KETIKA PEKERJAAN JUGA BERARTI PERTEMANAN…

amplop majalah jakarta jakarta

Saya kaget ketika tadi menerima kiriman via pos. Amplopnya itu. Logonya itu. Nama majalahnya itu. Lama saya tak melihatnya. Selama ini hanya ada ingatan fotografis di kepala tentang logo itu dan ingatan berupa kata (sebagai bunyi, bukan aksara). Lebih mengesankan lagi, si pengirim yang mecantumkan coretan “sisa amplop” itu setahu saya bukan pengumpul barang lawas.

Tentang amplop, yang masih tampak baru karena rupanya lama tersimpan, setahu saya itu bukan amplop untuk keperlan rutin. Itu amplop kartu ucapan entah Lebaran atau Natal. Hanya dicetak bersamaan dengan pembuatan kartu. Ternyata masih ada yang menyimpannya dan kemudian menggunakannya. Tiba-tiba pertalian lama belasan tahun silam menghadir kembali.

Pada 1998, setahun sebelum majalah itu tutup, saya cabut dari sana. Pindah ke sebuah proyek penerbitan baru setelah delapan tahun bekerja di majalah itu.

Selama delapan tahun itu saya belajar banyak hal, tak hanya keterampilan yang berhubungan dengan profesi tetapi juga tentang manusia dan kehidupan.

Salah satu mitra kerja saya di sana adalah si pengirim dua keping CD open source dalam amplop itu. Dialah teman berdiskusi saya. Kadang kami berdebat seru. Tapi chemistry kami bersenyawa cepat sekali dalam berbagi tugas saat darurat. Seperti pelawak Srimulat yang bisa impromptu tanpa briefing atau penuangan berlama-lama.

Di kemudian hari kami sempat sekantor selama enam bulan. Meja kami berhadapan. Tapi kami jarang bicara apalagi mengudap bersama. Tak ada waktu. Masing-masing didera tenggat dan penanganan anak buah. Sempat kami bertukar keluhan, “Kenapa kita nggak bisa kayak dulu lagi, Dab?”

Sebuah ungkapan tulus penuh kerinduan. Tak ada hubungannya dengan posisi kami sebelumnya setelah sama-sama keluar dari majalah itu. Posisi yang memperhadapkan kami sebagai pesaing satu sama lain, sehingga ketika pacuan dimulai kami cukup bersalam melalui telepon sambil hahahehe, “Sekarang kita berkompetisi.”

Saya yang kalah. Padahal sebelumnya saya yakin menang. Dia juga yang sangat sedih ketika saya kalah. Dia pula yang lebih awal mengabarkan kekalahan tim saya sebelum itu resmi diumumkan. Dia mengabarkan tanpa kejumawaan. Lebih terasa kegalauan seorang sahabat. “Asu tenan he, Tyo!” itu pembuka kabar buruknya melalui telepon suatu malam.

Alangkah cepatnya waktu berlalu. Kami sama-sama menua. Anak-anak kami sama-sama sudah remaja. Dialah yang memberi tumpangan saya di kamar indekosan sempit pada hari-hari awal saya bekerja.

Perkawanan, persahabatan, kesejawatan, dan nilai-nilai bagusnya, seringkali justru mengemuka saat kita tinggal mengenangnya.

Ketika mengetik posting sentimental ini, saya teringat satu kawan lagi. Dia kreatif, serbabisa, usil, jail, kocak, optimis. Rambutnya sekarang memutih, tapi masih bisa memahami dunia remaja. Dialah partner in crime saya. Kekurangajaran dirinya dia labeli dengan nama N.V. Doea Doerdjanah.

Dunia kerja tak hanya soal bangunan bernama kantor yang setiap akhir bulan membagikan upah. Di sana ada kehidupan dengan segala nilai-nilainya.

Tagged with:
 

31 Responses to Amplop Lama

  1. yati INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    siapa dia, paman?

    *mo tauuu aja*

  2. Sky INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    pernah kasih angpaw pake amplop resmi dari kantor hahaha habisnya waktu udah mendesak dan ngga nemu amplop polos :)

  3. utuy INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    JJ? Aaah penuh gambar-gambar pengganti kata. Dimana ya nyari sisa-sia yang terbengkalai itu?

  4. Saya menyimpan satu majalah JJ waktu SMA. Yaitu JJ yang melaporkan tentang kartun-komik Indonesia. Sampulnya gambar Obelix memikul (seharusnya menhir) tapi di ganti tokoh-tokoh kartun lain itu. Ada tulisan Arswedo yang bilang anak-anaknya mengejek dia, “Papa mirip smurf,” – bukan mirip semar. Ada sejarah kartun, dan waktu itu Wendo meramal kartun jepang gak akan laku di Indonesia, karena susah, sebab bacanya dari kanan ke kiri, jadi kalau diterjemahkan plat cetak harus dibalikkan, maka semua tokohnya akan jadi kidal. Ah, ramalah yang meleset. JJ, adalah majalah yang hebat, saya belajar banyak. Banggalah bisa kenal salah satu awaknya sekarang. Salam dari Batam.

  5. jalansutera INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    saya dulu sering beli majalah yang kaya’ Paris Match itu. sayang ya sampe tutup….

  6. Parta INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    indah sekali paman, cerita hari-hari yang telah berlalu sangat mengesankan ? pernah terpikirkan untuk menulis my history kah ? sepertinya enak untuk dipublish loh paman ? karena saya tau gaya tulisan paman pasti enak untuk dibaca :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.