YANG MENDUDUKI BISA ATUR DUDUK PERKARA.

Ada beberapa teman saya yang begitu duduk di atas kursi langsung mengangkat kaki. Ada yang bersila, ada yang melipat satu kaki seperti setengah bersila, ada yang duduk mencangkung dan menjadikan lutut sebagai penopang lengan. Bahkan ada pula yang duduk bertinggung, seperti jongkok di atas kursi.
Mereka melakukannya di rumah dan tempat lain yang membuat mereka nyaman melakukan itu. Termasuk di antaranya adalah kantor dan kantin bahkan kafe keren.
Perihal cara duduk, ini berhubungan dengan kenyamanan. Lantas kenyamanan menghasilkan kebiasaan.
Kebiasaan dan rasa aman bisa menghasilkan kejengahan bagi orang lain. Jengah itu artinya malu, bukan malas melakukan sesuatu. Misalnya seorang cowok usia tanggung yang rumahnya dipakai indekosan mbak-mbak. Para pemondok tak hanya berpakaian semaunya tetapi juga duduk sesukanya. Rona tersipu bocah puber malah jadi bahan mainan.
Itulah kursi. Itulah duduk.
Manusia mengenal kursi sejak merasakan enaknya duduk di atas batu dan akar pohon besar. Kata siapa? Kira-kira saja.
Kemudian jadilah kursi sebagai bagian dari kebudayaan. Model kursi bahkan cara duduk, ada pakemnya. Etiket mengaturnya, bila perlu melalui kursus.
Sebagai perabot rumah tangga, kursi juga bertaut dengan ingatan sentimental. Saya lupa-lupa ingat, pada tahun 80-an pernah ada cerpen tentang konflik ibu dan anak soal kursi (ganti atau tidak?), kalau tak salah karya Darwis Khudori.
Hari-hari kita sekarang ini konotasi kursi juga berkait dengan kekuasaan. Banyak yang memburu, tak sedikit yang ingin mempertahankan. Iklan kuno Ligna selalu terbukti: “Kalau sudah duduk lupa berdiri!”
Kursi diincar. Kursi didambakan. Jabatan bisa dianggap segalanya. Karena jabatan bisa menghasilkan lebih banyak hal. Kursi seseorang menentukan nasib orang yang tidak sekedudukan. Pilkada disorot. Pilpres sudah lebih dini start kampanyenya.
Maka masih saja ada orang yang bertanya kepada orang lain mengapa melepaskan sebuah jabatan, padahal kursi yang lebih baik sudah menanti, dan lebih memilih sebuah ketidakjelasan. Melepaskan burung merpati di tangan sambil menghalau burung elang yang akan singgah.
Jika masalahnya adalah duduk, maka di mana pun — asal tak kotor apalagi bau — mestinya bisa kan? Tapi ingat, kursi bersih juga bisa mengumatkan alergi karena bahan tak cocok untuk semua orang. Bikin gatal. :D
© Foto: blogombal.org





yudhi | 25 07 2008 @ 15:19:33
Cara duduk saya biasanya sila, atau angkat satu kaki gaya warteg di kursi. Ribet, tapi asyik, dan celakanya sudah jadi kebiasaan :D. Dikantor, di tempat lain, kalau bisa duduk dengan cara gitu, ya akhirnya begitu. hihihihi.
mantan kyai | 25 07 2008 @ 12:38:33
paragraf kedua terakhir. tentang hubungan kursi ama burung. Berarti kalo udah duduk di kursi mesti ati-ati njaga burung??? oyayaya .. nasihat yang bagus
adinoto | 25 07 2008 @ 9:38:26
Luar biasa kalo kang Tyo nyekem mah hehehe… top kang, nice writing, emang punya kursi itu membahayakan, lucunya apa pantes kita sebut sekarang sebagai kursi masa depan? Yang bisa diremote dari jauh dengan remote control gambar duit George Washington :D
rumah | 24 07 2008 @ 22:20:35
jadi lupa berdiri kalo duduk…
edratna | 24 07 2008 @ 19:04:50
Kursi jabatan sebaiknya jangan empuk, nanti kalau udah duduk lupa berdiri, saking empuknya….
ozank | 24 07 2008 @ 19:00:40
Yang ngak enak duduk dan tak pernah diperebutkan adalah duduk di depan kursi yang atur duduk perkara
zen | 24 07 2008 @ 18:23:23
Kayaknya itu memang cerpennya darwis khudori, pak dhe. cerpen “tegak lurus dg langit”-nya iwan simatupang jg mengesankan saya pada kursi, krn permusuhuan diam2 antara si anak dan bapak itu dinarasikan lewat adegan di kursi, saling berhadapan dg tanpa kata. si bapak lama menghilang, tiba-tiba satu sore, membaca koran lalu duduk di kursi besar sembari mengatakan kata2 menggelegar: “aku ayahmu!”
kursi memang menarik, pak dhe. ia ada di perbatasan antara berjalan/berdiri dengan istirahat/rebahan/tidur. situasi antara. saya masih selalu kepingin menulis cerita soal ini, tp blm nemu trigger-nya.
Nazieb | 24 07 2008 @ 18:05:40
Rebutan kursi, asal jangan lupa sama yang “ngglempoh” saja Paman.. :D
bangsari | 24 07 2008 @ 12:50:10
kok seperti mengenang kursi paman di pabrik yang lama ya… :p
mikow | 24 07 2008 @ 10:45:12
brati manusia kursi itu bisa mengatur segala perkara juga ya paman? :D
jawara | 24 07 2008 @ 10:38:10
“duduk perkara”; setiap perkara memang mesti punya tempat duduknya tersendiri. kalau salah duduk bisa repot mas atau merepotkan yang diduduki
tetapi sebagian besar keputusan penting dibuat sambil duduk di “tempat duduk” juga
jadi tempat duduk itu …
wadiyo | 24 07 2008 @ 10:38:06
dan beberapa orang yang duduk sebagai jaksa malah bisa mengatur perkara,
sudah jelas-jelas salah, bisa di atur agar tidak salah.
itu tuh si urip dkk-nya..
Ronggo | 24 07 2008 @ 10:27:46
klo da dduduk gak mau berdiri lagi
keliatatanya duduk tapi anunya berdiri
BARRY | 24 07 2008 @ 10:13:31
Kursi itu bisa dijadikan tempat duduk, tapi bisa juga dijadikan alat untuk memecahkan kaca. Perlu dipecahkan karena asap di dalam ruangan yang sudah mulai tebal dan bisa meracuni paru-paru. Jika ingin selamat maka harus mengambil langkah nekat, yakni dengan melempar kursi tersebut, yang mungkin terbuat dari kayu bagus dan mahal. Ah, tidak penting harga, yang penting saat ini harus keluar daripada mati, hangus terbakar oleh api yang tidak pernah padam….
galih | 24 07 2008 @ 7:42:50
Saya sebenarnya ingin bisa duduk sambil memeluk lutut, tapi sayang apa daya lutut tak sampai karena terganjal perut :)
adipati kademangan | 24 07 2008 @ 7:28:47
kursi jabatan itu kursi panas
kalo ndak kuwat langsung menyebabkan alergi, brokong nya bisa terbakar juga lhoh
Sluman slumun slamet | 24 07 2008 @ 7:13:08
Paman mau ikut rebutan kursi? Maju dpd-kah paman? Ato nyaleg lewat partai banteng ketaton? :D
mpokb | 23 07 2008 @ 23:42:48
heheh, “duduk perkara”. kok ada ya istilah ini? btw, bang paman tahu di mana ada sedia kursi ergonomis yg murah dan baik? =’.'=
network_pirates | 23 07 2008 @ 23:10:04
duwe paman satu kok ya tulisan nya keplek and njengkeli. Herannya bikin kangen itu loooo
Epat | 23 07 2008 @ 23:04:07
saat kursi terasa nyaman, membuat kita menjadi terlelap lupa akan hajatan yang sedang dihidangkan
fahmi! | 23 07 2008 @ 22:46:43
nganuuu… fotone apik paman :D ndak dipasangi watermark?
Abihaha | 23 07 2008 @ 22:25:14
Ada namanya kursi ‘Barcelona’. Di saya yang perut tambun celana ukuran 40, bukan ’sudah duduk lupa berdiri’, tapi ’sudah duduk susah berdiri’.
Mana (replikanya) kebanyakan dipasang di lobby-lobby kantor, begitu empu kantor yang akan ditemui keluar, walah… mau berdirinya setengah mati.
Sekarang sudah hapal modelnya. Cukup seujung bokong saja yang singgah supaya gampang berdiri.