Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Film Kaca Mobil: Tabir Komunikasi Kita

Minggu, 03 Agustus 2008 @ 03:27 | Umum

COBALAH MEMBUKA JENDELA SAAT MEMINTA JALAN…

jaca film eh film kaca dalam kehidupan kita

Kemarin kawan saya meminta pegawainya beli silet. “Buat melubangi kaca film mobil sewaan,” katanya. Yang dia maksud adalah fim kaca (glass film). Kenapa dilubangi? “Terlalu gelap. Nggak bisa liat spion. Kalo ganti film aku ndak mau wong itu mobil sewaan.”

Huh! Film yang terlalu gelap. Memang merepotkan.

Ada seorang suami yang membelikan mobil bekas untuk istrinya. Film kaca terlalu gelap. Ketika dipakai menyetir malam, tiang setinggi pinggang orang di pengkolan pun tak tampak. Apalagi sepeda motor tak berlampu yang ada di samping mobil.

Solusinya: film lama dilepas, diganti yang baru. Cukup Llumar yang ekonomis. Untuk kaca samping dan belakang cukup 40 persen, untuk depan cukup 20 persen.

Film kaca memang menjadi kebutuhan karena Matahari sering kelewat terik. Panas dan radiasi harus dikurangi. Celakanya toko film kaca tampaknya jarang mengedukasi konsumen. Segelap apapun dituruti. Hasilnya ya kaca gelap 80 persen seperti mobil sewaan dan mobil nyonya tadi.

Memang sih ada film bagus yang tak terlalu gelap (atau tak terlalu menyilaukan) tetapi bisa membuang panas dan radiasi ini-itu. Sayang harganya kurang bersobat.

Betulkah hanya panas yang ingin dibuang? Tampaknya tidak. Bergelap kaca dianggap keren. Lebih menjamin privasi. Diharapkan lebih aman saat melintasi perempatan yang banyak penjahat. Lebih mengoptimalkan aircon.

Hanya saja secara sosial kaca gelap itu mengganggu. Tanpa membuka kaca, angguk dan lambaian penumpang sebagai pengganti tegur sapa takkan terlihat oleh tetangga.

Kaca gelap juga menjadikan si mobil kurang berwajah. Beberapa kali percobaan, dengan berlainan pengemudi dan berlainan mobil, menunjukkan bahwa membuka kaca saat meminta jalan akan lebih mengundang respon positif. Apalagi jika pengemudinya wanita layak pandang. Atau pengemudinya bertampang tentara, atau berwajah komandan satgas partai, atau benggolan komunitas blogger garang.

Komunikasi tatap muka, meski berjauhan dan tak kenal, butuh wajah.

Satpamwan tak suka jika harus sering mencurengkan wajah dengan harapan matanya akan menembus gelap (atau silau) kaca.

Mbak-mbak dan enci-enci yang menjajakan diri di Jalan Hayam Wuruk Jakarta juga kurang suka jika mobil pelan tak membuka kaca. Oh ralat, yang ini beda alasannya. Tak membuka kaca berarti kurang serius. Cuma sightseeing saja.

Kemudian yang berlaku adalah ini: orang-orang di luar mobil sudah sejak lama menerapkan etiketnya sendiri. Kalau pegemudi dan penumpang mobil dan bahasa tubuhnya tak terlihat maka yang di luar cenderung cuek saja.

© Gambar asli sumber ilustrasi: pagesperso-orange.fr dan vkool-indonesia.com

Bonus: cara pasang film kaca

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

Car Buying Tips | 16 10 2008 @ 19:39:00

wah sayang tuh kalo mobil baru, untungnya cuma mobil sewaan


#21

Dimas Nurfiansyah | 12 09 2008 @ 8:45:24

waahh, repot juga ya klo begitu.. eh, ada lowongan kerja nih.. buka aja http://www.jac-recruitment.co.id


#20

bubba | 14 08 2008 @ 17:54:39

kaca item diganti kaca Llumar pakdhe? :D lha tiang di pengkolan itu diganti ndhak? hehe


#19

Blog Kenthir | 04 08 2008 @ 19:28:53

[...benggolan komunitas blogger garang...]

apakah yang dimaksud sampean Paman ?

:D


#18

Donny Verdian | 04 08 2008 @ 16:27:37

Kalo kaca filmnya nggak peteng nanti nek mau cium-cium dan grepe-grepe dikit jadi konangan jhe :)


#17

MaNongAn | 04 08 2008 @ 15:46:02

terus UU yg mengharuskan kaca mobil harus putih bening dulu itu kemana?
(gak ngefek, soalnya mobil saya mercedez pintu 3 jendela banyak)

.::he509x™::.


#16

mantan kyai | 04 08 2008 @ 15:44:24

syaratnya kalo belok musti tanda tangan dulu pak :D


#15

Sluman slumun slamet | 04 08 2008 @ 15:14:55

Mending dipasang kawat aja. Itu tuh kayak mobil rantis pak dan bu polisi!


#14

lexi | 04 08 2008 @ 13:25:25

“Mbak-mbak dan enci-enci yang menjajakan diri di Jalan Hayam Wuruk Jakarta juga kurang suka jika mobil pelan tak membuka kaca. Oh ralat, yang ini beda alasannya. Tak membuka kaca berarti kurang serius… ”
Itu hasil riset, ya, Man? Apapun, paragraf ini mencerminkan betapa luas pengetahuan paman tentang dunia siang dan malam.


#13

dhany | 03 08 2008 @ 22:42:34

ingat saya dulu ada aturan aparat yang membatasi kegelapan kaca film.
tapi sekarang masih berlaku apa..??


#12

Gum | 03 08 2008 @ 19:30:58

Oh ralat, yang ini beda alasannya. Tak membuka kaca berarti kurang serius. Cuma sightseeing saja.

pengalaman, pak? :D


#11

afreeze | 03 08 2008 @ 15:36:03

di kampungku dulu ada aturan, film kaca yang gelap (mungkin maksudnya 80% kali ya,) langsung ditilang dan disuruh ganti pake yang biasa.. takut terjadi tindakan asusila, begitu kata pak polisi…


#10

Nooraini Ahmad | 03 08 2008 @ 15:17:43

Sama nggak Paman ama kaca Riben? yang dari dalam bisa liat luar tapi dari luar gak bisa liat dalam?he..he..?

Kalau di Malaysia gak boleh tuh mobil dengan kaca gelap, bakalan kena tilang.

Kalau Matahari, kan bisa pakai kaca mata Paman?hik?
kalau takut item ya gak usah keluar rumah aja..
Cape Deeech..?!


#9

qizink | 03 08 2008 @ 12:41:43

sekarang malah lagi tren… kaca mobil dipasangi wajah orang yang mau nyalon jadi kepala daerah!!


#8

pasarsapi | 03 08 2008 @ 10:10:45

Kalau saya mbukak kaca mobil saya di taman lawang ditimpuk batu dan dikatain An***ng. Katanya mereka kalah cantik dari saya. Makanya kaca saya agak gelap biar gak jadi pemandangan benggolan komunitas blogger garang. :))


#7

mpokb | 03 08 2008 @ 8:54:43

kalau yg satu pedestrian dan satunya kendaraan, sebaiknya komunikasi orang dengan orang. masak orang diajak omong sama mobil atau motor, diklaksonin.. btw, blogger garang? baru denger ni.. kopdarnya di terminal mana? :D


#6

Aa Nata | 03 08 2008 @ 8:02:08

Apalagi jika pengemudinya wanita layak pandang. Atau pengemudinya bertampang tentara, atau berwajah komandan satgas partai, atau benggolan komunitas blogger garang.

=> Wakakaka bisaan wae si paman bikin perumpamaan :P

+btw, dulu jaman aku kecil rasanya pernah dilarang pake kaca film item ya. Waktu itu paman masih inget ga?


#5

edratna | 03 08 2008 @ 7:11:50

Kenyataannya jika kita meminta jalan dengan membuka jendela mobil, apalagi dengan lambaian tangan dan senyum, akan lebih dituruti dibanding jika hanya pakai lampu tanda belok kiri atau kanan.


#4

fisto | 03 08 2008 @ 6:27:47

saya dulu pasang kaca film 80% biar leluasa buat pacaran di mobil…hehehe…


#3

Epat | 03 08 2008 @ 6:21:24

Diaceh mobil berkaca gelap harus punya ijin sendiri


#2

pengikut setya | 03 08 2008 @ 4:33:21

Maaf saking semangatnya, di paragraf ke dua seharusnya,”Yang boleh dipasangi kaca film adalah kaca samping bagian belakang. (Demikian kesalahan telah diperbaiki).


#1

pengikut setya | 03 08 2008 @ 4:31:10

Memang sepertinya fungsi kaca film dibuat untuk perlindungan dari terik matahari dan perlindungan penglihatan tidak perlu dari luar mobil kedalam mobil.
***
Di beberapa negara kabarnya hanya kaca samping depan yang boleh dipasang kaca film, sedangkan kaca samping depan, kaca paling belakang apalagi kaca depan tidak boleh dipasangin kaca film, semuanya demi alasan keselamatan.
***
Dirgahayu Indonesia. Masih perlukah kita mengakui bahwa kita pernah dijajah?