Ya Amplop! Ya Angpauw! Ya Ampuunnn…
KANTONG BERLIPAT DALAM KEHIDUPAN KITA.

Selagi menunggu bus kota dan berteduh di bawah payung penjual teh botol dan rokok itu saya terkesan oleh satu hal. Apa? Dagangan berupa amplop. Maka rasa ingin tahu saya pun mencuat.
“Emang banyak yang beli, Bang?” tanya saya.
“Ada aja sih. Saben ari ada,” kata si penjual yang mangkal dekat Mal Pondok Indah itu.
Hah? Saban hari? Siapa saja pembelinya?
Kata Bang Penjual, pembeli rutin adalah para sopir mobil angkutan barang dan sebagian sopir mobil angkutan umum. Untuk surat-menyurat, seperti korespondensi era jadulkah?
“Buat ngasih setoran ke polisi. Sekarang pake amplop, nggak ngasih STNK,” kata si Abang.
Pembeli lain tak dapat dia identifikasi, “Pokoknya ada aja. Sekali-sekali orang mau kondangan juga mampir, beli amplop buat nyumbang.”
Amplop menjadi bagian dari peradaban manusia sejak zaman Babilonia (2000 SM). Dalam era digital, ikon amplop menjadi sarana visualiasi fungsi e-mail dan SMS. Singkat kata, amplop bukan benda asing apalagi ajaib.
Secara konotatif amplop juga berarti sumbangan, pemberian, dan bahkan sogokan. Maka ada ungkapan, “Kalau ada sepuluh meja berarti butuh sepuluh amplop.”
Kalau saya tak salah merujuk Pak Atmakusumah yang jurnalis senior itu, amplop sebagai suap mulai menyapa para reporter pada awal 70-an. Sejak itulah dikenal istilah “wartawan amplop”.
Istilah “wartawan amplop” bertahan sampai sekarang padahal pemberian uang, kabarnya, juga dilakukan melalui transfer. Namun yang tunai dalam amplop juga masih ada. Istilah sopannya “biaya transpor peliputan”, padahal si reporter sudah diongkosi oleh kantor redaksi bahkan kadang menggunakan kendaraan operasional. Kendaraan itu bisa motor, bisa mobil.
Di luar urusan penyimpangan profesi jurnalistik, amplop juga sering diartikan sebagai angpauw (angpao, angpo). Artinya ya pemberian ekstra, di luar kewajiban resmi si pemberi.
Angpauw berasal dari tradisi masyarakat Cina. Artinya “kertas merah”. Kebetulan amplop untuk perayaan juga berwarna merah. Di kemudian hari angpauw di luar perayaan tak mementingkan warna tapi nilai nominal. Pemakai pemaknaan baru angpauw itu tak hanya keturunan Cina melainkan juga non-Cina. :)
Jika Anda hanya main tagih, minta angpauw saat Imlek, bisa saja kena tagihan balik dari Moy-moy: “Mustinya saya yang dapet karena saya masih lajang!”
Biasanya angpauw diberikan kepada anak-anak kecil dan mereka yang belum menikah. :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Ketika “Lancar” Terpasang, Kemacetan pun Datang
March 31, 2008 by AntyoSISTEM INFORMASI LALIN DI REPUBLIK KEBATINAN.
Saat menyalip sebuah mobil, ekor pandangan mata kiri saya menangkap petugas jalan tol sedang memasang tulisan “Lancar” di tepi jalan.
Isian itu seperti kotak info kantor pemerintah: “Kepala Dinas | Ada”. Kalau diubah menjadi “Kepala Dinas | Amrin Membolos”. Ya, serupa papan daftar nomor nyanyian dan ayat [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





yah, kalo polapikir kita bermuara pada duit saja memang… apa aja dilakukan.
Eh jangan salah Pak. Dikantor saya juga amplop begituan masih sangat diperlukan buat berkirim surat.
Soalnya koneksi internet ga ada, jadi ya kirim data data tertulis pakai surat yang diamplopin pakai itu.
Berarti yang jual itu cerdas, bisa tahu peluang bisnis “amplop” ;)
Yang komentar disini, juga dapet amplop??? :D
cerdas banget sichh…sebel dan ngiri…ada aja yang bisa di ceritain…
pulisi lagih pulisi lagih…hhhhhh !
hwaaa….ka….ka…ka….
paman, tak link ya..tenkyuu..
bagi angpawnya dong paman :D
Oke…oke…
[...] buat Paman Tyo atas ide menampilkan bLog teraktif dihalaman depan layanan bLognya, suer, tidak dapat dipungkiri [...]
Amplop itu properti kuno, de. Wadah sangu paling mutakhir ya kardus indomie. Jaksa UTG aja pake untuk nampung 660.000 dolar.
lebih banyak yang jual amplop daripada jual perangko ya pakdhe?
itulah indonesia …
soal angpaw… sekarang saya masih dikasih, berhubung masih kuliah, tapi ya harus ngasih, berhubung keponakan uda banyak :p
:D :D :D :D :D
pamaaaannnn…. minta angpaw …. :)
pokoknya amplop yang paling keren adalah amplop berwarna merah pas imlek… untung aku masih bujangan, dan hidup di daerah yang masih kentel ke-cina-annya… lumayan… lumayan…. :D
supir, polisi, stnk..
Ternyata masih ya..
Paman, apa beda wartawan amplop, wartawan bodrek dll?
kalo isi amplopnya meteran, diganti pake karung aja kali ya paman?? :D
amplop . . . trus transfer????!!!
lha ayin kasih angpauw jaksa urip 6M itu??? . . . kok US$nya cash ya!!!???
suka2 orang kaya kaleeeeeee . . :P
amlplop berasal dari bahasa ap sih ???
Negeri ini seperti itulah kejadiannya :D
Weleh.. kalo menurut saya, amplop itu sebagai bentuk formalitas saja, Paman..
Jaman sekarang ini, mau kirim surat, tinggal SMS atau email. Mau pake acar sogok menyogok? Ya tinggal transfer saja toh?
pak puh… di Jatim ada ungkapan “wartawan bodrek”
apa habis ngeliput minum pil merah putih itu ya..?