Ayo Nonton TV!
BERHALA MODERN YANG DICINTA DAN DIBENCI.

Adakah stasiun televisi yang hari ini menayangkan Hari tanpa TV? Saya belum tahu karena malas mengecek. Malas mengecek karena jarang nonton TV. Jarang nonton karena banyak sebab. Salah satunya adalah apa yang saya butuhkan seringkali sudah terlewat atau belum muncul, atau malah ketika saya setel stasiunnya sedang tidak siaran. Bukankah ada jadwal siaran TV? Ini jenis informasi yang saya lihat.
Apakah saya memusuhi TV? Tidak.
Apakah saya mengikuti Madonna, yang membatasi anaknya dari terpaan TV? Juga tidak.
Malah dari TV ada yang saya sukai tapi sering terkalahkan oleh pemegang remote controller. Apa? Tayangan iklan.
Gara-gara jarang menonton TV saya sering gagap mencerna iklan di media cetak dan media luar ruang (bilbor gambar diam). Sebagian iklan-iklan itu hanya bagian dari kampanye masif yang berat di TV. Lantas media cetak dan bilbor hanya nenampilkan screenshot TV, bahkan dengan headline dan text balloon yang sekakadar mengulang suara TV. Bukan salah “insan periklanan”. Ini salah saya kenapa berada di luar asumsi mereka.
Dengan segala kemiskinan rujukan akan tayangan TV, secara pongah dan naif saya berkesimpulan bahwa stasiun TV doyan saling tiru acara. Menggerogoti penonton stasiun lain pada jam yang sama adalah keharusan. Sehari tetap 24 jam dan penonton baru tak turun dari bulan.
TV adalah perabot rumah tangga modern, yang boleh lebih dahulu terbeli ketimbang kulkas. Tanpa kotak ajaib yang kadang jadi berhala itu, anak kos merasa kamarnya hampa — apalagi kalau kamarnya tak berkomputer tak berinternet.
Tanpa TV, kamar hotel termurah pun serasa melemparkan tamunya ke era tanpa informasi — kecuali dulu (entah sekarang) kamar-kamar mahal di resor Club Med.
Sebagai perabot rumah tangga, jam nyala TV masih di bawah kulkas. Dalam rumah kecil berbanyak penghuni, apalagi jika pesawat TV cuma satu, maka TV yang kadung menyala akan sulit mati. Penontonnya berganti.
Radio tak mengalami hujatan sekencang TV. Koran dan majalah apalagi — yang ini kadang malah dicuekin oleh sebagian bloggers.
TV adalah barang yang dicinta sekaligus dibenci. Dalam rumah kecil, TV akan tampak dari meja makan. Saat keluarga bersantap, hal-hal dunia luar masuk ke ranah domestik. Dari tayangan lokasi penimbunan sampah, tersangka pembunuh, rekontruksi pembantaian, sangkalan badut politik pengunyah suap, sampai rahasia perkawinan pesohor akan masuk ke ruang keluarga.
Hadiah promo berupa pesawat televisi — apalagi kalau bukan produk abal-abal — tidak pernah dianggap sebagai barang yang tak mendidik. Mungkin tak diharap penuh suka cita, tapi tak akan ditentang.
Adakah yang salah dengan TV? Penggunaan frekuensi oleh stasiun harus diatur karena gelombang radio dan udara adalah milik bersama.
Siaran TV harus dikontrol justru karena tayangan dibuat justru untuk ditonton sebanyak dan seluas mungkin khalayak. Mereka yang disasar boleh menentang (kalau diam artinya mendukung). Tapi, ah, ini pun hukum sosial semua produk media.
Bentuk kontrol beragam, dari protes, demo mengerahkan massa, sampai boikot. Tambah lagi yang rada kontemplatif: sehari tanpa TV (kalau tahan). Esok tontonlah lagi sampai setahun. Sampai tombol remote controller luntur.
Di sebuah kampung pernah ada aturan bahwa pada jam tertentu adalah jam belajar. Anak-anak tak boleh bermain di luar rumah dan kalau di dalam tak boleh menonton TV.
Ini konyol. RT/RW merasuki kehidupan domestik dan merasa lebih tahu kapan TV dinyalakan, kapan anak-anak harus belajar. Sebuah kesepakatan telah mengabaikan kenyataan bahwa setiap keluarga itu otentik dan berhak menentukan yang terbaik bagi dirinya.
Bagaimana dengan kampanye Hari tanpa TV? Pagi tadi saya menanya anak-anak saya apakah mereka tahu. Ternyata mereka tahu ajakan bermoral itu. Tapi salah satu bilang, “Itu nggak perlu.”
Saya larang mereka menonton TV? Tidak. Sampai siang ini TV masih menyala di sebuah ruang. Dan seperti biasa saya hanya mendengar suaranya.
TV biasa (bukan kabel atau berbayar) adalah media paling murah. Pemiliknya hanya membayar setrum. Harga setrum bulanan (apalagi yang hanya dari TV) tetap (jauh) lebih murah daripada melanggani empat koran, enam majalah, empat tabloid, dan membeli beberapa buku sebulan.
Ketika minat baca rendah, dan pilihan aktivitas hanya sedikit yang mengasyikkan, maka yang paling layak dipersalahkan adalah TV.
Ketika anak-anak dibesarkan oleh TV rumah yang menyala tak kenal waktu, maka yang bertanggung jawab adalah orang dewasa. Dari sejumlah orang dewasa itu, yang sering jadi kambing hitam adalah kaum ibu dan pembantu.
Mulai hari ini saya akan belajar nonton TV, mengembalikan kebutuhan yang pernah saya miliki.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Pers, Keluarga Besar Aparat, dan Topi PM
April 18, 2008 by AntyoGAYA (SEBAGIAN) ORANG MEDIA DI REPUBLIK CALO.
Anda pasti pernah menjumpai mobil dengan setidaknya salah satu atribut ini. Stiker keluarga besar TNI-AD/AU/AL, Marinir, Kopassus, Brimbob, Hansip. Replika topi Polisi Militer. Lencana pangkat taruna Akademi Militer.
Buat apa? Kebanggaan dan solidaritas korps. Lucunya korps di sini termasuk keluarga batih: orangtua, paman, mertua, keponakan, ipar, tetangga.
[...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kalau boleh kutip makna dari lagu Navicula – Televishit:
Program di TV yg kualitas rendah dan tahayul, yg malah membodohi dan tidak mendidik… salahnya bukan hanya di produsen tapi di konsumen juga.
Hehehe…. sori, just an opinion ;) Don’t take it to heart.
Commercials suck, Youtube is cool!
Masalahnya paman, susah nyari hiburan yang murah meriah&lengkap buat masyarakat yang rata-rata keadaan ekonominya kekurangan.
Buat mereka, daripada internetan atau beli koran, mending uangnya buat makan atau rokok (ya, rokok! Udah jadi kebutuhan pokok banyak kalangan).
Masalah baik-buruknya acara di TV, pihak stasiun TV&rumah produksi yang punya kemampuan besar untuk menentukan…
Hahay, jadi sengit ngomongin TV. Bisa dibilang saya ini generasi televisi, dari kecil sampai sekarang masih terbius daya tarik TV. Memang acara TV banyak sampahnya waktu prime time. Tapi sekarang, khususnya dari stasiun2 TV yg masih “muda”, udah lumayan banyak acara yang bagus kok:informatif,mendidik,kritis.
Saya setujunya kalau TV ngga perlu dijauhi, tapi isinya harus diperbaiki. Biar TV ikut jadi sarana pendidikan yang baik. =)
kalo buat nonton ronaldinho sy pasti jadi pemuja berhala :D