Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Inisiatif Bawahan: Apakah Bos Peduli?

Rabu, 16 Juli 2008 @ 23:58 | Selingan

KREATIVITAS DARI HIERARKI RENDAH.

maklumat satpam di kantor pos pusat jakarta

Dari jarak dua meter pun tak terbaca. Tapi saya tergoda untuk mendekati kertas sobekan buku tulis yang coretannya meluntur itu. Sebuah imbauan. Hasil tulisan tangan komandan satpam Gedung Pos Ibukota, Pasar Baru, Jakarta.

Mulanya saya geli. Setelah itu kagum. Saya mengagumi inisiatif Pak Kumendam Satpamwan. Tak usah mencari komputer (apalagi yang ada desktop publishing-nya) dan pencetak laser. Cukup sobekan buku tulis dan bolpen. Maka jadilah.

Saya tak mencari tahu apakah tuan-tuan mulia lagi bijak bestari di jawatan itu mengetahui apa saja yang telah dilakukan lapis bawah untuk kepentingan tempat dinas mereka. Tempat dinas yang kian kusam seiring menyurutnya pamor jasa pos.

Entah bagaimana caranya, yang penting beres. Barangkali itu prinsip tuan.

Kami lakukan sejauh kami mampu, itu prinsip para bala dhupak pidak pedarakan, yakni mereka yang secara hierarkis paling sering disuruh.

Peturasan para anggota staf jadi jorok, keran bocor cukup dibebat tas kresek, handel pintu copot cukup diikat tali rafia, itu bukan tanggung jawab juragan kecil. Di banyak kantor, itu tanggung jawab bawahan untuk mengatasinya.

Dalam setiap pidato dan santiaji, mantera bernama inisiatif seringkali lebih diresapi oleh bawahan. Tanpa mendengar sabda pun mereka kadang sudah paham — dan menjalankannya. Dengan risiko kalau salah akan dipertololkan.

Nasib.

Ada 23 komentar | trackback | Depan

#23

unai | 15 08 2008 @ 10:10:16

beginilah nasib bala duphak, paman..ya seperti saya ini


#22

dekroy | 04 08 2008 @ 1:41:40

Apapapun caranya yang penting isi pengumuman bisa sampai, saya sendiri jadi tahu kalo disitu ada pengumuman itu. Baru mudeng. Paman santai aja, nanti saya sampaikan ke Bos. Harusnya lokasi itu ditanamin palawija atau apa keq. jadi orang ngak bakal naro kendaraannya disitu.


#21

Beta Uliansyah | 24 07 2008 @ 8:15:21

Jangan GR dulu Paman. Tulisan itu bisa saja bukan dimaksudkan sebagai woro-woro yang memenuhi syarat komunikasi yang baik. Bisa juga bukti kinerja sang Kumendam kepada atasan, “Pak Boss, saya sudah tempel pengumuman. Kalo masih pada ndableg, jangan salahkan saya”.


#20

Stevie | 19 07 2008 @ 14:50:55

Yaa tergantung bosnya sih… Kalo kebanyakan makan santan ya gimana mau peduli, lha pusing mlulu kolesterolnya tinggi :-))


#19

bangpay | 18 07 2008 @ 21:28:34

i mean, waskitane……

(liat komentar saya sebelumnya –yang salah tulis)


#18

bangpay | 18 07 2008 @ 21:27:46

wakitane bala duphak….


#17

arya | 18 07 2008 @ 2:24:08

kumendam? pantesan ada nama daerah di jogja yg namanya Kumendaman. itu isinya tengtara atawa hongib semua kali ya paman?


#16

Andra | 18 07 2008 @ 0:57:31

sudah saatnya mengadakan training desktop publishing tools untuk para satpam..


#15

Abihaha | 17 07 2008 @ 22:55:06

yang saya ngalami, dari atas lambat, dari bawah seperlunya.
::kok lebih mirip upil daripada tahi cecak ya?


#14

Yoyo | 17 07 2008 @ 12:10:33

sedikit bicara, banyak kerja, Paman :)


#13

Donny Verdian | 17 07 2008 @ 11:52:33

Setiap bagian punya kepedulian dan tanggungjawab masing-masing.. mungkin demikian si Bos bakalan ngeles kalau ditanya, Paman


#12

Remo Harsono | 17 07 2008 @ 11:47:31

buat mazirwan: stempel itu pengganti hologram


#11

mazirwan | 17 07 2008 @ 10:25:27

buat Ogi: tahi cicak itu pengganti stempel


#10

Ogi | 17 07 2008 @ 9:48:59

wegh, pengumuman e dibubuhi tahi cicak segala, kuerrenn


#9

bangsari | 17 07 2008 @ 7:29:00

bos itu kan semacam tuhan kecil. selalu suci dan ndak pernah turun ke bumi.


#8

Hedi | 17 07 2008 @ 7:27:02

Kadang kreativitas dibuat oleh orang di bawah, tapi kemudian bisa hilang ketima mereka sudah di atas. Semoga si satpawan itu nantinya tidak. :D


#7

Mbilung | 17 07 2008 @ 5:26:57

ini moda komunikasi antara bala dhupak satu dengan bala dhupak lainnya, bos ndak main di sini. khas sekali, lewat tulisan, tempel di papan umum. yaaah, seperti blog lah.


#6

kw | 17 07 2008 @ 3:34:47

nasib “bala dhupak pidak pedarakan” emang seperti masinis kereta. andai semua baik2 saja, tak ada seorang pun yang inget jasanya. baru kalau tabrakan, dia pertama yang di salahkan :(


#5

sluman slumun slamet | 17 07 2008 @ 1:21:30

nasib….
satu kata tapi JEROOOOO BANGET


#4

mizan | 17 07 2008 @ 0:40:46

Selama ini kan “orang bawah” cuma bisa berteriak-teriak tanpa ada yang mendengar…

Itu ada cicak yang mampir baca ya?


#3

Epat | 17 07 2008 @ 0:39:55

seandainya para tuan-tuan mulia lagi bijak bestari di semua jawatan negeri ini bisa seperti paman….
:-D


#2

didut | 17 07 2008 @ 0:38:45

begitulah nasib orang kecil paman, penuh pengabdian tp minim perhatian


#1

suprie | 17 07 2008 @ 0:36:42

wah banyak pakdhe, kaya gitu.. yang bawahan lebih berinisiatif, sementara atasan cuek bebek..