Membayar karena Tersinggung
MENEBUS GENGSI, MENYENANGKAN PENJUAL.

Kawan saya membeli barang tak penting karena jengkel. Pemilik toko meremehkan, “Ini mahal, Mas. Pokoknya mahal.” Sakit hati ditebus dengan jaga gengsi. Ujung-ujungnya penjual juga yang untung. Sudah menghina, masih dibayar pula. Sampai di rumah dia menyesal karena ternyata tak terlalu membutuhkan pisau belati untuk pemburu.
Beberapa kali saya mendengar orang membeli karena pegas gengsinya tersentil. Beli sampanye padahal tak doyan minum dan tak paham dunia air kata-kata, tapi hanya gara-gara diingatkan oleh pelayan, “Itu mahal, Bos.” Sayang dia tak seberani kampiun balapan yang dari podium menyemburkan isi botol ke mana-mana.
Daya beli, karena mengandung kata “daya”, adalah kekuatan, power, kesaktian. Bagi beberapa orang itu berarti kebanggaan. Bisa juga jadi alat unjuk diri, “Sudahlah… Oom suka, Oom bawa.”
Menyentil gengsi memang bisa menjadi jurus pemasaran. Lihatlah banyak iklan. Tak sedikit yang mengarah ke sana. Tapi ah, iklan kan kurang personal. Yang personal ya yang pakai tatap muka.
“Masa harga segini aja nggak berani, Mas?” tanya SPG fragrance saat toserba sepi karena tanggal tua. Jawaban saya selalu gagah, “Maaf, nggak bisa beli Mbak.”
Pernah juga, saat saya muda, SPG pameran rumah pakai towal-towel segala, sok manja. “DP-nya murah kan? Istrinya Abang pasti setuju. Atau takut sama istri? Apa-apa harus minta pertimbangan dia ya?” Jawaban saya selalu lugu, “Iya saya takut sama istri saya.”
Jurus sama, tanpa jowal-jawil, pernah dipakai SPG skuter Piaggio. “Iya, Pak, ringan kok cicilannya. Ibu di rumah pasti nggak mempersoalkan…” Hayah, sok tahu banget dia urusan domestik saya.
Entahlah sudah berapa lelaki yang terayu karena ingin menunjukkan diri tak takut bini. Padahal takut sama bini sendiri itu apa salahnya? Masa takut sama bini tetangga? Yang bener sih takut sama suami tetangga karena si laki adalah bromocorah atau juru mutilasi.
Memanggil bapak-bapak sebagai mas, bang, kak, itu juga bagian dari mengelus ego lelaki. Bayangkan jika konsumen disapa sebagai paman, paklik, pakdhe, uwak. Kayaknya bakal mengundang respon negatif, “Sejak kapan saya kawin sama bibimu?” Kalau konsumennya Jawa, mbagusi, kemlinthi, feodal, bolehlah dipanggil “den” atau “ndoro”. :P
Soal lain yang peka bagi lelaki tentu keperkasaan. Seorang SPG menawarkan supleman, “Untuk menambah stamina, Mas.” Kata “me-nam-bah” itu ditekankan. Jadi, seolah tak ada masalah dengan stamina.
Ketika ditanya stamina yang bagaimana, dengan sok tersipu salah satu dari mereka (berdua) menjawab, “Hubungan yang harmonis dengan pasangan.” Maksudnya? “Yah, hubungan intim gitulah Mas…”
Saya bilang saya nggak perlu gituan. Bukan karena masih berstamina, tetapi karena percuma, “Nggak ngefek deh Mbak. Saya sudah tua, loyo, dan saya nrimo…” Ada belas kasihan campur geli dalam wajah mereka.
Ego. Pengakuan. Kamu pikir aku nggak mampu beli? Itulah barangkali pertahanan diri konsumen yang paling disukai penjual. Padahal kita bisa kalah dua-tiga kali. Sudah tersinggung, masih keluar duit, lantas yang terima duit tertawa-tawa.
Pernahkah Anda membeli karena tak mau jatuh gengsi? Kalau bukan Anda ya lingkungan terdekat Anda begitulah… :)
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Setelah Dibuka February 11, 2012Oh kepiting asap. Sedap sekali. Kalau kepiting Asep mah bikinan si mamang. Nama kedai sari laut mengingatkan kepada kolesterol: HDL. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Setelah Dibuka February 11, 2012
Cicitcuit!- waaa ada @PamanTyo di #JMR2012 http://t.co/shFojsWC http://t.co/RhkskxFC February 10, 2012 enricoha (enrico halim)
- mestinya sebagai menkes ya fontal sama rokok. aspek ekonomis itu urusannya menteri perindustrian. ~ @PamanTyo February 10, 2012 cho_ro (Pernah Move On)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Rokok dan Etika Bisnis
September 20, 2010 by AntyoSELAIN REGULASI YA NIAT DIRI.
Warung dalam gambar ini seperti umumnya warung di kompleks perumahan. Menyediakan aneka barang, dari permen, kopi, sampai sabun. Yang membedakan dari umumnya warung adalah dia tidak menyediakan rokok. Padahal lokasinya dekat lapangan basket merangkap futsal, dan saban hari pendopo mini (sebetulnya gardu jaga) di sana buat nongkrong anak muda.
[...]
Recent Comments
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
pasang iklan baris gratis tanpa daftar» artikelnya bagus,,,thank’ s ya , salam kenal & bai yang mau Pasang Iklan Baris Gratis | Pasang Iklan Online
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Namanya laki-laki..mudah selip diantara uang, gengsi dan dada wanita
:)
Nggak ngefek ama saya… lha kagak punya uang buat beli ;)
Hahaha, i love your style, Om!
(Meski artinya sama, “Om” lebih mengelus ego daripada “Paman”?)
BTW, tentang Suplemen yang nggak ngefek itu, kalo saya jadi salesnya saya akan balas begini: “lha Paman makainya diminum atau dioles?”. Hahaha, cuma becanda boss…
[...] manakah arah tulisan ini? Menyambung dua tulisan sebelumnya: tentang gengsi dan diskrimansi. Beberapa pembaca berjapri, menanya apakah saya antimoge. Tentu tidak. Bahkan saya [...]