KOMEDI LELAKI PENGANGGURAN.

pengagguran

Seorang kawan sudah lima tahun lebih cabut diri dari dunia jurnalistik. Dia masih menulis, baik esei maupun cerpen (beberapa kali cerpennya masuk ke dalam buku Kompas). Dalam setiap isian pekerjaan pada formulir dia menyebut diri “penulis”.

Tetapi rupanya di mata guru anaknya, di sebuah SMA negeri top di Jakarta Selatan, pekerjaan “penulis” itu tak jelas. Ada guru yang menganggapnya itu semacam juru tulis di kantor kelurahan zaman dulu.

Suatu kali si anak sakit. Sekolah tak terkabari karena kedua orangtua anak sibuk. Akhirnya wali kelas tahu, saat si murid sakit bapaknya sedang melembur pekerjaan untuk Bappenas. Memang, selain bersastra-sastra, kawan saya itu akhirnya menjadi koordinator proyek bantuan sebuah negara Eropa untuk Indonesia.

Kesimpulan si wali kelas, “Ooo… jadi ayahmu itu orang parlemen?” Sejak itu para guru lebih menghormati teman saya. Anaknya pun jadi merasa lebih pede. Dia memetik moral cerita, “Status pekerjaan itu suatu hal yang perlu bagi keluarga, terutama anak.”

Oh status. Apa boleh bikin, itu memang perlu. Sekian lama masyarakat menempatkan lelaki menjadi bread winner.

Lelaki juga kepala keluarga, sehingga secantik apapun nama istrinya bisa saja di lingkungannya tertelan menjadi Bu Djoko, Bu Bambang, Bu Wicak, Bu Ahmad, Bu Rudy, Bu Zam.

Perkecualian berlaku untuk wanita yang berkarier, baik di kantor maupun jalur hiburan. Nama mereka tidak disulap oleh perkawinan. Oh ya, perkecualian juga berlaku untuk nyonya yang ngeblog. Dia punya nama sendiri. ;)

Karena lelaki kepala keluarga, setiap formulir sekolah mendahulukan isian untuk ayah. Jarang, atau tak ada, yang mendahulukan untuk ibu. Padahal yang punya anak itu ibu kan? Saya tak tahu bagaimana cara sekolah (dan guru) konservatif lagi puritan memperlakukan ibu yang orangtua tunggal tanpa nikah.

Status itu penting. Maka seorang bekas wartawan pernah tak nyaman karena hanya menjadi pengangguran di mata mertuanya. Ibu mertua tak lelah mencarikan kontak agar menantunya jadi pegawai lagi.

Seorang istri yang telah belasan tahun menikah, bisa saja tak tahan jika tiba-tiba suaminya berstatus penganggur tapi bukan pensiunan, sering di rumah cuma sarungan. Ketika suami ada kegiatan yang tak mendatangkan uang, bahkan malah buang duit dan peluang, si istri lega.

Kepada sejawatnya si nyonya sekarang bisa bilang, “Suamiku sekarang berbisnis hal-hal yang disukainya, yang jadi hobinya… Sekarang dia gemuk lagi.” Padahal gemuk itu karena makan tak terkontrol, kebanyakan nongkrong di kedai (sambil bawa laptop) — bukan karena bisnis.

Di lingkungan pertetanggaan, Pak RT pun bisa sok prihatin jika salah satu warganya yang dulu orang dinas akhirnya jadi penganggur. Selain bersimpati, Pak RT juga sedih karena penganggur tak dapat dimintai bantuan untuk tujuhbelasan.

Tapi menjadi pria penganggur yang tak terlalu miskin padahal gaji istrinya tak gede-gede amat, juga bisa menimbulkan pergunjingan. “Ngapain aja bapak itu? Jual narkoba apa yak? Denger-denger mudanya dulu suka nyimeng… Atau jadi dukun di tempat lain?”

Menjadi istri berstatus penganggur? Tak masalah, apalagi jika ekonomi keluarga baik-baik saja.

Lain halnya kaum istri yang sejak menikah bersuamikan musisi, guru musik, sound engineer, koreografer, programer, atau apapun yang berupa kerja mandiri tanpa kumpeni. Barangkali sejak pacaran pun mereka terbiasa menjelaskan apa pekerjaan pasangannya tanpa beban. :D

© Ilustrasi: josephmuscat.com

Tagged with:
 

37 Responses to Pekerjaan Ayah? Mmmm… Apa Ya?

  1. santo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kalo ngga ada status piye..? bisa bikin ktp kan…
    nama:santo
    pekerjaan:-

    kayaknya ngga bisa dong…

  2. alhakim INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Status masih penting di negara ini. salah satu alasan oranb ngejar PNS, biar dapat status

  3. njepret JAPAN Safari Mac OS says:

    kikikik … jadi inget kalo ditanya temen apa kerja suami. kalo kujawab dia guru TK sambil nyambi jadi seniman di rumah, kening para teman berkerut. hari geeneee masih jadi seniman????? kekekeee ….

  4. Curiga.. sepertinya ini bukan cerita temannya Paman, tapi lebih kepada pengalaman sendiri. Memang susah, Paman, menyebut diri sendiri. Saya juga mengakui.. :)

  5. zakki INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    bapakku juga gitu….
    sulit menjelaskan apa kerjaannya…

  6. godote INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    pengalaman yang sama nih.
    dan seringkali suka males ada tetangga yang nanya profesi. njelasinnya pakai panjang.. angel tenan.
    tapi sekarang lebih suka njawab profesi sebagai seniman. lebih simple

  7. Ollie INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Haha menarik, Paman.

  8. mas kopdang INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    pekerjaan ayah saya “Pemancing” paman..
    serius!

  9. dhany INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    seorang pukrul atau pokrol apa bisa juga menyebut dirinya pengacara..
    Guru biar keren menyebut diri dosen.
    Penulis biar dihormati menyebut diri wartawan.

  10. imron INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kok persis sm aku paman. Bedane, belum 5 tahun cabut dari jurnalistik, belum bisa bikin cerpen apalagi essai, apalagi dapat proyek di Bapenas. hihihihihihi. thx postingan sebelumnya ya paman…

  11. Remo Harsono INDONESIA Flock Windows says:

    Alhamdulillah…anak saya mirip bapaknya…preman…jd ga ambil pusing sama status he.he.he

  12. Epat INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    sayah belum beranak hihihi, tapi ini pelajaran yang bagus dari paman :-D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.