CNJ Radio kemudian Ninety Nine
KE TOP 40; ENTAH KE MANA JAZZ DAN KLASIKNYA.

Lama tak menyetel, ketika tadi menyalakan CNJ Radio (99,90 MHz) saya mendengar pengumuman penyiarnya: stasiun akan berubah format, untuk segmen 15-25 tahun. Delapan puluh persen suguhan musik akan diisi top forty. Nama barunya, menurut penyiar mengaku masih kagok menyesuaikan diri, adalah Ninety Nine (kadang dia bilang ”ninety-niners”). Pendengar mengirim SMS. Rata-rata isinya agak menyayangkan. Dalam kalimat lain: kurang rela tapi memaklumi banting setir stasiun yang antara lain dimodali pengacara Todung Mulya Lubis itu (masihkah?).
Selama tiga tahunan stasiun itu menghibur pendengarnya dengan musik jazz dan klasik. Beruntunglah mereka yang punya tuner bagus dan antena kuat, apalagi kalau Classic, News and Jazz sedang siaran nonstop.
Kemudian, yah begitulah, bisa ditebak ini karena alasan bisnis. Persoalannya tentu bukan sekadar radio orang tua atau orang muda. Delta FM (dulu radio dakwah, kalau tak salah PTDI) bisa bertahan dengan sajian oldies-nya. Tapi adiknya, M97FM (dulu Radio Monalisa), terseok-seok dalam classic rock dan progressive rock, kemudian mati, dijual, dan jadilah Radio Dangdut TPI.
Dari kacamata bisnis, pasar sempit tapi tak membawa duit sama saja bukan rezeki. Ini hukum bisnis media. Sebuah majalah khusus — misalnya tentang audio — bisa rendah oplahnya (misalnya cuma 7.000-an), tapi karena punya pembaca dan lebih penting pengiklan setia, maka napasnya panjang. Si pengiklan, kebanyakan kalangan toko, enak saja keluar Rp 10 juta buat beli halaman, tapi sekali terjual dagangannya laku Rp 50 juta.
Jadi, memang bukan hal aneh jika media — cetak maupun elektronik — harus selalu adaptif. Untuk radio, ada pasar yang kosong tapi satu-dua korban bisa jadi pelajaran. Misalnya Top FM Jakarta, satu dari sejumlah stasiun senama yang dulu dimiliki oleh Pusat Penerangan ABRI (TNI). Top FM Ibu Kota harus tutup karena siaran musik klasiknya tak membawa berkah. Siaran terakhirnya pada hari penutupan, sekitar tujuh tahun lalu, menjadi requiem bagi pendengarnya. Tetapi ratapan tak menginjeksikan modal, bukan?
Saya tak tahu formula bisnis yang jitu untuk radio bersegmen sempit. Saat ini yang khusus jazz tidak ada — tapi Bandung punya. Yang khusus klasik juga tidak ada. Yang khusus new age, setahu saya, juga belum ada.
New age di sini dalam pengertian genre menurut rak toko CD. Boleh world music, boleh serial Putu Mayo, boleh Enya, boleh Yanni, boleh Philip Glass, boleh Gregorian, boleh Buddha Bar, boleh Deep Forest, boleh “healing music“, boleh instrumental, atau apapun yang menurut penjaga toko, “Musik yang aneh, nggak ada di MTV, kadang enak didenger, tapi lebih sering nggak.”
Classic rock? Mungkin masih laku. Isinya ya segala jenis rock, terutama yang pop rock, ada ballad-nya yang mendayu, ada rock n’ roll-nya. Kalau progressive rock, dengan segala percabangannya, mungkin akan susah dijual.
Kayaknya, menurut saya, tidak semua musik itu radiolike. Radio bersegmen khusus, yang memutar lagu berdurasi 20 menit, atau tujuh menit duet drum dan bas, mungkin sulit menambah pendengar baru yang tersesat ketika memindai gelombang — sementara pendengar lama kadang juga jenuh.
Baiklah, sangat mungkin saya salah. Tapi dengan segenap keawaman saya salut kepada Gen FM Jakarta (98,7). Di loket tol, Indomaret, Alfamart, taksi, stasiun itu didengarkan. Music director yang tak mengharamkan pengulangan beberapa kali sebuah lagu, ditambah anchors yang berkarakter kuat, dan… “Salah Sambung” yang kocak, menjadikan radio itu layak setel.
Lalu? Bersyukurlah Anda yang memakai internet berpita lebar. Tersedia banyak stasiun yang sesuai preferensi. Selebihnya?
Ada kawan yang pendapatnya aneh tapi mungkin benar, “Mereka yang suka musik nggak lumrah, nggak ada di MTV, nggak ada versi bajakannya, nggak diputer di radio, mestinya tahu diri. Harus mencari di toko CD impor atau pesan ke Amazon dan Juragan Buku.” Yang terakhir, bakal mahal di ongkos. Adapun untuk toko yang langsung mengimpor CD, kadang Anda harus inden — cukup via SMS lalu transfer, dan barang Anda akan disembunyikan dari rak.
Saya bukan penggemar musik aneh. Saya suka easy listening. Tapi saya tak suka pendapatnya. Haruskah kesukaan terhadap jenis musik tertentu diimbangi oleh limit longgar kartu kredit?
Di situlah pentingnya radio khusus dengan segala keterbatasannya sesuai karakteristik media.
© Gambar asli sumber ilustrasi: unknown
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Bersilat di Benak dan Kaca Mata-mata
May 22, 2008 by AntyoKACA SPION PENAMPIL PEMANDANGAN BELAKANG.
Saya mau pindah jalur. Menengok kaca spion. Ternyata mobil di belakang tak bergegas. Pengemudinya sedang membaca buku saku tipis. Sepintas tampak logo di sampul belakang: Gema. Itu nama penerbit seria cerita silat Cina karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo.
Ada saja cara mengisi waktu di tengah lalu lintas yang [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Sudah tiga tahun sejak cnj berhenti siaran. Sudah 3 tahun sejak saya merasakan kebahagiaan.
saya cinta cnj yang dulu. saya paling suka klasik!!
o tnyt ganti format,
yah kapan apresiasi musik org indo bs maju klo medianya hanya berani ngikutin selera pasar yang membosankan, ga ada yang unik, ilmunya dangkal, padahal musik klasik indo akhir2 ini berkembang pesat.
Iya nih, sedih banget CNJ hilang. Kaget pas nyetel 99.9 kok bukan jazz lagi musik2nya. Sekarang gak pernah lagi buka radio sejak 99.9 tutup, karena sy buka radio cuma buat tune ke 99.9. moga2 kedepan ada radio lagi dengan format yang sama dengan CNJ. We’ll miss U CNJ.
BANDUNG – KLCBS memang mantap! Namun sayang GMR malah mati tak ketahuan rimbanya padahal acara malem minggu jam 9.00 PM sampai shubuh bareng Kang Andy itu kereeeen banget!
Terus juga sayang Blues Mara di Mara Gita FM juga menghilang, canda Mang Cau juga hilang….
sedih banget. pas pulang kemaren sempet denger semingguan, terus mbak2 penyiarnya bilang mau ganti format, kirain bakal ditambahin ato sering2 di update lagu2 jazz nya. eh, ternyata keesokan harinya semuanya tinggal kenangan. blass, ga ada jazz dan klasik nya sama sekali. jadi buat apa punya radio yah? :(
Turut berduka cita juga *penggemar setia* T_T Saya juga heran kenapa CNJ bisa tutup, padahal belakangan ini kayaknya Jazz lagi naik daun *ulet kaleee*. Anak-anak muda dan band-band baru juga dah makin banyak yang ‘nyantol’ dengan suara-suara jazzy. I’m sure someone out there should’ve been able to create a decent business plan for that radio :(
iya gw nyesel banget CNJ tewas.
koq nggak bisa kaya KLCBS ya, exist terus sejak jaman kuliah….
nggak ada lagi deh radio jakarta dengan segmentasi jazz.
mungkin oom Peter Gontha mau volunteer ?
Susahnya bertahan jadi idealis, seperti halnya Radio One yang juga mengalami nasib sama beberapa waktu lalu.
Ikut berduka cita…
Turut berdukacita atas menguapnya satu lagi radio berkualitas di Jakarta … kalau menurut gw CNJ kelemahannya mungkin terlalu konservatif pengemasannya, padahal penggemar Jazz di Jakarta makin banyak loh … bikin aja crossover jazz hour pasti banyak peminatnya tuh
Kalau kemampuan dan peluangnya menjanjikan di format yang baru……kenapa takut !!
sedih deh,.frekuensi favorit hilang sudah
wah sayang. mgkin ini keputusan nekat yg jauh lbh nekat drpd kenekatan sebelumnya yg hanya jes & klasik.
jadi inget radio khusus rock di bandung dulu.. GMR. mati deh akhirnya…. hehe..
Ternyata beneran ya mau tutup. Beberapa hari lalu juga dengar announcementnya tp sekilas. Benar2 kehilangan besar :((((
Jakarta mungkin ga akan punya lagi radio berkualitas spt CNJ :(((
Di Bandung beberapa tahun yl ada radio yang menyebut dirinya “Ninety-niners” karena memang di frek 99.9 karena regulasi akhirnya dia harus naik 0.1 ke 100.0 tapi tetap bilang “Ninety-niners”.
Turut berduka cita.. :( Yang saya bingung, radio dengan segmen yang lebih sempit kayak M97 dan sekarang CNJ ini katanya nggak laku karena susah jualannya… Mosok iya sih?
Yah, selamat datang di dunia komersil yang justru sering tidak sinkron dengan keinginan pendengar.. :)
Wah si paman inget aja nih sama radio2 lama.. Top FM, PTDI, M97.. hehe..
hi, paman :D
radio kayaknya ga bisa mati dah…
tetp aja ga bisa tergantikan oleh tv, koran, atopun internet.
tetep sky.Fm yang utama :)
waduh paman, mati aku. padahal tuh radio jadi temen setia lo pas lagi di jakarta.
Hmmm Radio memang nggak lekang oleh waktu…Selain sebagai sarana penyaluran hobbi, radio pun memiliki fungsi mengasyikan, sebagai salah satu media yang mampu menciptakan local good governance.
di era serba teknologi
radio ternyata masih dicari
sambil ndengerin, tangan bisa tetap kerja
ooohhh… asus rilis radio toh?? sejak tahun 50′an kayaknya.. lol