Diskriminasi: terhadap Kita, oleh Kita
SUKA DAN TAK SUKA DALAM PEMBEDAAN.

Sore itu baru ada dua motor besar yang terparkir. Honda VLX dan Ducati ST3. Selewat petang jumlahnya bertambah. Saya tahu dari raungan knalpot yang terdengar dari kedai kopi di bawah parkiran. Brmmmm…. jigjigjigjig… dungdungderungdung… gler! Big boys. Big toys.
Kenapa mereka boleh bahkan dianjurkan memarkir tunggangannya di sana, sementara pemilik skutik (kreditan) tak diizinkan?
Kata Pak Satpamwan yang menjaga, “Soalnya mahal. Yang punya kan bos-bos, orang kaya.”
Saya tak membantah pun menentang — apalagi sok tahu menginformasikan itu moge juga bisa dikredit. Yang pasti itu barang keren. Layak pajang. Pemiliknya layak mendapatkan perlakuan khusus. Kehadiran motor-motor besar akan menambah wibawa pusat perbelanjaan Senayan City, Jakarta. Cilandak Town Square juga punya kapling serupa. Semuanya di depan bangunan.
Misalkan semua motor berjenis besar, padahal skutik 100 cc cuma satu dari 10.000 motor besar, dan harganya tiga kali lipat city car termurah, mungkin yang boleh mejeng hanya capung darat bermesin itu. Tak masalah kan?
Privilese untuk orang tertentu. Itu hak setiap pemilik dan pengelola tempat. Biasa dalam kehidupan sosial. Bagi saya tak masalah. Tetapi bagi orang lain kadang dianggap berlebihan, terlalu membedakan kelas sosial.
Pembedaan dalam perlakuan. Diskriminasi. Dalam hal apa kita terima? Kadang jika menjadi si tertolak, kita tak suka. Merasa diorangluarkan, tak diakui, bahkan dimusuhi. Tetapi ketika menjadi si termuliakan, kita menikmatinya, bahkan membanggakannya. Ini seperti orang yang tak pernah antre untuk masuk ke tempat hiburan karena selalu berstatus guest list.
Diskriminasi bisa formal dalam arti ternyatakan, bisa pula tak tertulis tapi dipraktikkan. Bagi saya, lihat-lihat dulu persoalan dan cakupannya. Hanya membolehkan orang berkarcis masuk ke ruang tontonan, itu juga diskriminasi — dan saya menerimanya.
Bagaimana dengan organisasi? Untuk bergabung ke gathering Perbakin (persatuan bathuk kinclong atawa persatuan jidat mengilat) tentu hanya orang botak dan gundul yang diizinkan aktif.
Adapun dalam wadah kegiatan, kalau saya memaksakan diri masuk ke tim futsal atau voli pasti dengan girang hati akan ditolak oleh para pemain karena saya tidak bisa.
Di sebuah lantai sekolah khusus anak perempuan di Lapangan Banteng, Jakarta, kamar kecil untuk pria hanya satu. Jejeran bilik lain untuk wanita. Itu pun wajar karena lelaki di sana memang sedikit, sehingga kaos olahraga siswinya bertuliskan “0% Lelaki”.
Diskriminasi menjadi salah jika alasannya berdasarkan perbedaan yang ada pada satu atau sekelompok orang tetapi diterapkan pada hajat hidup bersama. Tidak boleh masuk ke klub renang karena warna kulit berbeda (kalau panuan bin kudisan?). Dihambat naik pangkat karena kapling keimanannya lain. Ditolak jadi pegawai karena homoseksual.
Tentu, untuk memastikan sesuatu itu diskriminatif kadang juga butuh kompromi. iPhone pernah dianggap diskriminatif terhadap wanita (tepatnya: misogyny) karena akses terhadap tombol menjadi agak sulit bagi jari berkuku panjang. Sensornya hanya mau kenal jari, bukan kuku.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Nona Melesat di Sudirman
February 18, 2008 by AntyoBERAPA BANYAK WANITA JAKARTA YANG BERMOTOR?
Nona itu, dalam balutan pakaian kerja krem, melesat di atas motor bebeknya. Wajahnya terkerudungi helm. Entahlah, apakah sneakers juga yang dipakainya di kantor.
Sore tadi, di bawah mendung dan sisa hujan, jalur lambat Jalan Jenderal Sudirman dia susuri dengan lancar, seolah nyaman.
Di Jakarta jarang saya lihat [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Kita kan materialis..
Oh,saya aja kali ya..xp
Kita kan materialis..
Di sebuah lantai sekolah khusus anak perempuan di Lapangan Banteng, Jakarta, kamar kecil untuk pria hanya satu. Jejeran bilik lain untuk wanita. Itu pun wajar karena lelaki di sana memang sedikit, sehingga kaos olahraga siswinya bertuliskan “0% Lelaki”.
sejak kapan pake kaos kayak gitu???udah ngga putih tulisan serviam lagi?
itu bukan diskriminasi pakdhe, tapi dispensasi. motor ‘itu’ kalo diparkir dibasement makan tempat. kasian kan motor yang lain ngga bisa lewat :)