Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Cemilan Subversif

Senin, 25 Agustus 2008 @ 17:30 | Keluarga, Komedi Indonesia, Selingan

MELEDEK KEKUASAAN UNTUK MENGHIBUR DIRI.

cemilan bagi rasa kriuk

Rp 10.000 dapat tiga kantong cemilan. Misalnya sale pisang, kacang telor, sompia. Itulah oleh-oleh yang barusan dibawa oleh istri saya. Dia membelinya di kantor. Bukan soal rasa yang hendak saya bagi tapi kemasan. Tepatnya label merek. “Kriuk” — sesuatu yang mewakili bunyi dan sekaligus ledekan terhadap guyon garing. “Bagi Rasa bukan Bagi Kekuasaan” — itu jelas meledek penguasa dan orang partai.

Maka saya menyebut penggoyang dagu ini sebagai cemilan subversif. Misalkan makanan berkelas industri rumah tangga (P-IRT 206360301268) ini muncul pada Orde Baru, maka pemiliknya bisa berurusan dengan Koramil dan Kodim.

Si perajin makanan akan mendapat pertanyaan default, “Maksud dan tujuan daripada Saudara itu apa?”

Jika berhadapan dengan bintara, misalnya Sersan Pepper dari Rotten Hearts Club Band cap Serdadu Kenthir, jangan mencoba berdiskusi apalagi berdebat. Misalnya balik bertanya, “Apa yang Bapak artikan dengan maksud, dan apa pula itu tujuan?”

Apapun yang nyeleneh, berbeda dari mainstream saat itu, akan dianggap subversif. Petani menanam kedelai atau jeruk, padahal Pak Jenderal Senyumtapibengis mau berswasembada beras, itu sama saja mengundang Koramil. Apapun yang berbeda berarti merongrong kewibawaan dan kekuasaan — istilah lain untuk pembocoran rahasia negara, kata gurauan waktu itu.

Ah, sudahlah itu masa lalu. Sekarang orang bebas berteriak. Untuk satu soal, SBY pernah memberi contoh yang baik. Dia mengadu ke Polda Metro Jaya karena merasa nama baiknya dicemarkan oleh Zaenal Ma’arif, seorang politikus.

Saya puji SBY karena para abdi dalem tak serta merta menggunakan haatzai artikelen untuk menjebloskan orang lain ke bui, sementara pihak yang merasa terhina diam saja.

Masalahnya, setelah orang bebas berteriak dan meledek, termasuk melalui kaos oblong dan blog, apakah kaum terledek itu menjadi tersentuh?

Jika menyangkut kebebalan (bukan kekebalan) penguasa dan jaringannya, maka ledekan tetap punya fungsi terapetik bagi pembuat dan pengedarnya. Untuk lucu-lucuan dan menghibur diri. Kriuk ya biarin.

Selebihnya biarlah menjadi dokumentasi untuk studi sejarah. Kelak akan ada akademisi yang menjadikannya sebagai sebuah kajian. Akademisi di luar negeri atau dalam negeri? Konon asing atau domestik itu bukan isu penting. :D

Ada 43 komentar | trackback | Depan

#43

my_sayang | 18 09 2008 @ 13:51:01

Dah hampir 3 tahun mengenal Kriuk…dari tulisannya cuman ” KRIUK ” sampe yg macem2..

selain kata2 itu … yang paling menyentak itu…
” Kreativ Produksi bukan Kreativ Korupsi ”

dan yg romantis
” Kemana kau pergi aku turut ”
taelah… kalo WC apa mau ikut juga…dasar jayus

Perusahaan aslinya ada di Ciputat silahkan sambangi… Kriuk juga baik hati kalo ga suka makanannya boleh dibalikin asal masih bersegel…dulu hal ini jarang ada lookh.


#42

memo | blogombal.org | Pokoknya Ikut | 09 09 2008 @ 13:51:03

[...] Mungkin kangen, mungkin manja, mungkin rewel, mungkin kadung tergantung. Maunya dibawa terus. Versi lain dari produsen cemilan subversif. [...]


#41

andreas | 05 09 2008 @ 2:11:51

cemilan subversif, oho mantap kali. seperti sampoerna yang sering bikin penasaran dan subversif juga.

btw. bagi politisi itu bagi-bagi kekuasaan artinya mengurangi jatah preman atau fulus dari para cukong dan londo baru


#40

reney | 02 09 2008 @ 11:09:37

mungkin mau nyindir peta perpolitikan yang garink kayak krupuk (yg walhasil menimbulkan bunyi “kriuk”) kali?
kalau udah sama2 garink, kan lebih enak yang pake bumbu, ya gak om? :D


#39

abdee | 31 08 2008 @ 18:53:27

Mungkin produsennya dulu mantan aktivis jaman orde baru.

jadi inget dulu waktu taun 96 pernah punya kaos “sak bejo-bejone wong pinter, luwih bejo wong bodho ning kuasa”. make kaos itu ke kampus rasane bangga banget.


#38

rahmadi | 29 08 2008 @ 18:13:16

yups,
biar bagaimanapun,kebebasannya penting dipertanggungjawabkan bukan?
tapi, iklimnya sudah cukup baik,
asal bukan bebas yang menyentuh hak privasi….

halah, serius banget!!

postingan yang oke,
lam kenal bang :)


#37

mpokb | 28 08 2008 @ 16:21:23

UU subversi itu cocok buat koruptor nggak ya. kan dampaknya merontokkan kekuasaan juga tuh. terus keluarganya nanti harus bersih lingkungan, kena litsus gitu.. *ngunyah sale*


#36

Monyet Gila | 28 08 2008 @ 15:02:09

wahhh ada fersi cemilan na tohh…kirain fersi kaos na doang yang ada…kayak kata2 di kaos bikinan joger - Bali


#35

treen | 28 08 2008 @ 12:49:27

tag; bagi … bagi… dong…


#34

Tetty | 28 08 2008 @ 12:47:58

Dari kemaren ini terus Paman…, buruan ganti donk…, soalnya jadi pengen neeeech…?ha..ha..?

Jadi inget, ibu-ku pernah bawain sale pisang bikinan sendiri ke tamu bapak, orang Australia, katanya enak, palahan minta ajarin bikinnya?

Mank makanan kita nech MAKNYOOOOS…?!


#33

Ibunya Aria Gaung | 28 08 2008 @ 11:00:58

halo Om, lama tak ke sini, gombalanmu ngangeni….


#32

dhany | 28 08 2008 @ 1:16:32

emang keKUASAan bisa dirasa pak puh..??


#31

yunik | 27 08 2008 @ 16:56:52

kreatifitasnya ngeledek aktivis nih…hehe pokoke semua cara halal untuk kritik…


#30

Harianus Zebua | 27 08 2008 @ 16:30:17

Sale pisangnya itu loh, enak dan murah :-p


#29

Resto | 27 08 2008 @ 15:35:01

enak juga ……….


#28

sapimoto | 27 08 2008 @ 15:06:25

Bener-bener kriuk…
Mau minta dibagi, ternyata sudah ada potonya di postingan…


#27

Arsyad Salam | 27 08 2008 @ 14:58:16

keseragaman memang kesukaan faham totaliter. Semua batu batu harus tersusun sama. Semua padi yang ditanam harus rata. Tak boleh ada yang terpasang secara lain. kreatifitas adalah tabu dan pamali yg bisa bikin orang masuk bui. Saya teringat kisah orang dekat Gus Dur yag punya burung beo sampai sekarang masih sering berteriak “Gus Dur Presiden”


#26

Ahmad | 27 08 2008 @ 9:13:52

Mungkin juga ini cara kita mengkritik diri sendiri, tak selalu menunjuk pada orang lain atau di luar kita.

Jika setiap individu mempunyai kehendak yang kuat untuk melakukannya, niscaya ia akan menjadi gelombang perubahan yang dahsyat.


#25

mantan kyai | 27 08 2008 @ 3:19:16

klo jaman orde baru sdh ada blog. Mungkin tulisan paman ini termasuk makar.


#24

jun | 26 08 2008 @ 21:55:56

Dulu SBY mengadu ke Polda Metro Jaya karena merasa nama baiknya dicemarkan oleh Zaenal Ma’arif. Kini Zaenal menjadi caleg dari Partai Demokrat, partainya SBY…. Itulah politikus, kriuk !


#23

MangoAddict | 26 08 2008 @ 21:52:37

Setidaknya tambah senyuman, dan dagangan juga laku. Kalo ga ada sentilannya, masak istri juga beli? :)


#22

pengikut setya | 26 08 2008 @ 21:50:50

Ada yang “dari pada” bisa kirim ke sini?
***
Itu slogan bukankah sama dengan SAMA RASA, SAMA RATA ? Berhaluan kiri dong?


#21

lenje | 26 08 2008 @ 18:32:32

hahahaha… sepupu saya jualan cemilan merek ini, mereka (pabriknya, bukan sepupu saya) emang suka buat “tagline” nyentil! coba perhatikan deh kalau cemilannya jenis yang lain — dari merk sama — pasti tulisannya juga beda (walaupun sama2 nyentil).


#20

kang gery | 26 08 2008 @ 18:04:16

produk lucu-lucuan kadang bukan hanya jadi produk incaran kolektor, justru jadi bahan postingan kayak ini he he he


#19

mas kopdang | 26 08 2008 @ 17:21:38

Meledek penguasa itu memang enak dan perlu. Supaya dilirik dan ikut gerbong Penguasa selanjutnya, atau minimal bisa numpang terkenal.
:D


#18

MaNongAn | 26 08 2008 @ 15:44:00

“Untung saya Bloger!” …. kRiuUkkz

.::he509x::.


#17

Goslink | 26 08 2008 @ 14:07:00

Saya gak terlalu suka cemilan ini..soalnya terlalu banyak vetsin alias banyak MSGnya…

udah pernah cobain..harganya emang murah meriah…tapi vetsinnya gak tahan…


#16

Kesambet | 26 08 2008 @ 12:06:29

Topik yang sangat KRIUK…paman…


#15

Thomas Arie | 26 08 2008 @ 8:41:44

Beberapa bulan lalu, saya juga mendapatkan kiriman oleh-oleh seperti satu kardus kecil mi instan ini. Tulisan-tulisannya benar-benar nendang deh…

Sale pisang tetep yang favorit :D


#14

edratna | 26 08 2008 @ 6:50:54

Wahh kayaknya rasanya enak….dimana ya belinya…..?


#13

kw | 26 08 2008 @ 3:21:32

sudahlama saya mengenal camilan ini. dijual di sudut pojok pabrik, ambil sendiri kalau penjualnya dah pulang. tinggal catat.. catat…
sampai ditagih baru bayar :)


#12

omoshiroi_ | 26 08 2008 @ 1:23:31

wah, jangan-jangan produsen tu makanan orang partai lagi.. jadi lagi melakukan otokritik terhadap lingkungannya sendiri.


#11

Donny Verdian | 25 08 2008 @ 22:31:22

Nyentil euyy..:)
Membayangkan penganan semacam ini diproduksi pada masa orba?
Tiba-tiba kok saya memikirkan, apa justru di era ini semuanya sudah serba kebablasan ?


#10

zen | 25 08 2008 @ 22:02:09

everyday forms of resistance, kalo kata james scott.


#9

oscar | 25 08 2008 @ 21:44:29

kebebalan itu sama dengan sensasi kriuk gak sih paman. kalo udah ngunyah susah berhenti.


#8

Tetty | 25 08 2008 @ 21:43:11

Selain pandai bermain kata dalam merek, si penjual juga bisa saja pandai pula bermain politik, bukan?


#7

kangtutur | 25 08 2008 @ 20:43:02

Bagi dooooonk! :lol:


#6

ancilla | 25 08 2008 @ 19:47:50

mauuuuuuuuuuuuuuuuu donk sale pisangnyaaa…


#5

trendy | 25 08 2008 @ 19:19:02

aneh2 ya nama makanan sekarang ini!
wekekkeke!
ntar bakal ada makanan khusu koruptor juga mungkin!
wekekekeekek!


#4

Epat | 25 08 2008 @ 19:09:51

seperti blog ini, yang selalu renyah mak kriuk sindiran-sindirannnya kepada penguasa hehehe


#3

Daus | 25 08 2008 @ 19:09:32

Kriuk ah bercandanya :P


#2

LieZMaya | 25 08 2008 @ 18:49:17

haha keren2, pengen nyoba cemilan kekuasaannya, mmm rasane gimana ya


#1

bangsari | 25 08 2008 @ 18:07:04

mungkin perlu diteliti, sepertinya si pembuat adalah seorang blogger. suka iseng, nabrka-nabrak, dan tak tahu bahayanya menyenggole kekuasaan. terutama saat kaum loreng-loreng berkuasa.

*lho, kok aku melu-melu mengutuk orde lalu?*