannya ya?