BAHASA YANG SEKSIS ITU… :D
Sobat saya, jurnalis sibuk dan blogger berbanyak blog, mengeluh, “Nasib pria karier…” Bukan keluhannya yang bernilai bagi saya, karena itu adalah risikonya menjadi pria memesona penyihir hawa melalui kata-kata, melainkan istilah “pria karier” itu. Rasanya baru dan sekaligus aneh bagi saya.
Pria? Kata itu terus mendekam dalam bank kata saya. Karier? Kata masih melekat dalam dinding kantong istilah saya. Tapi “pria karier”, sejauh saya ingat, belum pernah saya dengar.
Saya cari di Google. Lema “wanita karier” dan “wanita karir” berjibun, ratusan ribu. Adapun “pria karier” dan “pria karir”, jumlahnya tak sebanyak pencarian sebelumnya. Salah satu yang mempersoalkan adalah My Sarimatondang.
Berapa pun dan apapun jua hasil pencarian, semuanya menyadarkan saya. Sekian lama otak saya sama dengan diri saya: lelaki, dominasi lelaki, hegomoni lelaki. Tak adil tapi kadang saya syukuri, dan saya kayaknya menolak mitos superioritas lelaki jika itu membebani. Yah, impas dengan wanita yang menolak kesetaraan di segala bidang dan urusan kalau akhirnya hanya bikin repot.
Kelelakian saya itu tecermin dari keasingan saya terhadap istilah “pria karier”. Saya belum pernah mendengarnya. Sekian lama dunia karier adalah dunia pria. Jika wanita masuk di dalamnya maka perlu tambahan atribut.
Penambahan kata wanita untuk sejumlah profesi memang bisa lucu. Misalnya “polisi wanita”. Apakah ini sebarisan dengan polsus kehutanan, polsus kereta api, dan bahkan polisi bahasa? Polisi wanita, kalau kita berpikir lempang sekaligus naif, adalah polisi yang khusus mengurusi wanita. Polisinya sih boleh pria bisa wanita. Tapi kalau “wanita polisi” bisa juga berarti “wanitanya polisi”. Polisiwati, sebagai mitra polisiwan? Bukankah “polisi” (dan kepolisian) itu korps, bukan orang?
Untunglah “pelukis (tubuh) wanita” dan “wanita pelukis” sudah dibedakan. Tapi bukankah pelukis tetap pelukis apapun jenis kelamin dan orientasi seksualnya?
Hal sama berlaku untuk “pengusaha wanita” dan “wanita pengusaha”. Sebagian “pengusaha wanita” memang perempuan. Mereka berjuluk mami — kadang usianya sebaya dengan komoditas, terutama yang bekas pemain tapi punya jiwa kewirausahaan.
James Brown punya lagu It’s a Man’s World. Penampil yang bagus membawakan itu adalah Gito Rollies semasa muda (rekaman live TIM, Jakarta, 1976) dan Mark Farner-nya Grand Funk Railroad (lagu hitam dalam sajian putih, What’s Funk, 1983).
Ah, kulit hitam dan kulit putih, masihkah layak dipersoalkan? Pria blogger dan wanita blogger? Kalau prianya blog dan prianya bloggers, itu lain lagi. Tanyakan ke ahlinya yang merangkap pelaku.
© Ilustrasi: unknown
Discover Grand Funk Railroad!





prast | 07 10 2008 @ 18:47:32
asyik banget paman tulisannya..sampe gak sadar klo itu sudah habis..
bi-rhu community » Blog Archive » stop Drunks | 03 10 2008 @ 6:38:27
[...] memaksakan nafsu kalian ke orang lain. Kalian bisa babak belur dikeroyok masyarakat dan ditangkap polisi. Tak [...]
the beautiful sarimatondang | 27 08 2008 @ 11:06:01
hello, terimakasih telah menyinggung blog saya, the beautiful sarimatondang di sini. salam kenal. boleh ya, blog ini sy add di blogroll list saya… tabik
5 Tips Melepas Kebisaan Mabuk-mabukan | WWA Magazine | 24 08 2008 @ 19:09:07
[...] memaksakan nafsu kalian ke orang lain. Kalian bisa babak belur dikeroyok masyarakat dan ditangkap polisi. Tak [...]
Belajar Bisnis Online : 8 Tips Menulis Konten Blog yang Baik — blogicthink.com | 18 08 2008 @ 14:34:30
[...] mungkin tidak akan merangsang pembaca untuk melanjutkan bacaannya, tapi gambar. Contohnya, lihat posting Paman Tyo disini, itu adalah contoh nyata bagaimana gambar tidak dapat [...]
blonty | 17 08 2008 @ 13:29:31
…. Sebagian “pengusaha wanita” memang perempuan. Mereka berjuluk mami — kadang usianya sebaya dengan komoditas, terutama yang bekas pemain tapi punya jiwa kewirausahaan…
Kok Paman tahu, kalau perempuan di sektor itu cuma ’sebagian’?
Kenapa Paman seyakin itu?
Dasarnya apa: survei, asumsi, gosip?
Jawablah, Paman… :p
(jangan rusak keyakinanku terhadap Paman yang jujur, polos dan lurus)
ngodod | 16 08 2008 @ 13:53:27
karena perempuan itu katanya hanya kaum kedua. kan history, bukan herstory
bubba | 14 08 2008 @ 17:49:23
biasanya sih ‘pria karier’ takutnya sama ‘polda’ pakdhe, bukan sama ‘polwan’
Taufik Al Mubarak | 13 08 2008 @ 19:24:15
eh, mo nanya, sistem perekrutan polisi wanita bersih kagak??? dengar2 ada tes keperawanan dari polisi pria…gosip apa ga ya?
areta | 06 08 2008 @ 22:19:44
masalah ketidaksetaraan gender emang udah menjajah umat manusia sejak manusia masih purba. sampe2 udah terserap oleh budaya dan menjadi bagian dari bahasa manusia.
kalo jadi cowok, tentu gak masalah. diuntungkan kok..
tapi kalo jadi cewek, sampe capek ngurusinnya.
perjuangan emansipasi dari jaman bahuela ampe sekarang kan belum tuntas2 juga.
ditambah lagi, ada2 aja wanita yang masih merasa dirinya dibawah pria. kalo wanitanya sendiri ajah udah merasa dirinya pantas di posisi itu, apa lagi yang mau diperjuangkan?
edratna | 06 08 2008 @ 18:35:51
Kalau polisinya seksi sepeti gambar itu…nggak apa-apa deh ada istilah pria karier.
Nooraini Ahmad | 05 08 2008 @ 20:37:59
Istilah-istilah karier tidak jadi soal, R.A Kartini sudah membuka jalan bagi kaum wanita ber-ekspresi, dan jika sudah begitu, pria haruslah menjadi sosok yang tangguh dan jangan sampai hanya bertopang dagu, bagaimana para pria, setuju? he..he..? cayo pria!
Yang menjadi persoalan adalah jika wanita itu seperti gambar di samping, R.A Kartini mungkin bisa menangis sejadinya, di bawah kebahagiaan “Kartono”. he..he..?
iambadung | 05 08 2008 @ 11:20:12
hehe..
mau dong ditangkep polisi wanita kaya di foto.. :D
Doli Anggia Harahap | 05 08 2008 @ 8:33:36
Tambahan, gambarnya paman, awas kena penjara 6 taun..
hehehe
Doli Anggia Harahap | 05 08 2008 @ 8:33:07
Memang bahasa kadang membuat bingung, tp maksud dari itu semua bukan untuk membeda-bedakan saya rasa paman, tapi kemungkinan untuk mengklasifikasikan pria dan wanita dalam pelatihan polisi.
Kan ga mungkin aja Polisi berkelamin Wanita sama-sama Push-Up nya sama berkelamin Pria. Mungkin begitu, tapi seperti dalam urusan lain kan tidak ada di bedakan paman.
Seperti Dokter Pria atau Dokter Wanita, karena dalam “perdokteran” tidak ada yang perlu di klasifikan, yang ada dokter mata, dokter jantung dll.
Mungkin ini ada kaitannya dengan tulisan saya tentang emansipasi wanita di http://doliharahap.net/blog dan tulisan mbak maya di http://mayapuspitasari.wordpress.com
BARRY | 05 08 2008 @ 4:32:04
Saya kira tadinya polwanita indonesia harus berseragam seperti di gambar. Ternyata lain cerita :D
kardjo | 05 08 2008 @ 0:11:30
ini bukan soal bahasa kecil dan besar itu khan man??
penthil itu kecil, kalau besar penthol.
kelentheng itu kecil, kalau besar kelenthong..
*ingat Srimulat*
trendy | 04 08 2008 @ 20:32:16
ayah rumah tangga!
wekekekekekke
Blog Kenthir | 04 08 2008 @ 19:22:02
saya ndak mempersoalkan pria karier tapi itu…photo polisi wanitanya kok cocok kalo ditaruh di perempatan Grogol…seksi, mantaafff…gimana tuh rasanya kalo kesambet belahan dadanya…hiiiii….
Arsyad Salam | 04 08 2008 @ 17:08:25
penggunaan kosa kata dalam bahasa kita terkadang memang menjengkelkan, mengharukan dan memilukan. Kadang menggelikan. Banyak yang asal copot lalu dipakai secara serampangan. Contoh2 yang Paman Tyo uraikan sangat mengena. Dalam hal penggunaan kalimat, lebih parah keadaannya. Ada spanduk yang saya lihat berbunyi aneh “Berhematlah dengan Air Minum” (lho, padahal dokter menganjurkan agar kita banyak minum air). Maksudnya mungkin berhematlah dengan air bersih. Ada pula media cetak yang menulis begini : “Istri kedua camat datang tergopoh-gopoh” apakah sang camat punya istri dua? ataukah wanita itu dinikahi oleh dua orang camat? tak jelas…
bahasa menunjukkan bangsa kata Anton Muliono
Salam
Donny Verdian | 04 08 2008 @ 16:24:11
pria itu pasti Ndorokakung yang sekarang punya sebutan baru jadi Ndoro kangkung :)
*ngibrit*!!!
MaNongAn | 04 08 2008 @ 15:56:38
ghubraks…..
tangkap saya…..tangkap saya…..
.::he509x™::.
mantan kyai | 04 08 2008 @ 15:40:45
gak tahan gambarnya. berkarir di polseks mana ya mbak itu????
Sluman slumun slamet | 04 08 2008 @ 15:07:33
Ratu suap termasuk juga?
Catshade | 04 08 2008 @ 14:46:16
Hihihi…saya jadi inget rubrik bahasanya Tempo beberapa bulan yang lalu: Ada taruna, ada taruni; ada sastrawan, tapi tidak ada sastrawati… Lha kalo polwan? Polwati? :D
pramudyaputrautama | 04 08 2008 @ 13:35:18
wah, kalo polisinya kaya mbak-mbak di postingan sampeyan, saya rela ditangkap
Ahmad | 04 08 2008 @ 12:02:29
Bahasa kadang meringkus realitas menjadi bias.
Kalau tidak hati-hati, kita akan terperangkap dan tidak kuasa untuk mengembalikan kepada keadaan semula.
Blog adalah cara kita berbahasa yang baik.
Ady | 04 08 2008 @ 11:26:10
Pria karir tidak bisa se-seksi wanita karir…
mpokb | 04 08 2008 @ 9:29:25
biarin aja seksis dan muncul konflik. manusia bisa maju cuma kalo ada konflik. adapun istilah itu peninggalan era awal feminisme atau apalah namanya, sudah kuno. feminisme pun sudah obsolet.. :P
btw, betul juga, polisi paman kok aneh gitu sih.. :D
BLogicThink [dot] com | 04 08 2008 @ 8:14:49
hayoooooo……
pada baca…. paman, orang-orang jadi gak konsen nih :)
mazirwan | 03 08 2008 @ 23:18:56
@Rafki RS
Setuju! Gambarnya lebih menarik daripada tulisan artikel ini.
Rafki RS | 03 08 2008 @ 23:03:17
Tunggu…tunggu saya ndak hendak bertanya dulu. Saya lagi sibuk memandangi si wanita polisi-polisian yang keren itu.
dhany | 03 08 2008 @ 22:44:43
difilmkan jadi :
AN OFFICER & A POLICE WOMAN
tapi cerinta jadi lain ya.>??
nonadita | 03 08 2008 @ 21:36:58
Kadang saya merasa dengan menempelnya sebutan “wanita” di belakang profesi malah membuat kesetaraan gender itu semakin jauh untuk diwujudkan…
kenapa?
ah kita ngobrol lain waktu ya :D
bowbee | 03 08 2008 @ 21:30:15
Gambarnya… fiuh… ga dimarahi istri pak? :)
Hmm… memang… Tapi sebenarnya yang anda persoalkan itu masalah pemakaian bahasa sajakah?
ndoro kakung | 03 08 2008 @ 21:10:08
hihihi … ah, sudahlah …
Biho | 03 08 2008 @ 19:41:32
Iyah Paman sesama Blogger tidak ada diskriminasi, indah tenan.
Epat | 03 08 2008 @ 18:52:28
dan ada juga istilah blogher, kekeke
Mbilung | 03 08 2008 @ 18:29:26
pria karir itu sedang sangat sibuk, jadi sungkan untuk bertanya.