Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Ayo Nonton TV!

Minggu, 20 Juli 2008 @ 15:48 | Komedi Indonesia, Lihat Baca Dengar, Personal

BERHALA MODERN YANG DICINTA DAN DIBENCI.

hari tanpa tv

Adakah stasiun televisi yang hari ini menayangkan Hari tanpa TV? Saya belum tahu karena malas mengecek. Malas mengecek karena jarang nonton TV. Jarang nonton karena banyak sebab. Salah satunya adalah apa yang saya butuhkan seringkali sudah terlewat atau belum muncul, atau malah ketika saya setel stasiunnya sedang tidak siaran. Bukankah ada jadwal siaran TV? Ini jenis informasi yang saya lihat.

Apakah saya memusuhi TV? Tidak.

Apakah saya mengikuti Madonna, yang membatasi anaknya dari terpaan TV? Juga tidak.

Malah dari TV ada yang saya sukai tapi sering terkalahkan oleh pemegang remote controller. Apa? Tayangan iklan.

Gara-gara jarang menonton TV saya sering gagap mencerna iklan di media cetak dan media luar ruang (bilbor gambar diam). Sebagian iklan-iklan itu hanya bagian dari kampanye masif yang berat di TV. Lantas media cetak dan bilbor hanya nenampilkan screenshot TV, bahkan dengan headline dan text balloon yang sekakadar mengulang suara TV. Bukan salah “insan periklanan”. Ini salah saya kenapa berada di luar asumsi mereka.

Dengan segala kemiskinan rujukan akan tayangan TV, secara pongah dan naif saya berkesimpulan bahwa stasiun TV doyan saling tiru acara. Menggerogoti penonton stasiun lain pada jam yang sama adalah keharusan. Sehari tetap 24 jam dan penonton baru tak turun dari bulan.

TV adalah perabot rumah tangga modern, yang boleh lebih dahulu terbeli ketimbang kulkas. Tanpa kotak ajaib yang kadang jadi berhala itu, anak kos merasa kamarnya hampa — apalagi kalau kamarnya tak berkomputer tak berinternet.

Tanpa TV, kamar hotel termurah pun serasa melemparkan tamunya ke era tanpa informasi — kecuali dulu (entah sekarang) kamar-kamar mahal di resor Club Med.

Sebagai perabot rumah tangga, jam nyala TV masih di bawah kulkas. Dalam rumah kecil berbanyak penghuni, apalagi jika pesawat TV cuma satu, maka TV yang kadung menyala akan sulit mati. Penontonnya berganti.

Radio tak mengalami hujatan sekencang TV. Koran dan majalah apalagi — yang ini kadang malah dicuekin oleh sebagian bloggers.

TV adalah barang yang dicinta sekaligus dibenci. Dalam rumah kecil, TV akan tampak dari meja makan. Saat keluarga bersantap, hal-hal dunia luar masuk ke ranah domestik. Dari tayangan lokasi penimbunan sampah, tersangka pembunuh, rekontruksi pembantaian, sangkalan badut politik pengunyah suap, sampai rahasia perkawinan pesohor akan masuk ke ruang keluarga.

Hadiah promo berupa pesawat televisi — apalagi kalau bukan produk abal-abal — tidak pernah dianggap sebagai barang yang tak mendidik. Mungkin tak diharap penuh suka cita, tapi tak akan ditentang.

Adakah yang salah dengan TV? Penggunaan frekuensi oleh stasiun harus diatur karena gelombang radio dan udara adalah milik bersama.

Siaran TV harus dikontrol justru karena tayangan dibuat justru untuk ditonton sebanyak dan seluas mungkin khalayak. Mereka yang disasar boleh menentang (kalau diam artinya mendukung). Tapi, ah, ini pun hukum sosial semua produk media.

Bentuk kontrol beragam, dari protes, demo mengerahkan massa, sampai boikot. Tambah lagi yang rada kontemplatif: sehari tanpa TV (kalau tahan). Esok tontonlah lagi sampai setahun. Sampai tombol remote controller luntur.

Di sebuah kampung pernah ada aturan bahwa pada jam tertentu adalah jam belajar. Anak-anak tak boleh bermain di luar rumah dan kalau di dalam tak boleh menonton TV.

Ini konyol. RT/RW merasuki kehidupan domestik dan merasa lebih tahu kapan TV dinyalakan, kapan anak-anak harus belajar. Sebuah kesepakatan telah mengabaikan kenyataan bahwa setiap keluarga itu otentik dan berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya.

Bagaimana dengan kampanye Hari tanpa TV? Pagi tadi saya menanya anak-anak saya apakah mereka tahu. Ternyata mereka tahu ajakan bermoral itu. Tapi salah satu bilang, “Itu nggak perlu.”

Saya larang mereka menonton TV? Tidak. Sampai siang ini TV masih menyala di sebuah ruang. Dan seperti biasa saya hanya mendengar suaranya.

TV biasa (bukan kabel atau berbayar) adalah media paling murah. Pemiliknya hanya membayar setrum. Harga setrum bulanan (apalagi yang hanya dari TV) tetap (jauh) lebih murah daripada melanggani empat koran, enam majalah, empat tabloid, dan membeli beberapa buku sebulan.

Ketika minat baca rendah, dan pilihan aktivitas hanya sedikit yang mengasyikkan, maka yang paling layak dipersalahkan adalah TV.

Ketika anak-anak dibesarkan oleh TV rumah yang menyala tak kenal waktu, maka yang bertanggung jawab adalah orang dewasa. Dari sejumlah orang dewasa itu, yang sering jadi kambing hitam adalah kaum ibu dan pembantu.

Mulai hari ini saya akan belajar nonton TV, mengembalikan kebutuhan yang pernah saya miliki.

Ada 27 komentar | trackback | Depan

#27

Masih bocah | 08 09 2008 @ 9:48:53

Masalahnya paman, susah nyari hiburan yang murah meriah&lengkap buat masyarakat yang rata-rata keadaan ekonominya kekurangan.
Buat mereka, daripada internetan atau beli koran, mending uangnya buat makan atau rokok (ya, rokok! Udah jadi kebutuhan pokok banyak kalangan).
Masalah baik-buruknya acara di TV, pihak stasiun TV&rumah produksi yang punya kemampuan besar untuk menentukan…
Hahay, jadi sengit ngomongin TV. Bisa dibilang saya ini generasi televisi, dari kecil sampai sekarang masih terbius daya tarik TV. Memang acara TV banyak sampahnya waktu prime time. Tapi sekarang, khususnya dari stasiun2 TV yg masih “muda”, udah lumayan banyak acara yang bagus kok:informatif,mendidik,kritis.
Saya setujunya kalau TV ngga perlu dijauhi, tapi isinya harus diperbaiki. Biar TV ikut jadi sarana pendidikan yang baik. =)


#26

didut | 24 07 2008 @ 4:53:16

kalo buat nonton ronaldinho sy pasti jadi pemuja berhala :D


#25

Gum | 24 07 2008 @ 3:51:32

entah kenapa, hingga saat ini saya anti sama barang satu itu, apapun merk dan selebar apapun dimensinya.

terlebih semenjak teman2 di kantor saya mulai sering menyalakan tv saat jam kerja. dengan volume yang tidak toleransi pula.


#24

Muhammad IQbal | 23 07 2008 @ 14:33:41

ada …
kemarin sempat liat TV one membahasnya di kabar pagi….


#23

alhakim | 23 07 2008 @ 13:04:18

“Tanpa kotak ajaib yang kadang jadi berhala itu, anak kos merasa kamarnya hampa — apalagi kalau kamarnya tak berkomputer tak berinternet.”

Jadi ingat pertama kali kos, sepi buanget… tidak ada hiburan. bahkan radiopun tak punya. *hiks*

TV itu juga perlu lho paman, sarana hiburan yang murah meriah buat orang desa ;)


#22

mpokb | 23 07 2008 @ 10:47:21

TV bagi masyarakat ibarat anak bagi orang tua. aneh kalau ada anak nakal salah didik terus malah ditinggal oleh orang tuanya.


#21

Harianus Zebua | 22 07 2008 @ 16:17:35

Fenomena TV RITUALISM, non sampling error yang selalu menghantui pelaku survei rating TV di belahan dunia manapun. TV acap kali tak jadi multimedia, karena tiada beda dengan radio, hanya didengarkan karena si pemirsa sedang asyik mencuci pakaian di kamar mandi…


#20

Sky | 22 07 2008 @ 11:37:43

TV seringnya nganggur di rumah hehehe tapi jujur, saya suka banget sama TV, terutama untuk nonton dvd


#19

imron | 22 07 2008 @ 11:11:13

yang tahu tayangan tipi itu tak mendidik, pasti suka nonton tipi


#18

adit | 21 07 2008 @ 23:02:38

nonton TV ?

cuma buat nongton siaran langsung sepakbola saja, selebihnya

lebih tahan berlama2 di depan monitor komputer, bekerja ria, ber-game ria dan ber-internet ria


#17

pHyt^ | 21 07 2008 @ 12:09:15

“Mulai hari ini saya akan “belajar” nonton TV, mengembalikan kebutuhan yang pernah saya miliki”.
belajar dsana maksudnya?belajar tuk suka nonton TV?
bawa santay aja lagi..jangan berlebihan nonton, juga jangan terlalu memusuhi tv juga!!
yang sedang2 sajah.


#16

Remo Harsono | 21 07 2008 @ 10:52:53

Alhamdulillah…saya ga punya TV…dan kayaknya satu2nya programmer yg ga punya TV kali yak :(


#15

bangsari | 21 07 2008 @ 9:22:39

sejak mulai mengenal dunia perantauan dan perkosan (1993), saya ndak pernah punya barang bernama tipi itu. bukan karena ndak mau beli, tapi lebih karena ndak punya duit untuk beli. belum lagi iuran kos harus dibayar lebih mahal jika dengan itu.

pada awalnya, ada perasaan yang aneh. sepertinya hidup tidak lengkap. tapi setelah berjalan beberapa tahu, justru tanpa tipi hidup terasa lebih asyik, santai dan nyaman.


#14

isdiyanto | 21 07 2008 @ 9:22:23

jangan terbuai dengan teve…


#13

Ilham saibi blog - Nonton tipi | 21 07 2008 @ 8:48:37

[...] jalan jalan ke blog paman tyo, baca tentang masalah tipi, malah jadi nginget nginget kapan terakhir nonton tipi, dah lamaaaa banget. Udah hampir sebulan [...]


#12

ilham saibi | 21 07 2008 @ 8:13:07

udah jarang nonton tipi, kerjaan di depan laptop mulu :D
ada dak ada tipi sekarang dah gak ngaruh paman, tapi ada dan tak ada internet baru ngaruh.


#11

caktopan | 21 07 2008 @ 8:10:35

tau sih…ada hari tanpa TV.
hari minggu pula.
waduh, kalo diturutin ga bisa nonton Japan Hours, ato Dynamic Korea di CNA. kalo lebih sore lagi ada Nanny 911 di Metro TV.

hihihihi….


#10

pporicrazy | 21 07 2008 @ 2:03:16

tivi…
hmmmmmm…..

butuh tivi….gak butuh tivi….
nyebelin….gak nyebelin…..
mendidik….gak mendidik…..
sinetron…..berita……

*sambil nyabut helai helai bunga matahari di goa selarong,,mencari wahyu gimana harus menghadapi kotak gambar berbunyi di rumanya*

apaa sihhhhhh…..*pletak!!!*

hekekekekkk……


#9

dhany | 21 07 2008 @ 1:53:48

gara-gara TV di Poskamling rusak, para peronda jadi malas hadir.

ini bisa jadi posting yang bagus bahkan cerpen! hidup tv!

tyo


#8

Abihaha | 21 07 2008 @ 0:17:01

Berhubung patuh pada orde baru, dulu saya rajin bayar pajak TV penuh 12 bulan di muka.
Teliti punya teliti, ‘materai’ tanda bayar 2 tahun terakhir kok bertanda 3 tahun sebelumnya.
Begitu penagih datang lagi tahun berikutnya, saya komplen (dan ternyata ia datang membawa ‘materai’ yang sama -terbitan 4 tahun lalu-).
Dijanjikan besok datang lagi dengan ‘materai’ terbaru, ia ndak pernah muncul-muncul lagi, sampai hampir masuk hitungan belasan tahun kemudian.
Jebule lahubi!! sebab 2 tahun terakhir masuk jaman reformasi itu pajak TV ndak ada lagi.
Pabu pemat tenan! Ngono kok ya dulu itu ndak diumumke di TV!!

Ini bahan post yang sangat lucu! Ibu saya dulu juga taat, lantas saya ingatkan barang siapa kadung mau bayar iuran TV yang dikelola Tommy (Mekatama Raya) maka untuk seterusnya akan ditagih :D

tyo


#7

Hedi | 21 07 2008 @ 0:00:28

Paman mau nonton TV, tetep acara favoritnya adalah iklan :D


#6

anno | 20 07 2008 @ 22:34:12

selamat menonton dach paman


#5

jun | 20 07 2008 @ 21:34:19

Oke, selamat belajar nonton TV, paman….


#4

Sluman slumun slamet | 20 07 2008 @ 20:30:19

Saya masih butuh tivi, paman. Buat nonton komedi indonesia. Ada badut cewek yang disidang, ada pesulap pemakai baju putih. Kalo cuma lewat striming kok ndak puas.


#3

Ahmad | 20 07 2008 @ 18:45:28

Kami sekarang tidak memiliki televisi. Ternyata, faedahnya ketara, yaitu kebersamaan lebih banyak direguk dan komunikasi lebih mendalam.

Tak jarang, kami bernyanyi bersama untuk menghibur diri. Hanya radio kecil itu yang kami pelihara untuk membuat rumah kami tidak sepi.

—-

INI SEBUAH POST YANG OKE! TIDAK MAU PUNYA TIPI! SALUT!
tyo


#2

arsohusein | 20 07 2008 @ 16:42:38

tv kita diperbudak rating… meski nda mendidik, rating tinggi … ya jalan terus!


#1

andif | 20 07 2008 @ 16:38:08

TV bisa bermanfaat kalau kita gunakn untuk hal positif :)