PERLAKUAN WAJAR DAN PERLAKUAN PLUS.

Kita semua ingin jadi raja dan ratu. Dalam bahasa Jawa, ratu juga berarti raja. Maka adalah lakon wayang Petruk Dadi Ratu, yang pernah dipelesetkan oleh Lembaga Humor Indonesia (Arwah Setiawan) menjadi pementasan Ratu Dadi Petruk. Adapun Ben Anderson, dalam New Left Review, memelesetkannya menjadi Petrus Dadi Ratu — merujuk “pembunuhan (sok) misterius” pada 1982.
Ke manakah arah tulisan ini? Menyambung dua tulisan sebelumnya: tentang gengsi dan diskrimansi. Beberapa pembaca berjapri, menanya apakah saya antimoge. Tentu tidak. Bahkan saya ingin punya. :D
Di sini saya hanya mengajak kita (ya Anda, ya saya) untuk becermin bareng. Sebagian dari kita memang butuh privilese, perlakuan khusus yang mengarah ke pemuliaan. Kadang kita kurang rela bila orang lain mendapatkannya — kecuali kita dapat manfaat.
Di warung kopi dekat jembatan, Anda bisa langsung duduk mencangkung dan bilang, “Biasa.” Kopi susu dan Indomi rebus akan datang.
Di kedai mentereng juga sama. Begitu duduk dan buka laptop di sofa favorit yang PW, Anda akan mengangguk tanpa ditanya lalu hot cappucinno akan datang. Lain kali sebelum datang Anda cukup menelepon, dan kapling akan dikosongkan.
Suatu kali pegawai toko CD meng-SMS Anda, bahwa sejumlah CD dalam jumlah terbatas telah mereka impor. Ketika Anda membalas “ya, saya ambil”, maka barang itu akan tersimpan, tak dipajang, sampai Anda datang membayar. Orang lain, yang duluan ke toko, tak kebagian.
Ketika melakukan itu kita tak merasa merajakan diri. Merasa biasa saja. Sebagai pelanggan kita merasa layak dapat perlakuan khusus.
Tak ada yang salah dengan itu. Sebagai pelanggan sebuah percetakan, Anda cenderung menawar biaya dan waktu. Lebih murah, lebih cepat.
Kawan saya tidak gila hormat, tetapi pernah membeli audio senilai Rp 40 jutaan (harga tahun 2000) di sebuah toko dengan alasan, “Hanya toko itu yang mau nerima saya dan teman saya. Toko-toko lain nyepelein kami soalnya teman saya cuma sandalan.”
Di sini persoalannya adalah diperlakukan secara wajar, setara pelanggan lain yang berpenampilan mentereng. Dari rumah ingin ke toko A, tapi pilihan akhirnya jatuh ke toko D karena perlakuan.
Ya, ya, ya. Pelanggan adalah raja. Dan itu tak mesti berkaitan dengan daya beli dan gengsi. Memohon-mohon diskon dan percepatan penyelesaian karena anak juragan pernah jadi kekasih, itu juga tak ada hubungannya dengan daya beli plus gengsi.
Intinya, kita senang diistimewakan. Bila perlu memakai jalur orang lain. Punya kawan atau saudara yang jadi anggota DPR kenapa tak dimanfaatkan, misalnya untuk lencana korps pada pelat nomor mobil? Lumayan, bisa lolos three-in-one.
Keistimewaan dan pengistimewaan adalah kemuliaan, adalah kekuasaan. Maka Petruk pun ingin jadi raja. Tetapi ketika raja tak dapat mengelola kekuasaannya secara wicaksana, maka dia tak lebih dari Petruk tukang ndagel.
Pernahkah Anda memanfaatkan kemudahan akses demi kenyamanan, apapun bentuk dan tingkatnya? ;)
Dalam hal apa Anda tak merasa banyak tuntutan, hanya ingin diperlakukan wajar tanpa penyepelean, sehingga Anda berani memutuskan untuk berganti layanan, tak perlu beli gengsi?
© Ilustrasi: Bambang Toko







egghead | 16 08 2008 @ 9.59.01
itulah kenapa saya lebih suka belanja di supermarket. Semua orang dapat pelayanan yg sama. cuma perlu ketemu sama mbak kasir yg sukur-2 agak ramah.
Kalau belanja di toko yg perlu berinteraksi dg penjual, saya merasa sering di remehin. Mungkinkah karena dandanan saya yg klomprot ? Atau dia bisa nenebak isi dompet saya ?
bubba | 14 08 2008 @ 18.45.30
maju tak gentar membela yang bayar… :p
ilham saibi | 05 08 2008 @ 21.48.42
kemudahan akses? dulu sih waktu SMA, memanfaatkan nama orang tua untuk masalah internal sekolah, hihihi
MaNongAn | 04 08 2008 @ 15.35.43
Pembeli adalah raja. Konsep bisnis sekarang cenderung menjual pelayanan dan suasana, harga merupakan sebuah nominal untuk mendapatkan kenyamanan dan kepuasan belaka.
.::he509x™::.
Ahmad | 04 08 2008 @ 12.10.10
Kita sebenarnya merasa istimewa karena hanya mendengarkan musik, atau dalam bahasa Arabnya al-Musiqiyyu takhtazu alaina.
Jika semudah ini, mengapa kita harus gundah?
mazirwan | 03 08 2008 @ 23.13.53
“Pelayanan” itu sebuah kata yang mahal di negeri ini. Apalagi kalo di tambah dengan “Pelayanan Yang Baik”, jadi lebih mahal lagi. Apalagi kalo ditambah lagi “Pelayanan Sepenuh Hati, Sepenuh Jiwa” Hayo, berani bayar berapa untuk mendapatkannya, paman?
dhany | 03 08 2008 @ 22.48.03
isi pulsa-pun cukup SMS saja..
gara-2 ini adikku rugi 2 kali..
sawung | 03 08 2008 @ 16.13.07
pernah mengalami hal yang sama, soal keistimewaan ini. baca saja di http://sawung.blogspot.com/2008/07/mental-korupsi.html
Nooraini Ahmad | 03 08 2008 @ 15.06.21
Paman, petruk tukang ndagel ya para pejabat kita itu plus keluarga dan koleganya..
Gak masalah jika akses itu memang akses dari negara untuk kita, tetapi, jangan kemudian seenaknya sendiri, ingat dari mana dan untuk apa kita diberi akses itu, biar semuanya bermanfaat dengan baik dan berkah.
Jika tidak demikian, berarti pelaku adalah petruk sang koruptor alias Tikus!he..he..?
Hedi | 03 08 2008 @ 13.56.59
pernah pake jalur pers, bebas tilang polisi…tapi itu bukan karena sengaja melanggar lho :D
jun | 03 08 2008 @ 11.21.04
Pernahkah Anda memanfaatkan kemudahan akses demi kenyamanan, apapun bentuk dan tingkatnya? => Pernah, paman. Bahkan berkali-kali. Contohnya, waktu nyari SIM, atau beli tiket sepur jurusan saat long weekned, termasuk saat jelang lebaran.
matahati | 03 08 2008 @ 10.03.47
Saya pernah lewat jalan Sudirman yang dikosongkan krn kami rombongan maharaja sedang lewat. Sementara di jalur lambat deretan panjang mobil berhenti menunggu kami berlalu. Pada saat itu jam 6 sore hari kerja, saat semua sudah lelah dan ingin segera sampai rumah menemui putri tercinta.
Saya pun pernah diposisi jalur lambat itu. Dua sisi pengalaman,dua rasa yg berbeda tapi satu pelajaran yg berharga
Arsyad Salam | 03 08 2008 @ 9.57.24
Dalam beberapa hal, kita (khususnya di Republik ini)menganggap previlese sebagai suatu kebanggaan.Kebanggaan bahwa apa yang kita miliki tidak dipunyai orang lain. Kalau perlu biarlah hanya kita yang memiliki hal itu. Entah yang namanya jalan pintas untuk kemudahan urusan hingga layanan-layanan yang bermuara pada pengangkatan harga diri.
Dengan kredo bahwa pembeli adalah raja, para pedagang jaman (atau zaman?) sekarang sungguh cerdik melihat ego calon pembeli, bahkan ke sudut pribadi yang paling menukik seperti bagaimana kehidupan rumah tangga calon pelangganya, harmoniskah? Kayakah? Berapa anaknya? Dan lain sebagainya. Jadi apa sesungguhnya arti previlese? Saya teringat buku Umar Kayam Para Priyayi yang bercerita tentang ini…
Salam buat Paman Tyo :) :)
mpokb | 03 08 2008 @ 8.44.14
buat saya, orang membayar untuk ngopi ya termasuk servis, diantar ke meja. apalagi kalau harga sudah termasuk pajak dan layanan (!). bukan sok-sokan feodal. antre beli kopi ala fast food akan terasa aneeeeeh ketika kedai sepi dan pelanggan tidak sedang dikejar waktu. meskipun itu tempat ngopi paling gaul dan high-profile, saya tetap pilih ngopi di tempat yg benar-benar melayani. wajar, kan? kan… :D
edratna | 03 08 2008 @ 7.14.54
Saya akan kembali pada toko atau penjual jasa yang memberikan servis wajar, memperlakukan pelanggan dengan baik tanpa pandang bulu.
Epat | 03 08 2008 @ 6.19.34
saya terkadang masih menikmati servis-servis ituh, namun terkadang juga mengumpat jika menjadi orang yang “tidak mendapat servis” *jujur
pengikut setya | 03 08 2008 @ 4.46.04
Privilege kadang justru diciptakan untuk menarik loyalitas pelanggan, seperti yang paman bilang cukup sms paman bilang ya, dan transaksi pun selesai. Sepintas pelanggan dimanja, kenyataanya “penjual” pun diuntungkan. Begitu juga industri Bank, penerbangan, Hotel, Restaurant dan perusahaan jasa lainnya.
***
Itu kalau di area publik. Kalau di area domestik (rumah) privilege kayaknya hilang, seorang manager pun bisa saja disuruh-suruh anak balita nya.
masboi | 03 08 2008 @ 3.35.12
Petruk yang ngebet jadi raja, apakah khas Indonesia? Di budaya/negeri lain, saya tidak menangkap nuansa itu. Yang ‘the have’ dan ‘the have not’ tak ada pembeda nan menyolok. Menurut saya ini dipengaruhi oleh kultur raja/bangsawan dan bawahan/rakyat jelata. Untuk membongkarnya, kita harus menjadi pribadi egaliter. Gak perlu menonjolkan pangkat atau kepunyaan. Mulai dari diri sendiri.